Selasa, 22 Juli 2008

cerita tentang perempuan-perempuan

3 hari ini saya disuguhi cerita tentang dua perempuan

Perempuan pertama punya suami yang depresi berat
suami nya itu mantan tentara, diabetes, jarinya sudah hilang beberapa bagian karena harus amputasi
trus sampai disini, apa yang seringkali akan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? “sabar ya bu..sabar..”
ternyata cerita ini tidak sampai disitu
si suami bahkan sejak belum pensiun jarang sekali memberikan uang makan dari gajinya
alih-alih ikut prihatin atas gajinya yang tidak/kurang mencukupi, si suami lebih suka makan sendiri di warung padang
si suami suka sekali dipijit sepanjang malam. jika sedetik saja si istri berhenti memijit, maka dia akan terbangun dan marah-marah
si suami seringkali mengeluarkan kata kasar dan menghina si istri
sekarang
si suami seringkali keluar masuk RS karena diabetesnya itu
apa yang didapat si istri? kata kasar, dan dipermalukan
apa sebab? si suami minta pulang dari RS dan bentuk ngambeknya dengan telanjang keluar kamar RS
trus sampai disini, apa kan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? *isilah titik-titik di bawah ini*
.....................................................................
kalau saya sederhana :
apa yang dicari si istri dari pernikahan itu?
apakah kebahagiaan lahir? dia dapat?
apakah kebahagiaan batin? dia dapat?
apakah pahala dari uji kesabaran? dia dapat?

pernikahan seperti timbangan, tidak bisa berat sebelah. kadangkala kita begitu egois untuk meminta pemahaman, pengertian, atau apalah bahasa semacam itu. atau kadangkala kita pada posisi diminta pemahaman, pengertian, dan seterusnya. jika tidak seimbang terus, lama-lama timbangan yang satu akan jatuh, mungkin pecah, mungkin patah. seperti pundak kita yang terus dibebani sebelah saja, bisa-bisa nyeri otot.
saya baru saja membaca buku paulo coelho. disindirnya bahwa manusia hidup seringkali hanya mempertimbangkan harapan masyarakat kepadanya, bahkan dia tidak tahu apa yang diinginkan. saya khawatir perempuan yang ini begitu. saya sungguh khawatir dia adalah timbangan yang rentan pecah dan patah itu, dan dia adalah bagian bahu yang harus menanggung nyeri otot selamanya.
memang begitu siklus KDRT, korban terus ditekan sehingga mempersepsi dirinya bahwa dia tidak mampu hidup sendiri, bahwa masih ada harapan di depan. padahal dia telah menunggu harapan itu selama lebih dari 20 tahun. ah..bagaimana dia menyimpan harapan itu lama sekali tanpa ada expired date nya?
kalau masalah mampu berdiri sendiri itu masalah materi, saya yakin betul perempuan ini mampu, karena seumur-umur dia berdagang untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. beda lagi kalau pertimbangan figur suami atau figur ayah yang mungkin akan hilang. tapi kembali lagi, figur suami dan ayah seperti apa? apakah kelengkapan itu akan menjamin kesehatan mental bagi keluarga? kalau urusannya hanya kelengkapan dan bukan kualitas figur, rasanya oke sajalah pilihan bersama itu. tapi kan tidak sesederhana itu. apakah anak akan diminta terus mendengar kata-kata kasar dari figur ayah? aahhh...silahkan dipikirkan bersama

perempuan kedua datang dari keluarga tidak mampu
usianya 24 tahun an. lulusan SMU dan belum bekerja
ibu nya harus membiayai kehidupan mereka dari berjualan genjer (=sayuran apa ya?hihi) yang hasilnya tidak seberapa
sampai disini apa yang akan kita katakan? “kasihan...”
si anak perempuan itu tidak suka berkotor-kotor membantu ibunya
sampai disini apa yang akan kita katakan? “dasar anak yang gak punya belas kasihan sama ortu..”
si anak perempuan itu punya pacar, lelaki setengah baya, sipir penjara. lelaki itu sudah menikah dan punya 3 orang anak.
suka sekali perempuan itu padanya
menyerahkan kehormatannya pada laki-laki itu, berulang kali
mempertontonkan “kemesraan” di tempat umum
berharap dinikahi meskipun dia tahu si lelaki sudah berkeluarga
senang sekali diberi materi
cinta sekali si perempuan ini pada si lelaki, catat :CINTA!!
dan dengan gampang menilai si lelaki adalah lelaki baik
baik? baik seperti apa?
baik karena si lelaki memberinya uang 50 ribu sebulan? lumayanlah karena si perempuan belum kerja?
baik karena si lelaki berjanji menikahinya?
baik karena mengira si lelaki hanya “setia” padanya?
hahaha...sini saya kasih tahu bahwa si lelaki pernah merayu sahabatnya sendiri!!
biar sampai sini, saya saja yang bilang “PEREMPUAN BODOH!!!”
mungkin persepsi itu akan tetap seperti itu, sampai si lelaki menjadi suaminya...setelah itu, saya tidak yakin persepsi itu akan bertahan
tidak seperti barang elektronik yang memberi jaminan 1 tahun, pada kasus ini tidak ada jaminan bahwa lelaki itu tidak akan memperlakukannya seperti dia memperlakukan istrinya

ah, perempuan seperti ini, harus disalahkan?
saya tidak berpikir juga begitu. anda tidak dapat bertepuk tangan kan, kalo tangan anda hanya satu? maka hubungan ini tidak akan terjadi hanya karena si perempuan yang bodoh, tapi juga karena si lelaki yang tidak bertanggungjawab
seperti saya selalu bilang “jangan cuma salahin dan benci sama mayang...itu si bambang juga salah, dan mestinya dia memang gak pantes untuk halimah, jadi yo wis, ikhlasin aja cerai. toh kalau teteup aja dipaksain nyambung, si bambang gak ikhlas juga, halimah gak nyaman secara batin” *hush...nggosip kan???? STOP!!*

Allah telah memberi kita kelengkapan yang tiada tara : RASIO dan HATI
cinta tidak berhenti pada hati. hati punya nurani, silahkan tanyakan padanya. cinta juga butuh pertimbangan rasio, silahkan tanya padanya
kalau kebutuhan materi berhenti pada rasio. rasio juga bagian kecerdasan, yang memberikan kita berbagai alternatif dari pilihan yang bisa dibuat. masak iya cari materi cuma dengan cara macarin suami orang? materi juga butuh hati dan nurani, silahkan tanyakan padanya, materi seperti apa yang halal?

