begitu menuliskan judul di atas, sungguh saya tidak bermaksud untuk mengajari siapapun mengenai kreatifitas
saya hanya ingin menceritakan, ternyata perkembangan otak anak sungguh luar biasa dan tidak terbendung. saya seringkali terkejut dengan apa yang dilakukan dan dikatakan saffa
sampai kadangkala ada titik dimana saya merasa otak saya terlalu cetek untuk menjangkau imajinasi dan curiousity dari seorang anak
ayo berpikir keras
saya mulai melegokan diri saya, mengurangi perfeksionisitas (apa sih?) mengenai kebersihan rumah, aturan rigid ala orang dewasa, disiplin ala orang dewasa
akhirnya, rela...rela...rela, aku relakan....(bacanya sambil nyanyi dangdut ajah..) tembok dipenuhi dengan gambar "perkenalan" saffa dengan aneka binatang, buah dan makanan, serta dicoreti warna-warni eksotik anak yang usianya belum lagi genap 2 tahun
maka dimulai kreatifitas saya:
1. "kak, disini (menunjuk tembok area tertentu) bum pasangin karton kuning ya, kak boleh coret2 tapi disini aja ya..."
result : te tew..tidak berhasil
2. "kak, ini kan sajadah kak ya, jadi kalo sholat ikutan bareng2...jangan naikin bum atau ayah ya.."
result : pertama, kepemilikan sajadah itu memang sukses, tiada seorang pun boleh memakai sajadah itu
kedua, te tew..tidak berhasil, kepala saya masih sering disinggahi tubuh 14 kg itu saat sujud
3. nah yang ini luar biasa. bagi kak saffa semua harus berlagu. maka dimulailah perjalanan orangtua ini menjadi pengarang yang sungguh sukses di depan anaknya, namun memalukan jika didengar tetangga
"bu, inih?" saffa menunjuk sesuatu
"pepaya kak"
"nyanyi !"
"pepaya, mangga pisang, jambu, dst.."
"bu, inih?" saffa menunjuk sesuatu
"kelapa"
"nyanyi !"
"kelapa, mangga, pisang, jambu, dst"
begitulah, dan kami menjadi pembajak lagu yang paling tidak bertanggungjawab
maafkeun ya pak pengarang lagu, suka mengacak2 lagunya dengan semena2...
Melangkah hanya sekedar pembahasan hal sederhana mengenai hal sederhana yang mungkin dimiliki semua orang. Melangkah memaknai hidup dengan semangat, tanpa keterpaksaan, namun dengan pasrah penuh. Cerita tentang belajar melangkah, lihai melangkah, atau melangkah tahap advance (berlari?) mungkin tak selalu indah, namun memaknai langkah berikutnya..
Minggu, 19 Oktober 2008
tips agar "laku"
pagi tadi, baru saja, lagi-lagi-lagi ke tlogo putri
seperti biasa, favorit kami adalah jadah tempe mbah carik, makanya, begitu nyampe, kan dingin tuh, kami langsung beli jadah tempe yang masih hangat
pulangnya kami melewati beberapa penjual jadah tempe
sodara-sodara, ternyata ada juga lho yang judul nya "mbah lurah"
serta merta dalam dialog mengenai per-mbah-an dalam dunia per-jadah-an ini, begini tips dan wasiat dari mbah yusuf:
"kalo mau terkenal jualan jadah, pake judul pejabat daerah..bisa carik, lurah.."
"ya udah ntar bum bikin jadah mbah bupati"
berikutnya
"kalo mau terkenal dan laku bikin grup musik, pake nama-nama kerajaan, dewa, ratu, kerispatih..."
"ya udah ntar bum bikin grup selir..."
berikutnya, mungkin ada yang mau membeli hak paten atas nama berikut ini. ini merupakan ide orisinil, hasil perenungan dan pergumulan batin yang luar biasa
khusus bagi penjual gudeg!!!
kalo ke jogja, mungkin anda akan menemukan, yu narni, yu djum, dan teman2 yu lainnya
maka, nama ini, saya sedikit jamin, tidak jamin, setengah jamin, akan membuat gudeg anda disukai
berilah judul "YU MANG..."
seperti biasa, favorit kami adalah jadah tempe mbah carik, makanya, begitu nyampe, kan dingin tuh, kami langsung beli jadah tempe yang masih hangat
pulangnya kami melewati beberapa penjual jadah tempe
sodara-sodara, ternyata ada juga lho yang judul nya "mbah lurah"
serta merta dalam dialog mengenai per-mbah-an dalam dunia per-jadah-an ini, begini tips dan wasiat dari mbah yusuf:
"kalo mau terkenal jualan jadah, pake judul pejabat daerah..bisa carik, lurah.."
