Saya, anda, baik istri, suami, anak, cucu, nenek, kakek dan apapun perannya, kita melakukan sesuatu dengan niat
karena niat lah konstruk terdekat dengan perilaku nyata
dan saya percaya bahwa :
“Memasak itu dengan niat bukan? niat dengan muatan tertentu”
tapi sayangnya memasak itu bukan hobi saya, bukan keahlian saya
tapi, dengan niat membahagiakan suami dan anak, supaya mereka dapat asupan bergizi, tanpa penyedap dan pengawet, mulailah niat saya untuk memasak, dan lewat tulisan bunda inong lah niat saya terealisasikan
dia tidak sekedar mengajari saya memasak, tapi juga mengajarkan muatan apa yang perlu selalu kita sertakan dalam memasak
tulus dan kasih sayang
bunda inong tidak berhenti disitu
saya belajar tentang komitmen sebagai perempuan, istri dan ibu
bunda inong yang semakin meyakinkan saya, perempuan cerdas tidak harus selalu menghabiskan waktunya di kantor
dan saya sungguh terkagum2 melihat banyaknya sahabat bunda yang begitu menyayang dan mengenang beliau
saya yakin, semua itu hanyalah sebuah akibat dari niat
niat yang bermuatan, tidak sulit, tidak berat, muatan itu bernama : CINTA
maka, jika saya katakan bunda inong mengajarkan banyak hal, itu adalah amal jariyahnya, karena beliau mengajarkan saya melalui tulisan-tulisannya, dan saya baru membacanya setelah beliau tiada
sekarang saya juga paham, bahwa cara untuk beramal jariyah, bukan hanya lewat sumbangan ke mesjid, tapi ada berbagai cara sederhana, cukup dibumbui dengan muatan CINTA
maka, jika kisah kehidupan bunda inong dianalogikan sebagai proses memasak, dan masakan yang enak dianalogikan sebagai kenangan indah yang ditinggalkan tentang kehidupan seorang manusia. sungguh bunda inong telah berhasil
cantiklah kiranya persembahan ini bertajuk “COOKING WITH LOVE”
Melangkah hanya sekedar pembahasan hal sederhana mengenai hal sederhana yang mungkin dimiliki semua orang. Melangkah memaknai hidup dengan semangat, tanpa keterpaksaan, namun dengan pasrah penuh. Cerita tentang belajar melangkah, lihai melangkah, atau melangkah tahap advance (berlari?) mungkin tak selalu indah, namun memaknai langkah berikutnya..
Sabtu, 30 Agustus 2008
Selasa, 22 Juli 2008
cerita tentang perempuan-perempuan
3 hari ini saya disuguhi cerita tentang dua perempuan
Perempuan pertama punya suami yang depresi berat
suami nya itu mantan tentara, diabetes, jarinya sudah hilang beberapa bagian karena harus amputasi
trus sampai disini, apa yang seringkali akan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? “sabar ya bu..sabar..”
ternyata cerita ini tidak sampai disitu
si suami bahkan sejak belum pensiun jarang sekali memberikan uang makan dari gajinya
alih-alih ikut prihatin atas gajinya yang tidak/kurang mencukupi, si suami lebih suka makan sendiri di warung padang
si suami suka sekali dipijit sepanjang malam. jika sedetik saja si istri berhenti memijit, maka dia akan terbangun dan marah-marah
si suami seringkali mengeluarkan kata kasar dan menghina si istri
sekarang
si suami seringkali keluar masuk RS karena diabetesnya itu
apa yang didapat si istri? kata kasar, dan dipermalukan
apa sebab? si suami minta pulang dari RS dan bentuk ngambeknya dengan telanjang keluar kamar RS
trus sampai disini, apa kan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? *isilah titik-titik di bawah ini*
.....................................................................
kalau saya sederhana :
apa yang dicari si istri dari pernikahan itu?
apakah kebahagiaan lahir? dia dapat?
apakah kebahagiaan batin? dia dapat?
apakah pahala dari uji kesabaran? dia dapat?
pernikahan seperti timbangan, tidak bisa berat sebelah. kadangkala kita begitu egois untuk meminta pemahaman, pengertian, atau apalah bahasa semacam itu. atau kadangkala kita pada posisi diminta pemahaman, pengertian, dan seterusnya. jika tidak seimbang terus, lama-lama timbangan yang satu akan jatuh, mungkin pecah, mungkin patah. seperti pundak kita yang terus dibebani sebelah saja, bisa-bisa nyeri otot.
saya baru saja membaca buku paulo coelho. disindirnya bahwa manusia hidup seringkali hanya mempertimbangkan harapan masyarakat kepadanya, bahkan dia tidak tahu apa yang diinginkan. saya khawatir perempuan yang ini begitu. saya sungguh khawatir dia adalah timbangan yang rentan pecah dan patah itu, dan dia adalah bagian bahu yang harus menanggung nyeri otot selamanya.
memang begitu siklus KDRT, korban terus ditekan sehingga mempersepsi dirinya bahwa dia tidak mampu hidup sendiri, bahwa masih ada harapan di depan. padahal dia telah menunggu harapan itu selama lebih dari 20 tahun. ah..bagaimana dia menyimpan harapan itu lama sekali tanpa ada expired date nya?
kalau masalah mampu berdiri sendiri itu masalah materi, saya yakin betul perempuan ini mampu, karena seumur-umur dia berdagang untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. beda lagi kalau pertimbangan figur suami atau figur ayah yang mungkin akan hilang. tapi kembali lagi, figur suami dan ayah seperti apa? apakah kelengkapan itu akan menjamin kesehatan mental bagi keluarga? kalau urusannya hanya kelengkapan dan bukan kualitas figur, rasanya oke sajalah pilihan bersama itu. tapi kan tidak sesederhana itu. apakah anak akan diminta terus mendengar kata-kata kasar dari figur ayah? aahhh...silahkan dipikirkan bersama
perempuan kedua datang dari keluarga tidak mampu
usianya 24 tahun an. lulusan SMU dan belum bekerja
ibu nya harus membiayai kehidupan mereka dari berjualan genjer (=sayuran apa ya?hihi) yang hasilnya tidak seberapa
sampai disini apa yang akan kita katakan? “kasihan...”
si anak perempuan itu tidak suka berkotor-kotor membantu ibunya
sampai disini apa yang akan kita katakan? “dasar anak yang gak punya belas kasihan sama ortu..”
si anak perempuan itu punya pacar, lelaki setengah baya, sipir penjara. lelaki itu sudah menikah dan punya 3 orang anak.
suka sekali perempuan itu padanya
menyerahkan kehormatannya pada laki-laki itu, berulang kali
mempertontonkan “kemesraan” di tempat umum
berharap dinikahi meskipun dia tahu si lelaki sudah berkeluarga
senang sekali diberi materi
cinta sekali si perempuan ini pada si lelaki, catat :CINTA!!
dan dengan gampang menilai si lelaki adalah lelaki baik
baik? baik seperti apa?
baik karena si lelaki memberinya uang 50 ribu sebulan? lumayanlah karena si perempuan belum kerja?
baik karena si lelaki berjanji menikahinya?
baik karena mengira si lelaki hanya “setia” padanya?
hahaha...sini saya kasih tahu bahwa si lelaki pernah merayu sahabatnya sendiri!!
biar sampai sini, saya saja yang bilang “PEREMPUAN BODOH!!!”
mungkin persepsi itu akan tetap seperti itu, sampai si lelaki menjadi suaminya...setelah itu, saya tidak yakin persepsi itu akan bertahan
tidak seperti barang elektronik yang memberi jaminan 1 tahun, pada kasus ini tidak ada jaminan bahwa lelaki itu tidak akan memperlakukannya seperti dia memperlakukan istrinya
ah, perempuan seperti ini, harus disalahkan?
saya tidak berpikir juga begitu. anda tidak dapat bertepuk tangan kan, kalo tangan anda hanya satu? maka hubungan ini tidak akan terjadi hanya karena si perempuan yang bodoh, tapi juga karena si lelaki yang tidak bertanggungjawab
seperti saya selalu bilang “jangan cuma salahin dan benci sama mayang...itu si bambang juga salah, dan mestinya dia memang gak pantes untuk halimah, jadi yo wis, ikhlasin aja cerai. toh kalau teteup aja dipaksain nyambung, si bambang gak ikhlas juga, halimah gak nyaman secara batin” *hush...nggosip kan???? STOP!!*
Allah telah memberi kita kelengkapan yang tiada tara : RASIO dan HATI
cinta tidak berhenti pada hati. hati punya nurani, silahkan tanyakan padanya. cinta juga butuh pertimbangan rasio, silahkan tanya padanya
kalau kebutuhan materi berhenti pada rasio. rasio juga bagian kecerdasan, yang memberikan kita berbagai alternatif dari pilihan yang bisa dibuat. masak iya cari materi cuma dengan cara macarin suami orang? materi juga butuh hati dan nurani, silahkan tanyakan padanya, materi seperti apa yang halal?
Perempuan pertama punya suami yang depresi berat
suami nya itu mantan tentara, diabetes, jarinya sudah hilang beberapa bagian karena harus amputasi
trus sampai disini, apa yang seringkali akan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? “sabar ya bu..sabar..”
ternyata cerita ini tidak sampai disitu
si suami bahkan sejak belum pensiun jarang sekali memberikan uang makan dari gajinya
alih-alih ikut prihatin atas gajinya yang tidak/kurang mencukupi, si suami lebih suka makan sendiri di warung padang
si suami suka sekali dipijit sepanjang malam. jika sedetik saja si istri berhenti memijit, maka dia akan terbangun dan marah-marah
si suami seringkali mengeluarkan kata kasar dan menghina si istri
sekarang
si suami seringkali keluar masuk RS karena diabetesnya itu
apa yang didapat si istri? kata kasar, dan dipermalukan
apa sebab? si suami minta pulang dari RS dan bentuk ngambeknya dengan telanjang keluar kamar RS
trus sampai disini, apa kan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? *isilah titik-titik di bawah ini*
.....................................................................
kalau saya sederhana :
apa yang dicari si istri dari pernikahan itu?
apakah kebahagiaan lahir? dia dapat?
apakah kebahagiaan batin? dia dapat?
apakah pahala dari uji kesabaran? dia dapat?
pernikahan seperti timbangan, tidak bisa berat sebelah. kadangkala kita begitu egois untuk meminta pemahaman, pengertian, atau apalah bahasa semacam itu. atau kadangkala kita pada posisi diminta pemahaman, pengertian, dan seterusnya. jika tidak seimbang terus, lama-lama timbangan yang satu akan jatuh, mungkin pecah, mungkin patah. seperti pundak kita yang terus dibebani sebelah saja, bisa-bisa nyeri otot.
saya baru saja membaca buku paulo coelho. disindirnya bahwa manusia hidup seringkali hanya mempertimbangkan harapan masyarakat kepadanya, bahkan dia tidak tahu apa yang diinginkan. saya khawatir perempuan yang ini begitu. saya sungguh khawatir dia adalah timbangan yang rentan pecah dan patah itu, dan dia adalah bagian bahu yang harus menanggung nyeri otot selamanya.
memang begitu siklus KDRT, korban terus ditekan sehingga mempersepsi dirinya bahwa dia tidak mampu hidup sendiri, bahwa masih ada harapan di depan. padahal dia telah menunggu harapan itu selama lebih dari 20 tahun. ah..bagaimana dia menyimpan harapan itu lama sekali tanpa ada expired date nya?
kalau masalah mampu berdiri sendiri itu masalah materi, saya yakin betul perempuan ini mampu, karena seumur-umur dia berdagang untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. beda lagi kalau pertimbangan figur suami atau figur ayah yang mungkin akan hilang. tapi kembali lagi, figur suami dan ayah seperti apa? apakah kelengkapan itu akan menjamin kesehatan mental bagi keluarga? kalau urusannya hanya kelengkapan dan bukan kualitas figur, rasanya oke sajalah pilihan bersama itu. tapi kan tidak sesederhana itu. apakah anak akan diminta terus mendengar kata-kata kasar dari figur ayah? aahhh...silahkan dipikirkan bersama
perempuan kedua datang dari keluarga tidak mampu
usianya 24 tahun an. lulusan SMU dan belum bekerja
ibu nya harus membiayai kehidupan mereka dari berjualan genjer (=sayuran apa ya?hihi) yang hasilnya tidak seberapa
sampai disini apa yang akan kita katakan? “kasihan...”
si anak perempuan itu tidak suka berkotor-kotor membantu ibunya
sampai disini apa yang akan kita katakan? “dasar anak yang gak punya belas kasihan sama ortu..”
si anak perempuan itu punya pacar, lelaki setengah baya, sipir penjara. lelaki itu sudah menikah dan punya 3 orang anak.
suka sekali perempuan itu padanya
menyerahkan kehormatannya pada laki-laki itu, berulang kali
mempertontonkan “kemesraan” di tempat umum
berharap dinikahi meskipun dia tahu si lelaki sudah berkeluarga
senang sekali diberi materi
cinta sekali si perempuan ini pada si lelaki, catat :CINTA!!
dan dengan gampang menilai si lelaki adalah lelaki baik
baik? baik seperti apa?
baik karena si lelaki memberinya uang 50 ribu sebulan? lumayanlah karena si perempuan belum kerja?
baik karena si lelaki berjanji menikahinya?
baik karena mengira si lelaki hanya “setia” padanya?
hahaha...sini saya kasih tahu bahwa si lelaki pernah merayu sahabatnya sendiri!!
biar sampai sini, saya saja yang bilang “PEREMPUAN BODOH!!!”
mungkin persepsi itu akan tetap seperti itu, sampai si lelaki menjadi suaminya...setelah itu, saya tidak yakin persepsi itu akan bertahan
tidak seperti barang elektronik yang memberi jaminan 1 tahun, pada kasus ini tidak ada jaminan bahwa lelaki itu tidak akan memperlakukannya seperti dia memperlakukan istrinya
ah, perempuan seperti ini, harus disalahkan?
saya tidak berpikir juga begitu. anda tidak dapat bertepuk tangan kan, kalo tangan anda hanya satu? maka hubungan ini tidak akan terjadi hanya karena si perempuan yang bodoh, tapi juga karena si lelaki yang tidak bertanggungjawab
seperti saya selalu bilang “jangan cuma salahin dan benci sama mayang...itu si bambang juga salah, dan mestinya dia memang gak pantes untuk halimah, jadi yo wis, ikhlasin aja cerai. toh kalau teteup aja dipaksain nyambung, si bambang gak ikhlas juga, halimah gak nyaman secara batin” *hush...nggosip kan???? STOP!!*
Allah telah memberi kita kelengkapan yang tiada tara : RASIO dan HATI
cinta tidak berhenti pada hati. hati punya nurani, silahkan tanyakan padanya. cinta juga butuh pertimbangan rasio, silahkan tanya padanya
kalau kebutuhan materi berhenti pada rasio. rasio juga bagian kecerdasan, yang memberikan kita berbagai alternatif dari pilihan yang bisa dibuat. masak iya cari materi cuma dengan cara macarin suami orang? materi juga butuh hati dan nurani, silahkan tanyakan padanya, materi seperti apa yang halal?
kita kan suka sok tahu gitu....
omong-omong tentang sok tahu
semalam baru saja saya ngobrol ringan
ahhh...urusan gosip lagi...!!
saya mah milih senyum-senyum aja
kalo bisa lari tapi gak nyakitin itu orang yang lagi ngomongin orang, gimana caranya?
ah, susah betul, serba salah
“kadang perempuan itu toleransinya memang harus lebih gede ya”
“emangnya kenapa?” saya mulai nimbrung karena ini jurusan netral dikit lah
“lha itu, istrinya galak (catat:itu kata suaminya, atau ini mah kira-kira si pembicara itu saja), makanya suaminya gak mau pulang. apalagi istrinya lagi hamil 8 bulan”
hahhhh? masih si istri aja yang disalahin???lha saya tanya
“kata siapa istrinya galak?”
“ya ini mah kira-kira aja...makanya suaminya yang pengangguran itu gak mau pulang ke rumah, malah tidur di tempat kakak sepupunya”
“hehe...ya ndak bisa kira-kira dong. gak adil kan mempersepsi dan menilai orang dari perkiraan. jangankan dari perkiraan, dari satu pihak aja juga gak adil rasanya. lha suaminya bilang istrinya galak..itu kan dia aja yang ngomong, kata istrinya jangan-jangan lain lagi. rasanya gak bisa dibahas kalo gak netral gitu”
“lha kata tetangga yang lain itu juga, susah sih kalo sama-sama sumatra, keras” eiiiittttts yang orang sumatera jangan marah dulu...baca pembelaan saya ini
“ya kalo urusannya stereotip ya gak akan positif jadinya. lha kita yang orang sunda di cap matre sama orang jawa sana, apa mau? lha dulu mertua saya khawatir berat karena stereotip itu. lha yang rugi kan siapa? nah sekarang kita juga ngecap orang-orang dari suku lain dengan stereotip tertentu, ya gak bisa. misalnya nih, saya pake contoh saya aja deh. stereotip matre itu nempel erat di benak orang-orang sekitar saya yang notabene jawa. trus begitu rumah saya yang sekarang kosong blong, gak ada perabotan, mereka seenaknya bilang bahwa saya sih boros, beli kebutuhan sendiri aja, soalnya tahu dong, orang sunda kan gitu. halah...halah...ya saya pasti bete banget kan, sok tahu!! lha saya juga yakin si istri hamil 8 bulan itu juga gak suka dihakimi tanpa dia bersuara. meskipun dihakimi gak kedengeran ma dia, tapi Allah jelas gak suka”
akhirnya, saya mulai menghakimi si suami itu malah...(hihi..tersulut)
“nih yah..yang saya tahu itu cuma reputasi si suami itu. sejak belom nikah aja hobinya ngelaba, maenin perempuan, morotin perempuan punya duit, gak sopan, kasar...lha rasanya lebih pantas kan si suami itu yang dihakimi sebagai figur yang tidak bertanggungjawab..ya tapi gak tahu juga kalo sekarang dia berubah. kalo pake data yang dulu, ya lebih pantas dia yang disalahin. lagian lelaki macam apaan tuh, kecewa ma istri, malah kabur nginep tempat orang lain, apalagi istrinya udah mau ngelahirin. gila kali ya dia *saya mulai panas*. saya lebih mikir dia yang malah pantes disalahin. ah..kan mulai menghakimi orang tanpa dia dikasih kesempatan untuk bicara dan membela diri”
STOP..STOP..
saya mulai sok tahu, gak netral, dan buruknya lagi, saya tidak lebih baik dari mereka..sama aja..suka nyampurin urusan orang tanpa diminta
eiittts...ampun saya belum jadi psikolog, jadi belum kena sanksi kode etik psikolog kan?
semalam baru saja saya ngobrol ringan
ahhh...urusan gosip lagi...!!
saya mah milih senyum-senyum aja
kalo bisa lari tapi gak nyakitin itu orang yang lagi ngomongin orang, gimana caranya?
ah, susah betul, serba salah
“kadang perempuan itu toleransinya memang harus lebih gede ya”
“emangnya kenapa?” saya mulai nimbrung karena ini jurusan netral dikit lah
“lha itu, istrinya galak (catat:itu kata suaminya, atau ini mah kira-kira si pembicara itu saja), makanya suaminya gak mau pulang. apalagi istrinya lagi hamil 8 bulan”
hahhhh? masih si istri aja yang disalahin???lha saya tanya
“kata siapa istrinya galak?”
“ya ini mah kira-kira aja...makanya suaminya yang pengangguran itu gak mau pulang ke rumah, malah tidur di tempat kakak sepupunya”
“hehe...ya ndak bisa kira-kira dong. gak adil kan mempersepsi dan menilai orang dari perkiraan. jangankan dari perkiraan, dari satu pihak aja juga gak adil rasanya. lha suaminya bilang istrinya galak..itu kan dia aja yang ngomong, kata istrinya jangan-jangan lain lagi. rasanya gak bisa dibahas kalo gak netral gitu”
“lha kata tetangga yang lain itu juga, susah sih kalo sama-sama sumatra, keras” eiiiittttts yang orang sumatera jangan marah dulu...baca pembelaan saya ini
“ya kalo urusannya stereotip ya gak akan positif jadinya. lha kita yang orang sunda di cap matre sama orang jawa sana, apa mau? lha dulu mertua saya khawatir berat karena stereotip itu. lha yang rugi kan siapa? nah sekarang kita juga ngecap orang-orang dari suku lain dengan stereotip tertentu, ya gak bisa. misalnya nih, saya pake contoh saya aja deh. stereotip matre itu nempel erat di benak orang-orang sekitar saya yang notabene jawa. trus begitu rumah saya yang sekarang kosong blong, gak ada perabotan, mereka seenaknya bilang bahwa saya sih boros, beli kebutuhan sendiri aja, soalnya tahu dong, orang sunda kan gitu. halah...halah...ya saya pasti bete banget kan, sok tahu!! lha saya juga yakin si istri hamil 8 bulan itu juga gak suka dihakimi tanpa dia bersuara. meskipun dihakimi gak kedengeran ma dia, tapi Allah jelas gak suka”
akhirnya, saya mulai menghakimi si suami itu malah...(hihi..tersulut)
“nih yah..yang saya tahu itu cuma reputasi si suami itu. sejak belom nikah aja hobinya ngelaba, maenin perempuan, morotin perempuan punya duit, gak sopan, kasar...lha rasanya lebih pantas kan si suami itu yang dihakimi sebagai figur yang tidak bertanggungjawab..ya tapi gak tahu juga kalo sekarang dia berubah. kalo pake data yang dulu, ya lebih pantas dia yang disalahin. lagian lelaki macam apaan tuh, kecewa ma istri, malah kabur nginep tempat orang lain, apalagi istrinya udah mau ngelahirin. gila kali ya dia *saya mulai panas*. saya lebih mikir dia yang malah pantes disalahin. ah..kan mulai menghakimi orang tanpa dia dikasih kesempatan untuk bicara dan membela diri”
STOP..STOP..
saya mulai sok tahu, gak netral, dan buruknya lagi, saya tidak lebih baik dari mereka..sama aja..suka nyampurin urusan orang tanpa diminta
eiittts...ampun saya belum jadi psikolog, jadi belum kena sanksi kode etik psikolog kan?
Minggu, 20 Juli 2008
cerita dari bis
tuh kan, rusak deh kalo saya udah mulai nulis satu, urusan analisis ini jadi pengangguran dan jadi urusan dan tanggung jawab negara, kayak pasal 34 (bener ndak ya?)
ini cuma cerita saya dari bis, pas jadi ibu semi durhaka beberapa hari lalu karena ninggal anaknya sendiri di Serang, sementara saya mengejar sesuatu di jogja
liburan ini membuat panen uang buat bis antar kota
bis nya penuh..nuh..sampe kursi istirahat supir yang paling belakang itu aja dijual, yang gila lagi kursi kernet yang di sebelah supir juga dijual
nasib..nasib...
alhamdulillah bukan nasib saya
karena saya masih kebagian tempat duduk penumpang meskipun di aku nomor-nomor bukan pilihan
maka dimulailah perjalanan saya pulang pergi dalam waktu tiga hari dua malam itu
sungguh saya merindukan malam di jogja
gimana gak, lha saya nyampe jogja jam 6 pagi, siang jam 3 dah pulang lagi..
tapi jelas-jelas saya lebih merindukan saffa dong
saat pergi saya sekursi dengan seorang ayah muda yang baru punya bayi usia 6 bulan
seru juga ngobrolin anak, melihat dari versi bapak
bapak-bapak juga ternyata bisa kangen lho sama anaknya..hihihi
ah..jadi inget ayah yang udah setengah bulan ini gak ketemu saffa
lebih seru lagi saat balik dari yk
pertama, saya sekursi dengan perempuan luar biasa, seorang guru TK. suaminya wafat saat anak-anaknya masih kecil-kecil karena kecelakaan. membesarkan tiga anak sendirian, dan tetap setia menjaga mereka sendirian, tak tergoyahkan untuk menikah lagi. sekarang anaknya udah SMU semua, minta sekolah di yk. jadilah si ibu sendirian di rumah.
kedua, posisi kursi saya yang begitu nyamannya, dekat dengan speaker bis membuat saya mendengar blending musik yang asik sama sekali tidak enak saat malam hari. si supir memilihkan lagu broeri dan dewi yull dengan lagunya yang mendayu2...disaat mereka mendayu, sayup namun jelas, seseorang yang rupanya tak nyaman sama sekali dengan musik itu memilih menyalakan musiknya sendiri..buruknya lagi dia duduk di kursi depan saya. kalau masalah musik, mungkin saya memilih musik yang diputarnya : GIGI-11 Januari. tapi kalau dicampur apa jadi enak ya?
jadilah saya memilih lagu accapella yang dinyanyikan ibu-ibu yang duduk di belakang saya. lagunya dMassive versi baru gini : “kau membuat ku bahagia...dst..” karena ini versi baru dan tidak beredar di pasaran, saya sungguh tidak ingat lengkap. kalau saya disuruh jadi komentator kenapa saya milih lagu ini *dengan bergaya sok jadi titi DJ di Indonesian Idol* saya akan bilang “ibu sungguh menjiwai lagu ini”
lha gimana ndak, lha wong dia nyanyiin buat anaknya yang lagi didekapnya dengan penuh sayang *kira-kira begitu*
blending terakhir yang saya dengar : suaminya si ibu yang nyanyi itu muntah-muntah (kenapa???apa gara-gara si ibu nyanyi??))
jangan suudzon atuh..kita kan lewat nagrek, jadinya jalannya mulak-malik..
ketiga, bis saya macet pas mau masuk cikampek selama hampir 2 jam
sayup-sayup “selangnya putus” gitu kata pak supir
dan suami saya berpesan “jangan tidur, takut kebakar...”
jadilah sampai di serang, saya terkena demam, disertai mual-mual
penyebabnya..silahkan dianalisa dianalisis sendiri
ini cuma cerita saya dari bis, pas jadi ibu semi durhaka beberapa hari lalu karena ninggal anaknya sendiri di Serang, sementara saya mengejar sesuatu di jogja
liburan ini membuat panen uang buat bis antar kota
bis nya penuh..nuh..sampe kursi istirahat supir yang paling belakang itu aja dijual, yang gila lagi kursi kernet yang di sebelah supir juga dijual
nasib..nasib...
alhamdulillah bukan nasib saya
karena saya masih kebagian tempat duduk penumpang meskipun di aku nomor-nomor bukan pilihan
maka dimulailah perjalanan saya pulang pergi dalam waktu tiga hari dua malam itu
sungguh saya merindukan malam di jogja
gimana gak, lha saya nyampe jogja jam 6 pagi, siang jam 3 dah pulang lagi..
tapi jelas-jelas saya lebih merindukan saffa dong
saat pergi saya sekursi dengan seorang ayah muda yang baru punya bayi usia 6 bulan
seru juga ngobrolin anak, melihat dari versi bapak
bapak-bapak juga ternyata bisa kangen lho sama anaknya..hihihi
ah..jadi inget ayah yang udah setengah bulan ini gak ketemu saffa
lebih seru lagi saat balik dari yk
pertama, saya sekursi dengan perempuan luar biasa, seorang guru TK. suaminya wafat saat anak-anaknya masih kecil-kecil karena kecelakaan. membesarkan tiga anak sendirian, dan tetap setia menjaga mereka sendirian, tak tergoyahkan untuk menikah lagi. sekarang anaknya udah SMU semua, minta sekolah di yk. jadilah si ibu sendirian di rumah.
kedua, posisi kursi saya yang begitu nyamannya, dekat dengan speaker bis membuat saya mendengar blending musik yang asik sama sekali tidak enak saat malam hari. si supir memilihkan lagu broeri dan dewi yull dengan lagunya yang mendayu2...disaat mereka mendayu, sayup namun jelas, seseorang yang rupanya tak nyaman sama sekali dengan musik itu memilih menyalakan musiknya sendiri..buruknya lagi dia duduk di kursi depan saya. kalau masalah musik, mungkin saya memilih musik yang diputarnya : GIGI-11 Januari. tapi kalau dicampur apa jadi enak ya?
jadilah saya memilih lagu accapella yang dinyanyikan ibu-ibu yang duduk di belakang saya. lagunya dMassive versi baru gini : “kau membuat ku bahagia...dst..” karena ini versi baru dan tidak beredar di pasaran, saya sungguh tidak ingat lengkap. kalau saya disuruh jadi komentator kenapa saya milih lagu ini *dengan bergaya sok jadi titi DJ di Indonesian Idol* saya akan bilang “ibu sungguh menjiwai lagu ini”
lha gimana ndak, lha wong dia nyanyiin buat anaknya yang lagi didekapnya dengan penuh sayang *kira-kira begitu*
blending terakhir yang saya dengar : suaminya si ibu yang nyanyi itu muntah-muntah (kenapa???apa gara-gara si ibu nyanyi??))
jangan suudzon atuh..kita kan lewat nagrek, jadinya jalannya mulak-malik..
ketiga, bis saya macet pas mau masuk cikampek selama hampir 2 jam
sayup-sayup “selangnya putus” gitu kata pak supir
dan suami saya berpesan “jangan tidur, takut kebakar...”
jadilah sampai di serang, saya terkena demam, disertai mual-mual
penyebabnya..silahkan dianalisa dianalisis sendiri
urusan kamu ya punya kamu...