kita kan suka sok tahu gitu....

omong-omong tentang sok tahu

semalam baru saja saya ngobrol ringan
ahhh...urusan gosip lagi...!!
saya mah milih senyum-senyum aja
kalo bisa lari tapi gak nyakitin itu orang yang lagi ngomongin orang, gimana caranya?
ah, susah betul, serba salah

“kadang perempuan itu toleransinya memang harus lebih gede ya”
“emangnya kenapa?” saya mulai nimbrung karena ini jurusan netral dikit lah
“lha itu, istrinya galak (catat:itu kata suaminya, atau ini mah kira-kira si pembicara itu saja), makanya suaminya gak mau pulang. apalagi istrinya lagi hamil 8 bulan”
hahhhh? masih si istri aja yang disalahin???lha saya tanya
“kata siapa istrinya galak?”
“ya ini mah kira-kira aja...makanya suaminya yang pengangguran itu gak mau pulang ke rumah, malah tidur di tempat kakak sepupunya”
“hehe...ya ndak bisa kira-kira dong. gak adil kan mempersepsi dan menilai orang dari perkiraan. jangankan dari perkiraan, dari satu pihak aja juga gak adil rasanya. lha suaminya bilang istrinya galak..itu kan dia aja yang ngomong, kata istrinya jangan-jangan lain lagi. rasanya gak bisa dibahas kalo gak netral gitu”
“lha kata tetangga yang lain itu juga, susah sih kalo sama-sama sumatra, keras” eiiiittttts yang orang sumatera jangan marah dulu...baca pembelaan saya ini
“ya kalo urusannya stereotip ya gak akan positif jadinya. lha kita yang orang sunda di cap matre sama orang jawa sana, apa mau? lha dulu mertua saya khawatir berat karena stereotip itu. lha yang rugi kan siapa? nah sekarang kita juga ngecap orang-orang dari suku lain dengan stereotip tertentu, ya gak bisa. misalnya nih, saya pake contoh saya aja deh. stereotip matre itu nempel erat di benak orang-orang sekitar saya yang notabene jawa. trus begitu rumah saya yang sekarang kosong blong, gak ada perabotan, mereka seenaknya bilang bahwa saya sih boros, beli kebutuhan sendiri aja, soalnya tahu dong, orang sunda kan gitu. halah...halah...ya saya pasti bete banget kan, sok tahu!! lha saya juga yakin si istri hamil 8 bulan itu juga gak suka dihakimi tanpa dia bersuara. meskipun dihakimi gak kedengeran ma dia, tapi Allah jelas gak suka”
akhirnya, saya mulai menghakimi si suami itu malah...(hihi..tersulut)
“nih yah..yang saya tahu itu cuma reputasi si suami itu. sejak belom nikah aja hobinya ngelaba, maenin perempuan, morotin perempuan punya duit, gak sopan, kasar...lha rasanya lebih pantas kan si suami itu yang dihakimi sebagai figur yang tidak bertanggungjawab..ya tapi gak tahu juga kalo sekarang dia berubah. kalo pake data yang dulu, ya lebih pantas dia yang disalahin. lagian lelaki macam apaan tuh, kecewa ma istri, malah kabur nginep tempat orang lain, apalagi istrinya udah mau ngelahirin. gila kali ya dia *saya mulai panas*. saya lebih mikir dia yang malah pantes disalahin. ah..kan mulai menghakimi orang tanpa dia dikasih kesempatan untuk bicara dan membela diri”

STOP..STOP..
saya mulai sok tahu, gak netral, dan buruknya lagi, saya tidak lebih baik dari mereka..sama aja..suka nyampurin urusan orang tanpa diminta
eiittts...ampun saya belum jadi psikolog, jadi belum kena sanksi kode etik psikolog kan? 

Minggu, 20 Juli 2008

cerita dari bis

tuh kan, rusak deh kalo saya udah mulai nulis satu, urusan analisis ini jadi pengangguran dan jadi urusan dan tanggung jawab negara, kayak pasal 34 (bener ndak ya?)

ini cuma cerita saya dari bis, pas jadi ibu semi durhaka beberapa hari lalu karena ninggal anaknya sendiri di Serang, sementara saya mengejar sesuatu di jogja

liburan ini membuat panen uang buat bis antar kota
bis nya penuh..nuh..sampe kursi istirahat supir yang paling belakang itu aja dijual, yang gila lagi kursi kernet yang di sebelah supir juga dijual
nasib..nasib...
alhamdulillah bukan nasib saya
karena saya masih kebagian tempat duduk penumpang meskipun di aku nomor-nomor bukan pilihan

maka dimulailah perjalanan saya pulang pergi dalam waktu tiga hari dua malam itu
sungguh saya merindukan malam di jogja
gimana gak, lha saya nyampe jogja jam 6 pagi, siang jam 3 dah pulang lagi..
tapi jelas-jelas saya lebih merindukan saffa dong

saat pergi saya sekursi dengan seorang ayah muda yang baru punya bayi usia 6 bulan
seru juga ngobrolin anak, melihat dari versi bapak
bapak-bapak juga ternyata bisa kangen lho sama anaknya..hihihi
ah..jadi inget ayah yang udah setengah bulan ini gak ketemu saffa

lebih seru lagi saat balik dari yk
pertama, saya sekursi dengan perempuan luar biasa, seorang guru TK. suaminya wafat saat anak-anaknya masih kecil-kecil karena kecelakaan. membesarkan tiga anak sendirian, dan tetap setia menjaga mereka sendirian, tak tergoyahkan untuk menikah lagi. sekarang anaknya udah SMU semua, minta sekolah di yk. jadilah si ibu sendirian di rumah.