"ya udah ntar bum bikin jadah mbah bupati"
berikutnya
"kalo mau terkenal dan laku bikin grup musik, pake nama-nama kerajaan, dewa, ratu, kerispatih..."
"ya udah ntar bum bikin grup selir..."
berikutnya, mungkin ada yang mau membeli hak paten atas nama berikut ini. ini merupakan ide orisinil, hasil perenungan dan pergumulan batin yang luar biasa
khusus bagi penjual gudeg!!!
kalo ke jogja, mungkin anda akan menemukan, yu narni, yu djum, dan teman2 yu lainnya
maka, nama ini, saya sedikit jamin, tidak jamin, setengah jamin, akan membuat gudeg anda disukai
berilah judul "YU MANG..."
Jumat, 17 Oktober 2008
saya sungguh2 sudah beranak pinak....
saya ini sudah beranak pinak, sungguh
posting saya yang salah alamat pada blog gadis kecil rupanya bukan lagi perenungan saya yang terakhir mengenai bagaimana sesungguhnya untuk mencitrakan diri saya seperti seorang ibu
dan kemarin adalah puncak jawaban saya yang saya pikir paling cerdas, ups, sama sekali tidak cerdas, saat dintanya mengenai anak pinak ini
saya menghadiri pertemuan halal bi halal di sekolah kak saffa
duduklah saya dengan seorang ibu yang cantik
"bu, anaknya sekolah di sini, di PG atau di TK?"
"di PG, bu"
"oh ya, anaknya umur berapa?"
"22 bulan.."
"oh ya, kok kelihatannya masih muda banget"
GLEKK...coba dengar jawaban tidak cerdas berikut ini
"saya 26 tahun kok bu..."
dan dengar apa kata hati saya
"sungguh, itu anak kandung saya, itu beneran anak saya, saya sudah beranak pinak, beneran lho. ini akta lahirnya kak saffa, bener kan ada nama saya jadi ibunya"
"ooh, jangan bilang masih gak percaya, ini akta nikah saya sama ayahnya saffa, jadi kami memang punya anak"
saya punya ide, yang menurut saya masih agak terlalu buruk untuk dicoba:
pake lipstik!!! bedak ditebelin, hak sepatu ditinggiin, pake baju tile2...pake tas yang agk cantikan dikit
atau
pake pensil alis !!!
posting saya yang salah alamat pada blog gadis kecil rupanya bukan lagi perenungan saya yang terakhir mengenai bagaimana sesungguhnya untuk mencitrakan diri saya seperti seorang ibu
dan kemarin adalah puncak jawaban saya yang saya pikir paling cerdas, ups, sama sekali tidak cerdas, saat dintanya mengenai anak pinak ini
saya menghadiri pertemuan halal bi halal di sekolah kak saffa
duduklah saya dengan seorang ibu yang cantik
"bu, anaknya sekolah di sini, di PG atau di TK?"
"di PG, bu"
"oh ya, anaknya umur berapa?"
"22 bulan.."
"oh ya, kok kelihatannya masih muda banget"
GLEKK...coba dengar jawaban tidak cerdas berikut ini
"saya 26 tahun kok bu..."
dan dengar apa kata hati saya
"sungguh, itu anak kandung saya, itu beneran anak saya, saya sudah beranak pinak, beneran lho. ini akta lahirnya kak saffa, bener kan ada nama saya jadi ibunya"
"ooh, jangan bilang masih gak percaya, ini akta nikah saya sama ayahnya saffa, jadi kami memang punya anak"
saya punya ide, yang menurut saya masih agak terlalu buruk untuk dicoba:
pake lipstik!!! bedak ditebelin, hak sepatu ditinggiin, pake baju tile2...pake tas yang agk cantikan dikit
atau
pake pensil alis !!!
