Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2009

maka, pakailah lipstik itu!!!



Karena urusan tips mengenai lipstik dan pensil alis itu belum dilaksanakan dengan baik, maka banyak insiden lain yang terkait dengan urusan status saya selain yang ini
Maka, baca beberapa saran aneh berikut ini
Pertama,
Kalo ke apotek, pastikan bahwa anda telah bersikap sebagai pasien cerdas dan perhatian terhadap obat anak anda, jangan sok tahu dan malas tanya
Yang terjadi adalah : “obat untuk adiknya ya mbak?”
Dan setelah dijawab “bukan, untuk anak saya..” maka si apoteker menutup mulut dengan tangan serupa orang kaget dan meminta maaf
Maka, sikap apapun yang ditunjukan oleh ibu atau serupa ibu di apotek akan menentukan bagaimana orang memandang status anda. Lebih fatal kalo sikap anda yang salah akan membuat orang lain malu

Kedua,
Kalo di bandara, bersikaplah selayaknya ibu yang cerewet menjaga anaknya yang gak mau diem, bukan malah ikut gak mau diem dan ngajak anaknya main. Akibatnya, mungkin akan ada seorang ibu tua yang bertanya pada anda
“berdua aja ya dik, sama adeknya?”
Jangan malah kesenengan, cepatlah diralat “berdua sama anak saya”
Ibu itu memandang serupa aneh, sambil ngeloyor pergi
Sikap salah di bandara mungkin akan membuat status anda malah lebih buruk, karena masih bagus kalo dikirain kakaknya, kalo dikira penculik…hiyyya

Jadi, begini kesimpulan saya mengenai hubungan saya, ayah dan kak saffa
Ayah adalah kakak pertama
Saya adalah kakak kedua
Kak saffa adalah adik bungsu kami

Anggaplah ini posting narsis mengenai saya yang merasa sok muda
Tapi sesungguhnya, di balik itu, kekhawatiran besar bahwa saya sulit bertumbuh dewasa
Lebih dari itu, saya kok jadi ngebayangin ada di posisi orang salah persepsi itu
Pasti selain mikirin rasa malu karena salah nebak, dia pasti ngerasa kesian sama saya karena saya korban nikah dini
Padahal…
Haqul yakin, umur saya pas nikah dulu cukup secukup-cukupnya

Jadi…
Apa perlu ya tips lipstik itu dijalanin??
Hemmmm…..



pic from : www.getentrepreneurial.com/.../red-lipstick.jpg

Selasa, 31 Maret 2009

kenapa saya harus menikah?


dunia ini kadangkala aneh
sungguh aneh
emm..mungkin tidak terlalu aneh
dan mungkin itu tidak pantas disebut keanehan
bila disaat sama seorang perempuan gundah merindukan untuk dilamar
dan pada saat yang sama seorang pria telah mencoba berkali-untuk mendapatkan istri

saat yang sama perempuan minta dicarikan suami
saat yang sama para lelaki pun meminta dicarikan istri
trus, kenapa dong gak nyomblangin?
ya gak sesederhana itu dong

wahai para lelaki katakan pada kami, apa yang membuatmu enggan menikahi perempuan?
karena belum merasa mapan?
ya wajar sih ya, diantara perempuan ada yang berharap kemapanan, namun tak sedikit pula yang mampu untuk berjuang bersama dari awal bersamamu

wahai para perempuan, katakan pada para lelaki itu bahwa kau memiliki kegundahan pada konsekuensi pilihan karir dan keluarga
ya wajar sih ya, karena diantara lelaki itu ada yang keberatan istrinya bekerja, namun masih banyak pula yang tak keberatan engkau berkarir, melebihi dirinya, bahkan punya kesanggupan untuk mendorong karir mu lebih dari yang kau harapkan

wahai para lelaki, katakan pada para perempuan itu, bahwa keluargamu mungkin belum setuju dengan rencana pernikahan kalian
karena tidak sedikit yang dengan senang hati membantumu berjuang untuk mempersatukan hati-hati yang terserak, meskipun mungkin kau pun akan menemukan perempuan yang acuh dan egois karena merasa pernikahan milik berdua saja