kedua, posisi kursi saya yang begitu nyamannya, dekat dengan speaker bis membuat saya mendengar blending musik yang asik sama sekali tidak enak saat malam hari. si supir memilihkan lagu broeri dan dewi yull dengan lagunya yang mendayu2...disaat mereka mendayu, sayup namun jelas, seseorang yang rupanya tak nyaman sama sekali dengan musik itu memilih menyalakan musiknya sendiri..buruknya lagi dia duduk di kursi depan saya. kalau masalah musik, mungkin saya memilih musik yang diputarnya : GIGI-11 Januari. tapi kalau dicampur apa jadi enak ya?
jadilah saya memilih lagu accapella yang dinyanyikan ibu-ibu yang duduk di belakang saya. lagunya dMassive versi baru gini : “kau membuat ku bahagia...dst..” karena ini versi baru dan tidak beredar di pasaran, saya sungguh tidak ingat lengkap. kalau saya disuruh jadi komentator kenapa saya milih lagu ini *dengan bergaya sok jadi titi DJ di Indonesian Idol* saya akan bilang “ibu sungguh menjiwai lagu ini”
lha gimana ndak, lha wong dia nyanyiin buat anaknya yang lagi didekapnya dengan penuh sayang *kira-kira begitu*
blending terakhir yang saya dengar : suaminya si ibu yang nyanyi itu muntah-muntah (kenapa???apa gara-gara si ibu nyanyi??))
jangan suudzon atuh..kita kan lewat nagrek, jadinya jalannya mulak-malik..

ketiga, bis saya macet pas mau masuk cikampek selama hampir 2 jam
sayup-sayup “selangnya putus” gitu kata pak supir
dan suami saya berpesan “jangan tidur, takut kebakar...”

jadilah sampai di serang, saya terkena demam, disertai mual-mual
penyebabnya..silahkan dianalisa dianalisis sendiri

urusan kamu ya punya kamu...

Lama betul saya tidak menulis
kepala saya sebetulnya sudah mau meledak karena jenuh dengan analisis ini itu yang tidak kunjung selesai…
tapi semua butuh pengorbanan kan?
apalagi sekarang gak bisa konek sapenake dewek sama internet
jadilah begini nasibnya

di rumah saya ini ada dua gadis, asisten rumah tangga…gadis yang sungguh2 sedang beranjak dewasa, mencari identitas dan pengakuan..hingga di satu titik saya merasa mereka bablas *kenapa jadi ini bahasannya?*

omong punya omong..kemarin kami membahas masalah gossip
terungkap dengan jelas..lugas..
diawali dengan saling permintaan maaf, dan diakhiri dengan bahasan yang sifatnya filosofis etis netral (=tidak melibatkan nama siapapun!!).

Lha saya tanya “apa enaknya ngomongin orang?”
jawab gadis itu “enak banget teh, yang tadinya pendek jadi panjang...”
balik lagi “lha padahal kamu yo gak ada urusannya tho?”
“ya iya sih..tapi enak aja gitu”
kesimpulan : ngomongin orang itu kayak refreshing dari segala urusan pribadi. lha kita gak mikirin jalan keluar dari masalah atau urusan orang itu kan? makanya diomongin panjang lebar dikali tinggi juga gak akan bikin pusing kepala. yang bikin pusing kepala ya justru urusan pribadi kita sendiri

Lha saya bilang “yo wis, namanya juga orang hidup, sosialisasi sama orang”
gadis itu menjawab “iya teh, yang baik aja diomongin apalagi yang gak baik”
lha trus saya tanya “berarti mending kita bikin prilaku jelek aja ya biar gak rugi diomongin orang juga?”
kesimpulan: coba liat kalimat terakhir saya. kesimpulan picik kan?
jangan berhenti sampe situ...
dengar seseorang bilang setelah kalimat itu
“ya ndak dong, yang penting perilaku kita aja dijaga. urusan orang mau bilangin apa ya terserah. kayak kamu gadis (sambil menunjuk ke gadis satunya...), kalau kamu gak mau diomongin pulang malem, pacaran terus tiap malem sama orang2 dan orangtua kamu denger, ya berarti jangan begitu dong. tapi ya jangan marah kalau kamu udah berperilaku begitu, trus diomongin orang, lha itu kan emang kenyataannya, kamu susah protes”
gadis itu manggut-manggut aja

lha saya nyahut “apa orang yang ngomongin itu lebih baik daripada yang diomongin?”
saya teringat gadis itu pernah bercerita tentang seseorang yang sedang ngurusin orang lain dan sama sekali tidak ada pengaruh pada urusannya
“tahu gak, si ibu itu tuh, suka ngomongin orang lho, gak kayak suaminya yang kalem..”
Punten pisan bu..apa bedanya ibu dengan ibu yang diomongin itu????
ups..saya mulai ikut2an kan?
jangan pernah ngerasain enaknya, takut ketagihan

Rabu, 02 Juli 2008

berbicara tentang pekerjaan untuk perempuan

dua hari lalu saya ditanya
"dimana kamu akan bekerja setelah lulus nanti?"
saya menjawab "ada satu perusahaan yang sudah menawari saya pekerjaan setelah saya lulus nanti, tapi sebagai perempuan dengan double role, sebagai ibu juga, saya harus rethinking lagi. yang jelas saya akan tetap ada di area publik, pada pekerjaan-pekerjaan dengan flexible work hours namun saya tetap bisa improve dan sharing pengetahuan dan skill saya"

sehari lalu
saya dan seorang sahabat perempuan kembali berbincang mengenai pekerjaan
pasal nya dia yang telah menikah, mendapat pekerjaan di sebuah BUMN
hingga di akhir, suatu saat kami memutuskan untuk berafiliasi menjadi ratu di usaha kami sendiri
namun kami kembali mempertimbangkan karakteristik personal kami yg begitu semangatnya untuk sampai di titik tertentu. namun ketika sampai, kami kembali mempertimbangkan titik lain yg lbh tinggi dan terlalu menarik untuk dilewatkan
ah, kalau begitu terus, kapan ngurusin keluarganya???
balik lagi, ternyata pertimbangan bekerja sendiri juga tidak menjadi pilihan yang baik kalau tidak dibarengi kontrol diri yang bagus
dan saya pikir Allah telah begitu adil memberikan sesuatu tepat pada waktu nya dan tempatnya
pernah saya nyeletuk ke ibu saya
"bu, kalau fie gak dikasih jodoh cpet, keburu ngerasain berkarir, fie khawatir malah lama nikahnya, keasyikan kerja, ngejar karir, ntar ibu malah bingung juga..."
gitu juga dengan teman saya itu
saya kembali berpikir kalau Allah gak kasih saffa cepet-cepet dalam kehidupan saya, mungkin hidup saya dan suami sudah terpisah jarak saat ini, lha saya pasti kekeuh cari kerjaan asik di luar kota
maka Allah begitu sangat tahunya bahwa kontrol diri saya begitu rendahnya dalam memenuhi harapan, sifat dan ambisi saya itu, maka diberikanNya ayah dan saffa dalam hidup saya sebagai penyeimbang dan pengontrol