Lama betul saya tidak menulis
kepala saya sebetulnya sudah mau meledak karena jenuh dengan analisis ini itu yang tidak kunjung selesai…
tapi semua butuh pengorbanan kan?
apalagi sekarang gak bisa konek sapenake dewek sama internet
jadilah begini nasibnya
di rumah saya ini ada dua gadis, asisten rumah tangga…gadis yang sungguh2 sedang beranjak dewasa, mencari identitas dan pengakuan..hingga di satu titik saya merasa mereka bablas *kenapa jadi ini bahasannya?*
omong punya omong..kemarin kami membahas masalah gossip
terungkap dengan jelas..lugas..
diawali dengan saling permintaan maaf, dan diakhiri dengan bahasan yang sifatnya filosofis etis netral (=tidak melibatkan nama siapapun!!).
Lha saya tanya “apa enaknya ngomongin orang?”
jawab gadis itu “enak banget teh, yang tadinya pendek jadi panjang...”
balik lagi “lha padahal kamu yo gak ada urusannya tho?”
“ya iya sih..tapi enak aja gitu”
kesimpulan : ngomongin orang itu kayak refreshing dari segala urusan pribadi. lha kita gak mikirin jalan keluar dari masalah atau urusan orang itu kan? makanya diomongin panjang lebar dikali tinggi juga gak akan bikin pusing kepala. yang bikin pusing kepala ya justru urusan pribadi kita sendiri
Lha saya bilang “yo wis, namanya juga orang hidup, sosialisasi sama orang”
gadis itu menjawab “iya teh, yang baik aja diomongin apalagi yang gak baik”
lha trus saya tanya “berarti mending kita bikin prilaku jelek aja ya biar gak rugi diomongin orang juga?”
kesimpulan: coba liat kalimat terakhir saya. kesimpulan picik kan?
jangan berhenti sampe situ...
dengar seseorang bilang setelah kalimat itu
“ya ndak dong, yang penting perilaku kita aja dijaga. urusan orang mau bilangin apa ya terserah. kayak kamu gadis (sambil menunjuk ke gadis satunya...), kalau kamu gak mau diomongin pulang malem, pacaran terus tiap malem sama orang2 dan orangtua kamu denger, ya berarti jangan begitu dong. tapi ya jangan marah kalau kamu udah berperilaku begitu, trus diomongin orang, lha itu kan emang kenyataannya, kamu susah protes”
gadis itu manggut-manggut aja
lha saya nyahut “apa orang yang ngomongin itu lebih baik daripada yang diomongin?”
saya teringat gadis itu pernah bercerita tentang seseorang yang sedang ngurusin orang lain dan sama sekali tidak ada pengaruh pada urusannya
“tahu gak, si ibu itu tuh, suka ngomongin orang lho, gak kayak suaminya yang kalem..”
Punten pisan bu..apa bedanya ibu dengan ibu yang diomongin itu????
ups..saya mulai ikut2an kan?
jangan pernah ngerasain enaknya, takut ketagihan
kepala saya sebetulnya sudah mau meledak karena jenuh dengan analisis ini itu yang tidak kunjung selesai…
tapi semua butuh pengorbanan kan?
apalagi sekarang gak bisa konek sapenake dewek sama internet
jadilah begini nasibnya
di rumah saya ini ada dua gadis, asisten rumah tangga…gadis yang sungguh2 sedang beranjak dewasa, mencari identitas dan pengakuan..hingga di satu titik saya merasa mereka bablas *kenapa jadi ini bahasannya?*
omong punya omong..kemarin kami membahas masalah gossip
terungkap dengan jelas..lugas..
diawali dengan saling permintaan maaf, dan diakhiri dengan bahasan yang sifatnya filosofis etis netral (=tidak melibatkan nama siapapun!!).
Lha saya tanya “apa enaknya ngomongin orang?”
jawab gadis itu “enak banget teh, yang tadinya pendek jadi panjang...”
balik lagi “lha padahal kamu yo gak ada urusannya tho?”
“ya iya sih..tapi enak aja gitu”
kesimpulan : ngomongin orang itu kayak refreshing dari segala urusan pribadi. lha kita gak mikirin jalan keluar dari masalah atau urusan orang itu kan? makanya diomongin panjang lebar dikali tinggi juga gak akan bikin pusing kepala. yang bikin pusing kepala ya justru urusan pribadi kita sendiri
Lha saya bilang “yo wis, namanya juga orang hidup, sosialisasi sama orang”
gadis itu menjawab “iya teh, yang baik aja diomongin apalagi yang gak baik”
lha trus saya tanya “berarti mending kita bikin prilaku jelek aja ya biar gak rugi diomongin orang juga?”
kesimpulan: coba liat kalimat terakhir saya. kesimpulan picik kan?
jangan berhenti sampe situ...
dengar seseorang bilang setelah kalimat itu
“ya ndak dong, yang penting perilaku kita aja dijaga. urusan orang mau bilangin apa ya terserah. kayak kamu gadis (sambil menunjuk ke gadis satunya...), kalau kamu gak mau diomongin pulang malem, pacaran terus tiap malem sama orang2 dan orangtua kamu denger, ya berarti jangan begitu dong. tapi ya jangan marah kalau kamu udah berperilaku begitu, trus diomongin orang, lha itu kan emang kenyataannya, kamu susah protes”
gadis itu manggut-manggut aja
lha saya nyahut “apa orang yang ngomongin itu lebih baik daripada yang diomongin?”
saya teringat gadis itu pernah bercerita tentang seseorang yang sedang ngurusin orang lain dan sama sekali tidak ada pengaruh pada urusannya
“tahu gak, si ibu itu tuh, suka ngomongin orang lho, gak kayak suaminya yang kalem..”
Punten pisan bu..apa bedanya ibu dengan ibu yang diomongin itu????
ups..saya mulai ikut2an kan?
jangan pernah ngerasain enaknya, takut ketagihan
Rabu, 02 Juli 2008
berbicara tentang pekerjaan untuk perempuan
dua hari lalu saya ditanya
"dimana kamu akan bekerja setelah lulus nanti?"
saya menjawab "ada satu perusahaan yang sudah menawari saya pekerjaan setelah saya lulus nanti, tapi sebagai perempuan dengan double role, sebagai ibu juga, saya harus rethinking lagi. yang jelas saya akan tetap ada di area publik, pada pekerjaan-pekerjaan dengan flexible work hours namun saya tetap bisa improve dan sharing pengetahuan dan skill saya"
sehari lalu
saya dan seorang sahabat perempuan kembali berbincang mengenai pekerjaan
pasal nya dia yang telah menikah, mendapat pekerjaan di sebuah BUMN
hingga di akhir, suatu saat kami memutuskan untuk berafiliasi menjadi ratu di usaha kami sendiri
namun kami kembali mempertimbangkan karakteristik personal kami yg begitu semangatnya untuk sampai di titik tertentu. namun ketika sampai, kami kembali mempertimbangkan titik lain yg lbh tinggi dan terlalu menarik untuk dilewatkan
ah, kalau begitu terus, kapan ngurusin keluarganya???
balik lagi, ternyata pertimbangan bekerja sendiri juga tidak menjadi pilihan yang baik kalau tidak dibarengi kontrol diri yang bagus
dan saya pikir Allah telah begitu adil memberikan sesuatu tepat pada waktu nya dan tempatnya
pernah saya nyeletuk ke ibu saya
"bu, kalau fie gak dikasih jodoh cpet, keburu ngerasain berkarir, fie khawatir malah lama nikahnya, keasyikan kerja, ngejar karir, ntar ibu malah bingung juga..."
gitu juga dengan teman saya itu
saya kembali berpikir kalau Allah gak kasih saffa cepet-cepet dalam kehidupan saya, mungkin hidup saya dan suami sudah terpisah jarak saat ini, lha saya pasti kekeuh cari kerjaan asik di luar kota
maka Allah begitu sangat tahunya bahwa kontrol diri saya begitu rendahnya dalam memenuhi harapan, sifat dan ambisi saya itu, maka diberikanNya ayah dan saffa dalam hidup saya sebagai penyeimbang dan pengontrol
nah, untuk perempuan-perempuan yang memutuskan memiliki peran ganda, serius ini bukanlah hal mudah
saya pribadi merasa mengorbankan masa depan anak sama sekali gak worthed dengan karir yang mungkin akan saya dapat dengan merelakan perhatian saya tersita untuk pekerjaan dan sisanya untuk anak
saya sendiri gak siap menemukan saffa sudah tidur saat pulang kantor,menemani kelelapan tidurnya dengan pekerjaan yang saya bawa ke rumah, dan meninggalkannya saat masih tidur kala saya berangkat ke kantor
maka perlu mendefinisikan kembali orientasi hidup, cara mencapainya, dan mengenal kembali diri anda
lalu memutuskan bagaimana anda mengatur semua itu dan mengontrol diri anda
"dimana kamu akan bekerja setelah lulus nanti?"
saya menjawab "ada satu perusahaan yang sudah menawari saya pekerjaan setelah saya lulus nanti, tapi sebagai perempuan dengan double role, sebagai ibu juga, saya harus rethinking lagi. yang jelas saya akan tetap ada di area publik, pada pekerjaan-pekerjaan dengan flexible work hours namun saya tetap bisa improve dan sharing pengetahuan dan skill saya"
sehari lalu
saya dan seorang sahabat perempuan kembali berbincang mengenai pekerjaan
pasal nya dia yang telah menikah, mendapat pekerjaan di sebuah BUMN
hingga di akhir, suatu saat kami memutuskan untuk berafiliasi menjadi ratu di usaha kami sendiri
namun kami kembali mempertimbangkan karakteristik personal kami yg begitu semangatnya untuk sampai di titik tertentu. namun ketika sampai, kami kembali mempertimbangkan titik lain yg lbh tinggi dan terlalu menarik untuk dilewatkan
ah, kalau begitu terus, kapan ngurusin keluarganya???
balik lagi, ternyata pertimbangan bekerja sendiri juga tidak menjadi pilihan yang baik kalau tidak dibarengi kontrol diri yang bagus
dan saya pikir Allah telah begitu adil memberikan sesuatu tepat pada waktu nya dan tempatnya
pernah saya nyeletuk ke ibu saya
"bu, kalau fie gak dikasih jodoh cpet, keburu ngerasain berkarir, fie khawatir malah lama nikahnya, keasyikan kerja, ngejar karir, ntar ibu malah bingung juga..."
gitu juga dengan teman saya itu
saya kembali berpikir kalau Allah gak kasih saffa cepet-cepet dalam kehidupan saya, mungkin hidup saya dan suami sudah terpisah jarak saat ini, lha saya pasti kekeuh cari kerjaan asik di luar kota
maka Allah begitu sangat tahunya bahwa kontrol diri saya begitu rendahnya dalam memenuhi harapan, sifat dan ambisi saya itu, maka diberikanNya ayah dan saffa dalam hidup saya sebagai penyeimbang dan pengontrol
nah, untuk perempuan-perempuan yang memutuskan memiliki peran ganda, serius ini bukanlah hal mudah
saya pribadi merasa mengorbankan masa depan anak sama sekali gak worthed dengan karir yang mungkin akan saya dapat dengan merelakan perhatian saya tersita untuk pekerjaan dan sisanya untuk anak
saya sendiri gak siap menemukan saffa sudah tidur saat pulang kantor,menemani kelelapan tidurnya dengan pekerjaan yang saya bawa ke rumah, dan meninggalkannya saat masih tidur kala saya berangkat ke kantor
maka perlu mendefinisikan kembali orientasi hidup, cara mencapainya, dan mengenal kembali diri anda
lalu memutuskan bagaimana anda mengatur semua itu dan mengontrol diri anda
langkah kedua perempuan-perempuan
dengan semena-mena, tanpa analisis mendalam, saya menyimpulkan ada beberapa langkah kritis perempuan
1.saat remaja, mencari orientasi hidup, masalah cinta cintaan itu dan sebagainya
2.begitu masuk masa dewasa, ada kekhawatiran, untuk perempuan-perempuan tertentu, dari budaya tertentu, kapan ya punya suami, ih kok gak laku ya...takut jadi perawan tua
3.saat baru menikah : bisa gak ya membahagiakan suami, jadi istri yang baik, gimana jadi menantu yang baik, bisa punya anak gak ya
4.begitu punya anak, anak ku ntar tumbuh jadi kayak apa ya..apa sambil punya anak ini bisa kerja (perempuan ini ada dalam budaya campuran...kadang lebih kasian, soalnya malah kebingunan menentukan orientasi dan prioritas hidupnya)
yang ini tentang langkah ke dua
saya baru saja ngobrol dengan sahabat saya yang luar biasa. cerdas, aktif, religius..kriteria yang diinginkan calon suami manapun
dan baru saja beliau menikah..
sampailah kami pada dialog ttg banyaknya ekspektasi pada perempuan
perempuan-perempuan seperti kami, yang dulu jijingkrakan..kesana..kemari..kesitu..kesini..
stres kalo gak ada kerjaan, dan senang kalo banyak kerjaan
stres kalo gak dikejar-kejar deadline
stres kalo potensi mulut yang sekian lama dikembangkan di psikologi ini mengangin begitu saja
mulut pegel bukan karena kebanyakan ngomong, tapi karena kebanyakan diam
ealah..
sahabat ini begitu bingung dengan ekspektasi misuanya
yang disampaikan kepadanya dengan bahasa filosofis
ah, bukankah bahasa misua dengan istri memang berbeda
sahabat saya itu sungguh bingung dengan aktifitas nya yang seabrek sekarang, misua jauh, dengan usaha yang sungguh keras untuk mengerjakan selayaknya menantu, bahkan menurut saya sudah luar biasa, maka bingunglah dia dengan ekspektasi filosofis itu
bagi saya, persoalan ini nampak sederhana, namun juga tidak mudah
bahasa istri dan misua tidak sama
dilahirkan dalam keluarga berbeda, budaya yang tak sama, bahasa yang hanya bersaudara, kebiasaan yang jelas kadangkala tak seirama
maka apa yang dinyatakan dan diperbuat dalam bahasa dan gerakan sama kadangkala mengandung interpretasi berbeda
saya lebih suka meminta suami saya berbicara dalam bahasa operasional
menjadi penghubung ekspektasi keluarganya dengan saya
apa yang saya maksudkan, apa yang keluarganya maksudkan
menjadi suami istri kan tidak sekedar ijab kabul, terus sah, hidup berdua
tapi hidup nya jadi banyakan iya kan?
tambah kaya..kaya sodara
tapi semakin kaya tidak semakin mempermudah juga bukan
semakin complicated dan butuh kompetensi memanaje yang lebih bagus
apapun di manaje
yang penting suami istri solid
maka langkah perempuan-perempuan yang baru saja menjadi istri ini begitu indahnya
dan langkah ini tidak membuat dahinya berkerut dan cepat tua karena mentranslate ekspekstasi dan mencoba menjalankan semuanya
pilih saja prioritasnya, kalau memang ekspektasi ini tidak bisa dipenuhi sekarang, jalan melingkar
hanya perlu kebijakan..kebijakan istri, juga suami
1.saat remaja, mencari orientasi hidup, masalah cinta cintaan itu dan sebagainya
2.begitu masuk masa dewasa, ada kekhawatiran, untuk perempuan-perempuan tertentu, dari budaya tertentu, kapan ya punya suami, ih kok gak laku ya...takut jadi perawan tua
3.saat baru menikah : bisa gak ya membahagiakan suami, jadi istri yang baik, gimana jadi menantu yang baik, bisa punya anak gak ya
4.begitu punya anak, anak ku ntar tumbuh jadi kayak apa ya..apa sambil punya anak ini bisa kerja (perempuan ini ada dalam budaya campuran...kadang lebih kasian, soalnya malah kebingunan menentukan orientasi dan prioritas hidupnya)
yang ini tentang langkah ke dua
saya baru saja ngobrol dengan sahabat saya yang luar biasa. cerdas, aktif, religius..kriteria yang diinginkan calon suami manapun
dan baru saja beliau menikah..
sampailah kami pada dialog ttg banyaknya ekspektasi pada perempuan
perempuan-perempuan seperti kami, yang dulu jijingkrakan..kesana..kemari..kesitu..kesini..
stres kalo gak ada kerjaan, dan senang kalo banyak kerjaan
stres kalo gak dikejar-kejar deadline
stres kalo potensi mulut yang sekian lama dikembangkan di psikologi ini mengangin begitu saja
mulut pegel bukan karena kebanyakan ngomong, tapi karena kebanyakan diam
ealah..
sahabat ini begitu bingung dengan ekspektasi misuanya
yang disampaikan kepadanya dengan bahasa filosofis
ah, bukankah bahasa misua dengan istri memang berbeda
sahabat saya itu sungguh bingung dengan aktifitas nya yang seabrek sekarang, misua jauh, dengan usaha yang sungguh keras untuk mengerjakan selayaknya menantu, bahkan menurut saya sudah luar biasa, maka bingunglah dia dengan ekspektasi filosofis itu
bagi saya, persoalan ini nampak sederhana, namun juga tidak mudah
bahasa istri dan misua tidak sama
dilahirkan dalam keluarga berbeda, budaya yang tak sama, bahasa yang hanya bersaudara, kebiasaan yang jelas kadangkala tak seirama
maka apa yang dinyatakan dan diperbuat dalam bahasa dan gerakan sama kadangkala mengandung interpretasi berbeda
saya lebih suka meminta suami saya berbicara dalam bahasa operasional
menjadi penghubung ekspektasi keluarganya dengan saya
apa yang saya maksudkan, apa yang keluarganya maksudkan
menjadi suami istri kan tidak sekedar ijab kabul, terus sah, hidup berdua
tapi hidup nya jadi banyakan iya kan?
tambah kaya..kaya sodara
tapi semakin kaya tidak semakin mempermudah juga bukan
semakin complicated dan butuh kompetensi memanaje yang lebih bagus
apapun di manaje
yang penting suami istri solid
maka langkah perempuan-perempuan yang baru saja menjadi istri ini begitu indahnya
dan langkah ini tidak membuat dahinya berkerut dan cepat tua karena mentranslate ekspekstasi dan mencoba menjalankan semuanya
pilih saja prioritasnya, kalau memang ekspektasi ini tidak bisa dipenuhi sekarang, jalan melingkar
hanya perlu kebijakan..kebijakan istri, juga suami
Selasa, 01 Juli 2008
saya di jogja lagi
setelah mempertimbangkan satu dan lain hal, maka sampailah saya disini
dengan penuh deg-deg an, ambil resiko dan dengan doa dan kemauan
senang melihat kak saffa ketemu lagi dengan ayahnya
semua harus dengan ayah
hari pertama saat bertemu
makan, harus disuapi dari tangan ayah
gendong, mau sama ayah
kursi dikasihin ke ayah
semua ayah..ayah..ayah..
rasanya semua rindu tumpah
rindu saya, rindu saffa, rindu ayah
bukankah ini keindahan dari sebuah keluarga?
kebersamaan...anugerah yang kadangkala luput dari kesyukuran
bukankah saya termasuk salah satu perempuan beruntung
di tengah keterbatasan kami, ada saat gaji tinggal seuprut, karena digunakan ini itu, saya dan suami malah tertawa, menertawakan apa entah..tapi itu sungguh tertawa bahagia
di tengah kebutuhan hidup, suami begitu legowo memberikan kesempatan saya sekolah walaupun harus banting tulang, peras keringat
di tengah kesibukan kami, saffa menjadi penghibur gratis, memberikan senyum dan ucapan syukur atas setiap langkah dalam perkembangannya
bukankah saya termasuk perempuan yang harus mengucapkan syukur di setiap tarikan garis bibir senyum saya, bahkan di setiap nafas yang saya ambil dan kembali hembuskan
karena saya percaya, keberuntungan ini adalah cinta yang tidak semua orang kadangkala bisa merasakan secara implisit
saya kembali di jogja
tempat pulang juga
merasakan bahwa begitu banyak kesyukuran yang harus saya ucapkan dan lakukan
dengan penuh deg-deg an, ambil resiko dan dengan doa dan kemauan
senang melihat kak saffa ketemu lagi dengan ayahnya
semua harus dengan ayah
hari pertama saat bertemu
makan, harus disuapi dari tangan ayah
gendong, mau sama ayah
kursi dikasihin ke ayah
semua ayah..ayah..ayah..
rasanya semua rindu tumpah
rindu saya, rindu saffa, rindu ayah
bukankah ini keindahan dari sebuah keluarga?
kebersamaan...anugerah yang kadangkala luput dari kesyukuran
bukankah saya termasuk salah satu perempuan beruntung
di tengah keterbatasan kami, ada saat gaji tinggal seuprut, karena digunakan ini itu, saya dan suami malah tertawa, menertawakan apa entah..tapi itu sungguh tertawa bahagia
di tengah kebutuhan hidup, suami begitu legowo memberikan kesempatan saya sekolah walaupun harus banting tulang, peras keringat
di tengah kesibukan kami, saffa menjadi penghibur gratis, memberikan senyum dan ucapan syukur atas setiap langkah dalam perkembangannya
bukankah saya termasuk perempuan yang harus mengucapkan syukur di setiap tarikan garis bibir senyum saya, bahkan di setiap nafas yang saya ambil dan kembali hembuskan
karena saya percaya, keberuntungan ini adalah cinta yang tidak semua orang kadangkala bisa merasakan secara implisit
saya kembali di jogja
tempat pulang juga
merasakan bahwa begitu banyak kesyukuran yang harus saya ucapkan dan lakukan
Selasa, 24 Juni 2008
senangnya pulang...
alhamdulillah saya sampai juga di serang
meskipun rasanya udah basi pas nulis disini, soalnya udah seminggu lebih
terminologi pulang selalu saya pakai, kalo tidak, ibu saya *marah besar* protes, karena saya telah merasa jogja juga sebagai tempat pulang
ah, saya kan jadi senang malah, banyak tempat pulang
ketika pulang berkonotasi dengan kembali pada pangkuan, maka yang terasa hanya damai
tapi untuk pulang "sungguhan", saya belum berani
meskipun ada abah juga menanti disana..
meskipun rasanya udah basi pas nulis disini, soalnya udah seminggu lebih
terminologi pulang selalu saya pakai, kalo tidak, ibu saya *marah besar* protes, karena saya telah merasa jogja juga sebagai tempat pulang
ah, saya kan jadi senang malah, banyak tempat pulang
ketika pulang berkonotasi dengan kembali pada pangkuan, maka yang terasa hanya damai
tapi untuk pulang "sungguhan", saya belum berani
meskipun ada abah juga menanti disana..