wahai para perempuan, katakan pada lelaki pilihanmu, bahwa mungkin kalian perlu berusaha lebih keras untuk menentukan tanggal pernikahan
karena mungkin ada yang berniat sungguh-sungguh untuk mendampingimu, meskipun kau harus cermat karena ada pula lelaki dengan hati lemah

see
kita semua mempunyai pilihan
dimana posisi anda sekarang
mau pilih jenis perempuan yang mana
mau pilih jenis lelaki yang mana
semua punya pilihan
mau ambil yang di jalanan
atau ambil di butik mahal

tidak mudah menemukan titik dimana..
kita sadar betul dengan apa yang kita harapkan
kita sadar betul dengan kenyataan yang ada
dan kita sadar betul bahwa hidup dengan kenyataan bukan dengan harapan
mengharap suami sholeh dengan hidung mancung oke aja
tapi kalau kenyataannya di depan mata lelaki sholeh hidung pesek gimana bu?
ditolak gitu aja?
pfffuhh..
kalo saya mungkin akan menolak, karena hidung saya juga pesek, bisa2 gak ada kemajuan, hehehe, ndak ding
tapi apakah kita bisa menerima dan menoleransi itu
ada yang bisa menoleransi kesholehan, tapi ada yang bisa menoleransi kemancungan, beda-beda kan?
susahan mana sih cari lelaki sholeh dengan cari lelaki mancung?
*sama susahnya bu*
tapi hidup kan memang tidak selalu sesuai harapan kan?
ideal..aduh siapa yang gak pingin
tapi, kalo gak ketemu?
apa boleh buat..mungkin menyusun prioritas?
nah begitu ketemu yang idaman, dia gak mau, nah lho
di saat begitu, berharap tangan Allah menari indah untuk hidup kita

dan lihat
bahwa tiap pilihan punya konsekuensi
konsekuensi senang, konsekuensi sedih
duh bu, siapa sih yang gak suka konsekuensi horray
tapi lihat, apa yang kita buat dengan konsekuensi negatip
komitmen..kedewasaan...beberapa dari kunci, mungkin ada lagi??


poto : http://www.flickr.com/photos/tinting78/958924846/

Jumat, 17 Oktober 2008

saya sungguh2 sudah beranak pinak....

saya ini sudah beranak pinak, sungguh
posting saya yang salah alamat pada blog gadis kecil rupanya bukan lagi perenungan saya yang terakhir mengenai bagaimana sesungguhnya untuk mencitrakan diri saya seperti seorang ibu

dan kemarin adalah puncak jawaban saya yang saya pikir paling cerdas, ups, sama sekali tidak cerdas, saat dintanya mengenai anak pinak ini
saya menghadiri pertemuan halal bi halal di sekolah kak saffa
duduklah saya dengan seorang ibu yang cantik
"bu, anaknya sekolah di sini, di PG atau di TK?"
"di PG, bu"
"oh ya, anaknya umur berapa?"
"22 bulan.."
"oh ya, kok kelihatannya masih muda banget"
GLEKK...coba dengar jawaban tidak cerdas berikut ini
"saya 26 tahun kok bu..."
dan dengar apa kata hati saya
"sungguh, itu anak kandung saya, itu beneran anak saya, saya sudah beranak pinak, beneran lho. ini akta lahirnya kak saffa, bener kan ada nama saya jadi ibunya"
"ooh, jangan bilang masih gak percaya, ini akta nikah saya sama ayahnya saffa, jadi kami memang punya anak"

saya punya ide, yang menurut saya masih agak terlalu buruk untuk dicoba:
pake lipstik!!! bedak ditebelin, hak sepatu ditinggiin, pake baju tile2...pake tas yang agk cantikan dikit
atau
pake pensil alis !!!