nah, untuk perempuan-perempuan yang memutuskan memiliki peran ganda, serius ini bukanlah hal mudah
saya pribadi merasa mengorbankan masa depan anak sama sekali gak worthed dengan karir yang mungkin akan saya dapat dengan merelakan perhatian saya tersita untuk pekerjaan dan sisanya untuk anak
saya sendiri gak siap menemukan saffa sudah tidur saat pulang kantor,menemani kelelapan tidurnya dengan pekerjaan yang saya bawa ke rumah, dan meninggalkannya saat masih tidur kala saya berangkat ke kantor
maka perlu mendefinisikan kembali orientasi hidup, cara mencapainya, dan mengenal kembali diri anda
lalu memutuskan bagaimana anda mengatur semua itu dan mengontrol diri anda

langkah kedua perempuan-perempuan

dengan semena-mena, tanpa analisis mendalam, saya menyimpulkan ada beberapa langkah kritis perempuan
1.saat remaja, mencari orientasi hidup, masalah cinta cintaan itu dan sebagainya
2.begitu masuk masa dewasa, ada kekhawatiran, untuk perempuan-perempuan tertentu, dari budaya tertentu, kapan ya punya suami, ih kok gak laku ya...takut jadi perawan tua
3.saat baru menikah : bisa gak ya membahagiakan suami, jadi istri yang baik, gimana jadi menantu yang baik, bisa punya anak gak ya
4.begitu punya anak, anak ku ntar tumbuh jadi kayak apa ya..apa sambil punya anak ini bisa kerja (perempuan ini ada dalam budaya campuran...kadang lebih kasian, soalnya malah kebingunan menentukan orientasi dan prioritas hidupnya)

yang ini tentang langkah ke dua
saya baru saja ngobrol dengan sahabat saya yang luar biasa. cerdas, aktif, religius..kriteria yang diinginkan calon suami manapun
dan baru saja beliau menikah..
sampailah kami pada dialog ttg banyaknya ekspektasi pada perempuan
perempuan-perempuan seperti kami, yang dulu jijingkrakan..kesana..kemari..kesitu..kesini..
stres kalo gak ada kerjaan, dan senang kalo banyak kerjaan
stres kalo gak dikejar-kejar deadline
stres kalo potensi mulut yang sekian lama dikembangkan di psikologi ini mengangin begitu saja
mulut pegel bukan karena kebanyakan ngomong, tapi karena kebanyakan diam
ealah..

sahabat ini begitu bingung dengan ekspektasi misuanya
yang disampaikan kepadanya dengan bahasa filosofis
ah, bukankah bahasa misua dengan istri memang berbeda
sahabat saya itu sungguh bingung dengan aktifitas nya yang seabrek sekarang, misua jauh, dengan usaha yang sungguh keras untuk mengerjakan selayaknya menantu, bahkan menurut saya sudah luar biasa, maka bingunglah dia dengan ekspektasi filosofis itu

bagi saya, persoalan ini nampak sederhana, namun juga tidak mudah
bahasa istri dan misua tidak sama
dilahirkan dalam keluarga berbeda, budaya yang tak sama, bahasa yang hanya bersaudara, kebiasaan yang jelas kadangkala tak seirama
maka apa yang dinyatakan dan diperbuat dalam bahasa dan gerakan sama kadangkala mengandung interpretasi berbeda
saya lebih suka meminta suami saya berbicara dalam bahasa operasional
menjadi penghubung ekspektasi keluarganya dengan saya
apa yang saya maksudkan, apa yang keluarganya maksudkan
menjadi suami istri kan tidak sekedar ijab kabul, terus sah, hidup berdua
tapi hidup nya jadi banyakan iya kan?
tambah kaya..kaya sodara
tapi semakin kaya tidak semakin mempermudah juga bukan
semakin complicated dan butuh kompetensi memanaje yang lebih bagus
apapun di manaje
yang penting suami istri solid
maka langkah perempuan-perempuan yang baru saja menjadi istri ini begitu indahnya
dan langkah ini tidak membuat dahinya berkerut dan cepat tua karena mentranslate ekspekstasi dan mencoba menjalankan semuanya
pilih saja prioritasnya, kalau memang ekspektasi ini tidak bisa dipenuhi sekarang, jalan melingkar
hanya perlu kebijakan..kebijakan istri, juga suami

Selasa, 01 Juli 2008

saya di jogja lagi

setelah mempertimbangkan satu dan lain hal, maka sampailah saya disini
dengan penuh deg-deg an, ambil resiko dan dengan doa dan kemauan

senang melihat kak saffa ketemu lagi dengan ayahnya
semua harus dengan ayah
hari pertama saat bertemu
makan, harus disuapi dari tangan ayah
gendong, mau sama ayah
kursi dikasihin ke ayah
semua ayah..ayah..ayah..
rasanya semua rindu tumpah
rindu saya, rindu saffa, rindu ayah
bukankah ini keindahan dari sebuah keluarga?
kebersamaan...anugerah yang kadangkala luput dari kesyukuran

bukankah saya termasuk salah satu perempuan beruntung
di tengah keterbatasan kami, ada saat gaji tinggal seuprut, karena digunakan ini itu, saya dan suami malah tertawa, menertawakan apa entah..tapi itu sungguh tertawa bahagia
di tengah kebutuhan hidup, suami begitu legowo memberikan kesempatan saya sekolah walaupun harus banting tulang, peras keringat
di tengah kesibukan kami, saffa menjadi penghibur gratis, memberikan senyum dan ucapan syukur atas setiap langkah dalam perkembangannya
bukankah saya termasuk perempuan yang harus mengucapkan syukur di setiap tarikan garis bibir senyum saya, bahkan di setiap nafas yang saya ambil dan kembali hembuskan
karena saya percaya, keberuntungan ini adalah cinta yang tidak semua orang kadangkala bisa merasakan secara implisit

saya kembali di jogja
tempat pulang juga
merasakan bahwa begitu banyak kesyukuran yang harus saya ucapkan dan lakukan

Selasa, 24 Juni 2008

senangnya pulang...

alhamdulillah saya sampai juga di serang
meskipun rasanya udah basi pas nulis disini, soalnya udah seminggu lebih
terminologi pulang selalu saya pakai, kalo tidak, ibu saya *marah besar* protes, karena saya telah merasa jogja juga sebagai tempat pulang
ah, saya kan jadi senang malah, banyak tempat pulang
ketika pulang berkonotasi dengan kembali pada pangkuan, maka yang terasa hanya damai
tapi untuk pulang "sungguhan", saya belum berani
meskipun ada abah juga menanti disana..