Kamis, 09 Oktober 2008
"wisnu itu anak kecil ya..."
nselasa kemarin, saya ke tlogo putri lagi, ini oleh2 nya..
ini sih sebetulnya foto pas kami lagi naek kereta keliling
saffa senang betul ke tempat ini
cerita versinya, kenapa ini jadi tempat fave nya, ada di blog gadis mungil ini
saya sendiri sangat terhibur meskipun harus antri karcis (sesuatu yang biasanya tidak pernah terjadi..baru kali ini, sungguh), dikagetkan dengan naiknya harga karcis yang drastis meskipun tetep terjangkau masyarakat luas sih, cuma ndomplangnya itu lho (dulu kayaknya gak sampe 1000, kok tiba2 jadi 2000)
sampe di loket depan saya baca:
wisnu : 2000
wisman : 15000
"yah, kita wisnu kan ya?"
ayah nya saffa senyum2
tapi serius saya bukan orang terakhir yang ternyata tergugah dengan singkatan benar, tapi bagi awam, benar2 membingungkan itu
dua anak usia 10 tahun di belakang saya asik memperhatikan pengumuman itu sambil bercakap
"itu wisnu, maksude opo yo?"
"opo artine cah cilik ya?"
"ooo, berarti cah cilik bayare 2000"
saya cuma senyum2, memikirkan, berarti kami harus membayar 32000, karena yang masuk dua orang dewasa+satu anak kecil..heaaalaaah...mahal men dek..dek..
untung sampeyan wisnu (=cah cilik???)
ini sih sebetulnya foto pas kami lagi naek kereta keliling

saffa senang betul ke tempat ini
cerita versinya, kenapa ini jadi tempat fave nya, ada di blog gadis mungil ini
saya sendiri sangat terhibur meskipun harus antri karcis (sesuatu yang biasanya tidak pernah terjadi..baru kali ini, sungguh), dikagetkan dengan naiknya harga karcis yang drastis meskipun tetep terjangkau masyarakat luas sih, cuma ndomplangnya itu lho (dulu kayaknya gak sampe 1000, kok tiba2 jadi 2000)
sampe di loket depan saya baca:
wisnu : 2000
wisman : 15000
"yah, kita wisnu kan ya?"
ayah nya saffa senyum2
tapi serius saya bukan orang terakhir yang ternyata tergugah dengan singkatan benar, tapi bagi awam, benar2 membingungkan itu
dua anak usia 10 tahun di belakang saya asik memperhatikan pengumuman itu sambil bercakap
"itu wisnu, maksude opo yo?"
"opo artine cah cilik ya?"
"ooo, berarti cah cilik bayare 2000"
saya cuma senyum2, memikirkan, berarti kami harus membayar 32000, karena yang masuk dua orang dewasa+satu anak kecil..heaaalaaah...mahal men dek..dek..
untung sampeyan wisnu (=cah cilik???)
Senin, 06 Oktober 2008
Lebaran ini
Ini lebaran pertama saya jauh dari Serang
di tahun ini juga puasa saya full tidak ada yang nyangkut di Serang
gimana rasanya? sedih? ya pastinya..terutama kalo inget ibu yang sendirian di Serang
meskipun bagi saya sendiri, disini pun sama ramainya, karena lebaran sama keluarga suami, tapi kalo inget ibu di Serang, sungguh gak tega
lebaran bagi saya adalah event yang sangat sakral, dari dulu sampai sekarang
salah satu makna sakralnya ya lewat kumpul keluarga itu
makanya dulu pas saya kecil (emang sekarang udah gede ya?hehe), saya sedih banget kalo ada kakak saya yang gak pulang karena lebaran di tempat mertuanya. dan sekarang barulah saya mafhum kenapa alasannya
saya ingat betul, saat lebaran melankolik lain adalah saat lebaran pertama gak ada abah, tahun 2003
beda betul
bagi saya abah adalah cahaya saat lebaran
bintangnya....serius
salah satu makna lebaran adalah kehadirannya yang utuh di tengah2 berbagai aktifitas lebaran keluarga besar kami
kepala keluarga, imam, kepala peziarah bagi keluarga..dan bagi anak-anak di lingkungan kami, adalah bintangnya salam tempel, hehe. percaya gak percaya, setiap habis pulang shalat ied, kami pasti sudah menemukan segerombolan anak2, untuk ngantri salam tempel. senang betul mereka, meskipun jumlahnya tidak seberapa, mereka hepi, apalagi uangnya yang masih kaku.