Selasa, 22 Juli 2008

cerita tentang perempuan-perempuan

3 hari ini saya disuguhi cerita tentang dua perempuan

Perempuan pertama punya suami yang depresi berat
suami nya itu mantan tentara, diabetes, jarinya sudah hilang beberapa bagian karena harus amputasi
trus sampai disini, apa yang seringkali akan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? “sabar ya bu..sabar..”
ternyata cerita ini tidak sampai disitu
si suami bahkan sejak belum pensiun jarang sekali memberikan uang makan dari gajinya
alih-alih ikut prihatin atas gajinya yang tidak/kurang mencukupi, si suami lebih suka makan sendiri di warung padang
si suami suka sekali dipijit sepanjang malam. jika sedetik saja si istri berhenti memijit, maka dia akan terbangun dan marah-marah
si suami seringkali mengeluarkan kata kasar dan menghina si istri
sekarang
si suami seringkali keluar masuk RS karena diabetesnya itu
apa yang didapat si istri? kata kasar, dan dipermalukan
apa sebab? si suami minta pulang dari RS dan bentuk ngambeknya dengan telanjang keluar kamar RS
trus sampai disini, apa kan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? *isilah titik-titik di bawah ini*
.....................................................................
kalau saya sederhana :
apa yang dicari si istri dari pernikahan itu?
apakah kebahagiaan lahir? dia dapat?
apakah kebahagiaan batin? dia dapat?
apakah pahala dari uji kesabaran? dia dapat?

pernikahan seperti timbangan, tidak bisa berat sebelah. kadangkala kita begitu egois untuk meminta pemahaman, pengertian, atau apalah bahasa semacam itu. atau kadangkala kita pada posisi diminta pemahaman, pengertian, dan seterusnya. jika tidak seimbang terus, lama-lama timbangan yang satu akan jatuh, mungkin pecah, mungkin patah. seperti pundak kita yang terus dibebani sebelah saja, bisa-bisa nyeri otot.
saya baru saja membaca buku paulo coelho. disindirnya bahwa manusia hidup seringkali hanya mempertimbangkan harapan masyarakat kepadanya, bahkan dia tidak tahu apa yang diinginkan. saya khawatir perempuan yang ini begitu. saya sungguh khawatir dia adalah timbangan yang rentan pecah dan patah itu, dan dia adalah bagian bahu yang harus menanggung nyeri otot selamanya.
memang begitu siklus KDRT, korban terus ditekan sehingga mempersepsi dirinya bahwa dia tidak mampu hidup sendiri, bahwa masih ada harapan di depan. padahal dia telah menunggu harapan itu selama lebih dari 20 tahun. ah..bagaimana dia menyimpan harapan itu lama sekali tanpa ada expired date nya?
kalau masalah mampu berdiri sendiri itu masalah materi, saya yakin betul perempuan ini mampu, karena seumur-umur dia berdagang untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. beda lagi kalau pertimbangan figur suami atau figur ayah yang mungkin akan hilang. tapi kembali lagi, figur suami dan ayah seperti apa? apakah kelengkapan itu akan menjamin kesehatan mental bagi keluarga? kalau urusannya hanya kelengkapan dan bukan kualitas figur, rasanya oke sajalah pilihan bersama itu. tapi kan tidak sesederhana itu. apakah anak akan diminta terus mendengar kata-kata kasar dari figur ayah? aahhh...silahkan dipikirkan bersama

perempuan kedua datang dari keluarga tidak mampu
usianya 24 tahun an. lulusan SMU dan belum bekerja
ibu nya harus membiayai kehidupan mereka dari berjualan genjer (=sayuran apa ya?hihi) yang hasilnya tidak seberapa
sampai disini apa yang akan kita katakan? “kasihan...”
si anak perempuan itu tidak suka berkotor-kotor membantu ibunya
sampai disini apa yang akan kita katakan? “dasar anak yang gak punya belas kasihan sama ortu..”
si anak perempuan itu punya pacar, lelaki setengah baya, sipir penjara. lelaki itu sudah menikah dan punya 3 orang anak.
suka sekali perempuan itu padanya
menyerahkan kehormatannya pada laki-laki itu, berulang kali
mempertontonkan “kemesraan” di tempat umum
berharap dinikahi meskipun dia tahu si lelaki sudah berkeluarga
senang sekali diberi materi
cinta sekali si perempuan ini pada si lelaki, catat :CINTA!!
dan dengan gampang menilai si lelaki adalah lelaki baik
baik? baik seperti apa?
baik karena si lelaki memberinya uang 50 ribu sebulan? lumayanlah karena si perempuan belum kerja?
baik karena si lelaki berjanji menikahinya?
baik karena mengira si lelaki hanya “setia” padanya?
hahaha...sini saya kasih tahu bahwa si lelaki pernah merayu sahabatnya sendiri!!
biar sampai sini, saya saja yang bilang “PEREMPUAN BODOH!!!”
mungkin persepsi itu akan tetap seperti itu, sampai si lelaki menjadi suaminya...setelah itu, saya tidak yakin persepsi itu akan bertahan
tidak seperti barang elektronik yang memberi jaminan 1 tahun, pada kasus ini tidak ada jaminan bahwa lelaki itu tidak akan memperlakukannya seperti dia memperlakukan istrinya

