Melangkah hanya sekedar pembahasan hal sederhana mengenai hal sederhana yang mungkin dimiliki semua orang. Melangkah memaknai hidup dengan semangat, tanpa keterpaksaan, namun dengan pasrah penuh. Cerita tentang belajar melangkah, lihai melangkah, atau melangkah tahap advance (berlari?) mungkin tak selalu indah, namun memaknai langkah berikutnya..
Rabu, 14 Mei 2008
politisi:"serba salah"
Lalu, pikiran saya menari-nari di kepala, dan terucaplah sebuah kalimat :
"wah ada tendensi apa ya yah?"
"yah biasalah politisi bum.."
"ada rencana mau nyalon presiden kali ya yah?"
"bisa jadi.."
Berita sore metro menayangkan promosi hemat energi Cak Imin dengan naik ojek, dan ditengarai hanya untuk memperkuat profilnya sebagai pemimpin, tahu lah tengarai mengenai motif politis
Pagi ini, dalam perjalanan pulang dari kampus
"susah juga ya yah jadi politis, mungkin maksudnya baik, tapi orang ngiranya pasti lain.lha kayak kampanye hemat energi cak imin kemaren"
"bum, kalo mau kampanye hemat energi mah jangan gitu"
"kenapa ? tukang ojeknya banyak banget ya? bum juga jadi mikir, apa malah bukannya jadi boros, banyak banget yang ngiring dia pergi"
"nah itu dia, gimana gak mikir ada motif politis.."
8 kilometer dari kampus, topik tadi masih jadi pembicaraan yang asik
"kita ini kok ya jadi mikirnya jelek terus ttg politisi ya?"
"ya wajar la yah, kita ini kan rakyat yang sudah seringkali dikecewakan, ngembaliin kepercayaan susah banget. masih bisa gak ya nemuin yang bener?"
Yuk pertanyaan itu dijawab bareng-bareng..
Senin, 12 Mei 2008
kebiasaan keluarga telah diturunkan....
setelah tidur siang, bangun, seperti biasa kami menghabiskan waktu sebentar dengan bercanda di atas tempat tidur, mempersiapkan saffa supaya gak bete pas diajak ke kamar mandi
saya gemes banget ngeliat upil yang ada di hidung kirinya
iseng2, saya cuik2 upilnya,hehe
iseng2, saya ajari saffa ambil upilnya sendiri
nah, bener kak, gitu kak...
kami pun tertawa-tawa kecil
cuik sekali
cuik dua kali
cuik tiga kali
berhasil..berhasil..berhasil..
saya pun kirim sms ke ayah yang lagi ada di jakarta :
"yah, selamat ya.saffa udah bisa ngupil lho, akhirnya tradisi diturunkan..."
rakyat indonesia:"nasib..nasib"
kurang nelongso apa jadi rakyat indonesia. BBM naik, pemerintah bilang masih diuntungkan, SMS santet beredar, tindakan tegas lama bener
dan yang paling menyedihkan
banyak guru yang berubah jadi maling, memeri contekan pada siswanya sendiri, karena sungguh2 sayang pada siswa, dan takut pada atasan
banyak siswa sutris, tidak dihargai proses yang dijalankan. lha, pendidikan kita ini mendidik kita menjadi result oriented people kok ya? jadi orang kaya, yang penting kaya, biar caranya kuropsi juga
jadi orang pinter, minteri, biar caranya nyontek dan nyolong juga
jadi orang terkenal, populer seluruh nusantara tercinta, biar caranya bikin skandal juga
yang penting kan hasilnya, gak perlu lah liat caranya.
yang penting lulus UAN, mau nyontek, dan melibatkan "sindikat" orang-orang baik yang terpaksa tercebur menjadi orang-orang pura-pura baik
AH, YANG PENTING KAN HASILNYA
Jumat, 09 Mei 2008
keputusan bersama...
dan urusan pra keluarga (LHo???)
sebelum menikah, kami berdiskusi ttg kemungkinan kesulitan saya dalam bekerja kalau sudah berkeluarga...saya pun memutuskan, kamu maksudnya
setelah menikah, ketika dihadapkan pada tawaran bekerja di luar kota, dengan konsekuensi saya berpisah dengan suami, saya mikir beribu kali, dan melewatkan banyak kesempatan undangan...