Kamis, 12 Juni 2008
kontrol kualitas untuk produk bayi dan anak
siang ini secara gak sengaja saya liat berita mayangsari yang memasukan ibu nya ke salah satu rumah sakit di purwokerto
ini mengingatkan saya pada sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kasus ini
tapi pada kasus botol susu chicco saffa sekitar lebih dari setahun lalu
ceritanya:
saya beli botol susu chicco tambahan untuk saffa yang baru usia 3/4 bulan untuk nyimpan ASI saya, kebetulan pemeras ASI saya juga mereknya chicco.
kebetulan di toko wijaya, langganan kami, hanya tinggal satu botol saja. maka suami saya yang waktu itu sendirian membelinya, terpaksa membelinya karena butuh
sampe rumah, saya heran karena botolnya kok cuma disegel sama wrap biasa yang biasa saya pake di dapur untuk makanan, biasanya sama segel plastik yang lebih kenceng dan dipres pabrik gitu. tapi saya pikir memang ada perubahan segel kali ya.
iseng-iseng suami saya liat ada kekusaman di bagian bawah botol
lha, saya pikir lagi, mungkin karena jatuh aja
setelah diamati lebih dekat, ealah, ternyata itu busakan (apa ya bahasa indo nya??) dari logo dan tulisan salah satu RS di purwokerto
bahaya banget kan? saya gak kebayang lho, botol sampah dan bekas gitu dijual di toko besar yang sudah punya banyak cabang. saya juga gak kebayang gimana sistem kontrol di distributor chicco maupun toko itu. dimana proses yang salah?
yang jelas setelah itu saya komplain dan diminta menunggu satu minggu untuk dapet botol yang baru
tapi tetep aja kejadian ini jadi titik penting untuk ngingetin saya dan ibu-ibu lain, bahwa kita bener-bener-bener harus waspada dan hati-hati memilihkan produk untuk anak kita..meskipun udah pake produk yang bermerek dan beli di toko yang "terpercaya" tetep aja kontrol kualitas bisa miss...
sebaiknya ibu menjadi kontrol kualitas yang paling ketat ya...
ini mengingatkan saya pada sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kasus ini
tapi pada kasus botol susu chicco saffa sekitar lebih dari setahun lalu
ceritanya:
saya beli botol susu chicco tambahan untuk saffa yang baru usia 3/4 bulan untuk nyimpan ASI saya, kebetulan pemeras ASI saya juga mereknya chicco.
kebetulan di toko wijaya, langganan kami, hanya tinggal satu botol saja. maka suami saya yang waktu itu sendirian membelinya, terpaksa membelinya karena butuh
sampe rumah, saya heran karena botolnya kok cuma disegel sama wrap biasa yang biasa saya pake di dapur untuk makanan, biasanya sama segel plastik yang lebih kenceng dan dipres pabrik gitu. tapi saya pikir memang ada perubahan segel kali ya.
iseng-iseng suami saya liat ada kekusaman di bagian bawah botol
lha, saya pikir lagi, mungkin karena jatuh aja
setelah diamati lebih dekat, ealah, ternyata itu busakan (apa ya bahasa indo nya??) dari logo dan tulisan salah satu RS di purwokerto
bahaya banget kan? saya gak kebayang lho, botol sampah dan bekas gitu dijual di toko besar yang sudah punya banyak cabang. saya juga gak kebayang gimana sistem kontrol di distributor chicco maupun toko itu. dimana proses yang salah?
yang jelas setelah itu saya komplain dan diminta menunggu satu minggu untuk dapet botol yang baru
tapi tetep aja kejadian ini jadi titik penting untuk ngingetin saya dan ibu-ibu lain, bahwa kita bener-bener-bener harus waspada dan hati-hati memilihkan produk untuk anak kita..meskipun udah pake produk yang bermerek dan beli di toko yang "terpercaya" tetep aja kontrol kualitas bisa miss...
sebaiknya ibu menjadi kontrol kualitas yang paling ketat ya...
mahasiswa yang ini, mahasiswa yang itu
saya punya teman, saya memanggilnya mas abu
saya kagum padanya.penampilan sederhana, mau berteman dengan siapa saja, kerendahan hatinya. meskipun kadangkala, begitu rendahnya, beberapa orang mengesankan blio orang yang rendah diri
blio yang berasal dari tegal, suatu kali ketika ditanya darimana asalnya oleh salah seorang dosen, harus berputar-putar untuk mengatakan darimana asalnya. sehingga dosen itu mengatakan "tidak usah malu, ndak papa, bilang aja dari tegal, ndak ada yang perlu dipermalukan.."
apakah saat itu mas abu rendah diri, saya tidak tahu.....
kelebihan dalam dirinya, kecerdasannya, tidak didukung oleh support finanasial memadai, yang mengharuskan dirinya juga bekerja sambil kuliah, tapi dia tetap kuliah. melanjutkan penulisan skripsi dengan judul BERAT itu. luar biasa
suami saya punya mahasiswa. saya ketemu dengannya di salah satu toko komputer di jogjakarta. sudah 7 tahun belum lulus juga. kenapa?apa seperti mas abu?
ya..dia bekerja. apa bedanya dengan mas abu? dia tidak suka skripsi, tapi dia mau selesai..ada cara lain? oooh, pastinya ada. mau cara yang halal atau haram?
ah, dia pilih yang haram. yang diajak bersekongkol untuk meluluskannya dengan tujuan haram itu suami saya pula.
sebal betul suami saya ketika dalam sehari dia ditelpon untuk dimintai kerjasama dalam persekongkolan itu. liciknya, dia menyuruh sahabat dekat suami saya untuk meminta suami saya berbuat hina dina itu. pengecuttttt...
suami saya marah, entah marah pada yang mana
alasan tidak bisa skripsi sambil bekerja tidak masuk di akal siapapun, termasuk saya
saya punya mas abu yang begitu luar biasanya mengerjakan skripsinya
saya punya mbak rini yang sudah punya anak 2 dan sedang hamil, masih bersemangat mengerjakan skripsinya dengan cara halal
silahkan cari akal orang lain untuk bisa dimasuki sehingga skripsinya bisa kelar
tapi bukan akal suami saya, ndak usah bilang-bilang suami saya akal siapa yang berhasil dimasuki..itu urusan anda dengan Allah
"maka tolong menolonglah dalam kebajikan...."
smoga ini masih kuat kami pegang.amien
saya kagum padanya.penampilan sederhana, mau berteman dengan siapa saja, kerendahan hatinya. meskipun kadangkala, begitu rendahnya, beberapa orang mengesankan blio orang yang rendah diri
blio yang berasal dari tegal, suatu kali ketika ditanya darimana asalnya oleh salah seorang dosen, harus berputar-putar untuk mengatakan darimana asalnya. sehingga dosen itu mengatakan "tidak usah malu, ndak papa, bilang aja dari tegal, ndak ada yang perlu dipermalukan.."
apakah saat itu mas abu rendah diri, saya tidak tahu.....
kelebihan dalam dirinya, kecerdasannya, tidak didukung oleh support finanasial memadai, yang mengharuskan dirinya juga bekerja sambil kuliah, tapi dia tetap kuliah. melanjutkan penulisan skripsi dengan judul BERAT itu. luar biasa
suami saya punya mahasiswa. saya ketemu dengannya di salah satu toko komputer di jogjakarta. sudah 7 tahun belum lulus juga. kenapa?apa seperti mas abu?
ya..dia bekerja. apa bedanya dengan mas abu? dia tidak suka skripsi, tapi dia mau selesai..ada cara lain? oooh, pastinya ada. mau cara yang halal atau haram?
ah, dia pilih yang haram. yang diajak bersekongkol untuk meluluskannya dengan tujuan haram itu suami saya pula.
sebal betul suami saya ketika dalam sehari dia ditelpon untuk dimintai kerjasama dalam persekongkolan itu. liciknya, dia menyuruh sahabat dekat suami saya untuk meminta suami saya berbuat hina dina itu. pengecuttttt...
suami saya marah, entah marah pada yang mana
alasan tidak bisa skripsi sambil bekerja tidak masuk di akal siapapun, termasuk saya
saya punya mas abu yang begitu luar biasanya mengerjakan skripsinya
saya punya mbak rini yang sudah punya anak 2 dan sedang hamil, masih bersemangat mengerjakan skripsinya dengan cara halal
silahkan cari akal orang lain untuk bisa dimasuki sehingga skripsinya bisa kelar
tapi bukan akal suami saya, ndak usah bilang-bilang suami saya akal siapa yang berhasil dimasuki..itu urusan anda dengan Allah
"maka tolong menolonglah dalam kebajikan...."
smoga ini masih kuat kami pegang.amien
Selasa, 10 Juni 2008
saya sudah besar
apa karena saya bungsu?
maka tadi pagi ibu saya sekonyong-konyong telepon. apa yang hendak dibahas?
"fie jangan lupa, rumah diberesin ya sebelum berangkat, seprei diganti, dirapiin, jadi ntar yusuf pulang udah enak rumahnya, gak ruwet..."
"iya bu...biasanya juga gitu"
rumpi sana sini
"fie mungkin kalo gak naik pesawat, mendingan naik kereta aja bu.."
"oh iya, nanti dijemput aja ya..?"
"adduh bu, gak usah, ngerepotin semua orang..fie kan udah gede.."
ibu saya hanya tertawa-tawa
tertawa ingat bahwa saya sudah besar?
atau tertawa karena saya merasa sudah besar ya..hanya merasa?
ah...
jangan-jangan besok-besok saya pun begitu pada anak saya
kayaknya emang iya...:)
maka tadi pagi ibu saya sekonyong-konyong telepon. apa yang hendak dibahas?
"fie jangan lupa, rumah diberesin ya sebelum berangkat, seprei diganti, dirapiin, jadi ntar yusuf pulang udah enak rumahnya, gak ruwet..."
"iya bu...biasanya juga gitu"
rumpi sana sini
"fie mungkin kalo gak naik pesawat, mendingan naik kereta aja bu.."
"oh iya, nanti dijemput aja ya..?"
"adduh bu, gak usah, ngerepotin semua orang..fie kan udah gede.."
ibu saya hanya tertawa-tawa
tertawa ingat bahwa saya sudah besar?
atau tertawa karena saya merasa sudah besar ya..hanya merasa?
ah...
jangan-jangan besok-besok saya pun begitu pada anak saya
kayaknya emang iya...:)
Senin, 09 Juni 2008
jadi posisi mahasiswa itu sebagai....
beberapa kasus belakangan ini yang datang pergi silih berganti, tak kenal lelah dan sepenuh daya upaya membuat saya bertanya sendiri, jadi posisi mahasiswa itu sebagai apa di kampus? ketika menghadapi satu situasi, terutama yang nggak ngenakin, tersersit dalam benak saya, saat ini posisi saya dimana ya? kok bisa ndak ditengok sama petugas admin nya? posisi saya dimana ya, kok ttd untuk revisi saya tertunda lama hanya karena dosen ke luar kota? atau posisi saya dimana ya, saat kadangkala "mereka" menggunakan nada yang nampaknya sulit diterima di telinga saya?
ada beberapa posisi yang mungkin bisa saya tempati :
1. customer
sebagai customer, mahasiswa ini kan seharusnya dilayani, ya toh? lha wong mahasiswa bayar mahal, ikut tes, dsb. masalah kemudian mereka menyatakan bahwa uang yang mahasiswa bayarkan untuk kuliah itu hanya mencukupi sedikit dan lebihnya kerja bakti atau bahwa subsidi dari pemerintah, itu kan bukan lagi urusan mahasiswa, apakah jadinya seperti mahasiswa memang mendapatkan setimpal dengan yang dibayarkannya. tapi toh mahasiswa di indonesia tidak punya pilihan banyak, dengan sistem pendidikan yang masih memilah-milah kualitas dari segi face validity aja. lha pindak kesana, yo pelayanannya sama, pindah ke situh, juga sama. halah...halah..
seperti teman saya yang batal ikut seleksi di tempat saya sekarang kuliah. apa gerangan?? setelah memperoleh berbagai informasi ttg pelayanannya, diitung-itung positip dan negatipnya. lha tapi apa teman saya itu punya banyak pilihan? kalau mau memilah berdasarkan face validity, maka program yang sama ini tersedia di 4 univ saja...pilihan sulit kan? dan 3 tempat lain itu juga belum tentu lebih baik pelayanannya. pada akhirnya kalo temen saya itu udah kepentok, ya udah pilih yang inih aja. sama kasusnya dengan teman seangkatan saya sekarang. dosennya gak rekomend untuk ambil program profesi di salah satu univ di SBY, karena dibilang seringkali banyak jam kosong. larilah dia ke sini. apa yang terjadi? kejadiannya sama seperti yang gak direkomen itu...heyalaah...
2. bawahan
kalo jadi bawahan, konteksnya kan mestinya ada struktur ya. lagian kalo mahasiswa jadi bawahannya admin ato bawahannya dosen, apa serta merta bisa diperlakukan dengan miris gitu? disudutkan gitu? healah...mahasiswa itu kan udah melebihi tahap operasional konkret ya? ato memang pendidikan ini didisain untuk memberhentikan mahasiswa di tahapan itu ya?
healah, wong tren nya udah transformasional leadership kok, masih pake tipe pemimpin X, jadinya ya begini ini...lha teori ne di kelas ndak kepake tho yo?
3. rekan sejawat, teman untuk sama-sama tumbuh
indah kan kalo begini. mahasiswa cukup dewasa dan patut dihormati dengan dipanggil "anda" bukan "kamu". mahasiswa cukup dewasa untuk diajak dialog. ahhh...pasti bapak ibu paham konsep asertif kan...eiittts asertif lho, bukan galak, bukan nyela, bukan kalimat sinistik, sarkastik...mahasiwa kadangkala lebih tahu, meskipun mungkin banyak tidak tahu :), jadi mbok nyuwun tulung diberlakukan dialog setara..diskusi menarik saya dengan seorang dosen dari ilmu lain di univ ini, yang mengeluhkan belum tumbuhnya kebebasan akademik disini..dan itu yang mengekang mahasiswa untuk menumbuhkan ide cemerlangnya. "anda harus punya referensi jurnal asing..." begitu saya cerita padanya. beliau yang notabene dari ilmu eksak sempat bilang "lha padahal kan nggak bisa begitu, perilaku dengan culture kita kan beda" SETUJU..tapi gimana lagi?? "ah gawat kalau banyak orang cari aman.." *iya pak, seperti saya*
dengan helaan nafas yang sudah tertahan seminggu, saya bilang "ya, gak ada pilihan pak, masalah biaya gak bisa kompromi dengan idealisme kebebasan itu. kelelahan untuk menantang culture yang sudah menjadi peraturan resmi"
Maka, para mahasiswa, begitu anda mendapatkan perilaku "menyenangkan" atau "tidak menyenangkan" pastikan dimana peran dan posisi anda pada situasi itu. salah tafsir bisa bikin geer ato malah sakit hati..
ada beberapa posisi yang mungkin bisa saya tempati :
1. customer
sebagai customer, mahasiswa ini kan seharusnya dilayani, ya toh? lha wong mahasiswa bayar mahal, ikut tes, dsb. masalah kemudian mereka menyatakan bahwa uang yang mahasiswa bayarkan untuk kuliah itu hanya mencukupi sedikit dan lebihnya kerja bakti atau bahwa subsidi dari pemerintah, itu kan bukan lagi urusan mahasiswa, apakah jadinya seperti mahasiswa memang mendapatkan setimpal dengan yang dibayarkannya. tapi toh mahasiswa di indonesia tidak punya pilihan banyak, dengan sistem pendidikan yang masih memilah-milah kualitas dari segi face validity aja. lha pindak kesana, yo pelayanannya sama, pindah ke situh, juga sama. halah...halah..
seperti teman saya yang batal ikut seleksi di tempat saya sekarang kuliah. apa gerangan?? setelah memperoleh berbagai informasi ttg pelayanannya, diitung-itung positip dan negatipnya. lha tapi apa teman saya itu punya banyak pilihan? kalau mau memilah berdasarkan face validity, maka program yang sama ini tersedia di 4 univ saja...pilihan sulit kan? dan 3 tempat lain itu juga belum tentu lebih baik pelayanannya. pada akhirnya kalo temen saya itu udah kepentok, ya udah pilih yang inih aja. sama kasusnya dengan teman seangkatan saya sekarang. dosennya gak rekomend untuk ambil program profesi di salah satu univ di SBY, karena dibilang seringkali banyak jam kosong. larilah dia ke sini. apa yang terjadi? kejadiannya sama seperti yang gak direkomen itu...heyalaah...
2. bawahan
kalo jadi bawahan, konteksnya kan mestinya ada struktur ya. lagian kalo mahasiswa jadi bawahannya admin ato bawahannya dosen, apa serta merta bisa diperlakukan dengan miris gitu? disudutkan gitu? healah...mahasiswa itu kan udah melebihi tahap operasional konkret ya? ato memang pendidikan ini didisain untuk memberhentikan mahasiswa di tahapan itu ya?
healah, wong tren nya udah transformasional leadership kok, masih pake tipe pemimpin X, jadinya ya begini ini...lha teori ne di kelas ndak kepake tho yo?
3. rekan sejawat, teman untuk sama-sama tumbuh
indah kan kalo begini. mahasiswa cukup dewasa dan patut dihormati dengan dipanggil "anda" bukan "kamu". mahasiswa cukup dewasa untuk diajak dialog. ahhh...pasti bapak ibu paham konsep asertif kan...eiittts asertif lho, bukan galak, bukan nyela, bukan kalimat sinistik, sarkastik...mahasiwa kadangkala lebih tahu, meskipun mungkin banyak tidak tahu :), jadi mbok nyuwun tulung diberlakukan dialog setara..diskusi menarik saya dengan seorang dosen dari ilmu lain di univ ini, yang mengeluhkan belum tumbuhnya kebebasan akademik disini..dan itu yang mengekang mahasiswa untuk menumbuhkan ide cemerlangnya. "anda harus punya referensi jurnal asing..." begitu saya cerita padanya. beliau yang notabene dari ilmu eksak sempat bilang "lha padahal kan nggak bisa begitu, perilaku dengan culture kita kan beda" SETUJU..tapi gimana lagi?? "ah gawat kalau banyak orang cari aman.." *iya pak, seperti saya*
dengan helaan nafas yang sudah tertahan seminggu, saya bilang "ya, gak ada pilihan pak, masalah biaya gak bisa kompromi dengan idealisme kebebasan itu. kelelahan untuk menantang culture yang sudah menjadi peraturan resmi"
Maka, para mahasiswa, begitu anda mendapatkan perilaku "menyenangkan" atau "tidak menyenangkan" pastikan dimana peran dan posisi anda pada situasi itu. salah tafsir bisa bikin geer ato malah sakit hati..
Kamis, 05 Juni 2008
batal lagi...
ibu saya sudah menunggu kedatangan saya dengan harap-harap cemas *emang segitunya ya??*
makanya saya sedih banget tiap kali harus ngasih tahu gak jadi dateng lagi, atau telat lagi..sampai ibu saya tanya "jadinya kapan nih???"
kedatangan saya seringkali jadi momen yang ditunggu ibu. soalnya saya yang paling jauh dari enam anaknya. udah bungsu, jauh pula, gitu kata beliau. dulu saya inget banget sebelum beneran punya rencana nikah sama ayahnya, ipar saya bilang "jangan jauh-jauh lho fie, malah kayak mutusin silaturahmi..."
soalnya awalnya memang saya yang diharapkan untuk nemenin ibu yang udah sendirian setelah ditinggal abah tahun 2002. tapi takdir Allah menentukan saya harus tinggal di jogja, yang jauhnya gak ketulungan dari serang. sebetulnya gak jauh banget, tapi karena ibu saya back pain, yang menyulitkannya untuk duduk, maka belum pernah sekalipun blio bisa menengok saya disini, maka saya saja yang seringkali pulang. dulu pas belum punya saffa bisa sampe 6 kali setahun, kalo sekarang mah, karena mesti boyongan, jadi didiskon 2-3 kali aja setahun.
minggu ini sebetulnya rencana final saya, yang hampir pasti jadi..jadi..dan jadi
tapi apa daya, ayah kena masuk angin parah mulai dari hari IELT nya itu...saffa malah ikutan pake masuk angin...setelah itu kerjaan ayah minggu ini sampai senin malah tambah banyak yang bikin blio pulang-pergi luar kota (padahal cuma dari jogja ke bantul ya??hehe gayanya luar kota..)
maka, dengan penuh penyesalan, lagi lagi saya mesti mengabarkan ini ke ibu saya
sedih...
makanya saya sedih banget tiap kali harus ngasih tahu gak jadi dateng lagi, atau telat lagi..sampai ibu saya tanya "jadinya kapan nih???"
kedatangan saya seringkali jadi momen yang ditunggu ibu. soalnya saya yang paling jauh dari enam anaknya. udah bungsu, jauh pula, gitu kata beliau. dulu saya inget banget sebelum beneran punya rencana nikah sama ayahnya, ipar saya bilang "jangan jauh-jauh lho fie, malah kayak mutusin silaturahmi..."
soalnya awalnya memang saya yang diharapkan untuk nemenin ibu yang udah sendirian setelah ditinggal abah tahun 2002. tapi takdir Allah menentukan saya harus tinggal di jogja, yang jauhnya gak ketulungan dari serang. sebetulnya gak jauh banget, tapi karena ibu saya back pain, yang menyulitkannya untuk duduk, maka belum pernah sekalipun blio bisa menengok saya disini, maka saya saja yang seringkali pulang. dulu pas belum punya saffa bisa sampe 6 kali setahun, kalo sekarang mah, karena mesti boyongan, jadi didiskon 2-3 kali aja setahun.
minggu ini sebetulnya rencana final saya, yang hampir pasti jadi..jadi..dan jadi
tapi apa daya, ayah kena masuk angin parah mulai dari hari IELT nya itu...saffa malah ikutan pake masuk angin...setelah itu kerjaan ayah minggu ini sampai senin malah tambah banyak yang bikin blio pulang-pergi luar kota (padahal cuma dari jogja ke bantul ya??hehe gayanya luar kota..)
maka, dengan penuh penyesalan, lagi lagi saya mesti mengabarkan ini ke ibu saya
sedih...
Rabu, 04 Juni 2008
ketep pass, "harus" dikunjungi
ini merupakan tempat asik banget untuk dikunjungi di daerah magelang
kalau tanya dimana tempatnya? maka saya akan menjawab "monggo diliat di peta aja ya" saya sense of direction nya parah sangat, kalau skalanya pake likert 1-5, dari sehat-parah, maka skala saya 5,5 hehe
apa yang bisa didapet disana? UDARA SEGAR jelas
selain itu pemandangan yang indah, sambil maem jagung bakar merupakan aktifitas yang gak boleh dilewatin
selain pemandangan indah itu, ada juga volcano theater (sayangnya 2x kesana saya gak sempet masuk)
sepanjang perjalanan kesana, ada juga orang jualan taneman, sayuran "aneh", maka yang suka taneman, jadi kayak surga aja
eittt...disana juga ada teropong yang bisa dipake untuk ngeliat pemandangan di sekitar
pemandangan apa yang bisa dilihat?perpaduan, pernikahan, atau apalah antara gunung merapi dan merbabu, yang kalo lagi cerah-rah-rah (gak berkabut), maka bisa diliat dengan jelas..indah sungguh
kalau ke ketep dari arah jogja, jangan lupa mampir di rumah makan cinde laras
dimana itu? emmm...pokoe dari jogja, sebelah kiri jalan..bentar ya tak tanyain ayah dulu
disana menunya unik (menurut saya lho ya..). jarang-jarang kan anda menemukan menu telur ikan (sedepppp), ikan wader dan udang sungai kecil-kecil, ditambah pake sambal terasinya yang sedep atau pake bumbu pecelnya yang uenak tenan
saya rela melakukan perjalanan jauh jogja-magelang cuma mau makan disini..sungguh!!
kalau tanya dimana tempatnya? maka saya akan menjawab "monggo diliat di peta aja ya" saya sense of direction nya parah sangat, kalau skalanya pake likert 1-5, dari sehat-parah, maka skala saya 5,5 hehe
apa yang bisa didapet disana? UDARA SEGAR jelas
selain itu pemandangan yang indah, sambil maem jagung bakar merupakan aktifitas yang gak boleh dilewatin
selain pemandangan indah itu, ada juga volcano theater (sayangnya 2x kesana saya gak sempet masuk)
sepanjang perjalanan kesana, ada juga orang jualan taneman, sayuran "aneh", maka yang suka taneman, jadi kayak surga aja
eittt...disana juga ada teropong yang bisa dipake untuk ngeliat pemandangan di sekitar
pemandangan apa yang bisa dilihat?perpaduan, pernikahan, atau apalah antara gunung merapi dan merbabu, yang kalo lagi cerah-rah-rah (gak berkabut), maka bisa diliat dengan jelas..indah sungguh
kalau ke ketep dari arah jogja, jangan lupa mampir di rumah makan cinde laras
dimana itu? emmm...pokoe dari jogja, sebelah kiri jalan..bentar ya tak tanyain ayah dulu
disana menunya unik (menurut saya lho ya..). jarang-jarang kan anda menemukan menu telur ikan (sedepppp), ikan wader dan udang sungai kecil-kecil, ditambah pake sambal terasinya yang sedep atau pake bumbu pecelnya yang uenak tenan
saya rela melakukan perjalanan jauh jogja-magelang cuma mau makan disini..sungguh!!
terobsesi teori konspirasi
traveler melecutkan kembali minat teori konspirasi setelah sempat meredam karena sudah terlalu lama berhenti membaca da vinci code
bulan ini beberapa kejadian di negeri ini melecutkan pemikiran teori itu
seperti yang sebelumnya saya tulis disini
1. kasus yang masih hangat adalah munarman
sederhana saja pemikiran saya. beberapa informasi menyebutkan sepak terjang blio di negeri ini. marilah sebelumnya saya mengajak anda untuk berpikir SEMPIT-seSEMPITsempitnya. sehingga FPI atau LPI kita simpan di sisi kontra-demokrasi, karena "kebrutalan"nya di beberapa kejadian. maka bagi saya ,munarman yang merupakan mantan anggota LBH dan KONTRAS (yang dengan pikiran sempit seSEMPITsempitnya kita letakan di organisasi pro demokrasi. maka ada tanda tanya besar sebanyak 100X yang mengikuti dibelakangnya. kenapa idalisme munarman bisa berubah begitu jauhnya?apa?
apakah memang ada masukan ideologi dan brainwash yang begitu hebatnya sehingga bisa mengubah idealisme seorang yang dianggap kuat idealismenya yang telah mengakar selama bertahun-tahun? atau apakah yang dulu dia kerjakan hanya tuntutan tugas saja yang bertentangan dengan idealismenya? ataukah idealismenya yang dulu itu yang terus mengakar kuat, membuat dia melakukan sesuatu dengan memasukan dirinya di dalam organiasi kontra-demokrasi itu?dan lihat akibat masuknya beliau di organisasi itu saat ini. akibat meluas, lebih luas akibatnya dari sepakterjang FPI di masa lalu.
