Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Desember 2008

sebutlah kami sp2mp


tengok kepanjangan dari gabungan huruf ini : SP2MP
Sahabat Percepatan Peningkatan Mutu Pembelajaran
(saya kasih bold lhoo...) so cool kan? *baca dengan gaya abege yang kayak gitu...*
bagi saya, bagian terbaik dari menjadi bagian dari kelompok ini adalah menemukan teman-teman luar biasa, beraneka ragam asal muasal, karakter
sangat sederhana kan?
yang jadi rumit adalah kalo banyak kepala itu disatukan untuk diminta bikin sesuatu bersama
kadang ada sebel...ada marah...ada kecewa...tapi banyakan senengnya..atau ada cinta (ups...tengok2...ada yang mau angkat tangan???)
saya selalu excited kalau kami kumpul bareng...ada aja ceritanya
mulai dari cerita bikin seminar bareng...cerita training bareng (serrrru!!!), outbound...(mana ully ya...hayo dibantuin nggali memori..udah mulai tua nih memorinya)

seperti beberapa waktu lalu
pertemuan dengan teman-teman lama membawa semangat tersendiri bagi saya
mencetaki lebih tebal memori yang tersimpan
menarik...karena menapakinya seperti rekonstruksi sejarah (ingat kata bung Karno!! apa sihhh??)

semua sudah bertumbuh, berkembang
beri kami tepuk tangan (atau rasa malu ya??hehe) karena kami adalah angkatan tertua dalam sejarah sp2mp ugm (yakin deh, yang kerasa pas waktu itu malu...hehe)
beberapa teman bahkan manglingi...ah, sunarto, saya kan mesti nanya lagi namamu ya (kamu pasti sebel kan???), padahal kayaknya kita pernah se-tim bekerja ya??
senangnya menemukan teman-teman yang kini juga sudah tidak sendiri lagi seperti saya
setiadi sudah bertiga, bareng juniornya lho datengnya (setiadi yang itu...yang kembar itu lho ly, yang dulu kita pernah salah panggil kembarannya..huahuahua...)
iswari, eka..semua sudah beranak pinak (ahhh...kenapa saya masih terlongo-longo begitu banyak teman yang sudah beranak, ndak kebayang udah punya anak, padahal saya yo punya anak kan?)
iswari dan eka betah di ugm dan menjadi abdi ugm..masih mengemban misi mempercepat proses pembelajaran itu kali ya?
yang masih betah sorangan datie (duuuh makin cantik ibu ini), berbisik-bisik segera melepas masa lajangnya (hurrrrayyyy.....saya doakan sepenuh hati)
ada aal juga yang masih sorangan...(inget aal kan ly? tunjuk saya sebagai pemilik memori nama terjelek di antara kalian, karena saya mesti (lagi-lagi) tanya namanya...)

hal terbaiknya adalah kami bisa berkumpul lagi, tukar cerita, tukar gosippp (iiih kok tetep...)
dan hal terburuknya adalah diminta maju ke atas panggung yang tadi diduduki pak djarwadi dan pak sentot itu
memperkenalkan dirinya masing-masing...huaaaaaa....
tepuk tangan buat sunarto yang gagah berani menjadi pemimpin kami di atas panggung....

saya kangen kalian semua.....

hanya untuk ully : (kok ditulis disini???)
ly...ully...
lunas sudah hutang ini padamu
gak jadi nyanyi di depan deh gara-gara ully gak dateng
dapatlah sorakan "cieeeee..." dari anak-anak begitu ndenger jawaban fie pas disuruh bu zulfah nyanyi "maap bu, gak ada soulmate nya, malunya gak bisa dibagi, gak sanggup ditanggung sendiri...hehehe")
ly, pemujamu jaman baheula itu sudah tak ada kabar lagi (ully menjawab : pemuja yang mana fie?kan banyak...hehehe)
pemujaku juga ly (ully menjawab : pemuja yang mana fie, kan dulu gak ada yang memujamu..emangnya situ berhala, hehehe)

pic from here: http://www.awildride.net/blog/Fotolia_306997_S.jpg

Sabtu, 30 Agustus 2008

Kisah itu bertajuk “Cooking with love”

Saya, anda, baik istri, suami, anak, cucu, nenek, kakek dan apapun perannya, kita melakukan sesuatu dengan niat
karena niat lah konstruk terdekat dengan perilaku nyata
dan saya percaya bahwa :
“Memasak itu dengan niat bukan? niat dengan muatan tertentu”
tapi sayangnya memasak itu bukan hobi saya, bukan keahlian saya
tapi, dengan niat membahagiakan suami dan anak, supaya mereka dapat asupan bergizi, tanpa penyedap dan pengawet, mulailah niat saya untuk memasak, dan lewat tulisan bunda inong lah niat saya terealisasikan
dia tidak sekedar mengajari saya memasak, tapi juga mengajarkan muatan apa yang perlu selalu kita sertakan dalam memasak
tulus dan kasih sayang
bunda inong tidak berhenti disitu
saya belajar tentang komitmen sebagai perempuan, istri dan ibu
bunda inong yang semakin meyakinkan saya, perempuan cerdas tidak harus selalu menghabiskan waktunya di kantor
dan saya sungguh terkagum2 melihat banyaknya sahabat bunda yang begitu menyayang dan mengenang beliau
saya yakin, semua itu hanyalah sebuah akibat dari niat
niat yang bermuatan, tidak sulit, tidak berat, muatan itu bernama : CINTA
maka, jika saya katakan bunda inong mengajarkan banyak hal, itu adalah amal jariyahnya, karena beliau mengajarkan saya melalui tulisan-tulisannya, dan saya baru membacanya setelah beliau tiada
sekarang saya juga paham, bahwa cara untuk beramal jariyah, bukan hanya lewat sumbangan ke mesjid, tapi ada berbagai cara sederhana, cukup dibumbui dengan muatan CINTA
maka, jika kisah kehidupan bunda inong dianalogikan sebagai proses memasak, dan masakan yang enak dianalogikan sebagai kenangan indah yang ditinggalkan tentang kehidupan seorang manusia. sungguh bunda inong telah berhasil
cantiklah kiranya persembahan ini bertajuk “COOKING WITH LOVE”

Minggu, 01 Juni 2008

surat untuk sahabat

Sahabat, teman, pren, bahkan mungkin geng
...apapun nama yang kita tempelkan dulu pada diri sebagai kita
sahabat, teman, pren, bahkan mungkin geng
...apapun nama yang dulu ditempelkan pada orang pada diri sebagai kita

tapi diri memang diri...diri bukan kita....
diri terkadang tidak bisa selamanya menjadi kita...
tapi kita tetap tersimpan rapi dalam tempat tersendiri dalam diri

ketika segalanya bermula...kadangkala kita tidak pernah sadar
mulai kapan, karena apa, mengapa...
sampai prosesnya berjalan...entah lambat atau cepat...

ketika segalanya berjalan...kadangkala kita tidak pernah sadar
seberapa indah, seberapa lama...
semuanya berjalan begitu saja...
kalian yang membuat fie bangga...

ketika segalanya seakan berakhir sebelum akhir...
baru kita sadar, kenapa...mengapa....
meskipun tetap ada ketidakmengertian dan ketidakmenerimaan
bukan karena ego, bukan karena kecewa, bukan karena marah
tapi hingga akhir menjelang akhir, atau saatnya berakhir...
diri telah menemukan diri pada diri...
dan memang sudah saatnya diri menemukan diri...