tapi sungguh, saat ini rasanya tidak menyesal, karena arti bahagia lebih dari pekerjaan dan karir
ada hal-hal sederhana yang ngangenin saat berpisah
makan malem bareng, masak nasi goreng bareng, makan siang bareng (lho kok temanya makan semua???hehe)
dan hal sederhana itu menjadi pengisi kebahagiaan terbesar
saat ini, kami dihadapkan lagi pada perpisahan fisik ini
ayah harus memilih tempat kuliah terbaik, dan konsekuensinya kami harus berpisah
saat ini, saya sendiri merasa begitu "tak apa-apa"
ini bagian dari perjuangan kami untuk sampai di satu titik
asalkan pengorbanan kami semua ini worthed saja
meskipun bingung setengah hidup, sampai membuat bolak-balik saat mau tidur karena memikirkan sebaiknya sekolah dimana
saya berpikir bahwa ini adalah peluang yang harus ayah ambil
karena kebahagiaan untuk bersama bisa sementara ditunda
dan saya yakin penantian adalah saat indah untuk menunggu saatnya diberi anugerah
seperti ketika menunggu ramadhan tiba
seperti ketika menunggu waktu berbuka
seperti ketika menunggu lebaran tiba
dan ketika saatnya tiba, semua yang dijalankan dengan kerelaan dan keikhlasan menjadi kebahagiaan yang berlipat banyaknya..tak terukur
semoga bahagia itu segera tiba..
Rabu, 07 Mei 2008
frustrasi....LAGI???
maklum semuanya kok temanya mencak-mencak..silat-silat
pagi ini kembali lagi ke kampus untuk ngumpulin beraneka macam syarat ujian kompre
setelah kemaren ditolak karena salah format
yang ngatur format siapa sih? "mba coba liat di buku panduan deh..."
kembali ke rumah, liat buku panduan
itu kan panduan bikin tesis, bukan proposal..pfffuiiih..nurut aja, masih mahasiswa!!
pagi ini, syarat lolos semua...
"mba, belum bisa diproses, soalnya laporan PKP belom masuk.."
SUTRISNO deh jadinya
lha laporan PKP saya itu sudah selesai dari 1,5 bulan lalu, saya titipkan untuk di ttd in dosen saya, lha ndak disampaikan amanahnya, lha dosennya juga lupa
duuuuuh...paringono sabar GUSTI ALLAH
telpon lah saya pada yang berkepentingan
alhamdulillah yang satu bisa ketemu siang ini
tapi...yang satu lagi ke luar kota
ASTAGHFIRULLOH...mudah2an Allah mengampuni dosa kita semua..
Senin, 05 Mei 2008
saya dan ujian komprehensif
membuka kembali berbagai literatur, mengecek ulang kebenaran proposal, konsul lagi dengan berbagai pihak..pfffuih...sampai di titik nikmat sih menemukan banyak kebenaran, hingga sampai di titik jenuh dan sutris
perjalanan ini terasa begitu cepat. baru aja kemaren masuk kuliah awal, sekarang udah kejar2an deadline lulus..kalo mau ayah hadir pas wisuda, hik2
tentang ayah dan kehadirannya saat wisuda : saya gak bisa ngebayangin kalo pas wisuda blio udah menuntut ilmu kembali ke negeri sebrang (InsyaAllah), huik..kelengkapan itu sedikit hilang. blio yang memperjuangkan saya untuk tetap berjalan setegak ini, tanpa jeda--kamsudnya cuti, jatuh bangun menemukan cara membayar SPP, hehe
dan yang paling up to date, ngajakin ibu dinner be2 di nasduk setelah pulang konsul dari rumah dosen...
dan blio yang paling getol menyemangati saya ujian kompre, ben cepet lulus katanya..
doanya ya...
Selasa, 29 April 2008
perempuan perkasa atau perempuan manja
Serius...2 tahun belakangan ini bagi saya merupakan perjuangan
sejak hamil, melahirkan, 2 minggu kemudian saya harus langsung masuk kuliah, dan seterusnya hingga hari ini
beberapa orang mungkin mempertanyakan "kok bisa?"
"emangnya luar biasa?" karena saya sebenarnya sungguh merasa biasa
meskipun memang capeknya pun luar biasa. kalo teman-teman punya waktu luang untuk ke perpus, waktu saya banyak kortingannya. kalau temen-temen capek di rumah, pulang bisa langsung tidur, urusan saya masih panjang sampai saffa tidur, habis itu ya bikin kerjaan kampus lagi..makanya saya suka kesel kalo ngerjain tugas secara kelompok, ada temen single yang belum ngerjain...alamaaaak..KAYAKNYA PERKASA YA??
minggu kemarin saat saya naik angkot, saya sempet ngobrol dengan ibu-ibu yang bawa anak dua di angkot. satu anaknya udah SD, satu lagi 11 bulan. dia naik angkot santai bener, gak riweuh...dan itu biasa dilakukannya..bolak-balik antara rumahnya dan mertua..waaaah...kalo saya pasti udah banyak excuse nya, lha wong dulu kondangan aja--pas ayah belum beli mobil tua ini--saya milih bayar taksi aja, gak tega sama saffa. SAYA KOK MANJA
siang ini, saya kembali naik angkot untuk pulang. turun dari angkot, amaze lah saya ada ibu-ibu mau naik angkot, bawa anak usia setaonan gitu, trus dia bawa sekitar delapan kardus mie instan+1 kantong plastik..dengan tergopoh-gopoh naik angkot
padahal kalo saya, bawa saffa aja mesti gantian ma ayahnya, berat kan? apalagi nambah kardus dan kantong, dan sumpah saya gak bisa ngegendong saffa pake gendongan
SAYA MEMANG MANJA
KESIMPULAN
saya kok jadi manja ya..
kenyamanan kadang justru membuat kita lupa, bahwa banyak hal yang perlu diperjuangkan...