Kamis, 12 Juni 2008

kontrol kualitas untuk produk bayi dan anak

siang ini secara gak sengaja saya liat berita mayangsari yang memasukan ibu nya ke salah satu rumah sakit di purwokerto
ini mengingatkan saya pada sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kasus ini
tapi pada kasus botol susu chicco saffa sekitar lebih dari setahun lalu

ceritanya:
saya beli botol susu chicco tambahan untuk saffa yang baru usia 3/4 bulan untuk nyimpan ASI saya, kebetulan pemeras ASI saya juga mereknya chicco.
kebetulan di toko wijaya, langganan kami, hanya tinggal satu botol saja. maka suami saya yang waktu itu sendirian membelinya, terpaksa membelinya karena butuh
sampe rumah, saya heran karena botolnya kok cuma disegel sama wrap biasa yang biasa saya pake di dapur untuk makanan, biasanya sama segel plastik yang lebih kenceng dan dipres pabrik gitu. tapi saya pikir memang ada perubahan segel kali ya.

iseng-iseng suami saya liat ada kekusaman di bagian bawah botol
lha, saya pikir lagi, mungkin karena jatuh aja
setelah diamati lebih dekat, ealah, ternyata itu busakan (apa ya bahasa indo nya??) dari logo dan tulisan salah satu RS di purwokerto
bahaya banget kan? saya gak kebayang lho, botol sampah dan bekas gitu dijual di toko besar yang sudah punya banyak cabang. saya juga gak kebayang gimana sistem kontrol di distributor chicco maupun toko itu. dimana proses yang salah?
yang jelas setelah itu saya komplain dan diminta menunggu satu minggu untuk dapet botol yang baru
tapi tetep aja kejadian ini jadi titik penting untuk ngingetin saya dan ibu-ibu lain, bahwa kita bener-bener-bener harus waspada dan hati-hati memilihkan produk untuk anak kita..meskipun udah pake produk yang bermerek dan beli di toko yang "terpercaya" tetep aja kontrol kualitas bisa miss...
sebaiknya ibu menjadi kontrol kualitas yang paling ketat ya...

mahasiswa yang ini, mahasiswa yang itu

saya punya teman, saya memanggilnya mas abu
saya kagum padanya.penampilan sederhana, mau berteman dengan siapa saja, kerendahan hatinya. meskipun kadangkala, begitu rendahnya, beberapa orang mengesankan blio orang yang rendah diri
blio yang berasal dari tegal, suatu kali ketika ditanya darimana asalnya oleh salah seorang dosen, harus berputar-putar untuk mengatakan darimana asalnya. sehingga dosen itu mengatakan "tidak usah malu, ndak papa, bilang aja dari tegal, ndak ada yang perlu dipermalukan.."
apakah saat itu mas abu rendah diri, saya tidak tahu.....
kelebihan dalam dirinya, kecerdasannya, tidak didukung oleh support finanasial memadai, yang mengharuskan dirinya juga bekerja sambil kuliah, tapi dia tetap kuliah. melanjutkan penulisan skripsi dengan judul BERAT itu. luar biasa

suami saya punya mahasiswa. saya ketemu dengannya di salah satu toko komputer di jogjakarta. sudah 7 tahun belum lulus juga. kenapa?apa seperti mas abu?
ya..dia bekerja. apa bedanya dengan mas abu? dia tidak suka skripsi, tapi dia mau selesai..ada cara lain? oooh, pastinya ada. mau cara yang halal atau haram?
ah, dia pilih yang haram. yang diajak bersekongkol untuk meluluskannya dengan tujuan haram itu suami saya pula.
sebal betul suami saya ketika dalam sehari dia ditelpon untuk dimintai kerjasama dalam persekongkolan itu. liciknya, dia menyuruh sahabat dekat suami saya untuk meminta suami saya berbuat hina dina itu. pengecuttttt...
suami saya marah, entah marah pada yang mana
alasan tidak bisa skripsi sambil bekerja tidak masuk di akal siapapun, termasuk saya
saya punya mas abu yang begitu luar biasanya mengerjakan skripsinya
saya punya mbak rini yang sudah punya anak 2 dan sedang hamil, masih bersemangat mengerjakan skripsinya dengan cara halal
silahkan cari akal orang lain untuk bisa dimasuki sehingga skripsinya bisa kelar
tapi bukan akal suami saya, ndak usah bilang-bilang suami saya akal siapa yang berhasil dimasuki..itu urusan anda dengan Allah

"maka tolong menolonglah dalam kebajikan...."
smoga ini masih kuat kami pegang.amien

Selasa, 10 Juni 2008

saya sudah besar

apa karena saya bungsu?
maka tadi pagi ibu saya sekonyong-konyong telepon. apa yang hendak dibahas?
"fie jangan lupa, rumah diberesin ya sebelum berangkat, seprei diganti, dirapiin, jadi ntar yusuf pulang udah enak rumahnya, gak ruwet..."
"iya bu...biasanya juga gitu"
rumpi sana sini
"fie mungkin kalo gak naik pesawat, mendingan naik kereta aja bu.."
"oh iya, nanti dijemput aja ya..?"
"adduh bu, gak usah, ngerepotin semua orang..fie kan udah gede.."
ibu saya hanya tertawa-tawa
tertawa ingat bahwa saya sudah besar?
atau tertawa karena saya merasa sudah besar ya..hanya merasa?
ah...
jangan-jangan besok-besok saya pun begitu pada anak saya
kayaknya emang iya...:)