ah, perempuan seperti ini, harus disalahkan?
saya tidak berpikir juga begitu. anda tidak dapat bertepuk tangan kan, kalo tangan anda hanya satu? maka hubungan ini tidak akan terjadi hanya karena si perempuan yang bodoh, tapi juga karena si lelaki yang tidak bertanggungjawab
seperti saya selalu bilang “jangan cuma salahin dan benci sama mayang...itu si bambang juga salah, dan mestinya dia memang gak pantes untuk halimah, jadi yo wis, ikhlasin aja cerai. toh kalau teteup aja dipaksain nyambung, si bambang gak ikhlas juga, halimah gak nyaman secara batin” *hush...nggosip kan???? STOP!!*

Allah telah memberi kita kelengkapan yang tiada tara : RASIO dan HATI
cinta tidak berhenti pada hati. hati punya nurani, silahkan tanyakan padanya. cinta juga butuh pertimbangan rasio, silahkan tanya padanya
kalau kebutuhan materi berhenti pada rasio. rasio juga bagian kecerdasan, yang memberikan kita berbagai alternatif dari pilihan yang bisa dibuat. masak iya cari materi cuma dengan cara macarin suami orang? materi juga butuh hati dan nurani, silahkan tanyakan padanya, materi seperti apa yang halal?

kita kan suka sok tahu gitu....

omong-omong tentang sok tahu

semalam baru saja saya ngobrol ringan
ahhh...urusan gosip lagi...!!
saya mah milih senyum-senyum aja
kalo bisa lari tapi gak nyakitin itu orang yang lagi ngomongin orang, gimana caranya?
ah, susah betul, serba salah

“kadang perempuan itu toleransinya memang harus lebih gede ya”
“emangnya kenapa?” saya mulai nimbrung karena ini jurusan netral dikit lah
“lha itu, istrinya galak (catat:itu kata suaminya, atau ini mah kira-kira si pembicara itu saja), makanya suaminya gak mau pulang. apalagi istrinya lagi hamil 8 bulan”
hahhhh? masih si istri aja yang disalahin???lha saya tanya
“kata siapa istrinya galak?”
“ya ini mah kira-kira aja...makanya suaminya yang pengangguran itu gak mau pulang ke rumah, malah tidur di tempat kakak sepupunya”
“hehe...ya ndak bisa kira-kira dong. gak adil kan mempersepsi dan menilai orang dari perkiraan. jangankan dari perkiraan, dari satu pihak aja juga gak adil rasanya. lha suaminya bilang istrinya galak..itu kan dia aja yang ngomong, kata istrinya jangan-jangan lain lagi. rasanya gak bisa dibahas kalo gak netral gitu”
“lha kata tetangga yang lain itu juga, susah sih kalo sama-sama sumatra, keras” eiiiittttts yang orang sumatera jangan marah dulu...baca pembelaan saya ini
“ya kalo urusannya stereotip ya gak akan positif jadinya. lha kita yang orang sunda di cap matre sama orang jawa sana, apa mau? lha dulu mertua saya khawatir berat karena stereotip itu. lha yang rugi kan siapa? nah sekarang kita juga ngecap orang-orang dari suku lain dengan stereotip tertentu, ya gak bisa. misalnya nih, saya pake contoh saya aja deh. stereotip matre itu nempel erat di benak orang-orang sekitar saya yang notabene jawa. trus begitu rumah saya yang sekarang kosong blong, gak ada perabotan, mereka seenaknya bilang bahwa saya sih boros, beli kebutuhan sendiri aja, soalnya tahu dong, orang sunda kan gitu. halah...halah...ya saya pasti bete banget kan, sok tahu!! lha saya juga yakin si istri hamil 8 bulan itu juga gak suka dihakimi tanpa dia bersuara. meskipun dihakimi gak kedengeran ma dia, tapi Allah jelas gak suka”
akhirnya, saya mulai menghakimi si suami itu malah...(hihi..tersulut)
“nih yah..yang saya tahu itu cuma reputasi si suami itu. sejak belom nikah aja hobinya ngelaba, maenin perempuan, morotin perempuan punya duit, gak sopan, kasar...lha rasanya lebih pantas kan si suami itu yang dihakimi sebagai figur yang tidak bertanggungjawab..ya tapi gak tahu juga kalo sekarang dia berubah. kalo pake data yang dulu, ya lebih pantas dia yang disalahin. lagian lelaki macam apaan tuh, kecewa ma istri, malah kabur nginep tempat orang lain, apalagi istrinya udah mau ngelahirin. gila kali ya dia *saya mulai panas*. saya lebih mikir dia yang malah pantes disalahin. ah..kan mulai menghakimi orang tanpa dia dikasih kesempatan untuk bicara dan membela diri”