Minggu, 27 April 2008
Kejar mengejar...
selain karena alasan finansial untuk semester depan yang tidak ada posnya, saya sungguh ingin membuktikan bahwa pengorbanan ayah dan saffa tidaklah sia-sia
tidak mudah menjalani dua peran sekaligus, tapi saya juga menegaskan, tidak juga sulit
sungguh saat ada orang berkata, paling enak jadi mahasiswa, saya akan bilang..."ah masssak siiiih?"
memasuki fase tesis membuat saya harus mengatur tanggungjawab saya sendiri
karena sungguh tidak ada yang akan mengejar2 anda dan menentukan kapan deadline pekerjaan anda harus diselesaikan (terutama kalo ini semester pertama anda menjalankan tesis)
tapi beruntungnya, paling tidak, saya dikejar2 suami, hehe
yang lebih parah, kejadian ini seperti cinta segitiga, karena akibat pengejaran suami saya, saya jadi sering mengejar dosen...untungnya, dosen pria itu tidak mengejar suami saya :>
begini kejadian lengkapnya :
pertengahan maret : saya menyerahkan proposal tesis yang telah mendapat surat PUAS dari dosen teknik penulisan tesis kepada dosen pembimbing tesis saya (selanjutnya disebut DPT)
akhir maret:saya kembali menemui DPT untuk mendapatkan umpan balik
"maaf saya belum sempat baca"
saya menemui proposal saya masih rapi tersimpan di meja kerja blio (sabar...sabar...)
bersamaan dengan itu saya serahkan tambahan hasil pekerjaan saya untuk melengkapi alat penelitian
"kamu temui saya hari minggu ini di rumah saya"
OK
hari minggu berikutnya sesuai yang dijanjikan
"maaf saya belum sempat baca, saya sibuk sekali minggu ini, ini baru pulang layatan dari klaten"
....mulai ngambek...
"kita ketemu rabu ini"
rabu akhirnya tiba
"maaf file kamu lupa saya simpan dimana"
GEDUBRAKKKKKK
lumayanlah diskusi, setelah saya berikan hasil pekerjaan saya yang baru
PATUT DICATAT:
UNTUK MENGERJAKAN INI SEMUA, DENGAN SISTEM MENCICIL, SAYA HARUS JADI IBU TEGA NIAN YANG MENGUNGSIKAN ANAK MAIN DI LUAR BERSAMA PENGASUHNYA, SELAMA PALING TIDAK DUA JAM SETIAP HARI"
ketemu lagi jumat
"ini punya mu kan?"
"pak, ini yang lama yang belum revisi"
GEDUBRAK....GELUNDUNG...GELUNDUNG
berikutnya adalah perjalanan yang syarat dengan makna (ciaaaai)
Ya Allah ampuni kami semua
ampuni saya dan teman2 yang berniat untuk menyekap anak DPT (yang kebetulan teman seangkatan saya ketika S1 dulu) sebelum hasil pekerjaan saya diperiksa
ampuni saya ketika suatu hari saya sengaja telah memenuhi janji bertemu beliau, karena penasaran, dan menuntut keadilan...soalnya dari berbagai janji, blio terus yang telat...maksudnya supaya impas, tapi tetep menang beliau 8-1
mudah2an tesis saya lancar
sungguh suami dan anakku
bukannya ibu jatuh cinta lagi sehingga harus jatuh bangun mengejar pria lain
meninggalkan rumah untuk memenuhi janji dengannya
dengan duapertiga memaksa beliau untuk bertemu bum seminggu tiga kali
semua untuk cinta dan pengorbanan yang telah ayah dan saffa berikan untuk bum
LuV
Rabu, 23 April 2008
Malpraktek service excellent di kampus ku
bukankah saya harusnya merupakan salah seorang yang begitu bersyukur dan berbangga pada hari itu?
sungguh saya sangat berbangga pada bu Kartini, karena pada kenyataannya di hari itu, saya memang telah mampu berada di kampus tercinta, perempuan kini telah mampu menjangkau pendidikan tinggi...
namun apa yang terjadi dihari perempuan ini sungguh tidak ada kaitan dengan diskriminasi perempuan
tak ingin saya, kampus saya dicaci maki orang karena dianggap tidak menghargai perempuan
sungguh bukan tentang itu, tapi tentang hak mahasiswa, baik perempuan maupun laki-laki...
Katakanlah bahwa saya merupakan salah satu mahasiswa setia
sejak S1 hingga pendidikan profesi, saya mengambil di universitas yang sama
Siapa yang tidak mau menjadi bagian dari universitas tertua ini ?