Senin, 09 Juni 2008

jadi posisi mahasiswa itu sebagai....

beberapa kasus belakangan ini yang datang pergi silih berganti, tak kenal lelah dan sepenuh daya upaya membuat saya bertanya sendiri, jadi posisi mahasiswa itu sebagai apa di kampus? ketika menghadapi satu situasi, terutama yang nggak ngenakin, tersersit dalam benak saya, saat ini posisi saya dimana ya? kok bisa ndak ditengok sama petugas admin nya? posisi saya dimana ya, kok ttd untuk revisi saya tertunda lama hanya karena dosen ke luar kota? atau posisi saya dimana ya, saat kadangkala "mereka" menggunakan nada yang nampaknya sulit diterima di telinga saya?
ada beberapa posisi yang mungkin bisa saya tempati :
1. customer
sebagai customer, mahasiswa ini kan seharusnya dilayani, ya toh? lha wong mahasiswa bayar mahal, ikut tes, dsb. masalah kemudian mereka menyatakan bahwa uang yang mahasiswa bayarkan untuk kuliah itu hanya mencukupi sedikit dan lebihnya kerja bakti atau bahwa subsidi dari pemerintah, itu kan bukan lagi urusan mahasiswa, apakah jadinya seperti mahasiswa memang mendapatkan setimpal dengan yang dibayarkannya. tapi toh mahasiswa di indonesia tidak punya pilihan banyak, dengan sistem pendidikan yang masih memilah-milah kualitas dari segi face validity aja. lha pindak kesana, yo pelayanannya sama, pindah ke situh, juga sama. halah...halah..
seperti teman saya yang batal ikut seleksi di tempat saya sekarang kuliah. apa gerangan?? setelah memperoleh berbagai informasi ttg pelayanannya, diitung-itung positip dan negatipnya. lha tapi apa teman saya itu punya banyak pilihan? kalau mau memilah berdasarkan face validity, maka program yang sama ini tersedia di 4 univ saja...pilihan sulit kan? dan 3 tempat lain itu juga belum tentu lebih baik pelayanannya. pada akhirnya kalo temen saya itu udah kepentok, ya udah pilih yang inih aja. sama kasusnya dengan teman seangkatan saya sekarang. dosennya gak rekomend untuk ambil program profesi di salah satu univ di SBY, karena dibilang seringkali banyak jam kosong. larilah dia ke sini. apa yang terjadi? kejadiannya sama seperti yang gak direkomen itu...heyalaah...
2. bawahan
kalo jadi bawahan, konteksnya kan mestinya ada struktur ya. lagian kalo mahasiswa jadi bawahannya admin ato bawahannya dosen, apa serta merta bisa diperlakukan dengan miris gitu? disudutkan gitu? healah...mahasiswa itu kan udah melebihi tahap operasional konkret ya? ato memang pendidikan ini didisain untuk memberhentikan mahasiswa di tahapan itu ya?
healah, wong tren nya udah transformasional leadership kok, masih pake tipe pemimpin X, jadinya ya begini ini...lha teori ne di kelas ndak kepake tho yo?
3. rekan sejawat, teman untuk sama-sama tumbuh
indah kan kalo begini. mahasiswa cukup dewasa dan patut dihormati dengan dipanggil "anda" bukan "kamu". mahasiswa cukup dewasa untuk diajak dialog. ahhh...pasti bapak ibu paham konsep asertif kan...eiittts asertif lho, bukan galak, bukan nyela, bukan kalimat sinistik, sarkastik...mahasiwa kadangkala lebih tahu, meskipun mungkin banyak tidak tahu :), jadi mbok nyuwun tulung diberlakukan dialog setara..diskusi menarik saya dengan seorang dosen dari ilmu lain di univ ini, yang mengeluhkan belum tumbuhnya kebebasan akademik disini..dan itu yang mengekang mahasiswa untuk menumbuhkan ide cemerlangnya. "anda harus punya referensi jurnal asing..." begitu saya cerita padanya. beliau yang notabene dari ilmu eksak sempat bilang "lha padahal kan nggak bisa begitu, perilaku dengan culture kita kan beda" SETUJU..tapi gimana lagi?? "ah gawat kalau banyak orang cari aman.." *iya pak, seperti saya*
dengan helaan nafas yang sudah tertahan seminggu, saya bilang "ya, gak ada pilihan pak, masalah biaya gak bisa kompromi dengan idealisme kebebasan itu. kelelahan untuk menantang culture yang sudah menjadi peraturan resmi"

Maka, para mahasiswa, begitu anda mendapatkan perilaku "menyenangkan" atau "tidak menyenangkan" pastikan dimana peran dan posisi anda pada situasi itu. salah tafsir bisa bikin geer ato malah sakit hati..

Kamis, 05 Juni 2008

batal lagi...

ibu saya sudah menunggu kedatangan saya dengan harap-harap cemas *emang segitunya ya??*
makanya saya sedih banget tiap kali harus ngasih tahu gak jadi dateng lagi, atau telat lagi..sampai ibu saya tanya "jadinya kapan nih???"
kedatangan saya seringkali jadi momen yang ditunggu ibu. soalnya saya yang paling jauh dari enam anaknya. udah bungsu, jauh pula, gitu kata beliau. dulu saya inget banget sebelum beneran punya rencana nikah sama ayahnya, ipar saya bilang "jangan jauh-jauh lho fie, malah kayak mutusin silaturahmi..."
soalnya awalnya memang saya yang diharapkan untuk nemenin ibu yang udah sendirian setelah ditinggal abah tahun 2002. tapi takdir Allah menentukan saya harus tinggal di jogja, yang jauhnya gak ketulungan dari serang. sebetulnya gak jauh banget, tapi karena ibu saya back pain, yang menyulitkannya untuk duduk, maka belum pernah sekalipun blio bisa menengok saya disini, maka saya saja yang seringkali pulang. dulu pas belum punya saffa bisa sampe 6 kali setahun, kalo sekarang mah, karena mesti boyongan, jadi didiskon 2-3 kali aja setahun.

minggu ini sebetulnya rencana final saya, yang hampir pasti jadi..jadi..dan jadi
tapi apa daya, ayah kena masuk angin parah mulai dari hari IELT nya itu...saffa malah ikutan pake masuk angin...setelah itu kerjaan ayah minggu ini sampai senin malah tambah banyak yang bikin blio pulang-pergi luar kota (padahal cuma dari jogja ke bantul ya??hehe gayanya luar kota..)

maka, dengan penuh penyesalan, lagi lagi saya mesti mengabarkan ini ke ibu saya
sedih...