STOP..STOP..
saya mulai sok tahu, gak netral, dan buruknya lagi, saya tidak lebih baik dari mereka..sama aja..suka nyampurin urusan orang tanpa diminta
eiittts...ampun saya belum jadi psikolog, jadi belum kena sanksi kode etik psikolog kan? 

Rabu, 02 Juli 2008

berbicara tentang pekerjaan untuk perempuan

dua hari lalu saya ditanya
"dimana kamu akan bekerja setelah lulus nanti?"
saya menjawab "ada satu perusahaan yang sudah menawari saya pekerjaan setelah saya lulus nanti, tapi sebagai perempuan dengan double role, sebagai ibu juga, saya harus rethinking lagi. yang jelas saya akan tetap ada di area publik, pada pekerjaan-pekerjaan dengan flexible work hours namun saya tetap bisa improve dan sharing pengetahuan dan skill saya"

sehari lalu
saya dan seorang sahabat perempuan kembali berbincang mengenai pekerjaan
pasal nya dia yang telah menikah, mendapat pekerjaan di sebuah BUMN
hingga di akhir, suatu saat kami memutuskan untuk berafiliasi menjadi ratu di usaha kami sendiri
namun kami kembali mempertimbangkan karakteristik personal kami yg begitu semangatnya untuk sampai di titik tertentu. namun ketika sampai, kami kembali mempertimbangkan titik lain yg lbh tinggi dan terlalu menarik untuk dilewatkan
ah, kalau begitu terus, kapan ngurusin keluarganya???
balik lagi, ternyata pertimbangan bekerja sendiri juga tidak menjadi pilihan yang baik kalau tidak dibarengi kontrol diri yang bagus
dan saya pikir Allah telah begitu adil memberikan sesuatu tepat pada waktu nya dan tempatnya
pernah saya nyeletuk ke ibu saya
"bu, kalau fie gak dikasih jodoh cpet, keburu ngerasain berkarir, fie khawatir malah lama nikahnya, keasyikan kerja, ngejar karir, ntar ibu malah bingung juga..."
gitu juga dengan teman saya itu
saya kembali berpikir kalau Allah gak kasih saffa cepet-cepet dalam kehidupan saya, mungkin hidup saya dan suami sudah terpisah jarak saat ini, lha saya pasti kekeuh cari kerjaan asik di luar kota
maka Allah begitu sangat tahunya bahwa kontrol diri saya begitu rendahnya dalam memenuhi harapan, sifat dan ambisi saya itu, maka diberikanNya ayah dan saffa dalam hidup saya sebagai penyeimbang dan pengontrol

nah, untuk perempuan-perempuan yang memutuskan memiliki peran ganda, serius ini bukanlah hal mudah
saya pribadi merasa mengorbankan masa depan anak sama sekali gak worthed dengan karir yang mungkin akan saya dapat dengan merelakan perhatian saya tersita untuk pekerjaan dan sisanya untuk anak
saya sendiri gak siap menemukan saffa sudah tidur saat pulang kantor,menemani kelelapan tidurnya dengan pekerjaan yang saya bawa ke rumah, dan meninggalkannya saat masih tidur kala saya berangkat ke kantor
maka perlu mendefinisikan kembali orientasi hidup, cara mencapainya, dan mengenal kembali diri anda
lalu memutuskan bagaimana anda mengatur semua itu dan mengontrol diri anda