Pagi hari, saya menonton televisi--yang rata-rata membahas tentang peran perempuan--dan pagi itu saya terhenyak dan terkagum dengan perkataan my favorite Menkes :
"Ayah saya berpesan, bahwa jangan pernah mengejar apa yang telah digariskan untuk kita (rejeki), karena pasti akan datang, cobalah untuk melakukan hal-hal baik lain untuk orang lain"
Waaaw..that's beautiful words that i've ever heard today
Yang saya tidak tahu, Allah telah merencanakan sesuatu hari ini, untuk menguji penghayatan saya mengenai pernyataan yang indah itu..
Pergilah saya ke kampus untuk bertemu dengan DPT(cerita ttg ini menyusul...)
Tanpa sengaja, teman ada rencana bertemu dengan dosen lain, yang saya juga ingin ketemu dengan beliau untuk membicarakan tesis saya, dan menyerahkan CD hasil PKP saya
Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, pukul 10.30 nampaklah blio
Pergilah saya menunggu di depan ruangan..taraaaaaa....apa yang blio katakan begitu melihat saya : "Ngapain kamu disini? Kamu kan harusnya ikut seleksi beasiswa Tanoto?"
"saya kan gak masuk pak.."
"lho, kamu itu masuk, lha wong saya yang ngurus" blio kan emang juga njabat di biro karir universitas
"pengumuman nya dimana pak?"
"gak tahu, mungkin dibawah"
Lemaslah saya
saya coba cek ke pengumuman S1 yang ada di gedung A. semakin lemaslah saya, karena nama saya tercantum disitu, namun dicoret spidol
pergilah saya ke kantor S2 profesi untuk menanyakan ini...dan apa mereka bilang "memang gak ada nama mbak, hanya mbak yang lain itu saja, coba tanyakan ke bapak...yang mengurus kemahasiswaan S1"
Believe me, i should wait for 1 hour until the office break
"pak, saya mau tanya, apakan saya termasuk peserta seleksi tanoto?"
"Lho mbak, coba saya cek sebentar"
semakin lemaslah saya, air mata sudah diujung tanduk, nama saya disana
ramailah ruangan itu, dengan berbagai penjelasan tentunya
apa yang saya rasakan ? SEDIH..SAKIT
thanks to tante nur, nganterin saya ke tempat seleksi, mencoba memperbaiki keadaan
NASI SUDAH JADI BUBUR
penjelasan lagi yang saya dapat disana...(kebetulan kembali saya ketemu dosen saya yang ngurus biro karir)
saya sangat menghormati beliau. saya menghormati aturan main dan prosedur yang telah disepakati...
"bagi perusahaan, tidak rugi, wong yang kosong cuma tiga baris, tahun lalu hampir separuh"
are u ok? i'm not ok...ini bukan lagi tentang persentase, kami bukan angka, kami adalah pembawa nasib, ini adalah tentang pengharapan yang diputus bahkan sebelum kami mengharap apapun, apalagi diberi kesempatan berusaha
"sekarang harus ikhlas, akan lebih baik, kamu percayakan ini kepada saya, supaya tidak ada gempa"
Ok, i believe in u..saya percaya dan hormat pada beliau
saya mendapat telepon kembali dari blio mengabarkan bahwa blio sudah koordinasi dengan WaDek Kemahasiswaan
"ternyata hanya kamu yang tidak datang...."(dengan mendeskripsikan jumlah secara jelas...)
come on...kenapa kita harus kembali membicarakan persentase, seolah tidak ada yang dirugikan, seolah saya yang salah...seolah saya hanyalah hasil perhitungan statistik yang diluar sebaran dan jumlahnya tidak signifikan
SAYA SEDIH..SAYA SAKIT...SAYA MERASA DIZALIMI
ataukah interpretasi saya yang salah tentang apa yang blio katakan
I just try to talking again to mysound in my heart
ini tentang apa yang tadi pagi saya dengar
ini tentang pilihan untuk berbuat sesuatu
Saya tidak ingin ada orang yang mengalami hal sama seperti saya
terbuang percuma tanpa diberi kesempatan
saya putuskan :SAYA AKAN BERBUAT SESUATU, INI TENTANG DISKUSI DENGAN SYSTEM ORGANIZER
terimakasih kepada ayah, yang telah memberikan penguatan atas jalan yang ibu pilih
2 hari saya mencoba untuk bertemu Dean, tapi sulit, karena blio lagi rapat intensif
maka saya pilih lewat surat
pada hari yang sama, saya mendapatkan telpon dari WaDek Kemahasiswaan yang menyatakan permintaan maafnya secara pribadi dan organisasi
bagi saya pribadi, maaf sudah lewat, tanpa diminta
SEMOGA ALLAH MENGAMPUNI DOSA KITA SEMUA
Kamis, 17 April 2008
membuat keputusan..apakah sudah final??
saya kembali bertanya pada diri sendiri, apa tujuan saya dulu melanjutkan kuliah?