2. kasus blue energy
hilangnya pak joko membuat saya merefresh lagi tentang teori konspirasi itu. pemikiran saya ada disini
ah, manusia memang sebegitu pintar dan luar biasanya kan??
bulan ini beberapa kejadian di negeri ini melecutkan pemikiran teori itu
seperti yang sebelumnya saya tulis disini
1. kasus yang masih hangat adalah munarman
sederhana saja pemikiran saya. beberapa informasi menyebutkan sepak terjang blio di negeri ini. marilah sebelumnya saya mengajak anda untuk berpikir SEMPIT-seSEMPITsempitnya. sehingga FPI atau LPI kita simpan di sisi kontra-demokrasi, karena "kebrutalan"nya di beberapa kejadian. maka bagi saya ,munarman yang merupakan mantan anggota LBH dan KONTRAS (yang dengan pikiran sempit seSEMPITsempitnya kita letakan di organisasi pro demokrasi. maka ada tanda tanya besar sebanyak 100X yang mengikuti dibelakangnya. kenapa idalisme munarman bisa berubah begitu jauhnya?apa?
apakah memang ada masukan ideologi dan brainwash yang begitu hebatnya sehingga bisa mengubah idealisme seorang yang dianggap kuat idealismenya yang telah mengakar selama bertahun-tahun? atau apakah yang dulu dia kerjakan hanya tuntutan tugas saja yang bertentangan dengan idealismenya? ataukah idealismenya yang dulu itu yang terus mengakar kuat, membuat dia melakukan sesuatu dengan memasukan dirinya di dalam organiasi kontra-demokrasi itu?dan lihat akibat masuknya beliau di organisasi itu saat ini. akibat meluas, lebih luas akibatnya dari sepakterjang FPI di masa lalu.
2. kasus blue energy
hilangnya pak joko membuat saya merefresh lagi tentang teori konspirasi itu. pemikiran saya ada disini
ah, manusia memang sebegitu pintar dan luar biasanya kan??
saya, kaktus dan bicara
saya marah
kaktus saya kok tidak tumbuh
saya marah
halaman rumah saya begitu kering
saya marah
hujan tidak sempat mampir di halaman rumah saya
saya takut
hujan yang kan datang begitu derasnya
sampai menyesali permohonan saya
ah sudah saatnya
saya bicara
hujan yang begitu deraskah?
uaa pada awalnya
tapi tidak lama
setelah itu langit begitu cerahnya
halaman saya telah terbasahi
semoga kaktus saya segera tumbuh
050608-bicara dengan sungguh2 dan benar
kaktus saya kok tidak tumbuh
saya marah
halaman rumah saya begitu kering
saya marah
hujan tidak sempat mampir di halaman rumah saya
saya takut
hujan yang kan datang begitu derasnya
sampai menyesali permohonan saya
ah sudah saatnya
saya bicara
hujan yang begitu deraskah?
uaa pada awalnya
tapi tidak lama
setelah itu langit begitu cerahnya
halaman saya telah terbasahi
semoga kaktus saya segera tumbuh
050608-bicara dengan sungguh2 dan benar
Selasa, 03 Juni 2008
arti ayah=abah=bapak=apapun anda memanggilnya
saya mungkin termasuk ibu yang memendam rasa iri hati. gimana gak, kak saffa lebih lancar, fasih, dan seringkali memanggil AYAH ketimbang IBU. mencoba bercermin, mungkin karena saya galak kali ya, jadi saffa lebih suka panggil AYAH nya ketimbang IBU nya
maka, di setiap tangisannya, yang dipanggil AYAH, bukan IBU
saya ndak bisa kebayang bila suatu hari nanti, keluarga kami harus menjalani SLJJ, maksudnya hubungan jarak jauh, dan kalau kebiasaan menangis memanggil ayah ini berlanjut, maka yang akan menangis tidak hanya saffa sendirian, pasti saya temani...sisi kenlongsoan keluarga SLJJ
tapi ke-iri-an saya ini membawa saya pada kenangan mengenai abah
untuk beberapa hal, saya tahu harus mengadu dan meminta kepada blio
tahun ajaran baru : kebagian abah yang beliin buku dan peralatan tulis
jamannya maen karet untuk lompat, saya minta ke abah, habis ditegur ibu terus gara-gara karet di dapur bablas
jamannya maen bekel, maka abah membelikan saya beberapa set bekel, mulai dari bola paling gede sampe bola paling kecil
bahkan ketika saya dan abah ditinggal ibu yang lagi ada acara ngumpul2 bareng ibu2 selama seminggu, abah mengajak saya ke dufan, tempat yang dia tidak suka sama sekali, dan beliau menunggui saya di parkiran saja dengan supir
kalau saya ditanya arti abah, maka saya hanya akan menangis, tanpa bisa menjelaskannya dengan kata-kata
mungkin itu pula yang dirasakan saffa kepada ayah
kalau saya ditanya arti abah
saya akan mengingat parfum khas nya saat shalat, percikan air wudhunya, doa-nya di ubun-ubun saya, dan air doanya yang selalu saya minta untuk kelancaran studi saya
kalau saya ditanya arti abah
saya akan mengingat lelucon lucunya mengenai angka IP pertama yang saya dapat
angka yang bahkan tidak sempat saya persembahkan--atas pembuktian ketidaksia-siaan kerelaan beliau melepas saya ke jogja--karena blio lebih dahulu dipanggil Allah
kalau saya ditanya arti abah
maka jawabnya hanyalah mengenai darah yang mengalir deras dalam tubuh saya
darah yang membawa pesan dan warning di setiap langkah saya
darah yang membantu nurani saya mengenali kebaikan dan keburukan yang saya ambil
saya kangen abah..
maka, di setiap tangisannya, yang dipanggil AYAH, bukan IBU
saya ndak bisa kebayang bila suatu hari nanti, keluarga kami harus menjalani SLJJ, maksudnya hubungan jarak jauh, dan kalau kebiasaan menangis memanggil ayah ini berlanjut, maka yang akan menangis tidak hanya saffa sendirian, pasti saya temani...sisi kenlongsoan keluarga SLJJ
tapi ke-iri-an saya ini membawa saya pada kenangan mengenai abah
untuk beberapa hal, saya tahu harus mengadu dan meminta kepada blio
tahun ajaran baru : kebagian abah yang beliin buku dan peralatan tulis
jamannya maen karet untuk lompat, saya minta ke abah, habis ditegur ibu terus gara-gara karet di dapur bablas
jamannya maen bekel, maka abah membelikan saya beberapa set bekel, mulai dari bola paling gede sampe bola paling kecil
bahkan ketika saya dan abah ditinggal ibu yang lagi ada acara ngumpul2 bareng ibu2 selama seminggu, abah mengajak saya ke dufan, tempat yang dia tidak suka sama sekali, dan beliau menunggui saya di parkiran saja dengan supir
kalau saya ditanya arti abah, maka saya hanya akan menangis, tanpa bisa menjelaskannya dengan kata-kata
mungkin itu pula yang dirasakan saffa kepada ayah
kalau saya ditanya arti abah
saya akan mengingat parfum khas nya saat shalat, percikan air wudhunya, doa-nya di ubun-ubun saya, dan air doanya yang selalu saya minta untuk kelancaran studi saya
kalau saya ditanya arti abah
saya akan mengingat lelucon lucunya mengenai angka IP pertama yang saya dapat
angka yang bahkan tidak sempat saya persembahkan--atas pembuktian ketidaksia-siaan kerelaan beliau melepas saya ke jogja--karena blio lebih dahulu dipanggil Allah
kalau saya ditanya arti abah
maka jawabnya hanyalah mengenai darah yang mengalir deras dalam tubuh saya
darah yang membawa pesan dan warning di setiap langkah saya
darah yang membantu nurani saya mengenali kebaikan dan keburukan yang saya ambil
saya kangen abah..
Senin, 02 Juni 2008
men sana in corpore sano (bener gak tulisan'e?)
dua hari belakangan ini kondisi kesehatan keluarga kami tak beres sangat
saffa yang tiga hari lalu makan es krim tanpa sepengetahuan saya mendadak sariawan, badannya panas, plus sedikit diare ringan
ayah sudah 4 hari menderita nyeri otot tak jelas ujung pangkal, hingga mual yang jelas ujung pangkal
saya ingat betul ketika akan menghadapi ujian komprehensif, seperti biasa, saya muaaaal (ini adalah reaksi stress saya). lalu ayah berkata : "yaa diusahain jgn tertekan gitu dong bum, berpikir positif" begitu tips ayah pada saya
maka empat hari terakhir ini adalah pembuktian dari kata mutiara "memang psikologi untuk anda, bukan untuk saya" kalau kata mutiara ini tidak tepat untuk ayah yang orang elektro, maka mungkin yang berikut ini lebih tepat "berbicara itu lebih mudah daripada melakukan"
tanggal 30-31 Mei adalah saat mendebarkan dan menentukan dalam sejarah akademis ayah. bagaimana tidak? itu adalah ujian IELT untuk memperbaiki nilainya yang lalu untuk bisa tembus lanjut kul. sampai sebegitu menekan perasaannya, maka mulailah ayah sakit otot. dan dalam dua hari itu, perutnya mual, serasa ingin muntah, dan berlangsung hingga hari ini!! mari kita hitung: 30-31-1-2 ...4 hari. lebih fantastis dari stres saya. pasalnya mungkin karena nilai IELT nya gak bisa diketahui langsung, beda dengan saya yang bisa tahu langsung hasil ujian komprehensif saya
maka, begitu menyadari hal ini, saya pun tersenyum simpul,sedikit manis, sedikit asam..mengingat pesan dan kesannya saat saya mual dulu.
maka bergumamlah ayah "ayah ini sakit jiwa dan raga"
maka, saya menyimpulkan dengan semena-mena : memang terbalik pepatah yang selama ini beredar itu "men sana in corpore sano" lha dia bilang di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. dalam kasus ini, maka pepatah itu menjadi "men sano in corpore sana" di dalam jiwa yang sehat, terdapat tubuh yang kuat..
ah lagi-lagi, seberapa mapan pun pepatah itu, coba pikirkan kembali...
saffa yang tiga hari lalu makan es krim tanpa sepengetahuan saya mendadak sariawan, badannya panas, plus sedikit diare ringan
ayah sudah 4 hari menderita nyeri otot tak jelas ujung pangkal, hingga mual yang jelas ujung pangkal
saya ingat betul ketika akan menghadapi ujian komprehensif, seperti biasa, saya muaaaal (ini adalah reaksi stress saya). lalu ayah berkata : "yaa diusahain jgn tertekan gitu dong bum, berpikir positif" begitu tips ayah pada saya
maka empat hari terakhir ini adalah pembuktian dari kata mutiara "memang psikologi untuk anda, bukan untuk saya" kalau kata mutiara ini tidak tepat untuk ayah yang orang elektro, maka mungkin yang berikut ini lebih tepat "berbicara itu lebih mudah daripada melakukan"
tanggal 30-31 Mei adalah saat mendebarkan dan menentukan dalam sejarah akademis ayah. bagaimana tidak? itu adalah ujian IELT untuk memperbaiki nilainya yang lalu untuk bisa tembus lanjut kul. sampai sebegitu menekan perasaannya, maka mulailah ayah sakit otot. dan dalam dua hari itu, perutnya mual, serasa ingin muntah, dan berlangsung hingga hari ini!! mari kita hitung: 30-31-1-2 ...4 hari. lebih fantastis dari stres saya. pasalnya mungkin karena nilai IELT nya gak bisa diketahui langsung, beda dengan saya yang bisa tahu langsung hasil ujian komprehensif saya
maka, begitu menyadari hal ini, saya pun tersenyum simpul,sedikit manis, sedikit asam..mengingat pesan dan kesannya saat saya mual dulu.
maka bergumamlah ayah "ayah ini sakit jiwa dan raga"
maka, saya menyimpulkan dengan semena-mena : memang terbalik pepatah yang selama ini beredar itu "men sana in corpore sano" lha dia bilang di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. dalam kasus ini, maka pepatah itu menjadi "men sano in corpore sana" di dalam jiwa yang sehat, terdapat tubuh yang kuat..
ah lagi-lagi, seberapa mapan pun pepatah itu, coba pikirkan kembali...
Minggu, 01 Juni 2008
Ini cerita tentang kupu-kupu di kamarku….
Ini cerita tentang kupu-kupu di kamarku….
Sudah berkali-kali
Dan kejadiannya selalu berbeda.......
Ketika aku menemukan suatu benda asing terbang….
Bagian diriku takut…bukan karena imajinasi menyatakan itu makhluk asing….tapi karena aku pikir itu menggigit…mengancam…
Ketika kusadari bagian indahnya…
Baru kuyakini ada sesuatu yang baik akan datang…
Dia terbang, entah mencari apa….aku terpesona............
Meyakini tiap bagian tubuh dan jiwanya adalah keindahan alamiah...
Suatu saat.....
Aku tersadar...
Dia terperangkap dalam kamarku...aku terperangkap dalam pesonanya..
Keduanya sulit melepaskan diri....
Aku terperangkap dalam bayangan kebaikan yang akan aku dapat
bila dia terus bersamaku...
Sementara.....
Dia terperangkap, terkurung dalam ruang, yang entah dia sadar atau tidak besarnya hanya 3x4.....sementara diluar...luas....
Aku ingin dia tinggal selalu....memberikan harapan kebaikan, tapi dia, aku tidak pernah tahu, apakah keinginannya sama denganku....
Tapi kemudian aku ragu...
karena suatu hari aku menemukan kupu-kupu mati di kamarku...
Aku tidak pernah tau....Itu karena proses alamiah, atau proses percepatan karena keberadaannya
Berikutnya...ketika aku sedih, meyapunya keluar dari kamarku...
Kembali terbersit...apakah dia bahagia mati dikamarku....
Itu keinginannya ataukah sebuah keterpaksaan karena terperangkap....
21 maret 2003.....sesuatu yg terlintas...
Sudah berkali-kali
Dan kejadiannya selalu berbeda.......
Ketika aku menemukan suatu benda asing terbang….
Bagian diriku takut…bukan karena imajinasi menyatakan itu makhluk asing….tapi karena aku pikir itu menggigit…mengancam…
Ketika kusadari bagian indahnya…
Baru kuyakini ada sesuatu yang baik akan datang…
Dia terbang, entah mencari apa….aku terpesona............
Meyakini tiap bagian tubuh dan jiwanya adalah keindahan alamiah...
Suatu saat.....
Aku tersadar...
Dia terperangkap dalam kamarku...aku terperangkap dalam pesonanya..
Keduanya sulit melepaskan diri....
Aku terperangkap dalam bayangan kebaikan yang akan aku dapat
bila dia terus bersamaku...
Sementara.....
Dia terperangkap, terkurung dalam ruang, yang entah dia sadar atau tidak besarnya hanya 3x4.....sementara diluar...luas....
Aku ingin dia tinggal selalu....memberikan harapan kebaikan, tapi dia, aku tidak pernah tahu, apakah keinginannya sama denganku....
Tapi kemudian aku ragu...
karena suatu hari aku menemukan kupu-kupu mati di kamarku...
Aku tidak pernah tau....Itu karena proses alamiah, atau proses percepatan karena keberadaannya
Berikutnya...ketika aku sedih, meyapunya keluar dari kamarku...
Kembali terbersit...apakah dia bahagia mati dikamarku....
Itu keinginannya ataukah sebuah keterpaksaan karena terperangkap....
21 maret 2003.....sesuatu yg terlintas...
surat untuk sahabat
Sahabat, teman, pren, bahkan mungkin geng
...apapun nama yang kita tempelkan dulu pada diri sebagai kita
sahabat, teman, pren, bahkan mungkin geng
...apapun nama yang dulu ditempelkan pada orang pada diri sebagai kita
tapi diri memang diri...diri bukan kita....
diri terkadang tidak bisa selamanya menjadi kita...
tapi kita tetap tersimpan rapi dalam tempat tersendiri dalam diri
ketika segalanya bermula...kadangkala kita tidak pernah sadar
mulai kapan, karena apa, mengapa...
sampai prosesnya berjalan...entah lambat atau cepat...
ketika segalanya berjalan...kadangkala kita tidak pernah sadar
seberapa indah, seberapa lama...
semuanya berjalan begitu saja...
kalian yang membuat fie bangga...
ketika segalanya seakan berakhir sebelum akhir...
baru kita sadar, kenapa...mengapa....
meskipun tetap ada ketidakmengertian dan ketidakmenerimaan
bukan karena ego, bukan karena kecewa, bukan karena marah
tapi hingga akhir menjelang akhir, atau saatnya berakhir...
diri telah menemukan diri pada diri...
dan memang sudah saatnya diri menemukan diri...
...apapun nama yang kita tempelkan dulu pada diri sebagai kita
sahabat, teman, pren, bahkan mungkin geng
...apapun nama yang dulu ditempelkan pada orang pada diri sebagai kita
tapi diri memang diri...diri bukan kita....
diri terkadang tidak bisa selamanya menjadi kita...
tapi kita tetap tersimpan rapi dalam tempat tersendiri dalam diri
ketika segalanya bermula...kadangkala kita tidak pernah sadar
mulai kapan, karena apa, mengapa...
sampai prosesnya berjalan...entah lambat atau cepat...
ketika segalanya berjalan...kadangkala kita tidak pernah sadar
seberapa indah, seberapa lama...
semuanya berjalan begitu saja...
kalian yang membuat fie bangga...
ketika segalanya seakan berakhir sebelum akhir...
baru kita sadar, kenapa...mengapa....
meskipun tetap ada ketidakmengertian dan ketidakmenerimaan
bukan karena ego, bukan karena kecewa, bukan karena marah
tapi hingga akhir menjelang akhir, atau saatnya berakhir...
diri telah menemukan diri pada diri...
dan memang sudah saatnya diri menemukan diri...
asiknya punya banyak sodara...
perbedaan pendapat saya mengenai anak yang bisa juga diliat disini
membawa analisis baru, meskipun tidak serta merta mengubah keputusan saya untuk mengikuti program pemerintah 2 anak saja cukupppp, bolehlah kasih bonus 1..:)
sore ini saya tergelitik untuk memikirkan asiknya punya banyak sodara setelah salah satu kakak kirim sms:
"fie yan dulu nana bawain itu boks bayi ato kereta ya. boks nya teh udah hancur. teh um mau beli tapi sayang.."
"kemaren yang dikasih dua-duanya teh. mau dibawain sekalian fie pulang, ato kalo buru2, ntar dikirim aja gimana?
"oh ya, ntar tanyain ka wazin dulu"
saya jadi teringat-ingat perjalanan saya sebagai anak bungsu (cieee)
1. dulu ketika pertama kali memakai jilbab, maka jilbab dan pakaian merupakan pakaian turunan dari teteh, karena saya belum banyak punya baju yang pantas
2. teh juga biasa untuk menurunkan pernak-pernik lain, seperti tas, sepatu, dll...asssikk kan?
3. saat hamil, juga baju turunan dari teteh-teteh
4. saat ayah saya berpulang, maka yang bahu membahu untuk menyekolahkan saya hingga lulus adalah kakak-kakak saya
5. saat hendak melahirkan, banyak kiriman baju, boks, mainan dan kereta bayi untuk saffa
6. saya punya banyak pilihan subjek bercerita untuk cerita-cerita tertentu. misalnya untuk tema A saya pilih teteh B. untuk tema B saya pilih teteh C. begitu juga dengan bertanya, karena mereka masing-masing punya keahlian sendiri-sendiri
tapi ini teteeeeup tidak jadi pertimbangan saya untuk menerima tawaran ayah memiliki anak 5. karena eh karena, posisi saya kan sekarang bukan anak bungsu (yang banyak dapet asik asik) tapi jadi orangtua...maka dua anak aja ya...bonus satu ndak apa-apa deeeh....
membawa analisis baru, meskipun tidak serta merta mengubah keputusan saya untuk mengikuti program pemerintah 2 anak saja cukupppp, bolehlah kasih bonus 1..:)
sore ini saya tergelitik untuk memikirkan asiknya punya banyak sodara setelah salah satu kakak kirim sms:
"fie yan dulu nana bawain itu boks bayi ato kereta ya. boks nya teh udah hancur. teh um mau beli tapi sayang.."
"kemaren yang dikasih dua-duanya teh. mau dibawain sekalian fie pulang, ato kalo buru2, ntar dikirim aja gimana?
"oh ya, ntar tanyain ka wazin dulu"
saya jadi teringat-ingat perjalanan saya sebagai anak bungsu (cieee)
1. dulu ketika pertama kali memakai jilbab, maka jilbab dan pakaian merupakan pakaian turunan dari teteh, karena saya belum banyak punya baju yang pantas
2. teh juga biasa untuk menurunkan pernak-pernik lain, seperti tas, sepatu, dll...asssikk kan?
3. saat hamil, juga baju turunan dari teteh-teteh
4. saat ayah saya berpulang, maka yang bahu membahu untuk menyekolahkan saya hingga lulus adalah kakak-kakak saya
5. saat hendak melahirkan, banyak kiriman baju, boks, mainan dan kereta bayi untuk saffa
6. saya punya banyak pilihan subjek bercerita untuk cerita-cerita tertentu. misalnya untuk tema A saya pilih teteh B. untuk tema B saya pilih teteh C. begitu juga dengan bertanya, karena mereka masing-masing punya keahlian sendiri-sendiri
tapi ini teteeeeup tidak jadi pertimbangan saya untuk menerima tawaran ayah memiliki anak 5. karena eh karena, posisi saya kan sekarang bukan anak bungsu (yang banyak dapet asik asik) tapi jadi orangtua...maka dua anak aja ya...bonus satu ndak apa-apa deeeh....
Jumat, 30 Mei 2008
ribut 'e pak roy dan pak deddy
tiga hari yang lalu, saya tertarik dengan berita deddy corbuzier (bener gak ya nulisnya) yang mau bikin acara lagi untuk nebak berita dunia
selidik punya selidik, ternyata beliau panas tho dengan "analisis ilmiah" e pak roy mengenai trik yang dilakukannya lima tahun lalu
apa yang terbersit di benak saya, kejadian ini jadi begitu lucu.dan pak roy, siapa tho yang minta anda buat buka trik orang lain? lucu tenan tho melucuti trik orang dimana area trik itu menjadi salah satu harga diri nya?ow..ow..ow bagi saya sudah melewati batas kewenangannya. upps.. komentar ini cukup sampai disini saja
ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari ribut'e mereka bedua ini:
1.kasus lucut pelucutan (yang dalam bahasa pak deddy sebagai campur tangan, dalam bahasa pak roy memberi penjelasan ilmiah) paling tidak bisa membuat pak deddy untuk tertantang memberikan kreatifitas baru nya. ayo semangat!!
2. jangan pernah ikut campur urusannya orang, apalgi itu area yang berhubungan dengan mata pencaharian dan terutama harga diri. ikut campur kalo urusannya korupsi, trus komentar dan melucuti ya boleh, wong ini orang bikin kerjaan halal kok. ada kepuasan diri apa tho dari melucuti trik orang itu?
3.berbesar hati. bagi yang dilucuti,mencoba berbesar hati (tidak mudah memang, apalagi kalo saya yang dilucuti). itu tandanya kemampuan anda sungguh luar biasanya hingga ada orang lain yang ingin mencoba melakukannya seperti yang anda lakukan. percayalah, karena anda creator nya, maka anda akan selalu punya kreatifitas lebih darinya
4.satu permasalahan itu bisa ditinjau dari banyak sudut pandang. untuk melakukan suatu trik, ada berbagai sudut pandang, jadi apa yang dikatakan pak roy kan bukan berarti itu trik yang dilakukan oleh pak deddy juga.ya kalo mau bikin, ya bikin show sendiri..bikin yang lebih hebat. saya tidak merasa apa yang dikatakan pak roy itu salah dari sudut pandang ilmiah, tapi kalo dari sudut pandang etika, saya tidak menyarankan untuk dilakukan oleh orang lain. ibaratnya kan untuk nyelesein satu paket soal matematika, kita bisa ngerjain dari nomor urut 1 atau dari nomor urut terakhir untuk tujuan yang sama, nyelesein soal itu.
maka, sebelum berbicara, selain rasionalitas kita, ada hati nurani yang bisa ditanyakan dulu...
selidik punya selidik, ternyata beliau panas tho dengan "analisis ilmiah" e pak roy mengenai trik yang dilakukannya lima tahun lalu
apa yang terbersit di benak saya, kejadian ini jadi begitu lucu.dan pak roy, siapa tho yang minta anda buat buka trik orang lain? lucu tenan tho melucuti trik orang dimana area trik itu menjadi salah satu harga diri nya?ow..ow..ow bagi saya sudah melewati batas kewenangannya. upps.. komentar ini cukup sampai disini saja
ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari ribut'e mereka bedua ini:
1.kasus lucut pelucutan (yang dalam bahasa pak deddy sebagai campur tangan, dalam bahasa pak roy memberi penjelasan ilmiah) paling tidak bisa membuat pak deddy untuk tertantang memberikan kreatifitas baru nya. ayo semangat!!