bagi saya kenikmatan lebaran adalah menemani ibu di malam takbir. biasanya kakak dan teteh kan belum pada dateng, abah ikut takbiran. meskipun gak bisa bantu ibu masak, tapi judulnya nemenin aja, hehe. makanya, sedih betul saya saat malam takbir kemarin menelpon ibu, beliau hanya di temani asisten rumah tangga kami. ah, lagi-lagi air mata saya meleleh kan???
lebaran bagi saya adalah pelukan tulus setelah shalat ied. keluarga saya memang bukan keluarga ekspresif. tapi pagi itu, semua luluh lantak. sebelum menikah saya jarang sesenggukan, tapi ndak tahu, setelah nikah apalagi punya anak, rasanya semua pengorbanan dan perjuangan abah dan ibu justru sangat terasa, yang biasanya membuat saya susah berhenti menangis dan mau dipeluk ibu lama-lama.
lebaran bagi saya adalah hari melelahkan tapi menyenangkan. saat abah masih ada, biasanya kami menerima tamu hingga larut malam, bisa habis aqua ber-dus-dus. lagi tidur siang aja ada yang nungguin, hehe. biasanya acara silaturahmi baru kelar jam 11 malam. kebayang gak teparnya, padahal dari pagi tuh. kita mau silaturahmi ke rumah kakaknya abah aja susah, lha tadi bangun tidur aja udah ada yang nunggu di ruang tamu, hehe. makanya biasanya hari kedua, sebelum jam 7 pagi, kita sekeluarga kabur dulu, nemuin ibu, kakak-dan keluarga Abah dan ibu, dan nyampe rumah, tuh tamu kadangan dah duduk manis di rumah.
lebaran bagi saya adalah kerinduan pada sayur asem. lha bosen banget je, semua daging dan santen2, hehe
lebaran bagi saya adalah pertanyaan apakah tahun depan saya masih ada, memaknai makna yang tidak terucap dan tidak tertulis, hanya terasa
pertanyaan apakah saya dan semua mampu menjaga sakralitas nya, bukan sekedar ritual rutin tahunan yang akhirnya mengasap dan terbang begitu saja dibawa angin
di tahun ini juga puasa saya full tidak ada yang nyangkut di Serang
gimana rasanya? sedih? ya pastinya..terutama kalo inget ibu yang sendirian di Serang
meskipun bagi saya sendiri, disini pun sama ramainya, karena lebaran sama keluarga suami, tapi kalo inget ibu di Serang, sungguh gak tega
lebaran bagi saya adalah event yang sangat sakral, dari dulu sampai sekarang
salah satu makna sakralnya ya lewat kumpul keluarga itu
makanya dulu pas saya kecil (emang sekarang udah gede ya?hehe), saya sedih banget kalo ada kakak saya yang gak pulang karena lebaran di tempat mertuanya. dan sekarang barulah saya mafhum kenapa alasannya
saya ingat betul, saat lebaran melankolik lain adalah saat lebaran pertama gak ada abah, tahun 2003
beda betul
bagi saya abah adalah cahaya saat lebaran
bintangnya....serius
salah satu makna lebaran adalah kehadirannya yang utuh di tengah2 berbagai aktifitas lebaran keluarga besar kami
kepala keluarga, imam, kepala peziarah bagi keluarga..dan bagi anak-anak di lingkungan kami, adalah bintangnya salam tempel, hehe. percaya gak percaya, setiap habis pulang shalat ied, kami pasti sudah menemukan segerombolan anak2, untuk ngantri salam tempel. senang betul mereka, meskipun jumlahnya tidak seberapa, mereka hepi, apalagi uangnya yang masih kaku.
bagi saya kenikmatan lebaran adalah menemani ibu di malam takbir. biasanya kakak dan teteh kan belum pada dateng, abah ikut takbiran. meskipun gak bisa bantu ibu masak, tapi judulnya nemenin aja, hehe. makanya, sedih betul saya saat malam takbir kemarin menelpon ibu, beliau hanya di temani asisten rumah tangga kami. ah, lagi-lagi air mata saya meleleh kan???
lebaran bagi saya adalah pelukan tulus setelah shalat ied. keluarga saya memang bukan keluarga ekspresif. tapi pagi itu, semua luluh lantak. sebelum menikah saya jarang sesenggukan, tapi ndak tahu, setelah nikah apalagi punya anak, rasanya semua pengorbanan dan perjuangan abah dan ibu justru sangat terasa, yang biasanya membuat saya susah berhenti menangis dan mau dipeluk ibu lama-lama.