kayaknya bukan cuma untuk lulus, trus kerja aja...selain untuk mengisi waktu luang (hehe..) saya berharap ilmu di tingkat lanjut ini memberikan kesempatan kepada saya untuk memiliki waktu kerja yang fleksibel
beberapa orang menyarankan saya menjadi konsultan, tapi saya pikir tidak akan semudah itu, lha wong saya ini anak bawang, belum melek banget, masih butuh dititah dan dituntun
saya pun menengok kembali kepada peran saya sebagai perempuan. peran yang diberikan oleh takdir sekaligus budaya
peran sebagai ibu, yang merupakan pilihan hidup yang menyenangkan, sebagai bagian dari memenuhi takdir saya di dunia ini
peran sebagai istri, merupakan pilihan pula, takdir
apa yang tercampur di dalamnya, juga ada bentukan kultural, bahwa ibu merupakan salah satu pihak yang paling bertanggungjawab atas pendidikan anak di rumah
menengok kesini...saya kembali menoleh ke masa-masa dimana saya sedang mengerjakan PKP, saya pergi jam 7, pulang jam 17.30, sebelumnya, ketika kuliah saya masih penuh, saat usia saffa masih 2 minggu, jadilah saya merasa durhaka terhadap anak, karena harus meninggalkan anak saya dari jam 7-17
saffa sama sekali tidak bisa protes, kalaupun protes, ada masa saya tidak memahami itu, meskipun dalam satu kesempatan, saya merasa dia kecewa pada saya karena sering ditinggal
jadi ketika saya hendak melangkahkan kaki saya ke era baru setelah kelulusan, maka saya akan kembali berpikir mengenai kondisi ini
tadinya ada sebuah ambisi yang besar, mengejar karir di perusahaan yang menawari saya kerja setelah lulus, bekerja sampai di titik manajerial, menjadi perempuan sukses..lets make definition about perempuan sukses. kembali saya berpikir, apakah perempuan sukses itu hanya dalam konteks kerja? saya pikir tidak...
saya kembali menimbang-nimbang mengenai kenelongsoan dan kebahagiaan
akhirnya, di suatu malam, di sebuah rumah di pedesaan (maklum, rumah saya dekat dengan sawah, hehe), saya membuat pertanyaan : "yah, apakah ayah akan mengharuskan bum untuk bekerja?"
"ya, gak lah bum, yang penting itu saffa..."
"yah, kalo ayah bersedia untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, dan sanggup untuk itu, rasanya bum akan bekerja hanya untuk aktualisasi diri saja, tidak mengejar materi, tidak ngoyo...biarlah separuh waktu terjaga saffa, bum menemaninya"
"beneran nih?"ayah mencoba menegaskan
.........................................diam dan sepi................................
Selasa, 08 April 2008
saffa semakin besar
sehabis dibersihkan setelah makan, saffa tidak mau beranjak dari kamar mandi, dan ingin tetap bermain air padahal di luar dingin gak keruan karena hujan
jadilah saffa berteriak-teriak sambil menangis...
ketika dipakaikan baju, masih pula teriak sambil menangis
menunjuk ke atas lemari pakaiannya, masih sambil menangis
digendong oleh ayah, masih saja menangis
lalu muntah..berhenti sebentar, menangis kembali
diberi nen..berhenti sebentas, menangis kembali
apa sebetulnya yang diinginkan saffa?
saya frustasi, menangis pula saya, tanpa teriak tentunya
baru agak lebih baik setelah ayah mengaji ayat kursi sambil mengelus punggungnya
kalaupun pada saat itu saya menangis
saya sedih karena tidak mampu memahami apa yang terjadi padanya
saya menangis karena ini merupakan pola baru protesnya...dan ini bukanlah pembelajaran yang positif
saya hanya sadar bahwa ia semakin besar, semakin cepat dewasa, dan logikanya sungguh luar biasa
dan tugas kami sebagai orangtua adalah membantunya menuntun logikanya dalam perspektif yang masuk akal dan sesuai dengan norma dan nilai
Senin, 07 April 2008
ketika kita menua...
saya ingin anak paling banyak 3 aja. sebenernya alasan mengenai optimalisasi perhatian dan tentu aja pertimbangan biaya pendidikan yang semakin menggila menjadi pemikiran yang harus dikenali dari sekarang. kalau tetangga saya yang punya dua anak SD saja mesti membayar sejutaan hanya untuk SPP, berapa biaya yang harus saya keluarkan nanti. sementara, kalo menurut Kiyosaki, kami adalah kelompok pekerja yang terjerat hutang, hehe...maklum mesti nyicil rumah.
sementara suami ingin punya anak 5 (Ya Allah, tolonglah saya...), dengan pertimbangan rame. ya sebenernya reasoningnya juga masuk akal, apalagi diliat dari latar belakang suami yang hanya dua bersaudara, sepi katanya. maunya ada anak yang nemani kita pas tua, gitu kata suami.