langkah kedua perempuan-perempuan

dengan semena-mena, tanpa analisis mendalam, saya menyimpulkan ada beberapa langkah kritis perempuan
1.saat remaja, mencari orientasi hidup, masalah cinta cintaan itu dan sebagainya
2.begitu masuk masa dewasa, ada kekhawatiran, untuk perempuan-perempuan tertentu, dari budaya tertentu, kapan ya punya suami, ih kok gak laku ya...takut jadi perawan tua
3.saat baru menikah : bisa gak ya membahagiakan suami, jadi istri yang baik, gimana jadi menantu yang baik, bisa punya anak gak ya
4.begitu punya anak, anak ku ntar tumbuh jadi kayak apa ya..apa sambil punya anak ini bisa kerja (perempuan ini ada dalam budaya campuran...kadang lebih kasian, soalnya malah kebingunan menentukan orientasi dan prioritas hidupnya)

yang ini tentang langkah ke dua
saya baru saja ngobrol dengan sahabat saya yang luar biasa. cerdas, aktif, religius..kriteria yang diinginkan calon suami manapun
dan baru saja beliau menikah..
sampailah kami pada dialog ttg banyaknya ekspektasi pada perempuan
perempuan-perempuan seperti kami, yang dulu jijingkrakan..kesana..kemari..kesitu..kesini..
stres kalo gak ada kerjaan, dan senang kalo banyak kerjaan
stres kalo gak dikejar-kejar deadline
stres kalo potensi mulut yang sekian lama dikembangkan di psikologi ini mengangin begitu saja
mulut pegel bukan karena kebanyakan ngomong, tapi karena kebanyakan diam
ealah..

sahabat ini begitu bingung dengan ekspektasi misuanya
yang disampaikan kepadanya dengan bahasa filosofis
ah, bukankah bahasa misua dengan istri memang berbeda
sahabat saya itu sungguh bingung dengan aktifitas nya yang seabrek sekarang, misua jauh, dengan usaha yang sungguh keras untuk mengerjakan selayaknya menantu, bahkan menurut saya sudah luar biasa, maka bingunglah dia dengan ekspektasi filosofis itu

bagi saya, persoalan ini nampak sederhana, namun juga tidak mudah
bahasa istri dan misua tidak sama
dilahirkan dalam keluarga berbeda, budaya yang tak sama, bahasa yang hanya bersaudara, kebiasaan yang jelas kadangkala tak seirama
maka apa yang dinyatakan dan diperbuat dalam bahasa dan gerakan sama kadangkala mengandung interpretasi berbeda
saya lebih suka meminta suami saya berbicara dalam bahasa operasional
menjadi penghubung ekspektasi keluarganya dengan saya
apa yang saya maksudkan, apa yang keluarganya maksudkan
menjadi suami istri kan tidak sekedar ijab kabul, terus sah, hidup berdua
tapi hidup nya jadi banyakan iya kan?
tambah kaya..kaya sodara
tapi semakin kaya tidak semakin mempermudah juga bukan
semakin complicated dan butuh kompetensi memanaje yang lebih bagus
apapun di manaje
yang penting suami istri solid
maka langkah perempuan-perempuan yang baru saja menjadi istri ini begitu indahnya
dan langkah ini tidak membuat dahinya berkerut dan cepat tua karena mentranslate ekspekstasi dan mencoba menjalankan semuanya
pilih saja prioritasnya, kalau memang ekspektasi ini tidak bisa dipenuhi sekarang, jalan melingkar
hanya perlu kebijakan..kebijakan istri, juga suami