2. jangan pernah ikut campur urusannya orang, apalgi itu area yang berhubungan dengan mata pencaharian dan terutama harga diri. ikut campur kalo urusannya korupsi, trus komentar dan melucuti ya boleh, wong ini orang bikin kerjaan halal kok. ada kepuasan diri apa tho dari melucuti trik orang itu?
3.berbesar hati. bagi yang dilucuti,mencoba berbesar hati (tidak mudah memang, apalagi kalo saya yang dilucuti). itu tandanya kemampuan anda sungguh luar biasanya hingga ada orang lain yang ingin mencoba melakukannya seperti yang anda lakukan. percayalah, karena anda creator nya, maka anda akan selalu punya kreatifitas lebih darinya
4.satu permasalahan itu bisa ditinjau dari banyak sudut pandang. untuk melakukan suatu trik, ada berbagai sudut pandang, jadi apa yang dikatakan pak roy kan bukan berarti itu trik yang dilakukan oleh pak deddy juga.ya kalo mau bikin, ya bikin show sendiri..bikin yang lebih hebat. saya tidak merasa apa yang dikatakan pak roy itu salah dari sudut pandang ilmiah, tapi kalo dari sudut pandang etika, saya tidak menyarankan untuk dilakukan oleh orang lain. ibaratnya kan untuk nyelesein satu paket soal matematika, kita bisa ngerjain dari nomor urut 1 atau dari nomor urut terakhir untuk tujuan yang sama, nyelesein soal itu.
maka, sebelum berbicara, selain rasionalitas kita, ada hati nurani yang bisa ditanyakan dulu...
omong-omong tentang Sekolah Berstandar Internasional
Salah satu keponakan saya mengambil program SBI (Sekolah Berstandar Internasional)
walhasil, dia menjadi pribadi yang up to date, dan keren untuk ukuran saat saya bersekolah dulu..(ya iya laaah)
kemarin ibunya baru saja SMS untuk menanyakan CD program yang kami punya
"fie punya adobe photoshop CS 3 dan corel?"
"ada teh..."
"masih punya file TOEFL gak? yang kemarin ilang karena ganti ke vista"
"masih teh, fie punya CD IELTS juga, mau?"
"wah mau banget, rati kan ntar mau ujian IELT pas kelas 3"
"wah kok keren. bayar sendiri?"
"iya.."
itu tandanya up to date ya. wong suami saya aja ngambil IELT pas mau ngalamar master kemarin.
saya??? wah saya mah baru ngambil TOEFL Like aja. habis merasa belum ada kebutuhan mendesak untuk itu
ayah pulang dari kampus, kami ngobrolin tentang SBI itu
"wah sekarang kok pendidikan jadi bisnis ya?" gitu kata ayah
"kok gitu? kan bagus anak tes IELT dari kecil'
"lha bukan gitu, standar nya kan standar australia, jadi..."
"oh iya yah. yang dibilang standar internasional kan standar australia ya, secara langsung ada beberapa area bisnis yang kena impact langsung juga. kayak macem tes standar mereka. wah bisnis pendidikan terintegrasi ya..."
"ya gitu itu.."
"lha kalo indonesia bikin standar internasional sendiri gimana? kriterianya gitu...lha tapi bikin standar nasional aja gak beresss"
oalaaaah...
walhasil, dia menjadi pribadi yang up to date, dan keren untuk ukuran saat saya bersekolah dulu..(ya iya laaah)
kemarin ibunya baru saja SMS untuk menanyakan CD program yang kami punya
"fie punya adobe photoshop CS 3 dan corel?"
"ada teh..."
"masih punya file TOEFL gak? yang kemarin ilang karena ganti ke vista"
"masih teh, fie punya CD IELTS juga, mau?"
"wah mau banget, rati kan ntar mau ujian IELT pas kelas 3"
"wah kok keren. bayar sendiri?"
"iya.."
itu tandanya up to date ya. wong suami saya aja ngambil IELT pas mau ngalamar master kemarin.
saya??? wah saya mah baru ngambil TOEFL Like aja. habis merasa belum ada kebutuhan mendesak untuk itu
ayah pulang dari kampus, kami ngobrolin tentang SBI itu
"wah sekarang kok pendidikan jadi bisnis ya?" gitu kata ayah
"kok gitu? kan bagus anak tes IELT dari kecil'
"lha bukan gitu, standar nya kan standar australia, jadi..."
"oh iya yah. yang dibilang standar internasional kan standar australia ya, secara langsung ada beberapa area bisnis yang kena impact langsung juga. kayak macem tes standar mereka. wah bisnis pendidikan terintegrasi ya..."
"ya gitu itu.."
"lha kalo indonesia bikin standar internasional sendiri gimana? kriterianya gitu...lha tapi bikin standar nasional aja gak beresss"
oalaaaah...
Kamis, 29 Mei 2008
sex-ed untuk calon pengantin
saya termasuk, salah satu dari daftar top ten (huihui bahasa ne)mahasiswa angkatan saya yang nikah duluan
maka, yang terjadi adalah, banyak yang minta petuah, nasihat, pantun dan guridam kepada saya...berasa udah ahli banget, hihihi
mungkin memang ada ya pendidikan pra nikah gitu di KUA buat calon pengantin
tapi karena saya bandel bin pemalas, maka jadilan saya melewati sesi itu, karena yang ngurusin surat-surat, ya kakak ipar saya
saya ingat betul hari pertama saya kembali kerja di sebuah unit konsultasi psikologis di kampus
semua orang sumringah dan semangat untuk menanyakan pengalaman saya sebagai manten baru
sampai ada pertanyaan yang sulit untuk dijawab,untuk saat itu ya, karena saya pikir tabu..
tapi ada satu komentar menarik ketika ada teman yang bertanya mengenai persiapan apa aja yang udah saya lakukan dalam menghadapi malam pengantin
saya cuma senyum...cara aman untuk menjawab bukan
tiba-tiba seorang teman perempuan saya menjawab "ya gak perlu nyiapin apa-apa dong, itu kan naluriah, hewan aja bisa gitu aja melakukan itu"
waktu itu saya hanya menjawab "yah gak gitu juga, paling nggak ada persiapan psikis, perlu juga belajar lho.."
tapi sekarang semakin lama, semakin berpikir seiring pertanyaan sama seringkali muncul..
maka, saya pikir pernyataan teman saya itu tidak tepat sama sekali, komentar sada pada waktu itu pun sama sekali tidak oke untuk menjawab persoalan
sekarang kan gini, sebetulnya filosofi apa yang kita pakai untuk memandang permasalahan seputar malam pengantin itu, gitu kan?
kalo filosofi nya hanya berkutat di permasalahan kebutuhan biologis, maka tak apalah kita berkaca pada hewan yang berbuat sesuai nalurinya
tapi dari sisi manusia, permasalahan ini kan tidak sesempit itu
ada unsur-unsur ibadah, kesehatan dan psikisnya, tergantung berapa banyak dimensi yang kita pakai untuk memandang itu
dari unsur agama misalnya, memandang bahwa hal itu merupakan ibadah. maka ada anjuran-anjuran tertentu, menurut agamanya masing-masing. dalam Islam misalnya, ya harus pake doa dulu, ada juga sunah-sunah yang dianjurkan. perlu tahu gak ya kira-kira. itu kan bukan naluriah
dari unsur kesehatan misalnya. gimana toh melakukan hubungan yang sehat itu. kalau mau dapet keturunan cepet2, apa sih saran dokter.
dari unsur psikis misalnya, apa yang perlu dipersiapkan, karena ini kan memang hal pertama (bagi yang pertama ya...). banyak mitos yang menguap begitu seseorang mengalaminya sendiri "kok gak kayak cerita orang2 ya?" gitu kata mereka
nah mitos-mitos ini kan yang harus diluruskan sebelum praktiknya dilakukan, jadi bukan ngebayangin yang gak realistis, mengalami ketakutan berlebih atau berharap berlebih. bisa gawat...faktor komunikasi yang perlu dijalin juga kan gak diajarin sama naluri biologis kan, dan ini merupakan faktor yang penting
masalah tabu-gak tabu kan tergantung kita bicara dalam konteks apa ya? ketika kita membicarakan ini secara ilmiah dengan bahasa yang netral dalam situasi netral, sangat bermanfaat kan..
maka, yang terjadi adalah, banyak yang minta petuah, nasihat, pantun dan guridam kepada saya...berasa udah ahli banget, hihihi
mungkin memang ada ya pendidikan pra nikah gitu di KUA buat calon pengantin
tapi karena saya bandel bin pemalas, maka jadilan saya melewati sesi itu, karena yang ngurusin surat-surat, ya kakak ipar saya
saya ingat betul hari pertama saya kembali kerja di sebuah unit konsultasi psikologis di kampus
semua orang sumringah dan semangat untuk menanyakan pengalaman saya sebagai manten baru
sampai ada pertanyaan yang sulit untuk dijawab,untuk saat itu ya, karena saya pikir tabu..
tapi ada satu komentar menarik ketika ada teman yang bertanya mengenai persiapan apa aja yang udah saya lakukan dalam menghadapi malam pengantin
saya cuma senyum...cara aman untuk menjawab bukan
tiba-tiba seorang teman perempuan saya menjawab "ya gak perlu nyiapin apa-apa dong, itu kan naluriah, hewan aja bisa gitu aja melakukan itu"
waktu itu saya hanya menjawab "yah gak gitu juga, paling nggak ada persiapan psikis, perlu juga belajar lho.."
tapi sekarang semakin lama, semakin berpikir seiring pertanyaan sama seringkali muncul..
maka, saya pikir pernyataan teman saya itu tidak tepat sama sekali, komentar sada pada waktu itu pun sama sekali tidak oke untuk menjawab persoalan
sekarang kan gini, sebetulnya filosofi apa yang kita pakai untuk memandang permasalahan seputar malam pengantin itu, gitu kan?
kalo filosofi nya hanya berkutat di permasalahan kebutuhan biologis, maka tak apalah kita berkaca pada hewan yang berbuat sesuai nalurinya
tapi dari sisi manusia, permasalahan ini kan tidak sesempit itu
ada unsur-unsur ibadah, kesehatan dan psikisnya, tergantung berapa banyak dimensi yang kita pakai untuk memandang itu
dari unsur agama misalnya, memandang bahwa hal itu merupakan ibadah. maka ada anjuran-anjuran tertentu, menurut agamanya masing-masing. dalam Islam misalnya, ya harus pake doa dulu, ada juga sunah-sunah yang dianjurkan. perlu tahu gak ya kira-kira. itu kan bukan naluriah
dari unsur kesehatan misalnya. gimana toh melakukan hubungan yang sehat itu. kalau mau dapet keturunan cepet2, apa sih saran dokter.
dari unsur psikis misalnya, apa yang perlu dipersiapkan, karena ini kan memang hal pertama (bagi yang pertama ya...). banyak mitos yang menguap begitu seseorang mengalaminya sendiri "kok gak kayak cerita orang2 ya?" gitu kata mereka
nah mitos-mitos ini kan yang harus diluruskan sebelum praktiknya dilakukan, jadi bukan ngebayangin yang gak realistis, mengalami ketakutan berlebih atau berharap berlebih. bisa gawat...faktor komunikasi yang perlu dijalin juga kan gak diajarin sama naluri biologis kan, dan ini merupakan faktor yang penting
masalah tabu-gak tabu kan tergantung kita bicara dalam konteks apa ya? ketika kita membicarakan ini secara ilmiah dengan bahasa yang netral dalam situasi netral, sangat bermanfaat kan..
orang, peristiwa "aneh"menjelang 2009
mencermati Indonesia sepanjang tahun ini membuat ayah bergumam "banyak orang aneh ya menjelang 2009"
setelah kasus nya pak joko suprapto (lepas dari kebenaran penemuannya), sampai ke ahmad zaini yang kasusnya ada disini.yang sudah dipastikan bahwa dia sungguh-sungguh penipu oleh polisi
tapi ada perbedaan signifikan :
1. kasus zaini : dia sendiri yang heboh untuk mencuatkan namanya ke publik. meskipun bagi saya ini nampak seperti kasus penipuan amatir, lha dia mau nipu juga bawa-bawa wartawan, klaimnya juga berlebihan. dengan catatan kalo ini memang kasus penipuan lho ya.
2. kasusnya joko suprapto. sebuah sumber pertama dan terpercaya menyatakan bahwa pak joko memang tipe yang tertutup dan tidak suka publikasi. ini tidak saja dalam konteks penemuannya, namun juga dalam konteks membuka pribadinya. sedikit bicara dan kalau anda kesana, maka yang dia tunjukan adalah buktinya (maksudnya hasil penelitiannya begitu). maka agak mengherankan bagi saya ketika menemukan dirinya dalam berita yang sungguh luar biasa hebohnya. meskipun dalam berita ini, kepribadiannya yang misterius tetap saja menjadi trade mark nya, persis seperti yang dikatakan sumber tersebut. siapa yang mem-blow up ini?kalaupun memang pak joko yang melakukan, kenapa tidak dari dulu? ah..menjadi situasi yang syarat dengan konspirasi dan adu strategi kan? tujuannya..hanya seseorang, beberapa orang dan Tuhan yang tahu
tapi bagi saya dua fenomena ini cukup menunjukan betapa 2009 diwarnai peristiwa yang menarik untuk dikaji. bukan cuma peristiwa di gedung-gedung para birokrat saja, tapi juga sampai di level masyarakat. opini dosen favorit para mahasiswi psikologi UGM bisa ditemukan disini
setelah kasus nya pak joko suprapto (lepas dari kebenaran penemuannya), sampai ke ahmad zaini yang kasusnya ada disini.yang sudah dipastikan bahwa dia sungguh-sungguh penipu oleh polisi
tapi ada perbedaan signifikan :
1. kasus zaini : dia sendiri yang heboh untuk mencuatkan namanya ke publik. meskipun bagi saya ini nampak seperti kasus penipuan amatir, lha dia mau nipu juga bawa-bawa wartawan, klaimnya juga berlebihan. dengan catatan kalo ini memang kasus penipuan lho ya.
2. kasusnya joko suprapto. sebuah sumber pertama dan terpercaya menyatakan bahwa pak joko memang tipe yang tertutup dan tidak suka publikasi. ini tidak saja dalam konteks penemuannya, namun juga dalam konteks membuka pribadinya. sedikit bicara dan kalau anda kesana, maka yang dia tunjukan adalah buktinya (maksudnya hasil penelitiannya begitu). maka agak mengherankan bagi saya ketika menemukan dirinya dalam berita yang sungguh luar biasa hebohnya. meskipun dalam berita ini, kepribadiannya yang misterius tetap saja menjadi trade mark nya, persis seperti yang dikatakan sumber tersebut. siapa yang mem-blow up ini?kalaupun memang pak joko yang melakukan, kenapa tidak dari dulu? ah..menjadi situasi yang syarat dengan konspirasi dan adu strategi kan? tujuannya..hanya seseorang, beberapa orang dan Tuhan yang tahu
tapi bagi saya dua fenomena ini cukup menunjukan betapa 2009 diwarnai peristiwa yang menarik untuk dikaji. bukan cuma peristiwa di gedung-gedung para birokrat saja, tapi juga sampai di level masyarakat. opini dosen favorit para mahasiswi psikologi UGM bisa ditemukan disini
Rabu, 28 Mei 2008
kalau jadi orang kaya...
saya sebenernya sudah liat berita ini dari tadi pagi, tapi baru sempet ngeklik
jadi berpikir, apa yang yang bisa saya lakukan kalo jadi orang sekaya beliau
emm...mbagi-mbagiin uang gitu aja?
emmm...
saya gak kebayang ramenya senayan pada hari itu
yang jelas, selain orang yang kebagian uangnya pak TUng secara gratisss...maka yang kebagian rejeki berikutnya adalah pedagang-pedagang di senayan, yang barang dagangannya bisa jadi objek untuk membelanjakan uang yang diberikan pak Tung
maka, monggo pedagang2 meningkatkan persediaan barang jualannya
alhamdulillah, masih banyak orang baik di Indonesia
berhubung dekat dengan 2009, dengan kecurigaan penuh pada beberapa pihak sehingga digeneralisasi, saya pun bertanya "pak Tung mau nyalon presiden juga???"(maapkeeeun..btjanda kok)
jadi berpikir, apa yang yang bisa saya lakukan kalo jadi orang sekaya beliau
emm...mbagi-mbagiin uang gitu aja?
emmm...
saya gak kebayang ramenya senayan pada hari itu
yang jelas, selain orang yang kebagian uangnya pak TUng secara gratisss...maka yang kebagian rejeki berikutnya adalah pedagang-pedagang di senayan, yang barang dagangannya bisa jadi objek untuk membelanjakan uang yang diberikan pak Tung
maka, monggo pedagang2 meningkatkan persediaan barang jualannya
alhamdulillah, masih banyak orang baik di Indonesia
berhubung dekat dengan 2009, dengan kecurigaan penuh pada beberapa pihak sehingga digeneralisasi, saya pun bertanya "pak Tung mau nyalon presiden juga???"(maapkeeeun..btjanda kok)
"hati-hati yang punya blog"kata ayah
selama beberapa periode, saya hanyalah pembaca pasif blog hingga akhirnya memutuskan diri untuk membuat blog
saya baru saja blogwalking untuk sekedar menyambangi tema-tema "kontroversial???" mengenai blog
lepas dari semuanya (saya memang lebih memilih di daerah aman) bahwa blog bagi saya lebih mengasah otak kanan dan membudayakan menulis
menulis..hal yang tidak sulit, namun banyak orang juga ndak merasa mudah melakukannya
dua bulan lalu, serial fav keluarga kami adalah traveler, inti temanya konspirasi
dalam satu seri intinya profil orang bisa juga diketahui dari aktifitasnya di dunia maya
saya pikir itu jelas sangat masuk akal
bagi psikolog-psikolog-an, begitu anda membaca sebuah tulisan, maka akan ada muatan trait, muatan emosional atau yang sejenis dengan itu, sehingga profil anda "mungkin" akan bisa ditebak
dengan catatan, anda sendiri loh yang menulis, bukan copas
ini seperti logika yang sama dengan dibangunnya tes Grafis&WARTEGG atah teori tentang tulisan tangan. tapi juga tidak sama persis, karena kalo tes itu kan ditulisnya make tangan ya? maka content menjadi rujukan utama dalam hal ini (bahasane kok tesis men ya??)
maka dengan santainya ayah bilang "hati-hati lho nulis di blog. ayah gak mau ah nulis hal personal, yang umum aja, takut ntar dicari FBI"
saya pun ??????????????????????
saya baru saja blogwalking untuk sekedar menyambangi tema-tema "kontroversial???" mengenai blog
lepas dari semuanya (saya memang lebih memilih di daerah aman) bahwa blog bagi saya lebih mengasah otak kanan dan membudayakan menulis
menulis..hal yang tidak sulit, namun banyak orang juga ndak merasa mudah melakukannya
dua bulan lalu, serial fav keluarga kami adalah traveler, inti temanya konspirasi
dalam satu seri intinya profil orang bisa juga diketahui dari aktifitasnya di dunia maya
saya pikir itu jelas sangat masuk akal
bagi psikolog-psikolog-an, begitu anda membaca sebuah tulisan, maka akan ada muatan trait, muatan emosional atau yang sejenis dengan itu, sehingga profil anda "mungkin" akan bisa ditebak
dengan catatan, anda sendiri loh yang menulis, bukan copas
ini seperti logika yang sama dengan dibangunnya tes Grafis&WARTEGG atah teori tentang tulisan tangan. tapi juga tidak sama persis, karena kalo tes itu kan ditulisnya make tangan ya? maka content menjadi rujukan utama dalam hal ini (bahasane kok tesis men ya??)
maka dengan santainya ayah bilang "hati-hati lho nulis di blog. ayah gak mau ah nulis hal personal, yang umum aja, takut ntar dicari FBI"
saya pun ??????????????????????
polemik blue energy
isu yang cukup menarik dari sisi ilmiah, lebih menarik karena dibumbui aspek politis segala
saya sendiri menjadi begitu tertarik karena merasa "dekat" dengan tema ini sebelum mencuat ke permukaan
salah tempat saya pikir, kalau saya mencoba untuk membuat komentar dari sisi ilmu, karena jelas ini bukan hal yang saya pahami sama sekali
tapi yang menjadi menarik adalah memperhatikan betapa semua orang ikut urun bicara mengenai ini
dari yang tidak tahu sama sekali, tahu sedikit, sampai orang-orang yang dianggap ahli betulan
dari ilmuwan, aktifis, pejabat hingga politisi
bagi saya kesimpulannya bukan pada ini penipuan atau bukan
siapapun itu pak joko
apapun yang dikerjakannya..lepas dari betul dan salah
siapapun pihak yang terlibat di dalamnya
tapi paling tidak dengan isu yang ditimbulkannya, memaksa semua orang berpikir
berpikir dari sisi keilmuan dan berpikir dari sisi kebijakan
tidak ada salahnya kan kita optimis mengenai penemuan yang bisa menggemparkan ini
tidak ada salahnya juga mempercayai orang yang sebelumnya tidak pernah muncul di jagad ilmuwan
namun tidak ada salahnya juga banyak kajian untuk mengetes kebenaran penelitian ini
dan tidak ada salahnya juga untuk hati-hati...
saya memilih untuk bungkam kalau diminta berpendapat mengenai ini (emang siapa yang mau minta pendapat???hehehehe)
karena saya sama sekali tidak punya expert power untuk berbicara
dan saya sama sekali tidak punya pandangan objektif dari fakta yang benar-benar bisa saya lihat...karena saya hanya mendengar, membaca..jadi apakah cukup kompeten orang-orang yang hanya mendengar itu memberikan komentarnya???
saya sendiri menjadi begitu tertarik karena merasa "dekat" dengan tema ini sebelum mencuat ke permukaan
salah tempat saya pikir, kalau saya mencoba untuk membuat komentar dari sisi ilmu, karena jelas ini bukan hal yang saya pahami sama sekali
tapi yang menjadi menarik adalah memperhatikan betapa semua orang ikut urun bicara mengenai ini
dari yang tidak tahu sama sekali, tahu sedikit, sampai orang-orang yang dianggap ahli betulan
dari ilmuwan, aktifis, pejabat hingga politisi
bagi saya kesimpulannya bukan pada ini penipuan atau bukan
siapapun itu pak joko
apapun yang dikerjakannya..lepas dari betul dan salah
siapapun pihak yang terlibat di dalamnya
tapi paling tidak dengan isu yang ditimbulkannya, memaksa semua orang berpikir
berpikir dari sisi keilmuan dan berpikir dari sisi kebijakan
tidak ada salahnya kan kita optimis mengenai penemuan yang bisa menggemparkan ini
tidak ada salahnya juga mempercayai orang yang sebelumnya tidak pernah muncul di jagad ilmuwan
namun tidak ada salahnya juga banyak kajian untuk mengetes kebenaran penelitian ini
dan tidak ada salahnya juga untuk hati-hati...
saya memilih untuk bungkam kalau diminta berpendapat mengenai ini (emang siapa yang mau minta pendapat???hehehehe)
karena saya sama sekali tidak punya expert power untuk berbicara
dan saya sama sekali tidak punya pandangan objektif dari fakta yang benar-benar bisa saya lihat...karena saya hanya mendengar, membaca..jadi apakah cukup kompeten orang-orang yang hanya mendengar itu memberikan komentarnya???