tentu saja saya berkelit, abah dan ibu punya anak enam, semuanya terbang-terbang, gak ada yang nemani ibu saya yang sekarang sendirian di rumah. bukannya tidak mau, kami dibesarkan dalam nilai menjunjung privasi, dan menurut agama yang kami anut, rumah yang sehat adalah yang hanya ada keluarga batih. sementara ibu saya untuk diajak tinggal di rumah anaknya juga ndak mau, karena ya permasalahan privasi tadi.
saya sempat membincangkan ini dengan ibu, mengenai anak yang akan kami "sandera" untuk menemani kami di masa tua. ibu saya dengan sederhana menjawab "lha anak dibesarkan, masak mau dipegangin terus, lha dia itu sudah punya masa depan sendiri kok, kayaknya karma ya fie, semua yang sudah tua ya harus siap ditinggalkan, dulu ibu juga berumah tangga sendiri, lha gimana lagi lha wong bunde (nenek saya) gak mau ikut juga"
bagi saya, apa yang dikatakan ibu saya lebih masuk akal sekarang. keberhasilan orangtua justru akan nampak saat anaknya mampu untuk mandiri, membangun "rumah" mereka sendiri. menjadi sendiri adalah bagian dari fase yang harus kita jalani. seperti apa mendefinisikan sendiri itu, apakah menjadi kesepian, atau hanya permasalahan sendiri secara ragawi. ketika kita menua, ibarat tugas yang sudah selesai, pensiun begitu bagi yang karyawan, tinggal bagaimana kita memaknai perjalanan kita selama penugasan. apakah pensiun itu sebagai bagian dari pembuangan dan ketidakberhargaan, itu merupakan pemaknaan pribadi. saya berharap ibu saya memaknainya sebagai keberhasilan untuk mengantarkan enam anaknya membangun "rumah" nya masing-masing.
Senin, 24 Maret 2008
“Kamu kan psikolog…”
Pagi ini, saya marah besar pada pembantu yang ada di rumah. Mari kita definisikan marah besar seperti apa, apakah dengan suara keras dan adegan pukul-pukulan? Tidak. Marah besar bagi saya adalah situasi marah yang bisa membuat saya menangis sesenggukan, karena saya sendiri bukan tipe orang penyimpan marah, bukan juga tipe orang yang suka teriak-teriak. Apa pasalnya saya marah besar? Pembantu saya melakukan sesuatu yang tidak saya suruh, dan jelas-jelas salah. Lha disuruh ngulek bumbu doang, lha pake dimasak lagi..sederhana kan? Tapi persoalannya gak sesederhana itu, karena itu sudah terjadi berkali-kali, kemaren dia juga baru merusakan beberapa barang, oke lah, saya kasih oke aja untuk beberapa hal di belakang itu, tapi hari ini, kepala saya rasanya mau pecah, sebelum setelahnya berasap-asap. Di pasal lain pula, beberapa malam saya tiba-tiba bangun dan mengalami sesak nafas—psikosomatis karena tesis. Saya pergi ke kamar, “mengadu pada suami”, dan dia bilang “Lha ibu kan psikolog, gimana dong caranya menghandel karyawan seperti itu?” dan saya pun semakin bete. Maunya kan dibilangin “Iya, itu ngeselin, sekarang bum cari solusinya, kira-kira apa” Lha gitu kek, ini malah disimpulkan langsung, dilibas habis dengan menyimpulkan cari lah solusinya, sebagai seorang psikolog.
Rasanya butuh shoulder to cry on lain yang lebih paham, saya telepon ibu sebagai agen teteh. Ya lumayan lah, bikin asap di kepala mendingan, dan gak jadi pecah. Tenang hati, tapi begitu dah mau tutup telp, ibu saya bilang “Ufi kan psikolog, coba tenangkan diri, gimana caranya....”
Saya jadi inget apa yang saya alami ketika di perusahaan yang manajernya psikolog. Biasalah, sesuka-sukanya bawahan sama atasan, pasti aja ada celanya “sebenarnya ibu itu baik,,,bla..bla..bla..tapi dia itu,,,bla..bla..bla..padahal kan dia psikolog”. Atau yang ini, “dosen itu kan dosen psikologi perkembangan anak, kok galak banget ya, padahal kan psikolog, ngerti kek kalo mahasiswanya juga butuh dingertiin”. Atau yang berikut ini “Wah, mbak psikolog ya, ngeri saya, takut dinilai” lalu si mbak psikolog itu menjawab “wah saya belum bisa” lalu si ibu itu menjawab lagi “ahh, mbak kan psikolog..” Addduh....