Senin, 26 Mei 2008

makna kesetaraan gender

saat S1 sulu, sebenernya interes saya lebih ke psi sosial, terutama ttg kesetaraan gender
entah kenapa sejak SMU, ato SMP, saya "terobsesi" untuk banyak mendalami hal ini
meskipun beberapa orang merasa tidak perlu untuk membahas hal ini
bagi saya hal sekecil apapun menjadi perlu untuk dibahas dan dipertanyakan, karena hal kecil itu bisa menjadi titik krusial bagi sesuatu yang besar

apa makna kesetaraan gender bagi saya?
sungguh ini makna yang berbeda dengan memberikan hak dan kewajiban yang sama antara lelaki dan perempuan
karena memang jelas perempuan dan laki-laki berbeda, dari segi fisik, dan dari historis pendidikan kultural yang dialami
mestinya saya tertawa geli karena ada seorang bapak yang bilang "lha kalo karyawan perempuan itu mau disamakan haknya, ya mau dong lembur, laki-laki juga dapat cuti, kayak cuti hamil"
tapi bagi saya itu adalah tangisan miris bahwa seorang yang berpendidikan bahkan tidak mampu memaknai ini sebagai sebuah keadilan, keadilan pada porsi, bukan sama rata
sederhana saja jawabannya "lha, kalo laki-laki hamil juga pasti dikasih cuti..."

kesetaraan gender bagi saya lebih dari arti partisipasi perempuan di area publik
kesetaraan gender bagi saya lebih berarti memberikan pilihan bagi perempuan, tidak memaksanya melakukan pekerjaan domestik semata, namun juga tidak memaksanya masuk ke area publik
bagi saya kesetaraan gender di area publik lebih ke arah membuka kesempatan yang sama untuk perempuan berkarya, masalah dipake ato gak kesempatannya itu hal lain, tapi paling gak, ya mbok dikasih, wong kemampuannya sama aja sama lelaki
makanya, sedih sekali saya kalo tiba-tiba ada lowongan pekerjaan : khusus laki-laki, atau diutamakan belum menikah..
meskipun alasan kultural tadi jelas merupakan latar belakang hal ini

saya sadar sekali bahwa perempuan secara kultural diberi peran domestik
maka pendidikan melekat ini telah menjadi darah daging, dan meresap ke aspek nurani segala, maka kalo dipaksakan malah menyiksa, dan hilanglah kesetaraan gender itu
saya ingat sekali pernah bertanya hal sama pada teteh saya
apa yang dijawabnya sederhana "bahwa mendidik anak juga merupakan pekerjaan, mulia lagi, justru dia akan menyesal melepaskan peran itu"
saya masih ingat juga di blog nya bunda inong pernah cerita ketika blio ditanya mengenai perannya, padahal udah sekolah tinggi
begini jawabnya kira2 "lha emang saya sekolah untuk mendidik anak" lha emang iya kan, mendidik anak juga perlu ilmu. cara mendidik anak lulusan SD tentu beda dengan mendidik anak lulusan sarjana, meskipun gak bisa disamaratakan juga, paling tidak beda dari aspek knowledge, dan saya tidak berani menjamin dari aspek afektif nya

maka, kalo sekarang ada orang bertanya "fie habis lulus mau kerja dimana?"
ehmmmm...rasanya saya belum bisa melepaskan peran kultural yang sudah mendarah daging itu, apalagi tahun ini diberi amanah untuk mendidik saffa sorangan dulu, sementara ditinggal suami
maka, pilihan saya jatuh pada pekerjaan sebagai sarana aktualisasi diri semata, tapi bekerja dengan komitmen dan hati

Selasa, 29 April 2008

perempuan perkasa atau perempuan manja

Naik angkutan umum--di samping cuapeknya yang luar biasa--tapi juga membawa keasyikan tersendiri bagi saya. ketemu banyak orang, interaksi, mendengar obrolan orang (lhoo??), melihat sudut jogja dari perspektif lain

Serius...2 tahun belakangan ini bagi saya merupakan perjuangan
sejak hamil, melahirkan, 2 minggu kemudian saya harus langsung masuk kuliah, dan seterusnya hingga hari ini
beberapa orang mungkin mempertanyakan "kok bisa?"
"emangnya luar biasa?" karena saya sebenarnya sungguh merasa biasa
meskipun memang capeknya pun luar biasa. kalo teman-teman punya waktu luang untuk ke perpus, waktu saya banyak kortingannya. kalau temen-temen capek di rumah, pulang bisa langsung tidur, urusan saya masih panjang sampai saffa tidur, habis itu ya bikin kerjaan kampus lagi..makanya saya suka kesel kalo ngerjain tugas secara kelompok, ada temen single yang belum ngerjain...alamaaaak..KAYAKNYA PERKASA YA??