Selasa, 27 Mei 2008
gimana ya rasanya jadi perempuan sungguh2 mandiri?
saya dan ayah memang terbiasa berbagi peran, apapun
bahkan sebelum kami memiliki saffa
kalau saya tak sempat masak nasi goreng, maka beliaulah yang masak
alhamdulillah suami saya ndak neko-neko masalah makanan
kalau pagi ndak sempat masak yang ribet, maka telor ceplok saja cukup, bahkan hingga hari ini
apalagi ketika saffa udah hadir. wah perannya kan tambah banyak, ditambah lagi saya nglanjutin kuliah. rutinitas pagi (apalagi ketika di rumah tidak ada pembantu) luar biasa, begitu juga dengan rutinitas sore, malam, pagi lagi dan seterusnya
maka, gantian menggendong saffa menjadi biasa. saya ingat betul saat saffa masih bayi, suatu saat dia rewel ndak mau tidur sampe jam 4 pagi, padahal saya lelah sekali. maka beliaulah yang menggendongnya semalaman (Luv ayah). begitu pun saat ini, kalau jalan-jalan, maka yang kebagian gendong saffa ya ayah. gak heran, saffa lebih lancar panggil ayah daripada ibu :)
makanya gak kebayang kalo pas pisahan sama ayah, saffa panggil2 ayah, duuh jadi ngenes banget
satu-satunya hal yang saya sangat tergantung kepada beliau adalah transportasi, maklum seumur2 saya cuma jadi penumpang..
maka begitu menyadari pada suatu saat saya harus berjuang sendiri dulu disini, mulailah saya mempelajari teknik-teknik mengemudi dengan baik dan benar..ah tidak semudah yang dikira kan..tapi paling gak ayah udah percaya dan mau ngajarin kendalikan kendaraan
tapi begitu waktunya semakin dekat untuk berpisah sementara waktu dengan ayah, saya jadi semakin dag dig dug..
permasalahannya tidak sesederhana persoalan transportasi semata
tapi juga efek psikologis dari kehilangan teman bicara, teman untuk digemesin, teman untuk direcokin indomienya, teman berantem pas nonton tv, teman diskusi, dan teman berbagi peran dalam mengasuh saffa..serta teman-teman jenis lainnya
ayah memegang peran penting dalam pendukung kuliah saya
nah ketika beliau akan pergi, kuliah saya belum selesai juga..
maka saya pun harus mempersiapkan secara psikis, kehilangan satu pendukung eksternal secara langsung
berusaha menyadarkan bahwa tidak ada bedanya dukungan via imel, messenger, telpon dengan dukungan yang diberikan tatap muka langsung (tapi tetep beda kan? hik2)
tapi kalau saya tidak mandiri, artinya peran itu akan berat sebelah
artinya saya egois. kemandirian saya, ketidakcengengan saya (baca: antonim dari kata ini merupakan cerminan diri saya saat ini)adalah salah satu pendukung keberhasilan beliau di sebrang sana
maka, mulai sekarang saya belajar untuk melakukan semua sendiri
mudah-mudahan Allah memberikan yang terbaik untuk kami
saya akan berusaha!!!
bahkan sebelum kami memiliki saffa
kalau saya tak sempat masak nasi goreng, maka beliaulah yang masak
alhamdulillah suami saya ndak neko-neko masalah makanan
kalau pagi ndak sempat masak yang ribet, maka telor ceplok saja cukup, bahkan hingga hari ini
apalagi ketika saffa udah hadir. wah perannya kan tambah banyak, ditambah lagi saya nglanjutin kuliah. rutinitas pagi (apalagi ketika di rumah tidak ada pembantu) luar biasa, begitu juga dengan rutinitas sore, malam, pagi lagi dan seterusnya
maka, gantian menggendong saffa menjadi biasa. saya ingat betul saat saffa masih bayi, suatu saat dia rewel ndak mau tidur sampe jam 4 pagi, padahal saya lelah sekali. maka beliaulah yang menggendongnya semalaman (Luv ayah). begitu pun saat ini, kalau jalan-jalan, maka yang kebagian gendong saffa ya ayah. gak heran, saffa lebih lancar panggil ayah daripada ibu :)
makanya gak kebayang kalo pas pisahan sama ayah, saffa panggil2 ayah, duuh jadi ngenes banget
satu-satunya hal yang saya sangat tergantung kepada beliau adalah transportasi, maklum seumur2 saya cuma jadi penumpang..
maka begitu menyadari pada suatu saat saya harus berjuang sendiri dulu disini, mulailah saya mempelajari teknik-teknik mengemudi dengan baik dan benar..ah tidak semudah yang dikira kan..tapi paling gak ayah udah percaya dan mau ngajarin kendalikan kendaraan
tapi begitu waktunya semakin dekat untuk berpisah sementara waktu dengan ayah, saya jadi semakin dag dig dug..
permasalahannya tidak sesederhana persoalan transportasi semata
tapi juga efek psikologis dari kehilangan teman bicara, teman untuk digemesin, teman untuk direcokin indomienya, teman berantem pas nonton tv, teman diskusi, dan teman berbagi peran dalam mengasuh saffa..serta teman-teman jenis lainnya
ayah memegang peran penting dalam pendukung kuliah saya
nah ketika beliau akan pergi, kuliah saya belum selesai juga..
maka saya pun harus mempersiapkan secara psikis, kehilangan satu pendukung eksternal secara langsung
berusaha menyadarkan bahwa tidak ada bedanya dukungan via imel, messenger, telpon dengan dukungan yang diberikan tatap muka langsung (tapi tetep beda kan? hik2)
tapi kalau saya tidak mandiri, artinya peran itu akan berat sebelah
artinya saya egois. kemandirian saya, ketidakcengengan saya (baca: antonim dari kata ini merupakan cerminan diri saya saat ini)adalah salah satu pendukung keberhasilan beliau di sebrang sana
maka, mulai sekarang saya belajar untuk melakukan semua sendiri
mudah-mudahan Allah memberikan yang terbaik untuk kami
saya akan berusaha!!!
melakukan apa yang dicintai
hidup adalah pilihan...hampir semua orang pasti setuju dengan itu
maka, apa yang kita lakukan juga pilihan
seminggu kemarin, saya ngobrol dengan seorang teman yang juga lagi tesis
cerita punya cerita, saya baru ngeh ternyata blio sesungguhnya tidak sreg dengan tema tesis ini, makanya pas ujian kompre merasa tidak maksimal
tesisnya mengenai pelatihan, sesuatu yang kurang dicintai dan dipercayainya--sama seperti saya--, dan lebih mencintai untuk melakukan intervensi sistem
tapi pengorbanannya untuk melakukan sesuatu yang tidak dicintainya paling tidak terbayar dengan imbalan setimpal yang didapatkan, trainer gratis (temen saya yang lain mesti bayar trainer hingga berjuta2), dan fee untuk membuat modul
saya percaya walaupun dia telah memilih untuk menjalani yang tidak dicintainya, namun dia juga memilih untuk komit terhadap pilihan yang dibuatnya, bekerja maksimal!
saya masih ingat ketika SMU, saya masuk IPA, tapi sungguh saya tidak cinta. tiga hari disitu, maka saya putuskan untuk pindah ke IPS, bidang yang lebih saya cintai, meskipun banyak orang mencela...(emangnya kenapa sih dengan IPS?)
maka cerialah hari-hari saya
apa yang saya dapat? saya dapat kenyamanan, belajar bukan siksaan dan enteng
sekitar 4 bulan lalu, seorang ponakan saya masuk ke tek.elektro atas kemauan ortunya
apa yang terjadi? menjalani yang tidak dicintai dengan tidak nyaman, maka keluarlah dia, dan sekarang sedang proses untuk mencari yang dicintai
kalau mata rasional dan azas ekonomi memandang, maka apa yang dilakukannya adalah pemborosan, karena sejumlah uang telah dikeluarkannya untuk mendapatkan yang tidak dicintainya
tapi di sisi lain, dia telah mendapatkan pelajaran berarti tentang komitmen, pengorbanan dan kekuatan hati
toh, saya percaya kita tidak perlu berbicara keras, mengernyit sampai lipatan dahi kita begitu jelasnya bila kita mengalami kesulitan dalam mendapatkan yang kita cintai
berusaha, pasrah, berdoa...maka yang dicintai itu akan tiba dalam bentuknya sendiri, entah baik atau nampak buruk, namun rasakan akhirnya, insyaAllah manis sekali...
maka, apa yang kita lakukan juga pilihan
seminggu kemarin, saya ngobrol dengan seorang teman yang juga lagi tesis
cerita punya cerita, saya baru ngeh ternyata blio sesungguhnya tidak sreg dengan tema tesis ini, makanya pas ujian kompre merasa tidak maksimal
tesisnya mengenai pelatihan, sesuatu yang kurang dicintai dan dipercayainya--sama seperti saya--, dan lebih mencintai untuk melakukan intervensi sistem
tapi pengorbanannya untuk melakukan sesuatu yang tidak dicintainya paling tidak terbayar dengan imbalan setimpal yang didapatkan, trainer gratis (temen saya yang lain mesti bayar trainer hingga berjuta2), dan fee untuk membuat modul
saya percaya walaupun dia telah memilih untuk menjalani yang tidak dicintainya, namun dia juga memilih untuk komit terhadap pilihan yang dibuatnya, bekerja maksimal!
saya masih ingat ketika SMU, saya masuk IPA, tapi sungguh saya tidak cinta. tiga hari disitu, maka saya putuskan untuk pindah ke IPS, bidang yang lebih saya cintai, meskipun banyak orang mencela...(emangnya kenapa sih dengan IPS?)
maka cerialah hari-hari saya
apa yang saya dapat? saya dapat kenyamanan, belajar bukan siksaan dan enteng
sekitar 4 bulan lalu, seorang ponakan saya masuk ke tek.elektro atas kemauan ortunya
apa yang terjadi? menjalani yang tidak dicintai dengan tidak nyaman, maka keluarlah dia, dan sekarang sedang proses untuk mencari yang dicintai
kalau mata rasional dan azas ekonomi memandang, maka apa yang dilakukannya adalah pemborosan, karena sejumlah uang telah dikeluarkannya untuk mendapatkan yang tidak dicintainya
tapi di sisi lain, dia telah mendapatkan pelajaran berarti tentang komitmen, pengorbanan dan kekuatan hati
toh, saya percaya kita tidak perlu berbicara keras, mengernyit sampai lipatan dahi kita begitu jelasnya bila kita mengalami kesulitan dalam mendapatkan yang kita cintai
berusaha, pasrah, berdoa...maka yang dicintai itu akan tiba dalam bentuknya sendiri, entah baik atau nampak buruk, namun rasakan akhirnya, insyaAllah manis sekali...
best moment at depok
Inilah momen terbaik ketika di depok
semua orang bersama-sama membantu dalam mencari nafkah...
semua orang bersama-sama membantu dalam mencari nafkah...
pantai depok : ini yang bisa dikunjungi di selatan jogja
pantai depok sebetulnya telah lama saya dengar
saya ngiler pingin kesana lebih karena mendengar kita bisa membeli ikan langsung dari nelayan untuk dimasakin oleh kios-kios setempat
maka pada hari minggu nan panas (maklum, saya kesana sekitar pukul 11), kami sampai di pantai depok
first impression : PANAS
saya sampai lompat-lompat karena sendal saya tipis amir, sehingga sentuhan pasir panas bikin njungkit-njungkit. padahal jarak dari parkiran ke pantai lumangyan jauh
maka saran saya : kalo mau ke pantai depok sebelum jam 9 aja
hal terbaiknya adalah kita bisa menemukan serentetan kios yang jual aneka ikan, udang dan cumi. tapi jangan keburu beli, karena di pinggir pantai berjajar perahu nelayan yang baru pulang
kalau beruntung, kita juga bisa menemukan nelayan yang betul2 baru pulang dari melaut
pemandangan yang paling asik melihat mereka menyeret perahu ramai-ramai dibantu nelayan lain
tapi hati-hati, kadangkala ada beberapa orang yang menjual ikan dalam plastik ketika anda sedang melihat-lihat ikan apa yang anda bisa beli dari perahu
kalau pun mau membeli ikan dalam plastik, karena tergiur harganya, pastikan anda memeriksanya
pengalaman saya hampir saja dibohongi, karena ikan yang ditunjukannya ketika saya akan beli, ternyata beda dengan ikan sisanya yang ada dalam plastik
setelah anda membeli ikan, waktunya berburu kios yang melayani pemrosesan makanan
sayangnya pada saat itu saya mendapat kios yang kecil dengan fasilitas MCK yang sangat tidak memadai. karena keburu siang, saya tidak memilih tempat
namun, masakannya jelas enak, tapi mungkin juga karena ikannya masih segar bugar ya, hehe
jelas, ini bukan akan menjadi perjalanan terakhir saya kesini. tapi saya masih berharap pengelola pantai memberikan fasilitas MCK dan mushola yang memadai
karena rasanya dengan tarif parkir yang melebihi standar, fasilitas itu mestinya tersedia kan?
saya ngiler pingin kesana lebih karena mendengar kita bisa membeli ikan langsung dari nelayan untuk dimasakin oleh kios-kios setempat
maka pada hari minggu nan panas (maklum, saya kesana sekitar pukul 11), kami sampai di pantai depok
first impression : PANAS
saya sampai lompat-lompat karena sendal saya tipis amir, sehingga sentuhan pasir panas bikin njungkit-njungkit. padahal jarak dari parkiran ke pantai lumangyan jauh
maka saran saya : kalo mau ke pantai depok sebelum jam 9 aja
hal terbaiknya adalah kita bisa menemukan serentetan kios yang jual aneka ikan, udang dan cumi. tapi jangan keburu beli, karena di pinggir pantai berjajar perahu nelayan yang baru pulang
kalau beruntung, kita juga bisa menemukan nelayan yang betul2 baru pulang dari melaut
pemandangan yang paling asik melihat mereka menyeret perahu ramai-ramai dibantu nelayan lain
tapi hati-hati, kadangkala ada beberapa orang yang menjual ikan dalam plastik ketika anda sedang melihat-lihat ikan apa yang anda bisa beli dari perahu
kalau pun mau membeli ikan dalam plastik, karena tergiur harganya, pastikan anda memeriksanya
pengalaman saya hampir saja dibohongi, karena ikan yang ditunjukannya ketika saya akan beli, ternyata beda dengan ikan sisanya yang ada dalam plastik
setelah anda membeli ikan, waktunya berburu kios yang melayani pemrosesan makanan
sayangnya pada saat itu saya mendapat kios yang kecil dengan fasilitas MCK yang sangat tidak memadai. karena keburu siang, saya tidak memilih tempat
namun, masakannya jelas enak, tapi mungkin juga karena ikannya masih segar bugar ya, hehe
jelas, ini bukan akan menjadi perjalanan terakhir saya kesini. tapi saya masih berharap pengelola pantai memberikan fasilitas MCK dan mushola yang memadai
karena rasanya dengan tarif parkir yang melebihi standar, fasilitas itu mestinya tersedia kan?
Senin, 26 Mei 2008
duh..PLN..PLN
kemarin adalah puncak kekesalan saya pada PLN
gimana gak kesel, hari itu adalah kali ketiga PLN memadamkan listrik di daerah saya dalam seminggu ini
begini situasi dalam tiga pemadaman itu :
1. pemadaman pertama, saya masih oke-oke aja..ya ditunggulah sampai nyala
2. pemadaman kedua. pagi-pagi listrik mati lagi, sekitar jam9. saat mati,saya lagi menyalakan mesin cuci,komputer juga lagi nyala. pada saat yang sama, saya membaca pengumuman pemadaman itu di KR, hal 2, kolom 1.
mulailah saya menelpon PLN itu : "ini pemadaman bergilir atau gangguan?"
"pemadaman bergilir bu..."
dengan pura-pura gak tahu, maka "lho memangnya ada pemberitahuan sebelumnya?"
"ada bu, di KR, hal 2, kolom 1"
"kapan dikasih tahunya?"
"koran tadi pagi bu"
"sayang sekali, itu terlambat, saya tidak bisa mempersiapkan apapun. kenapa bukan koran sebelumnya?"
"seperti biasa gitu bu."
?????? ok, kalo ini adalah cerita ttg kebiasaan, kategorinya kebiasaan baik atau buruk ya?
"kalau saya boleh saran, mendingan dikasih tahu pas pembayaran bulan terakhir. dicetak di slip pembayaran, kapan aja jadwal pemadaman untuk daerah itu selama sebulan, jadi kan bisa siap2"
"baik bu, nanti saya sampaikan ke bagian HRD"
kok HRD *bingung* ya...sudahlah
3. pemadaman ketiga. saat itu saya sedang menyalakan komputer dan printer, karena mencetak proposal untuk dosen. alhamdulillah untungnya sebagian besar sudah tercetak. pada saat itu, mesin cuci saya, lagi-lagi juga sedang jalan.
saya mencoba menelpon PLN, sibuk terus
sorenya jam 2an saya pulang, listrik masih mati
saya telpon, sibuk
saya tidur bareng saffa
bangun, masih mati listrik..weleh3
saya coba telpon lagi, ternyata no tadi pagi salah
alhamdulillah diangkat, katanya petugas udah mau dinyalain
saya pun bilang "coba deh pak, saya mau catet jadwal pemadaman di daerah saya"
sayup-sayup "wah itu mah dadakan dari pusat"
maka petugas yang berbicara itu pun menyampaikan
"wah dadakan bu, ditentuin sama PLN cab jogja"
maka telepon lah saya ke PLN cab jogja
"wah bu, itu mah urusannya AJP, disini mah gangguan. mestinya biasanya cab sleman tahu"
"mereka bilang itu urusan PLN cab jogja pak"
"coba telp AJP bu..."
maka telepon lah saya
tak ada yang angkat pula
sebenernya kalo masalah pemadamannya, saya masih bisa paham dengan alasan hemat energi, tapi ya mbok terprogram gitu lho, konsumen dikasih tahu biar siap-siap.
wuiih, perjalanan menuntut hak konsumen betul-betul tidak mudah
apalagi kalo yang dituntut adalah pihak yang punya otoritas tinggi
saya beneran gak kebayang lho kalo misal saya dijawab begini "ya udah kalo ibu gak puas, gak usah pake jasa PLN"
saya mau bilang apa ya. pastinya jadi nrimo aja deh, lha kita gak ada pilihan sama sekali
serba salah. perusahaan negar tetep dipertahankan gitu, kontrol nya lemah, konsumen yang rugi. kalo diprivatisasi, jual negara, konsumen juga yang rugi.
BINGUNG...
mbok ya PLN sekali-sekali matiin daerah yang ada pejabatnya, seminggu 3 kali gitu, supaya mereka ngerasain ngenesnya jadi konsumen PLN, jadi mikir kebijakan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kinerja PLN..
gimana gak kesel, hari itu adalah kali ketiga PLN memadamkan listrik di daerah saya dalam seminggu ini
begini situasi dalam tiga pemadaman itu :
1. pemadaman pertama, saya masih oke-oke aja..ya ditunggulah sampai nyala
2. pemadaman kedua. pagi-pagi listrik mati lagi, sekitar jam9. saat mati,saya lagi menyalakan mesin cuci,komputer juga lagi nyala. pada saat yang sama, saya membaca pengumuman pemadaman itu di KR, hal 2, kolom 1.
mulailah saya menelpon PLN itu : "ini pemadaman bergilir atau gangguan?"
"pemadaman bergilir bu..."
dengan pura-pura gak tahu, maka "lho memangnya ada pemberitahuan sebelumnya?"
"ada bu, di KR, hal 2, kolom 1"
"kapan dikasih tahunya?"
"koran tadi pagi bu"
"sayang sekali, itu terlambat, saya tidak bisa mempersiapkan apapun. kenapa bukan koran sebelumnya?"
"seperti biasa gitu bu."
?????? ok, kalo ini adalah cerita ttg kebiasaan, kategorinya kebiasaan baik atau buruk ya?
"kalau saya boleh saran, mendingan dikasih tahu pas pembayaran bulan terakhir. dicetak di slip pembayaran, kapan aja jadwal pemadaman untuk daerah itu selama sebulan, jadi kan bisa siap2"
"baik bu, nanti saya sampaikan ke bagian HRD"
kok HRD *bingung* ya...sudahlah
3. pemadaman ketiga. saat itu saya sedang menyalakan komputer dan printer, karena mencetak proposal untuk dosen. alhamdulillah untungnya sebagian besar sudah tercetak. pada saat itu, mesin cuci saya, lagi-lagi juga sedang jalan.
saya mencoba menelpon PLN, sibuk terus
sorenya jam 2an saya pulang, listrik masih mati
saya telpon, sibuk
saya tidur bareng saffa
bangun, masih mati listrik..weleh3
saya coba telpon lagi, ternyata no tadi pagi salah
alhamdulillah diangkat, katanya petugas udah mau dinyalain
saya pun bilang "coba deh pak, saya mau catet jadwal pemadaman di daerah saya"
sayup-sayup "wah itu mah dadakan dari pusat"
maka petugas yang berbicara itu pun menyampaikan
"wah dadakan bu, ditentuin sama PLN cab jogja"
maka telepon lah saya ke PLN cab jogja
"wah bu, itu mah urusannya AJP, disini mah gangguan. mestinya biasanya cab sleman tahu"
"mereka bilang itu urusan PLN cab jogja pak"
"coba telp AJP bu..."
maka telepon lah saya
tak ada yang angkat pula
sebenernya kalo masalah pemadamannya, saya masih bisa paham dengan alasan hemat energi, tapi ya mbok terprogram gitu lho, konsumen dikasih tahu biar siap-siap.
wuiih, perjalanan menuntut hak konsumen betul-betul tidak mudah
apalagi kalo yang dituntut adalah pihak yang punya otoritas tinggi
saya beneran gak kebayang lho kalo misal saya dijawab begini "ya udah kalo ibu gak puas, gak usah pake jasa PLN"
saya mau bilang apa ya. pastinya jadi nrimo aja deh, lha kita gak ada pilihan sama sekali
serba salah. perusahaan negar tetep dipertahankan gitu, kontrol nya lemah, konsumen yang rugi. kalo diprivatisasi, jual negara, konsumen juga yang rugi.
BINGUNG...
mbok ya PLN sekali-sekali matiin daerah yang ada pejabatnya, seminggu 3 kali gitu, supaya mereka ngerasain ngenesnya jadi konsumen PLN, jadi mikir kebijakan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kinerja PLN..
pelajaran dari kompre:bagaimana saya berperilaku
ehmm, habis kompre ada dua rasa : lega dan deg2an
lega karena satu langkah telah lewat
deg2an karena masih harus revisi, padahal saya sudah punya komitmen dengan beberapa pihak, jadinya ngebut kayak balapan motor aja deh
tapi insight menarik saya dapat setelah kompre mengenai diri saya, yaitu:
1. ternyata saya ngomongnya cepet banget ya?
pas malam latihan presentasi sama ayah sebenernya udah diingetin, eh pas ditanya sama penguji, blio menyela "sek..sek mbak, pelan-pelan" untung diingetin kalo gak meluncur tanpa kendali deh kecepatannya, hehe. sekarang saya yakin bahwa kecepatan bicara berkorelasi positif dengan kecepatan detak jantung..hehe
2. situasi ternyata memberi pengaruh besar pada ketenangan saya
nah habis penguji itu ngasih kesempatan untuk bicara pelan, maka saya mulai menarik nafas dan belajar untuk ngomong pelan, alhamdulillah bikin hati, pikiran jadi tenang. nah yang ini insight buat yang mau bikin penelitian iklim organisasi ya. soalnya iklim organisasi ternyata berpengaruh terhadap perilaku orang didalamnya. mengenai perilaku apa, monggo dispesifikan sendiri saja, dicari latar belakangnya, ditentukan metodenya,halah halah,,,kok jadi ngawur, maklum habis bikin revisian,hehe
3. tips saat ujian yang tidak sengaja ditemukan : anggap aja situasi ujian kayak pas konsultasi. dengan senyum, meskipun pas penanya nya gantian, jadi keliatan bodoh gitu, soalnya saya bingung membedakan pertanyaan dan pernyataan, hehe
4. yang paling penting dari ketiga hal tadi, saya semakin menyadari bahwa doa orang-orang yang sayang sama kita berpengaruh besar pada kelancaran apapun yang kita lakukan. beneran lho, dulu saya tenang banget ujian kalo udah didoain dengan khusus oleh abah. nah sekarang abah emang udah kembali, tapi saya yakin blio masih doakan saya di surga sana. dan hal penting lain, sekarang banyak banget yang bisa saya mintain doa:ibu, mertua, suami, anak, kakak-kakak,temen-temen...
lega karena satu langkah telah lewat
deg2an karena masih harus revisi, padahal saya sudah punya komitmen dengan beberapa pihak, jadinya ngebut kayak balapan motor aja deh
tapi insight menarik saya dapat setelah kompre mengenai diri saya, yaitu:
1. ternyata saya ngomongnya cepet banget ya?
pas malam latihan presentasi sama ayah sebenernya udah diingetin, eh pas ditanya sama penguji, blio menyela "sek..sek mbak, pelan-pelan" untung diingetin kalo gak meluncur tanpa kendali deh kecepatannya, hehe. sekarang saya yakin bahwa kecepatan bicara berkorelasi positif dengan kecepatan detak jantung..hehe
2. situasi ternyata memberi pengaruh besar pada ketenangan saya
nah habis penguji itu ngasih kesempatan untuk bicara pelan, maka saya mulai menarik nafas dan belajar untuk ngomong pelan, alhamdulillah bikin hati, pikiran jadi tenang. nah yang ini insight buat yang mau bikin penelitian iklim organisasi ya. soalnya iklim organisasi ternyata berpengaruh terhadap perilaku orang didalamnya. mengenai perilaku apa, monggo dispesifikan sendiri saja, dicari latar belakangnya, ditentukan metodenya,halah halah,,,kok jadi ngawur, maklum habis bikin revisian,hehe
3. tips saat ujian yang tidak sengaja ditemukan : anggap aja situasi ujian kayak pas konsultasi. dengan senyum, meskipun pas penanya nya gantian, jadi keliatan bodoh gitu, soalnya saya bingung membedakan pertanyaan dan pernyataan, hehe
4. yang paling penting dari ketiga hal tadi, saya semakin menyadari bahwa doa orang-orang yang sayang sama kita berpengaruh besar pada kelancaran apapun yang kita lakukan. beneran lho, dulu saya tenang banget ujian kalo udah didoain dengan khusus oleh abah. nah sekarang abah emang udah kembali, tapi saya yakin blio masih doakan saya di surga sana. dan hal penting lain, sekarang banyak banget yang bisa saya mintain doa:ibu, mertua, suami, anak, kakak-kakak,temen-temen...
makna kesetaraan gender
saat S1 sulu, sebenernya interes saya lebih ke psi sosial, terutama ttg kesetaraan gender
entah kenapa sejak SMU, ato SMP, saya "terobsesi" untuk banyak mendalami hal ini
meskipun beberapa orang merasa tidak perlu untuk membahas hal ini
bagi saya hal sekecil apapun menjadi perlu untuk dibahas dan dipertanyakan, karena hal kecil itu bisa menjadi titik krusial bagi sesuatu yang besar
apa makna kesetaraan gender bagi saya?
sungguh ini makna yang berbeda dengan memberikan hak dan kewajiban yang sama antara lelaki dan perempuan
karena memang jelas perempuan dan laki-laki berbeda, dari segi fisik, dan dari historis pendidikan kultural yang dialami
mestinya saya tertawa geli karena ada seorang bapak yang bilang "lha kalo karyawan perempuan itu mau disamakan haknya, ya mau dong lembur, laki-laki juga dapat cuti, kayak cuti hamil"
tapi bagi saya itu adalah tangisan miris bahwa seorang yang berpendidikan bahkan tidak mampu memaknai ini sebagai sebuah keadilan, keadilan pada porsi, bukan sama rata
sederhana saja jawabannya "lha, kalo laki-laki hamil juga pasti dikasih cuti..."