Siapa yang harus disalahkan? Gak ada. Ini permasalah stereotyping, lah wong orang dateng ke psikolog biasanya punya masalah, trus pulang-pulang mestinya wajah mereka bisa berseri. Lah kalo orang lain aja pulang bisa dengan wajah berseri setelah ketemu psikolog, apalagi tuh psikolognya. Come on...mereka lupa bahwa pekerjaan dan profesi ini ada karena orang butuh orang lain yang netral untuk bisa memandang masalah lebih clear, setiap orang bisa, cuma psikolog dibekali dengan sesuatu yang sifatnya ilmiah. Lah kalo psikolog ada di dalam masalah, kan asumsinya, dia sendiri “mungkin” akan kesulitan memandang masalah dengan clear, jadi butuh psikolog lain..mungkin orang biasa, dan pada suatu saat mungkin psikolog profesional, karena ada juga calon psikolog yang masuk RSJ. Dan saya yakin ada orang yang bergumam “padahal dia psikolog lho, kok bisa ya masuk RSJ?” Ya bisalah, psikolog juga manusia, dan sangat bisa kalo kami dipandang sebagai golongan yang bebas masalah, tahu segalanya, dan kayaknya gak butuh pertolongan saat mereka bermasalah.
Selasa, 04 Maret 2008
Hanya tentang kontrol aja....
Kalo dihitung lama waktu pendidikan formal dan realisasi belajar berkendara, rasanya mestinya saya sudah DO dari sekolah belajar berkendara
Belajar motor...jelas2 mengalami penghentian yang cukup signifikan, setelah sebelumnya hampir mengalami perang yang cukup besar dengan lumpur2 di sawah...
belajar sepeda, merasa sudah bisa, namun kurang berani...masalah keseimbangan 30% sudah dapat diatasi, masalah keberanian menghadapi traffic (maksudnya..pas belajar di jalan komplek, ada anak kecil naek sepeda di depan, eh saya memilih berhenti, daripada nubruk??)
belajar mobil, lha yang ini masih membutuhkan keberanian yang lebih besar, suami saya lebih suka menghentikannya dulu, karena mungkin korban yang dihasilkan bisa lebih besar...
Kamis, 28 Februari 2008
penyesalan telor mata sapi
ceritanya berawal dari kami nonton acara kuliner yang memasak telor ceplok setengan mateng, sekonyong2 bikin ayahnya pengen
akhirnya, bum buatin lah itu telor ceplok setengah matang (selanjutnya disebut dengan TCSM)
akhirnya....berhasil !!! sumpah padahal seumur hidup belum pernah berhasil bikin TCSM
apa makna dari keberhasilan TCSM ini? seneng? ya pasti aja..
tapi bum jadi inget abah, dulu pengen banget dibikinin TCSM, tapi bum gagal terus
dari niat bikin satu telor untuk abah aja, gara2 TCSM nya gagal terus, satu rumah kebagian makan telor ceplok semua, hehe
sekarang rasanya pingin banget bikin TCSM buat abah...tapi rasanya baru kesampaian kalo bum udah nyusul ke surga..suatu saat...
Minggu, 24 Februari 2008
trauma begor!!
setelah menempuh hampir 20 menit perjalanan dari sebuah rumah di desa:)
akhirnya sampailah saya, suami dan kak saffa di cak koting..
rasanya pernah juga menulis mengenai ini
mari saya deskripsikan mengenai tempatnya
Cak koting:
salah satu tempat belanja kuliner favorit di jogja
letaknya di deket bioskop mataram...kalo jalannya? lha saya mboten ngertos, maklum hanya sebagai penumpang
yang jelas buka dari siang ampe malam
menunya?
begor (bebek goreng), ayam goreng, aneka penyetan lain
apa yang membuatnya berbeda?
SAMBAL!!! Mantabbbb...
sore ini akhirnya saya tahu rahasia kemantaban itu...
sesuatu yang sulit dimiliki penjual laen..hihihi
tapi sore ini rasanya akan menjadi awal lompatan panjang saya untuk makan begor lagi
apa tentang rasanya??? bukan, kalo rasanya mah uenak tenan...mantabbb
apa tentang tempatnya?? bukan, ya lumayan lah untuk tempat makan dan nongkrong
ini adalah tentang ukuran....
ayah dengan semena2, dengan dalih supaya bum bisa ndut lagi
menyerahkan hampir 3/4 begor itu pada bum...
rasanya?
enak,,,enak,,,tapi kayaknya kita bakal libur lama gak makan begor niy..
trauma...
Kamis, 21 Februari 2008
Selasa, 19 Februari 2008
waras - tidak waras ??
"alhamdulillah badan sehat, cuma pikiran agak kurang sehat (tidak waras??)" konteksnya adalah dia baru lulus S3 dengan syarat tertentu, istri sedang hamil muda, gak kerasan di Jepang...
trus apa yang harus ayah jawab?(berhubung itu sebetulnya imel untuk suami)
dan dengan baik hatinya, namun agak kurang bertanggungjenab, ayah bilang "nah yang jawab ibu aja, kan ibu psikolog..." kamsudnya?? apa karena temanya adalah kewarasan?