minggu kemarin saat saya naik angkot, saya sempet ngobrol dengan ibu-ibu yang bawa anak dua di angkot. satu anaknya udah SD, satu lagi 11 bulan. dia naik angkot santai bener, gak riweuh...dan itu biasa dilakukannya..bolak-balik antara rumahnya dan mertua..waaaah...kalo saya pasti udah banyak excuse nya, lha wong dulu kondangan aja--pas ayah belum beli mobil tua ini--saya milih bayar taksi aja, gak tega sama saffa. SAYA KOK MANJA

siang ini, saya kembali naik angkot untuk pulang. turun dari angkot, amaze lah saya ada ibu-ibu mau naik angkot, bawa anak usia setaonan gitu, trus dia bawa sekitar delapan kardus mie instan+1 kantong plastik..dengan tergopoh-gopoh naik angkot
padahal kalo saya, bawa saffa aja mesti gantian ma ayahnya, berat kan? apalagi nambah kardus dan kantong, dan sumpah saya gak bisa ngegendong saffa pake gendongan
SAYA MEMANG MANJA

KESIMPULAN
saya kok jadi manja ya..
kenyamanan kadang justru membuat kita lupa, bahwa banyak hal yang perlu diperjuangkan...

Kamis, 17 April 2008

membuat keputusan..apakah sudah final??

mendekati kelulusan saya (insyaAllah..) ada beberapa orang mempertanyakan, setelah lulus, mau apa? mau kerja apa?
saya kembali bertanya pada diri sendiri, apa tujuan saya dulu melanjutkan kuliah?
kayaknya bukan cuma untuk lulus, trus kerja aja...selain untuk mengisi waktu luang (hehe..) saya berharap ilmu di tingkat lanjut ini memberikan kesempatan kepada saya untuk memiliki waktu kerja yang fleksibel

beberapa orang menyarankan saya menjadi konsultan, tapi saya pikir tidak akan semudah itu, lha wong saya ini anak bawang, belum melek banget, masih butuh dititah dan dituntun
saya pun menengok kembali kepada peran saya sebagai perempuan. peran yang diberikan oleh takdir sekaligus budaya
peran sebagai ibu, yang merupakan pilihan hidup yang menyenangkan, sebagai bagian dari memenuhi takdir saya di dunia ini
peran sebagai istri, merupakan pilihan pula, takdir
apa yang tercampur di dalamnya, juga ada bentukan kultural, bahwa ibu merupakan salah satu pihak yang paling bertanggungjawab atas pendidikan anak di rumah

menengok kesini...saya kembali menoleh ke masa-masa dimana saya sedang mengerjakan PKP, saya pergi jam 7, pulang jam 17.30, sebelumnya, ketika kuliah saya masih penuh, saat usia saffa masih 2 minggu, jadilah saya merasa durhaka terhadap anak, karena harus meninggalkan anak saya dari jam 7-17
saffa sama sekali tidak bisa protes, kalaupun protes, ada masa saya tidak memahami itu, meskipun dalam satu kesempatan, saya merasa dia kecewa pada saya karena sering ditinggal
jadi ketika saya hendak melangkahkan kaki saya ke era baru setelah kelulusan, maka saya akan kembali berpikir mengenai kondisi ini
tadinya ada sebuah ambisi yang besar, mengejar karir di perusahaan yang menawari saya kerja setelah lulus, bekerja sampai di titik manajerial, menjadi perempuan sukses..lets make definition about perempuan sukses. kembali saya berpikir, apakah perempuan sukses itu hanya dalam konteks kerja? saya pikir tidak...
saya kembali menimbang-nimbang mengenai kenelongsoan dan kebahagiaan

akhirnya, di suatu malam, di sebuah rumah di pedesaan (maklum, rumah saya dekat dengan sawah, hehe), saya membuat pertanyaan : "yah, apakah ayah akan mengharuskan bum untuk bekerja?"
"ya, gak lah bum, yang penting itu saffa..."
"yah, kalo ayah bersedia untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, dan sanggup untuk itu, rasanya bum akan bekerja hanya untuk aktualisasi diri saja, tidak mengejar materi, tidak ngoyo...biarlah separuh waktu terjaga saffa, bum menemaninya"
"beneran nih?"ayah mencoba menegaskan
.........................................diam dan sepi................................