kesetaraan gender bagi saya lebih dari arti partisipasi perempuan di area publik
kesetaraan gender bagi saya lebih berarti memberikan pilihan bagi perempuan, tidak memaksanya melakukan pekerjaan domestik semata, namun juga tidak memaksanya masuk ke area publik
bagi saya kesetaraan gender di area publik lebih ke arah membuka kesempatan yang sama untuk perempuan berkarya, masalah dipake ato gak kesempatannya itu hal lain, tapi paling gak, ya mbok dikasih, wong kemampuannya sama aja sama lelaki
makanya, sedih sekali saya kalo tiba-tiba ada lowongan pekerjaan : khusus laki-laki, atau diutamakan belum menikah..
meskipun alasan kultural tadi jelas merupakan latar belakang hal ini
saya sadar sekali bahwa perempuan secara kultural diberi peran domestik
maka pendidikan melekat ini telah menjadi darah daging, dan meresap ke aspek nurani segala, maka kalo dipaksakan malah menyiksa, dan hilanglah kesetaraan gender itu
saya ingat sekali pernah bertanya hal sama pada teteh saya
apa yang dijawabnya sederhana "bahwa mendidik anak juga merupakan pekerjaan, mulia lagi, justru dia akan menyesal melepaskan peran itu"
saya masih ingat juga di blog nya bunda inong pernah cerita ketika blio ditanya mengenai perannya, padahal udah sekolah tinggi
begini jawabnya kira2 "lha emang saya sekolah untuk mendidik anak" lha emang iya kan, mendidik anak juga perlu ilmu. cara mendidik anak lulusan SD tentu beda dengan mendidik anak lulusan sarjana, meskipun gak bisa disamaratakan juga, paling tidak beda dari aspek knowledge, dan saya tidak berani menjamin dari aspek afektif nya
maka, kalo sekarang ada orang bertanya "fie habis lulus mau kerja dimana?"
ehmmmm...rasanya saya belum bisa melepaskan peran kultural yang sudah mendarah daging itu, apalagi tahun ini diberi amanah untuk mendidik saffa sorangan dulu, sementara ditinggal suami
maka, pilihan saya jatuh pada pekerjaan sebagai sarana aktualisasi diri semata, tapi bekerja dengan komitmen dan hati
entah kenapa sejak SMU, ato SMP, saya "terobsesi" untuk banyak mendalami hal ini
meskipun beberapa orang merasa tidak perlu untuk membahas hal ini
bagi saya hal sekecil apapun menjadi perlu untuk dibahas dan dipertanyakan, karena hal kecil itu bisa menjadi titik krusial bagi sesuatu yang besar
apa makna kesetaraan gender bagi saya?
sungguh ini makna yang berbeda dengan memberikan hak dan kewajiban yang sama antara lelaki dan perempuan
karena memang jelas perempuan dan laki-laki berbeda, dari segi fisik, dan dari historis pendidikan kultural yang dialami
mestinya saya tertawa geli karena ada seorang bapak yang bilang "lha kalo karyawan perempuan itu mau disamakan haknya, ya mau dong lembur, laki-laki juga dapat cuti, kayak cuti hamil"
tapi bagi saya itu adalah tangisan miris bahwa seorang yang berpendidikan bahkan tidak mampu memaknai ini sebagai sebuah keadilan, keadilan pada porsi, bukan sama rata
sederhana saja jawabannya "lha, kalo laki-laki hamil juga pasti dikasih cuti..."
kesetaraan gender bagi saya lebih dari arti partisipasi perempuan di area publik
kesetaraan gender bagi saya lebih berarti memberikan pilihan bagi perempuan, tidak memaksanya melakukan pekerjaan domestik semata, namun juga tidak memaksanya masuk ke area publik
bagi saya kesetaraan gender di area publik lebih ke arah membuka kesempatan yang sama untuk perempuan berkarya, masalah dipake ato gak kesempatannya itu hal lain, tapi paling gak, ya mbok dikasih, wong kemampuannya sama aja sama lelaki
makanya, sedih sekali saya kalo tiba-tiba ada lowongan pekerjaan : khusus laki-laki, atau diutamakan belum menikah..
meskipun alasan kultural tadi jelas merupakan latar belakang hal ini
saya sadar sekali bahwa perempuan secara kultural diberi peran domestik
maka pendidikan melekat ini telah menjadi darah daging, dan meresap ke aspek nurani segala, maka kalo dipaksakan malah menyiksa, dan hilanglah kesetaraan gender itu
saya ingat sekali pernah bertanya hal sama pada teteh saya
apa yang dijawabnya sederhana "bahwa mendidik anak juga merupakan pekerjaan, mulia lagi, justru dia akan menyesal melepaskan peran itu"
saya masih ingat juga di blog nya bunda inong pernah cerita ketika blio ditanya mengenai perannya, padahal udah sekolah tinggi
begini jawabnya kira2 "lha emang saya sekolah untuk mendidik anak" lha emang iya kan, mendidik anak juga perlu ilmu. cara mendidik anak lulusan SD tentu beda dengan mendidik anak lulusan sarjana, meskipun gak bisa disamaratakan juga, paling tidak beda dari aspek knowledge, dan saya tidak berani menjamin dari aspek afektif nya
maka, kalo sekarang ada orang bertanya "fie habis lulus mau kerja dimana?"
ehmmmm...rasanya saya belum bisa melepaskan peran kultural yang sudah mendarah daging itu, apalagi tahun ini diberi amanah untuk mendidik saffa sorangan dulu, sementara ditinggal suami
maka, pilihan saya jatuh pada pekerjaan sebagai sarana aktualisasi diri semata, tapi bekerja dengan komitmen dan hati
Minggu, 25 Mei 2008
cerita tentang kompetensi
sesungguhnya ingin sekali bercerita banyak tentang kompetensi
subjek yang beberapa bulan ini menjadi begitu menarik bagi saya, karena menjadi salah satu pijakan dasar bagi keputusan-keputusan SDM
pendekatan keperilakuan yang menjadi basis dasar model ini, kethoke oke banget ya
tapi di satu titik saya merasa jangan-jangan konsep ini sebentar lagi exhausted..
ah jangan...
ceritanya ntar lagi ya,,,kemaleman...
subjek yang beberapa bulan ini menjadi begitu menarik bagi saya, karena menjadi salah satu pijakan dasar bagi keputusan-keputusan SDM
pendekatan keperilakuan yang menjadi basis dasar model ini, kethoke oke banget ya
tapi di satu titik saya merasa jangan-jangan konsep ini sebentar lagi exhausted..
ah jangan...
ceritanya ntar lagi ya,,,kemaleman...
tentang mengasuh saffa
saya dan ayah sekarang hobi betul melihat nanny 911
banyak banget pelajaran mengenai mengasuh yang kami bisa terapkan pada saffa
jelas dong, saya dan ayahnya tidak mau trial and error, harus ada dasar teorinya dan teruji di lapangan, begitu katanya
maka, setiap habis menemukan ilmu baru mengenai mengasuh, dari manapun datangnya, kami akan berdiskusi dan menemukan jalan bersama...
seperti beberapa peraturan di bawah ini:
1. tahu dong, anak kecil kan kalo gak diturutin salah satu orangtuanya, maka akan berlari ke orangtua satunya...nah..nah..kalo udah begini, mesti satu suara..kalo ayah bilang jangan..ibu juga bilang jangan
2. menyeimbangkan peran. seringkali saya yang lebih galak dan tegas, ayah jadi penyeimbang, bukannya tempat mengadu, suara mah tetep satu sama ibu, tapi paling gak anak tetep ngerasa ada tempat aman gitu. kalo pas ayah yang galak, ibu yang lembut...
3. membiasakan saffa mengerjakan pekerjaan sendiri, melatih kemandirian. cuci baju sendiri, nyetrika sendiri, bersihin kamar sendiri...ya belum bisa dong...jadi hal2 sederhana kayak buang sampah, naruh baju di ember cucian kotor, atau menyimpan sesuatu di tempatnya kami biasakan dari kecil
4. melibatkan saffa dalam aktifitas bermakna, seperti shalat, membaca, makan bersama, dll
5. memberi kesempatan saffa untuk ekspresi dan "menguji" kemampuannya. maka jadilah tembok rumah kami di-mural, atau lantai yang berantakan nasi karena menguji kemandirian makan saffa sekaligus menguji presisinya masukin sendok ke mulut
6. saat saffa mulai tantrum, menginginkan sesuatu yang "tidak masuk akal", maka kami akan membiarkannya untuk mengatasi kemarahannya. tugas kami hanya meletakannya di tempat aman, sehingga tidak terjadi accident
Pelajaran mengasuh adalah pelajaran mengenai kerja tim, jadi jangan sekali-sekali menentukan strategi sendiri tanpa konsultasi dengan pasangan...berabe...
banyak banget pelajaran mengenai mengasuh yang kami bisa terapkan pada saffa
jelas dong, saya dan ayahnya tidak mau trial and error, harus ada dasar teorinya dan teruji di lapangan, begitu katanya
maka, setiap habis menemukan ilmu baru mengenai mengasuh, dari manapun datangnya, kami akan berdiskusi dan menemukan jalan bersama...
seperti beberapa peraturan di bawah ini:
1. tahu dong, anak kecil kan kalo gak diturutin salah satu orangtuanya, maka akan berlari ke orangtua satunya...nah..nah..kalo udah begini, mesti satu suara..kalo ayah bilang jangan..ibu juga bilang jangan
2. menyeimbangkan peran. seringkali saya yang lebih galak dan tegas, ayah jadi penyeimbang, bukannya tempat mengadu, suara mah tetep satu sama ibu, tapi paling gak anak tetep ngerasa ada tempat aman gitu. kalo pas ayah yang galak, ibu yang lembut...
3. membiasakan saffa mengerjakan pekerjaan sendiri, melatih kemandirian. cuci baju sendiri, nyetrika sendiri, bersihin kamar sendiri...ya belum bisa dong...jadi hal2 sederhana kayak buang sampah, naruh baju di ember cucian kotor, atau menyimpan sesuatu di tempatnya kami biasakan dari kecil
4. melibatkan saffa dalam aktifitas bermakna, seperti shalat, membaca, makan bersama, dll
5. memberi kesempatan saffa untuk ekspresi dan "menguji" kemampuannya. maka jadilah tembok rumah kami di-mural, atau lantai yang berantakan nasi karena menguji kemandirian makan saffa sekaligus menguji presisinya masukin sendok ke mulut
6. saat saffa mulai tantrum, menginginkan sesuatu yang "tidak masuk akal", maka kami akan membiarkannya untuk mengatasi kemarahannya. tugas kami hanya meletakannya di tempat aman, sehingga tidak terjadi accident
Pelajaran mengasuh adalah pelajaran mengenai kerja tim, jadi jangan sekali-sekali menentukan strategi sendiri tanpa konsultasi dengan pasangan...berabe...
keadilan Allah di saat tua
salah satu acara talkshow asli indonesia yang saya nantikan adalah kick andy. sayangnya penayangan yang terlalu malam untuk ukuran saya, membuat penantian menonton itu semakin lama, soalnya saya nonton di hari minggunya. alasannya cukup jelas, bahwa ketika saya menonton, yang tersentuh tidak hanya mata, telinga saja, namun juga hati
sore ini saya menonton lansia-lansia luar biasa yang masih terus berkarya dan berjuang di hari tuanya
laila sari mengingatkan saya pada ibu, karena mereka berdua sama-sama sudah janda di usia tuanya
bedanya, laila sari masih begitu fit, bisa jingkrak2, sementara ibu saya lebih banyak tidur karena permasalahan back pain yang mengujinya selama 3 tahun ini
tapi saat laila sari mengungkapkan latar belakang kenapa di usia setua ini masih bekerja, mafhum lah saya
menjadi tulang punggung keluarga membuat dia harus bekerja untuk menafkahi anak, cucu dan buyutnya..Alhamdulillah Allah memberikan berkah kesehatan dan kekuatan untuk blio
Saya gak kebayang kalo beliau dikasih cobaan sama Allah seperti ibu saya
Sementara Alhamdulillah ibu saya, walaupun Allah memberi cobaan back pain, namun beliau tidak perlu menanggung beban nafkah keluarga
Allah sungguh adil
pikiran saya pun melayang pada teman ibu saya yang berusia 75 tahun, matanya yang sebelah sudah tidak dapat melihat, dan yang kanan juga katarak ringan.
Anaknya yang tinggal bersamanya tidak dapat diandalkan. punya rizki, namun tidak diberi kelapangan hati untuk berbagi dengan ibunya
ah, kembali Allah begitu adil, teman ibu saya ini sedari muda bekerja, sehingga di hari tuanya mendapat pensiun, jadi tidak perlulah beliau mengemis ke anaknya
Allah memang telah menempatkan sesuatu di tempatnya
bukan dengan memberikan segala kenikmatan
namun memberikan situasi dimana semua orang bisa belajar
itulah keadilan Allah
sore ini saya menonton lansia-lansia luar biasa yang masih terus berkarya dan berjuang di hari tuanya
laila sari mengingatkan saya pada ibu, karena mereka berdua sama-sama sudah janda di usia tuanya
bedanya, laila sari masih begitu fit, bisa jingkrak2, sementara ibu saya lebih banyak tidur karena permasalahan back pain yang mengujinya selama 3 tahun ini
tapi saat laila sari mengungkapkan latar belakang kenapa di usia setua ini masih bekerja, mafhum lah saya
menjadi tulang punggung keluarga membuat dia harus bekerja untuk menafkahi anak, cucu dan buyutnya..Alhamdulillah Allah memberikan berkah kesehatan dan kekuatan untuk blio
Saya gak kebayang kalo beliau dikasih cobaan sama Allah seperti ibu saya
Sementara Alhamdulillah ibu saya, walaupun Allah memberi cobaan back pain, namun beliau tidak perlu menanggung beban nafkah keluarga
Allah sungguh adil
pikiran saya pun melayang pada teman ibu saya yang berusia 75 tahun, matanya yang sebelah sudah tidak dapat melihat, dan yang kanan juga katarak ringan.
Anaknya yang tinggal bersamanya tidak dapat diandalkan. punya rizki, namun tidak diberi kelapangan hati untuk berbagi dengan ibunya
ah, kembali Allah begitu adil, teman ibu saya ini sedari muda bekerja, sehingga di hari tuanya mendapat pensiun, jadi tidak perlulah beliau mengemis ke anaknya
Allah memang telah menempatkan sesuatu di tempatnya
bukan dengan memberikan segala kenikmatan
namun memberikan situasi dimana semua orang bisa belajar
itulah keadilan Allah
tren baru iklan menjelang 2009
saat nonton tipi, selain acaranya yang emang biasanya kita tuju, saya juga suka sekali melihat iklan
melihat iklan seperti melihat perjalanan kreatifitas bangsa ini
melihat iklan mampu menjadi ukuran sedalam apa kebijakan yang telah dimiliki bangsa ini
dan satu-satunya yang tidak mengalami pergerakan kreatifitas berarti adalah iklan pemutih wajah!!!!!!
atau iklan parfum perempuan yang seolah2 diproduksi hanya untuk penghambaan terhadap pujian dari pria...no...no..no!!!
tapi ada hal menarik menjelang 2009 ini, mestinya diadakan juga lomba kreatifitas iklan yang "menjual" orang..maksudnya itu lho iklan yang fokusnya menyebut nama orang...dengan maksud untuk menduduki posisi tertentu,ehm..ehm..
saya pikir ide yang berkembang untuk mengiklankan "orang" itu semakin lama semakin bagus saja
dan ini adalah award untuk iklan yang menjual "orang":
dan yang paling membumi adalah iklan : SUKAWI SUTARIP...(monggo yang kadangan suka nongton TATV, maapkeun di tipi laen gak ada..)konsepnya pake lagu ciptaan didi kempot
iklan paling puitis adalah : SUTRISNO BACHIR...jelas...jelas...jelas...
iklan yang kontekstual adalah : WIRANTO...beneran nih pak protes sama pak SBY?
dan kalo semua iklan yang menonjolkan orang tertentu dimaksudkan sebagai intro kampanye menuju kursi kepresidenan..maka saya memilih Dedy Mizwar...(hehe, sayangnya blio malah gak nyalon ya...)
melihat iklan seperti melihat perjalanan kreatifitas bangsa ini
melihat iklan mampu menjadi ukuran sedalam apa kebijakan yang telah dimiliki bangsa ini
dan satu-satunya yang tidak mengalami pergerakan kreatifitas berarti adalah iklan pemutih wajah!!!!!!
atau iklan parfum perempuan yang seolah2 diproduksi hanya untuk penghambaan terhadap pujian dari pria...no...no..no!!!
tapi ada hal menarik menjelang 2009 ini, mestinya diadakan juga lomba kreatifitas iklan yang "menjual" orang..maksudnya itu lho iklan yang fokusnya menyebut nama orang...dengan maksud untuk menduduki posisi tertentu,ehm..ehm..
saya pikir ide yang berkembang untuk mengiklankan "orang" itu semakin lama semakin bagus saja
dan ini adalah award untuk iklan yang menjual "orang":
dan yang paling membumi adalah iklan : SUKAWI SUTARIP...(monggo yang kadangan suka nongton TATV, maapkeun di tipi laen gak ada..)konsepnya pake lagu ciptaan didi kempot
iklan paling puitis adalah : SUTRISNO BACHIR...jelas...jelas...jelas...
iklan yang kontekstual adalah : WIRANTO...beneran nih pak protes sama pak SBY?
dan kalo semua iklan yang menonjolkan orang tertentu dimaksudkan sebagai intro kampanye menuju kursi kepresidenan..maka saya memilih Dedy Mizwar...(hehe, sayangnya blio malah gak nyalon ya...)
Kamis, 22 Mei 2008
kompre : satu langkah telah terlewati
Alhamdulillah, akhirnya saya kompre juga kemarin
alhamdulillah akhirnya dinyatakan boleh melanjutkan penelitian dengan catatan harus revisi dulu
alhamdulillah kemarin rasanya seperti mukjizat diberi ketenangan hati oleh Allah, sehingga bisa tenang menghadapi tim penguji..doanya banyak orang yang sayang sama saya kali ya..nuwun sanget
hadiah untuk kesabaran saffa yang seringkali ditinggal dalam proses ini
langkah berikutnya:
revisi dulu..ketemu tim penguji..kalo sudah oke..
barulah penelitian...
doakan semoga semuanya lancar.amien
alhamdulillah akhirnya dinyatakan boleh melanjutkan penelitian dengan catatan harus revisi dulu
alhamdulillah kemarin rasanya seperti mukjizat diberi ketenangan hati oleh Allah, sehingga bisa tenang menghadapi tim penguji..doanya banyak orang yang sayang sama saya kali ya..nuwun sanget
hadiah untuk kesabaran saffa yang seringkali ditinggal dalam proses ini
langkah berikutnya:
revisi dulu..ketemu tim penguji..kalo sudah oke..
barulah penelitian...
doakan semoga semuanya lancar.amien
Selasa, 20 Mei 2008
arti ASI
bagi saffa, arti ASI adalah:
1. emotional bounding
2. makan, minum,,,,apalagi enam bulan awal kehidupannya
3. obat segala penyakit...sapu jagad..
4. obat nangis...wes-wes-wes bablas nangise
5. aktifitas kalo lagi iseng aja pengen dipeluk ibu
6. protes kalo ibu habis pergi lama (=pergi 1-4 jam saja sebetulnya), soalnya habis itu saffa ngejar2 ibu minta memeh, gak boleh pake jeda dulu
bagi ibu, arti ASI adalah :
1. emotional bounding
2. pertahanan imun buat saffa yang manjur
3. hemat..hemat..hemat
4. gak repot, higienis, bergizi lagi
banyak calon ibu yang bertanya pada saya mengenai ASI ekslusif yang saya jalankan
saya pikir, alasan di atas cukup kuat untuk menggambarkan mengapa saya memilih jalan ini
gimana caranya?
mengingat saya sudah meninggalkan saffa seharian sejak dia berumur 2 minggu, dengan kegiatan padat mencekat
maka saya putuskan :
1. seminggu sebelum saya aktif kuliah lagi, maka saya mempersiapkan 10 botol kosong untuk diisi ASI semua
2. setiap hari sabtu-minggu atau hari libur lain, kegiatan mengisi botol dengan ASI tetap dijalankan dong untuk persediaan
3. ke kampus, bawa termos es, diisi dengan beberapa botol kosong, dan alat pemompa
4. usahakan hasil pemerasan dalam sehari bisa menutup kebutuhansaffa sehari juga. misal: kebutuhan ASI saffa saat ditinggal sekitar 4 botol, maka begini jadwal pemerasan saya untuk memenuhinya :
-pagi bangun tidur
-siang, saat istirahat kuliah : 2 botol
-sore saat pulang kuliah
5. hasil perasan ASI disimpan di freezre, bisa tahan sampe 3 bulan. tapi percaya deh, anak gak akan selama itu ngabisin 10 botol aja
6. karena ASI udah jadi es batu ASI, maka cara murah untuk mencairkan : tuang air hangat ke mangkok, masukan botol tertutu ke dalamnya...jangan sampai celup lho ya..kita memang harus sabar untuk menunggu cair, dan mengganti air hangatnya beberapa kali
1. emotional bounding
2. makan, minum,,,,apalagi enam bulan awal kehidupannya
3. obat segala penyakit...sapu jagad..
4. obat nangis...wes-wes-wes bablas nangise
5. aktifitas kalo lagi iseng aja pengen dipeluk ibu
6. protes kalo ibu habis pergi lama (=pergi 1-4 jam saja sebetulnya), soalnya habis itu saffa ngejar2 ibu minta memeh, gak boleh pake jeda dulu
bagi ibu, arti ASI adalah :
1. emotional bounding
2. pertahanan imun buat saffa yang manjur
3. hemat..hemat..hemat
4. gak repot, higienis, bergizi lagi
banyak calon ibu yang bertanya pada saya mengenai ASI ekslusif yang saya jalankan
saya pikir, alasan di atas cukup kuat untuk menggambarkan mengapa saya memilih jalan ini
gimana caranya?
mengingat saya sudah meninggalkan saffa seharian sejak dia berumur 2 minggu, dengan kegiatan padat mencekat
maka saya putuskan :
1. seminggu sebelum saya aktif kuliah lagi, maka saya mempersiapkan 10 botol kosong untuk diisi ASI semua
2. setiap hari sabtu-minggu atau hari libur lain, kegiatan mengisi botol dengan ASI tetap dijalankan dong untuk persediaan
3. ke kampus, bawa termos es, diisi dengan beberapa botol kosong, dan alat pemompa
4. usahakan hasil pemerasan dalam sehari bisa menutup kebutuhansaffa sehari juga. misal: kebutuhan ASI saffa saat ditinggal sekitar 4 botol, maka begini jadwal pemerasan saya untuk memenuhinya :
-pagi bangun tidur
-siang, saat istirahat kuliah : 2 botol
-sore saat pulang kuliah
5. hasil perasan ASI disimpan di freezre, bisa tahan sampe 3 bulan. tapi percaya deh, anak gak akan selama itu ngabisin 10 botol aja
6. karena ASI udah jadi es batu ASI, maka cara murah untuk mencairkan : tuang air hangat ke mangkok, masukan botol tertutu ke dalamnya...jangan sampai celup lho ya..kita memang harus sabar untuk menunggu cair, dan mengganti air hangatnya beberapa kali
Minggu, 18 Mei 2008
ayah berkacamata
ini suami saya
sungguh ini suami saya
hanya ada properti baru di wajahnya
yang membuatnya semakin.........
sesungguhnya siapapun, baik saya maupun suami tak ingin properti itu
tapi apa daya, usia (maapkeun ya yah, hehe), yang jelas properti ini keharusan untuk menjalani hidup dengan normal :)
bahaya mengancam jika properti ini tidak dimanfaatkan dengan baik (emang segitu seriusnya ya?hehe)
gak ding, belom parah banget kok
tapi..yakin lho yah, bum suka liat pake kacamata...sebenernya lebih suka kalau itu kacamata gaya aja (jadikan sebenernya mata ayah gak bermasalah)..tapi kembali lagi, apa daya...
Maka, dengan bangga, bum memaksa ayah melakukan sesi pemotretan ini...hehe
sungguh ini suami saya
hanya ada properti baru di wajahnya
yang membuatnya semakin.........
sesungguhnya siapapun, baik saya maupun suami tak ingin properti itu
tapi apa daya, usia (maapkeun ya yah, hehe), yang jelas properti ini keharusan untuk menjalani hidup dengan normal :)
bahaya mengancam jika properti ini tidak dimanfaatkan dengan baik (emang segitu seriusnya ya?hehe)
gak ding, belom parah banget kok
tapi..yakin lho yah, bum suka liat pake kacamata...sebenernya lebih suka kalau itu kacamata gaya aja (jadikan sebenernya mata ayah gak bermasalah)..tapi kembali lagi, apa daya...