Rabu, 04 Juni 2008

ketep pass, "harus" dikunjungi


IMG_0271
Originally uploaded by ufi yusuf
ini merupakan tempat asik banget untuk dikunjungi di daerah magelang
kalau tanya dimana tempatnya? maka saya akan menjawab "monggo diliat di peta aja ya" saya sense of direction nya parah sangat, kalau skalanya pake likert 1-5, dari sehat-parah, maka skala saya 5,5 hehe

apa yang bisa didapet disana? UDARA SEGAR jelas
selain itu pemandangan yang indah, sambil maem jagung bakar merupakan aktifitas yang gak boleh dilewatin
selain pemandangan indah itu, ada juga volcano theater (sayangnya 2x kesana saya gak sempet masuk)
sepanjang perjalanan kesana, ada juga orang jualan taneman, sayuran "aneh", maka yang suka taneman, jadi kayak surga aja
eittt...disana juga ada teropong yang bisa dipake untuk ngeliat pemandangan di sekitar
pemandangan apa yang bisa dilihat?perpaduan, pernikahan, atau apalah antara gunung merapi dan merbabu, yang kalo lagi cerah-rah-rah (gak berkabut), maka bisa diliat dengan jelas..indah sungguh

kalau ke ketep dari arah jogja, jangan lupa mampir di rumah makan cinde laras
dimana itu? emmm...pokoe dari jogja, sebelah kiri jalan..bentar ya tak tanyain ayah dulu
disana menunya unik (menurut saya lho ya..). jarang-jarang kan anda menemukan menu telur ikan (sedepppp), ikan wader dan udang sungai kecil-kecil, ditambah pake sambal terasinya yang sedep atau pake bumbu pecelnya yang uenak tenan
saya rela melakukan perjalanan jauh jogja-magelang cuma mau makan disini..sungguh!!

terobsesi teori konspirasi

traveler melecutkan kembali minat teori konspirasi setelah sempat meredam karena sudah terlalu lama berhenti membaca da vinci code

bulan ini beberapa kejadian di negeri ini melecutkan pemikiran teori itu
seperti yang sebelumnya saya tulis disini
1. kasus yang masih hangat adalah munarman
sederhana saja pemikiran saya. beberapa informasi menyebutkan sepak terjang blio di negeri ini. marilah sebelumnya saya mengajak anda untuk berpikir SEMPIT-seSEMPITsempitnya. sehingga FPI atau LPI kita simpan di sisi kontra-demokrasi, karena "kebrutalan"nya di beberapa kejadian. maka bagi saya ,munarman yang merupakan mantan anggota LBH dan KONTRAS (yang dengan pikiran sempit seSEMPITsempitnya kita letakan di organisasi pro demokrasi. maka ada tanda tanya besar sebanyak 100X yang mengikuti dibelakangnya. kenapa idalisme munarman bisa berubah begitu jauhnya?apa?
apakah memang ada masukan ideologi dan brainwash yang begitu hebatnya sehingga bisa mengubah idealisme seorang yang dianggap kuat idealismenya yang telah mengakar selama bertahun-tahun? atau apakah yang dulu dia kerjakan hanya tuntutan tugas saja yang bertentangan dengan idealismenya? ataukah idealismenya yang dulu itu yang terus mengakar kuat, membuat dia melakukan sesuatu dengan memasukan dirinya di dalam organiasi kontra-demokrasi itu?dan lihat akibat masuknya beliau di organisasi itu saat ini. akibat meluas, lebih luas akibatnya dari sepakterjang FPI di masa lalu.

2. kasus blue energy
hilangnya pak joko membuat saya merefresh lagi tentang teori konspirasi itu. pemikiran saya ada disini

ah, manusia memang sebegitu pintar dan luar biasanya kan??

saya, kaktus dan bicara

saya marah
kaktus saya kok tidak tumbuh
saya marah
halaman rumah saya begitu kering
saya marah
hujan tidak sempat mampir di halaman rumah saya

saya takut
hujan yang kan datang begitu derasnya
sampai menyesali permohonan saya

ah sudah saatnya
saya bicara
hujan yang begitu deraskah?
uaa pada awalnya
tapi tidak lama
setelah itu langit begitu cerahnya
halaman saya telah terbasahi
semoga kaktus saya segera tumbuh

050608-bicara dengan sungguh2 dan benar

Selasa, 03 Juni 2008

arti ayah=abah=bapak=apapun anda memanggilnya

saya mungkin termasuk ibu yang memendam rasa iri hati. gimana gak, kak saffa lebih lancar, fasih, dan seringkali memanggil AYAH ketimbang IBU. mencoba bercermin, mungkin karena saya galak kali ya, jadi saffa lebih suka panggil AYAH nya ketimbang IBU nya
maka, di setiap tangisannya, yang dipanggil AYAH, bukan IBU
saya ndak bisa kebayang bila suatu hari nanti, keluarga kami harus menjalani SLJJ, maksudnya hubungan jarak jauh, dan kalau kebiasaan menangis memanggil ayah ini berlanjut, maka yang akan menangis tidak hanya saffa sendirian, pasti saya temani...sisi kenlongsoan keluarga SLJJ

tapi ke-iri-an saya ini membawa saya pada kenangan mengenai abah
untuk beberapa hal, saya tahu harus mengadu dan meminta kepada blio
tahun ajaran baru : kebagian abah yang beliin buku dan peralatan tulis
jamannya maen karet untuk lompat, saya minta ke abah, habis ditegur ibu terus gara-gara karet di dapur bablas
jamannya maen bekel, maka abah membelikan saya beberapa set bekel, mulai dari bola paling gede sampe bola paling kecil
bahkan ketika saya dan abah ditinggal ibu yang lagi ada acara ngumpul2 bareng ibu2 selama seminggu, abah mengajak saya ke dufan, tempat yang dia tidak suka sama sekali, dan beliau menunggui saya di parkiran saja dengan supir

kalau saya ditanya arti abah, maka saya hanya akan menangis, tanpa bisa menjelaskannya dengan kata-kata
mungkin itu pula yang dirasakan saffa kepada ayah
kalau saya ditanya arti abah
saya akan mengingat parfum khas nya saat shalat, percikan air wudhunya, doa-nya di ubun-ubun saya, dan air doanya yang selalu saya minta untuk kelancaran studi saya
kalau saya ditanya arti abah
saya akan mengingat lelucon lucunya mengenai angka IP pertama yang saya dapat
angka yang bahkan tidak sempat saya persembahkan--atas pembuktian ketidaksia-siaan kerelaan beliau melepas saya ke jogja--karena blio lebih dahulu dipanggil Allah
kalau saya ditanya arti abah
maka jawabnya hanyalah mengenai darah yang mengalir deras dalam tubuh saya
darah yang membawa pesan dan warning di setiap langkah saya
darah yang membantu nurani saya mengenali kebaikan dan keburukan yang saya ambil

saya kangen abah..