tema kewarasan, depresi sebenarnya sudah jadi topik hangat di keluarga ini sejak setahun belakangan. ayah yang baru saja sakit 3 minggu, tanpa diagnosis mendalam, dan hanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman sebagai istri, saya vonis sedang mengalami gangguan pikiran dengan bonus sakit badan, alias psikosomatis. tapi jelas2 ini adalah vonis yang salah, karena pada kenyataannya memang ada batuk dan pileknya sih, hehe
tapi selebihnya dari itu, saya pikir ayah memang butuh liburan setelah mengurus ini, itu, eno, ono, nyang itu, nyang nih...
dan begitu hari pertama masuk kantor, temannya bilang "pak, maaf kemaren gak jenguk, soalnya kita pikir bapak gak sakit betulan, cuma butuh istirahat aja..." huehue
Begini cerita dari psikologi yang jelas-jelas bukan bercerita di bidangnya :)
Dalam psikologi, masalah kewarasan sering dikaitkan dengan kesadarannya pada kenyataan. misalnya, tuh orang yang delusi bahwa dirinya adalah imam Mahdi, adalah contoh mereka tercerabut dari kenyataan, merasa mendapat wahyu, mendapat bisikan.
Lha, kalo sahabat kami itu, jelas-jelas masih sadar bahwa dirinya harus mampu publikasi 1 jurnal lagi untuk lulus S3 betulan, berarti masih waras..(alhamdulillah..)
Kalo suami saya setelah 3 minggu masih pergi ke kantor yang sama, bukan ke kantor Gubernur DIY, alhamdulillah berarti suami saya masih waras
Tapi, kalo saya masih nerusin ngetik di blog ini, padahal besok mau ngumpul laporan dan proposal, berarti kewarasan saya harus di tes kembali
Jumat, 08 Februari 2008
ternyata...part 2
saya juga iseng-iseng perhatiin tiap bagian dari brosur itu.."ya ampun ayah, ternyata icon nya foto direktur nya, tega banget ya..."
"tega kenapa?"
"ya tega banget direkturnya didandanin kayak gini, agak serem juga ya"
"ah nggak biasa aja..."
jalan berbelok ke kiri, memutar, sampailah kami di soto morotuo...kenapa morotuwo? ceritanya panjang, tapi semua yang di jogja harus nyobain soto ini...letaknya di sebrang toga mas, di halaman toko bangunan...format sotonya, soto jawa timuran, pake santan...mantabb banged deh
turunlah saya untuk memesan soto..
balik ke mobil.."bum, saffa tega banget, suruh nyiumin ayah gak mau, malah nyiun brosur resto ayam bali itu...padahal kan serem"
"hehe, lebih serem ayah kali daripada foto itu"
jalanlah mobil kami
"bum, serem banget ya fotonya"
"kan udah dibilangin, kata ayah gak serem"
"ayah pikir kartun, ternyata orang..."
seminggu berikutnya suami saya batuk pilek dengan suksesnya
pas awal panas tinggi
trus dengan seenaknya.."bum, jangan-jangan sakit ayah gara-gara ayah sawan ya liat foto di brosur ayam bali itu"
enak aja...tuh direktur bisa marah besar
Rabu, 06 Februari 2008
ternyata...part 1
this is one of the best lesehan di jogjakarta
sambel nya mantabb banget..bikin keringetan..menu pilihannya juga banyak
selama makan, alhamdulillah saffa tidur..."lho??" soalnya kebayang kalo gak tidur, pasti byak-yak an gak keruan kan?
pas pulang, ipar sempet nyeletuk.."apaan tuh di wiper mobil?"
"ooo, paling minta sumbangan, biar aja deh" jawab suami saya
maka dibiarkanlah amplop berbingkai biru itu
sampai akhirnya kami tiba di hotel nganterin ipar
di jalan, saya dan suami sempet ngobrol
"yah, kok itu amplop dibiarin aja ya?, gak ada yang nagih"
"iya"
"yah, makin banyak sumbangan gak jelas deh, kemaren baru ketahuan ada panti asuhan palsu minta sumbangan ke kompleks"
"makanya, males kasih sumbangan lagi, kalo gak jelas"
"kadang-ladang, mereka pake sumpah serapah juga lho..jangan-jangan yang di amplop itu ada sumpahnya...barang siapa yang tidak mengembalikan amplop ini, maka akan...."
diam.....
tiba-tiba suami saya menghentikan mobil..gimana gak kaget, sumpahnya amplop jadi kenyataan deh...ada sesuatu yang salah kah dengan mobil?
"yah, kenapa kok berhenti?"
ngeloyor pergi tanpa menjawab...mendekati amplop di wiper..lalu tersenyum-senyum...
"yah apaan?" jangan-jangan kami dapet undian..soalnya ayah senyum-senyum
sambil menyerahkan amplop..."buka aja..."
saya pun tersenyum, ternyata....iklan sebuah resto ayam khas bali, dengan undangan dapet gift kalo kesana,hehe....bukan sumpah serapah, bukan juga undian....
alhamdulillah, pastinya perjalanan lebih tenang
"ayah tadi kepikiran omongan ibu juga ya?..."
"he eh.." sambil senyum-senyum