Maka, dengan bangga, bum memaksa ayah melakukan sesi pemotretan ini...hehe
kekuatan framing
saat di S1 dulu, skripsi saya mengenai efek framing pada package produk untuk meningkatkan evaluasi konsumen.
cerita mengenai framing sederhana saja sebetulnya. begini ilustrasinya :
ketika ada produk kartu seluler bilang bahwa harga mereka Rp.10/detik, maka sebenarnya, sama aja dengan bilang Rp.600/detik. namun, bagi beberapa orang ,dalam beberapa kondisi, efek evaluasinya akan berbeda. nah kalo orang sudah memberikan evaluasi yang berbeda, berarti framing itu berhasil.
semalam, saya baru saja menonton tayangan dokumenter tentang biografi ahmadinejad.
wuih, framing nya mengerikan. saya semakin menyadari, betapa media berpengaruh besar terhadap opini yang terbentuk di masyarakat.
keberpihakan media bisa dianalisa dengan melakukan content analysis terhadap isi berita mereka
dan malam itu saya mendengar berita yang di framing itu :
"....dan dia(ahmadinejad) sibuk menjilat dengan sekelilingnya...." kira-kira begitulah
tapi apa bedanya dengan "....dan dia(ahmadinejad) mencoba menjalin hubungan baik dengan sekelilingnya...."
dan berikutnya
"..dia akan menjadi man from nowhere yang akan...menghancurkan dunia"
hey ada apa dengan dokumenter ini?
tapi, membuat saya semakin yakin mengenai kekuatan framing...
cerita mengenai framing sederhana saja sebetulnya. begini ilustrasinya :
ketika ada produk kartu seluler bilang bahwa harga mereka Rp.10/detik, maka sebenarnya, sama aja dengan bilang Rp.600/detik. namun, bagi beberapa orang ,dalam beberapa kondisi, efek evaluasinya akan berbeda. nah kalo orang sudah memberikan evaluasi yang berbeda, berarti framing itu berhasil.
semalam, saya baru saja menonton tayangan dokumenter tentang biografi ahmadinejad.
wuih, framing nya mengerikan. saya semakin menyadari, betapa media berpengaruh besar terhadap opini yang terbentuk di masyarakat.
keberpihakan media bisa dianalisa dengan melakukan content analysis terhadap isi berita mereka
dan malam itu saya mendengar berita yang di framing itu :
"....dan dia(ahmadinejad) sibuk menjilat dengan sekelilingnya...." kira-kira begitulah
tapi apa bedanya dengan "....dan dia(ahmadinejad) mencoba menjalin hubungan baik dengan sekelilingnya...."
dan berikutnya
"..dia akan menjadi man from nowhere yang akan...menghancurkan dunia"
hey ada apa dengan dokumenter ini?
tapi, membuat saya semakin yakin mengenai kekuatan framing...
Kamis, 15 Mei 2008
DIJUAL : INDONESIA
saya merasa negeri ini semakin miskin saja
semua mau dijual
sampai rasanya ada titik dimana harga diri bangsa ini memang telah dijual
beberapa bulan lalu, saya suka sekali menonton serial traveler di trans7 yang penayangannya harus diputus di tengah jalan di negeri asalnya sana
saya tak tahulah alasan jelasnya
tapi karena penasaran, saya mencari informasi mengenai serial ini
saya menemukan resensinya, rencana kelanjutan maksudnya
karena tentu saja yang ditayangkan di TV tidak lengkap sama sekali
ternyata sodara-sodara
serial itu banyak menceritakan ttg bagaimana permainan di sebuah negara
kita mungkin mengira bahwa orang paling berkuasa di negeri adalah pemimpin tertinggi secara legal, entah presiden, atau PM
tapi film itu dengan jelas menunjukan sesuatu tidak seperti kebanyakan orang berpikir
ada tangan-tangan tak nampak yang dalam sejarah Amerika yang menentukan beberapa hal yang sangat signifikan. penuh dengan permainan kotor, perusakan image dan manipulasi
saya hanya berpikir, apa kabar Indonesia?
situasinya seperti inikah?
kalau di Traveler, tangan-tangan berkuasa itu tidak nampak dan tersembunyi
di Indonesia mah kentoro banget...
SIAPA YA?......
yang jelas, pihak2 yg pling mendapat keuntungan dari penjualan harga diri bangsa ini
semua mau dijual
sampai rasanya ada titik dimana harga diri bangsa ini memang telah dijual
beberapa bulan lalu, saya suka sekali menonton serial traveler di trans7 yang penayangannya harus diputus di tengah jalan di negeri asalnya sana
saya tak tahulah alasan jelasnya
tapi karena penasaran, saya mencari informasi mengenai serial ini
saya menemukan resensinya, rencana kelanjutan maksudnya
karena tentu saja yang ditayangkan di TV tidak lengkap sama sekali
ternyata sodara-sodara
serial itu banyak menceritakan ttg bagaimana permainan di sebuah negara
kita mungkin mengira bahwa orang paling berkuasa di negeri adalah pemimpin tertinggi secara legal, entah presiden, atau PM
tapi film itu dengan jelas menunjukan sesuatu tidak seperti kebanyakan orang berpikir
ada tangan-tangan tak nampak yang dalam sejarah Amerika yang menentukan beberapa hal yang sangat signifikan. penuh dengan permainan kotor, perusakan image dan manipulasi
saya hanya berpikir, apa kabar Indonesia?
situasinya seperti inikah?
kalau di Traveler, tangan-tangan berkuasa itu tidak nampak dan tersembunyi
di Indonesia mah kentoro banget...
SIAPA YA?......
yang jelas, pihak2 yg pling mendapat keuntungan dari penjualan harga diri bangsa ini
Tim sukses ujian kompre=saffa+ayah+DPT+teman2
Alhamdulillah, Allah begitu adil pada saya, di sela halangan dan cobaan, begitu banyak kasih sayang yang diberikan pada saya melalui orang-orang di sekeliling saya
Ayah yang begitu sabar, memberikan dukungan, membelikan sate di saat ibu gak mampu masak karena stress:)(mesti deh tema nya makan), mengajak ibu senyum, memberikan kepercayaan dan kasih tak tenilai di saat-saat sulit kemarin
Kak saffa, dengan polah yang semakin lucu, manja, bisa bikin saya senyum, bisa bikin saya bicara dan berhenti menangisi situasi ini
DPT saya yang memberikan dukungan penuh, mengembalikan kepercayaan diri saya, memberi masukan berharga
Teman-teman yang bersedia mendengarkan, memberi dukungan, berbagi materi dan jurnal, menyemangati
dari semua itu, hanya satu yang saya pahami, bahwa Allah memberikan segalanya dengan adil, tepat pada waktunya
satu hal yang saya pahami, bahwa kasih sayang adalah kekuatan besar untuk mengalahkan apapun, menjadikan kepala saya tegak, bisa menatap ke depan, tidak berhenti di titik ini dan menghilangkan jejak satu setengah tahun ke belakang
bagi saya, ini adalah saat-saat emosional. dalam sekejap, semua seperti meluncur, bergabung dengan perasaan lain yang tadinya mungkin tidak terpikir cocok untuk di mix- kan
tapi ini hidup, dan hidup adalah perjalanan
bahwa semua kemungkinan adalah sesuatu yang pasti, jika Allah menghendaki
Mohon doa untuk ujian saya kamis pekan depan
Ayah yang begitu sabar, memberikan dukungan, membelikan sate di saat ibu gak mampu masak karena stress:)(mesti deh tema nya makan), mengajak ibu senyum, memberikan kepercayaan dan kasih tak tenilai di saat-saat sulit kemarin
Kak saffa, dengan polah yang semakin lucu, manja, bisa bikin saya senyum, bisa bikin saya bicara dan berhenti menangisi situasi ini
DPT saya yang memberikan dukungan penuh, mengembalikan kepercayaan diri saya, memberi masukan berharga
Teman-teman yang bersedia mendengarkan, memberi dukungan, berbagi materi dan jurnal, menyemangati
dari semua itu, hanya satu yang saya pahami, bahwa Allah memberikan segalanya dengan adil, tepat pada waktunya
satu hal yang saya pahami, bahwa kasih sayang adalah kekuatan besar untuk mengalahkan apapun, menjadikan kepala saya tegak, bisa menatap ke depan, tidak berhenti di titik ini dan menghilangkan jejak satu setengah tahun ke belakang
bagi saya, ini adalah saat-saat emosional. dalam sekejap, semua seperti meluncur, bergabung dengan perasaan lain yang tadinya mungkin tidak terpikir cocok untuk di mix- kan
tapi ini hidup, dan hidup adalah perjalanan
bahwa semua kemungkinan adalah sesuatu yang pasti, jika Allah menghendaki
Mohon doa untuk ujian saya kamis pekan depan
Rabu, 14 Mei 2008
bagaimana prosedur ujian kompre sesungguhnya????
SUNGGUH-SUNGGUH FRUSTRATED
"proposal ini belum layak uji" suara di ujung telepon disana
??????????????
saya sungguh paham yang bicara adalah manajer di kampus
dan kami banyak berdiskusi ttg topik dan metodologi
sebagai catatan : spesialisasi kami berbeda
semalam, saat kepala saya penuh dengan kalimat pembenahan dan penyempurnaan
saya menyempatkan diri membaca panduan tesis
begini di poin terakhir :
MAHASISWA DIPERBOLEHKAN UJIAN KOMPREHENSIF SETELAH DISETUJUI DOSEN PEMBIMBING TESIS
proposal saya sudah disetujui oleh pembimbing tesis, ada apa?bahkan ini adalah proposal yang sama yang telah disetujui dan LULUS di mata kuliah Teknik Penulisan Tesis. Bukankah lengkap sudah filter bagi pekerjaan saya? apakah saya menjadi orang yang mendapatkan spesial prosedur untuk hal ini? kenapa?
semakin berpikir, semakin bingung, takut malah jadi suudzon berlebihan
dari semua yang saya tahu mengenai situasi selama sebulan ini, yang membuat saya berpikir bahwa saya menjadi anarki di Mapro
Saya percaya bahwa ALLAH lah yang tahu segalanya
biarlah hati dan kepala saya tetap dingin dan ikhlas menghadapi semua ini
biar hati dan mulut saya tetap bersih meskipun rasa sakit harus dialami, tidak hanya saya sendiri,tapi juga anak dan suami
AMIEN
"proposal ini belum layak uji" suara di ujung telepon disana
??????????????
saya sungguh paham yang bicara adalah manajer di kampus
dan kami banyak berdiskusi ttg topik dan metodologi
sebagai catatan : spesialisasi kami berbeda
semalam, saat kepala saya penuh dengan kalimat pembenahan dan penyempurnaan
saya menyempatkan diri membaca panduan tesis
begini di poin terakhir :
MAHASISWA DIPERBOLEHKAN UJIAN KOMPREHENSIF SETELAH DISETUJUI DOSEN PEMBIMBING TESIS
proposal saya sudah disetujui oleh pembimbing tesis, ada apa?bahkan ini adalah proposal yang sama yang telah disetujui dan LULUS di mata kuliah Teknik Penulisan Tesis. Bukankah lengkap sudah filter bagi pekerjaan saya? apakah saya menjadi orang yang mendapatkan spesial prosedur untuk hal ini? kenapa?
semakin berpikir, semakin bingung, takut malah jadi suudzon berlebihan
dari semua yang saya tahu mengenai situasi selama sebulan ini, yang membuat saya berpikir bahwa saya menjadi anarki di Mapro
Saya percaya bahwa ALLAH lah yang tahu segalanya
biarlah hati dan kepala saya tetap dingin dan ikhlas menghadapi semua ini
biar hati dan mulut saya tetap bersih meskipun rasa sakit harus dialami, tidak hanya saya sendiri,tapi juga anak dan suami
AMIEN
politisi:"serba salah"
awal bulan ini, saya liat banyak banget poster nya pak SB-PAN untuk menyambut 100 tahun kebangkitan bangsa, belom lagi iklannya yang cukup panjang dan menyertakan istrinya...
Lalu, pikiran saya menari-nari di kepala, dan terucaplah sebuah kalimat :
"wah ada tendensi apa ya yah?"
"yah biasalah politisi bum.."
"ada rencana mau nyalon presiden kali ya yah?"
"bisa jadi.."
Berita sore metro menayangkan promosi hemat energi Cak Imin dengan naik ojek, dan ditengarai hanya untuk memperkuat profilnya sebagai pemimpin, tahu lah tengarai mengenai motif politis
Pagi ini, dalam perjalanan pulang dari kampus
"susah juga ya yah jadi politis, mungkin maksudnya baik, tapi orang ngiranya pasti lain.lha kayak kampanye hemat energi cak imin kemaren"
"bum, kalo mau kampanye hemat energi mah jangan gitu"
"kenapa ? tukang ojeknya banyak banget ya? bum juga jadi mikir, apa malah bukannya jadi boros, banyak banget yang ngiring dia pergi"
"nah itu dia, gimana gak mikir ada motif politis.."
8 kilometer dari kampus, topik tadi masih jadi pembicaraan yang asik
"kita ini kok ya jadi mikirnya jelek terus ttg politisi ya?"
"ya wajar la yah, kita ini kan rakyat yang sudah seringkali dikecewakan, ngembaliin kepercayaan susah banget. masih bisa gak ya nemuin yang bener?"
Yuk pertanyaan itu dijawab bareng-bareng..
Lalu, pikiran saya menari-nari di kepala, dan terucaplah sebuah kalimat :
"wah ada tendensi apa ya yah?"
"yah biasalah politisi bum.."
"ada rencana mau nyalon presiden kali ya yah?"
"bisa jadi.."
Berita sore metro menayangkan promosi hemat energi Cak Imin dengan naik ojek, dan ditengarai hanya untuk memperkuat profilnya sebagai pemimpin, tahu lah tengarai mengenai motif politis
Pagi ini, dalam perjalanan pulang dari kampus
"susah juga ya yah jadi politis, mungkin maksudnya baik, tapi orang ngiranya pasti lain.lha kayak kampanye hemat energi cak imin kemaren"
"bum, kalo mau kampanye hemat energi mah jangan gitu"
"kenapa ? tukang ojeknya banyak banget ya? bum juga jadi mikir, apa malah bukannya jadi boros, banyak banget yang ngiring dia pergi"
"nah itu dia, gimana gak mikir ada motif politis.."
8 kilometer dari kampus, topik tadi masih jadi pembicaraan yang asik
"kita ini kok ya jadi mikirnya jelek terus ttg politisi ya?"
"ya wajar la yah, kita ini kan rakyat yang sudah seringkali dikecewakan, ngembaliin kepercayaan susah banget. masih bisa gak ya nemuin yang bener?"
Yuk pertanyaan itu dijawab bareng-bareng..
Senin, 12 Mei 2008
kebiasaan keluarga telah diturunkan....
sore ini saya dan saffa menghabiskan waktu berdua
setelah tidur siang, bangun, seperti biasa kami menghabiskan waktu sebentar dengan bercanda di atas tempat tidur, mempersiapkan saffa supaya gak bete pas diajak ke kamar mandi
saya gemes banget ngeliat upil yang ada di hidung kirinya
iseng2, saya cuik2 upilnya,hehe
iseng2, saya ajari saffa ambil upilnya sendiri
nah, bener kak, gitu kak...
kami pun tertawa-tawa kecil
cuik sekali
cuik dua kali
cuik tiga kali
berhasil..berhasil..berhasil..
saya pun kirim sms ke ayah yang lagi ada di jakarta :
"yah, selamat ya.saffa udah bisa ngupil lho, akhirnya tradisi diturunkan..."
setelah tidur siang, bangun, seperti biasa kami menghabiskan waktu sebentar dengan bercanda di atas tempat tidur, mempersiapkan saffa supaya gak bete pas diajak ke kamar mandi
saya gemes banget ngeliat upil yang ada di hidung kirinya
iseng2, saya cuik2 upilnya,hehe
iseng2, saya ajari saffa ambil upilnya sendiri
nah, bener kak, gitu kak...
kami pun tertawa-tawa kecil
cuik sekali
cuik dua kali
cuik tiga kali
berhasil..berhasil..berhasil..
saya pun kirim sms ke ayah yang lagi ada di jakarta :
"yah, selamat ya.saffa udah bisa ngupil lho, akhirnya tradisi diturunkan..."
rakyat indonesia:"nasib..nasib"
kurang bahagia apa jadi rakyat Indonesia. negara nan indah, SDA nan banyak (masihkah?), mau liat gunung, ada...mau liat laut, bisa...
kurang nelongso apa jadi rakyat indonesia. BBM naik, pemerintah bilang masih diuntungkan, SMS santet beredar, tindakan tegas lama bener
dan yang paling menyedihkan
banyak guru yang berubah jadi maling, memeri contekan pada siswanya sendiri, karena sungguh2 sayang pada siswa, dan takut pada atasan
banyak siswa sutris, tidak dihargai proses yang dijalankan. lha, pendidikan kita ini mendidik kita menjadi result oriented people kok ya? jadi orang kaya, yang penting kaya, biar caranya kuropsi juga
jadi orang pinter, minteri, biar caranya nyontek dan nyolong juga
jadi orang terkenal, populer seluruh nusantara tercinta, biar caranya bikin skandal juga
yang penting kan hasilnya, gak perlu lah liat caranya.
yang penting lulus UAN, mau nyontek, dan melibatkan "sindikat" orang-orang baik yang terpaksa tercebur menjadi orang-orang pura-pura baik
AH, YANG PENTING KAN HASILNYA
kurang nelongso apa jadi rakyat indonesia. BBM naik, pemerintah bilang masih diuntungkan, SMS santet beredar, tindakan tegas lama bener
dan yang paling menyedihkan
banyak guru yang berubah jadi maling, memeri contekan pada siswanya sendiri, karena sungguh2 sayang pada siswa, dan takut pada atasan
banyak siswa sutris, tidak dihargai proses yang dijalankan. lha, pendidikan kita ini mendidik kita menjadi result oriented people kok ya? jadi orang kaya, yang penting kaya, biar caranya kuropsi juga
jadi orang pinter, minteri, biar caranya nyontek dan nyolong juga
jadi orang terkenal, populer seluruh nusantara tercinta, biar caranya bikin skandal juga
yang penting kan hasilnya, gak perlu lah liat caranya.
yang penting lulus UAN, mau nyontek, dan melibatkan "sindikat" orang-orang baik yang terpaksa tercebur menjadi orang-orang pura-pura baik
AH, YANG PENTING KAN HASILNYA
Jumat, 09 Mei 2008
keputusan bersama...
saya dan suami memang terbiasa berdiskusi kalau menyangkut urusan keluarga
dan urusan pra keluarga (LHo???)
sebelum menikah, kami berdiskusi ttg kemungkinan kesulitan saya dalam bekerja kalau sudah berkeluarga...saya pun memutuskan, kamu maksudnya
setelah menikah, ketika dihadapkan pada tawaran bekerja di luar kota, dengan konsekuensi saya berpisah dengan suami, saya mikir beribu kali, dan melewatkan banyak kesempatan undangan...
tapi sungguh, saat ini rasanya tidak menyesal, karena arti bahagia lebih dari pekerjaan dan karir
ada hal-hal sederhana yang ngangenin saat berpisah
makan malem bareng, masak nasi goreng bareng, makan siang bareng (lho kok temanya makan semua???hehe)
dan hal sederhana itu menjadi pengisi kebahagiaan terbesar
saat ini, kami dihadapkan lagi pada perpisahan fisik ini
ayah harus memilih tempat kuliah terbaik, dan konsekuensinya kami harus berpisah
saat ini, saya sendiri merasa begitu "tak apa-apa"
ini bagian dari perjuangan kami untuk sampai di satu titik
asalkan pengorbanan kami semua ini worthed saja
meskipun bingung setengah hidup, sampai membuat bolak-balik saat mau tidur karena memikirkan sebaiknya sekolah dimana
saya berpikir bahwa ini adalah peluang yang harus ayah ambil
karena kebahagiaan untuk bersama bisa sementara ditunda
dan saya yakin penantian adalah saat indah untuk menunggu saatnya diberi anugerah
seperti ketika menunggu ramadhan tiba
seperti ketika menunggu waktu berbuka
seperti ketika menunggu lebaran tiba
dan ketika saatnya tiba, semua yang dijalankan dengan kerelaan dan keikhlasan menjadi kebahagiaan yang berlipat banyaknya..tak terukur
semoga bahagia itu segera tiba..
dan urusan pra keluarga (LHo???)
sebelum menikah, kami berdiskusi ttg kemungkinan kesulitan saya dalam bekerja kalau sudah berkeluarga...saya pun memutuskan, kamu maksudnya
setelah menikah, ketika dihadapkan pada tawaran bekerja di luar kota, dengan konsekuensi saya berpisah dengan suami, saya mikir beribu kali, dan melewatkan banyak kesempatan undangan...
tapi sungguh, saat ini rasanya tidak menyesal, karena arti bahagia lebih dari pekerjaan dan karir
ada hal-hal sederhana yang ngangenin saat berpisah
makan malem bareng, masak nasi goreng bareng, makan siang bareng (lho kok temanya makan semua???hehe)
dan hal sederhana itu menjadi pengisi kebahagiaan terbesar
saat ini, kami dihadapkan lagi pada perpisahan fisik ini
ayah harus memilih tempat kuliah terbaik, dan konsekuensinya kami harus berpisah
saat ini, saya sendiri merasa begitu "tak apa-apa"
ini bagian dari perjuangan kami untuk sampai di satu titik
asalkan pengorbanan kami semua ini worthed saja
meskipun bingung setengah hidup, sampai membuat bolak-balik saat mau tidur karena memikirkan sebaiknya sekolah dimana
saya berpikir bahwa ini adalah peluang yang harus ayah ambil
karena kebahagiaan untuk bersama bisa sementara ditunda
dan saya yakin penantian adalah saat indah untuk menunggu saatnya diberi anugerah
seperti ketika menunggu ramadhan tiba
seperti ketika menunggu waktu berbuka
seperti ketika menunggu lebaran tiba
dan ketika saatnya tiba, semua yang dijalankan dengan kerelaan dan keikhlasan menjadi kebahagiaan yang berlipat banyaknya..tak terukur
semoga bahagia itu segera tiba..
Rabu, 07 Mei 2008
frustrasi....LAGI???
agak menggelikan dan membosankan baca postingan blog akhir2 ini
maklum semuanya kok temanya mencak-mencak..silat-silat
pagi ini kembali lagi ke kampus untuk ngumpulin beraneka macam syarat ujian kompre
setelah kemaren ditolak karena salah format
yang ngatur format siapa sih? "mba coba liat di buku panduan deh..."
kembali ke rumah, liat buku panduan
itu kan panduan bikin tesis, bukan proposal..pfffuiiih..nurut aja, masih mahasiswa!!
pagi ini, syarat lolos semua...
"mba, belum bisa diproses, soalnya laporan PKP belom masuk.."
SUTRISNO deh jadinya
lha laporan PKP saya itu sudah selesai dari 1,5 bulan lalu, saya titipkan untuk di ttd in dosen saya, lha ndak disampaikan amanahnya, lha dosennya juga lupa
duuuuuh...paringono sabar GUSTI ALLAH
telpon lah saya pada yang berkepentingan
alhamdulillah yang satu bisa ketemu siang ini
tapi...yang satu lagi ke luar kota
ASTAGHFIRULLOH...mudah2an Allah mengampuni dosa kita semua..
maklum semuanya kok temanya mencak-mencak..silat-silat
pagi ini kembali lagi ke kampus untuk ngumpulin beraneka macam syarat ujian kompre
setelah kemaren ditolak karena salah format
yang ngatur format siapa sih? "mba coba liat di buku panduan deh..."
kembali ke rumah, liat buku panduan
itu kan panduan bikin tesis, bukan proposal..pfffuiiih..nurut aja, masih mahasiswa!!
pagi ini, syarat lolos semua...
"mba, belum bisa diproses, soalnya laporan PKP belom masuk.."
SUTRISNO deh jadinya
lha laporan PKP saya itu sudah selesai dari 1,5 bulan lalu, saya titipkan untuk di ttd in dosen saya, lha ndak disampaikan amanahnya, lha dosennya juga lupa
duuuuuh...paringono sabar GUSTI ALLAH
telpon lah saya pada yang berkepentingan
alhamdulillah yang satu bisa ketemu siang ini
tapi...yang satu lagi ke luar kota
ASTAGHFIRULLOH...mudah2an Allah mengampuni dosa kita semua..
Senin, 05 Mei 2008
saya dan ujian komprehensif
ujian komprehensif sudah seperti menjadi mimpi, sebenernya ditunggu-tunggu, namun di suatu titik jadi mirip mimpi buruk...mudah2an ujian yang saya jalani tidak dalam kategori itu
membuka kembali berbagai literatur, mengecek ulang kebenaran proposal, konsul lagi dengan berbagai pihak..pfffuih...sampai di titik nikmat sih menemukan banyak kebenaran, hingga sampai di titik jenuh dan sutris
perjalanan ini terasa begitu cepat. baru aja kemaren masuk kuliah awal, sekarang udah kejar2an deadline lulus..kalo mau ayah hadir pas wisuda, hik2
tentang ayah dan kehadirannya saat wisuda : saya gak bisa ngebayangin kalo pas wisuda blio udah menuntut ilmu kembali ke negeri sebrang (InsyaAllah), huik..kelengkapan itu sedikit hilang. blio yang memperjuangkan saya untuk tetap berjalan setegak ini, tanpa jeda--kamsudnya cuti, jatuh bangun menemukan cara membayar SPP, hehe
dan yang paling up to date, ngajakin ibu dinner be2 di nasduk setelah pulang konsul dari rumah dosen...
dan blio yang paling getol menyemangati saya ujian kompre, ben cepet lulus katanya..
doanya ya...
membuka kembali berbagai literatur, mengecek ulang kebenaran proposal, konsul lagi dengan berbagai pihak..pfffuih...sampai di titik nikmat sih menemukan banyak kebenaran, hingga sampai di titik jenuh dan sutris
perjalanan ini terasa begitu cepat. baru aja kemaren masuk kuliah awal, sekarang udah kejar2an deadline lulus..kalo mau ayah hadir pas wisuda, hik2
tentang ayah dan kehadirannya saat wisuda : saya gak bisa ngebayangin kalo pas wisuda blio udah menuntut ilmu kembali ke negeri sebrang (InsyaAllah), huik..kelengkapan itu sedikit hilang. blio yang memperjuangkan saya untuk tetap berjalan setegak ini, tanpa jeda--kamsudnya cuti, jatuh bangun menemukan cara membayar SPP, hehe
dan yang paling up to date, ngajakin ibu dinner be2 di nasduk setelah pulang konsul dari rumah dosen...
dan blio yang paling getol menyemangati saya ujian kompre, ben cepet lulus katanya..
doanya ya...
Langganan:
Postingan (Atom)