Senin, 02 Juni 2008

men sana in corpore sano (bener gak tulisan'e?)

dua hari belakangan ini kondisi kesehatan keluarga kami tak beres sangat
saffa yang tiga hari lalu makan es krim tanpa sepengetahuan saya mendadak sariawan, badannya panas, plus sedikit diare ringan
ayah sudah 4 hari menderita nyeri otot tak jelas ujung pangkal, hingga mual yang jelas ujung pangkal

saya ingat betul ketika akan menghadapi ujian komprehensif, seperti biasa, saya muaaaal (ini adalah reaksi stress saya). lalu ayah berkata : "yaa diusahain jgn tertekan gitu dong bum, berpikir positif" begitu tips ayah pada saya
maka empat hari terakhir ini adalah pembuktian dari kata mutiara "memang psikologi untuk anda, bukan untuk saya" kalau kata mutiara ini tidak tepat untuk ayah yang orang elektro, maka mungkin yang berikut ini lebih tepat "berbicara itu lebih mudah daripada melakukan"

tanggal 30-31 Mei adalah saat mendebarkan dan menentukan dalam sejarah akademis ayah. bagaimana tidak? itu adalah ujian IELT untuk memperbaiki nilainya yang lalu untuk bisa tembus lanjut kul. sampai sebegitu menekan perasaannya, maka mulailah ayah sakit otot. dan dalam dua hari itu, perutnya mual, serasa ingin muntah, dan berlangsung hingga hari ini!! mari kita hitung: 30-31-1-2 ...4 hari. lebih fantastis dari stres saya. pasalnya mungkin karena nilai IELT nya gak bisa diketahui langsung, beda dengan saya yang bisa tahu langsung hasil ujian komprehensif saya
maka, begitu menyadari hal ini, saya pun tersenyum simpul,sedikit manis, sedikit asam..mengingat pesan dan kesannya saat saya mual dulu.
maka bergumamlah ayah "ayah ini sakit jiwa dan raga"
maka, saya menyimpulkan dengan semena-mena : memang terbalik pepatah yang selama ini beredar itu "men sana in corpore sano" lha dia bilang di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. dalam kasus ini, maka pepatah itu menjadi "men sano in corpore sana" di dalam jiwa yang sehat, terdapat tubuh yang kuat..
ah lagi-lagi, seberapa mapan pun pepatah itu, coba pikirkan kembali...

Minggu, 01 Juni 2008

Ini cerita tentang kupu-kupu di kamarku….

Ini cerita tentang kupu-kupu di kamarku….

Sudah berkali-kali
Dan kejadiannya selalu berbeda.......
Ketika aku menemukan suatu benda asing terbang….
Bagian diriku takut…bukan karena imajinasi menyatakan itu makhluk asing….tapi karena aku pikir itu menggigit…mengancam…
Ketika kusadari bagian indahnya…
Baru kuyakini ada sesuatu yang baik akan datang…
Dia terbang, entah mencari apa….aku terpesona............
Meyakini tiap bagian tubuh dan jiwanya adalah keindahan alamiah...

Suatu saat.....
Aku tersadar...
Dia terperangkap dalam kamarku...aku terperangkap dalam pesonanya..
Keduanya sulit melepaskan diri....
Aku terperangkap dalam bayangan kebaikan yang akan aku dapat
bila dia terus bersamaku...
Sementara.....
Dia terperangkap, terkurung dalam ruang, yang entah dia sadar atau tidak besarnya hanya 3x4.....sementara diluar...luas....
Aku ingin dia tinggal selalu....memberikan harapan kebaikan, tapi dia, aku tidak pernah tahu, apakah keinginannya sama denganku....
Tapi kemudian aku ragu...
karena suatu hari aku menemukan kupu-kupu mati di kamarku...
Aku tidak pernah tau....Itu karena proses alamiah, atau proses percepatan karena keberadaannya
Berikutnya...ketika aku sedih, meyapunya keluar dari kamarku...
Kembali terbersit...apakah dia bahagia mati dikamarku....
Itu keinginannya ataukah sebuah keterpaksaan karena terperangkap....

21 maret 2003.....sesuatu yg terlintas...

surat untuk sahabat

Sahabat, teman, pren, bahkan mungkin geng
...apapun nama yang kita tempelkan dulu pada diri sebagai kita
sahabat, teman, pren, bahkan mungkin geng
...apapun nama yang dulu ditempelkan pada orang pada diri sebagai kita

tapi diri memang diri...diri bukan kita....
diri terkadang tidak bisa selamanya menjadi kita...
tapi kita tetap tersimpan rapi dalam tempat tersendiri dalam diri

ketika segalanya bermula...kadangkala kita tidak pernah sadar
mulai kapan, karena apa, mengapa...
sampai prosesnya berjalan...entah lambat atau cepat...

ketika segalanya berjalan...kadangkala kita tidak pernah sadar
seberapa indah, seberapa lama...
semuanya berjalan begitu saja...
kalian yang membuat fie bangga...

ketika segalanya seakan berakhir sebelum akhir...
baru kita sadar, kenapa...mengapa....
meskipun tetap ada ketidakmengertian dan ketidakmenerimaan
bukan karena ego, bukan karena kecewa, bukan karena marah
tapi hingga akhir menjelang akhir, atau saatnya berakhir...
diri telah menemukan diri pada diri...
dan memang sudah saatnya diri menemukan diri...