lebaran bagi saya adalah hari melelahkan tapi menyenangkan. saat abah masih ada, biasanya kami menerima tamu hingga larut malam, bisa habis aqua ber-dus-dus. lagi tidur siang aja ada yang nungguin, hehe. biasanya acara silaturahmi baru kelar jam 11 malam. kebayang gak teparnya, padahal dari pagi tuh. kita mau silaturahmi ke rumah kakaknya abah aja susah, lha tadi bangun tidur aja udah ada yang nunggu di ruang tamu, hehe. makanya biasanya hari kedua, sebelum jam 7 pagi, kita sekeluarga kabur dulu, nemuin ibu, kakak-dan keluarga Abah dan ibu, dan nyampe rumah, tuh tamu kadangan dah duduk manis di rumah.
lebaran bagi saya adalah kerinduan pada sayur asem. lha bosen banget je, semua daging dan santen2, hehe
lebaran bagi saya adalah pertanyaan apakah tahun depan saya masih ada, memaknai makna yang tidak terucap dan tidak tertulis, hanya terasa
pertanyaan apakah saya dan semua mampu menjaga sakralitas nya, bukan sekedar ritual rutin tahunan yang akhirnya mengasap dan terbang begitu saja dibawa angin
Senin, 22 September 2008
baju sayamerah dong, kaos dalem ayah juga...
sebetulnya saya mau posting yang lebih berkualitas hari ini
tapi gimana lagi, ada aja kejadian aneh tiap hari
seperti hari ini, yang mobil tiba2 ngadat dan cerita baju merah saya
saya suka sekali baju merah
maka, dalam 2 bulan ini saya punya dua baju merah dan satu kerudung merah
baju merah pertama saya siapkan untuk wisuda, eeeeittts
baju merah kedua saya siapkan untuk pasangan kerudung merah baru saya itu
tapi hari ini saya merasa berdosa telah menularkan virus merah saya itu pada keluarga saya
sebuah pemaksaan
meskipun bukan saya pelaku utamanya
pagi ini, suami saya mendapat delegasi untuk menyalakan mesin cuci
namun, siang ini saat akan menjemur, terperangahlah saya
lha semua baju berwarna merah
kaos putih panjang saya jadi merah
celana panjang saffa jadi merah
baju baru saffa jadi merah
dan yang paling mutakhir adalah...
sekarang ayah punya kaos dalem warna merah muda..sungguh...seperti itu kira2 warnanya
apa rupa?
ternyata ayah memasukan baju batik merah itu ke dalam mesin cuci
addduh...ya iyalah
"kan udah ayah tanyain tadi pagi"
"kapan ya?"
tapi gimana lagi, ada aja kejadian aneh tiap hari
seperti hari ini, yang mobil tiba2 ngadat dan cerita baju merah saya
saya suka sekali baju merah
maka, dalam 2 bulan ini saya punya dua baju merah dan satu kerudung merah
baju merah pertama saya siapkan untuk wisuda, eeeeittts
baju merah kedua saya siapkan untuk pasangan kerudung merah baru saya itu
tapi hari ini saya merasa berdosa telah menularkan virus merah saya itu pada keluarga saya
sebuah pemaksaan
meskipun bukan saya pelaku utamanya
pagi ini, suami saya mendapat delegasi untuk menyalakan mesin cuci
namun, siang ini saat akan menjemur, terperangahlah saya
lha semua baju berwarna merah
kaos putih panjang saya jadi merah
celana panjang saffa jadi merah
baju baru saffa jadi merah
dan yang paling mutakhir adalah...
sekarang ayah punya kaos dalem warna merah muda..sungguh...seperti itu kira2 warnanya
apa rupa?
ternyata ayah memasukan baju batik merah itu ke dalam mesin cuci
addduh...ya iyalah
"kan udah ayah tanyain tadi pagi"
"kapan ya?"
Korelasi ASI dan daun pepaya

tiga hari lalu, saya akhirnya memutuskan untuk menjadi sapi, ups, maksudnya, berhenti untuk menyusui saffa
ada berbagai pertimbangan. pertama, saffa sudah cukup besar, hampir dua tahun. kedua, saya merasa dia terlalu lekat pada saya, terutama karena "memeh" itu. wah kalo di rumah ada saya, kayaknya asosiasi bebas nya ya langsung "memeh " begitu ketemu saya
maka, dimulailah penelitian saya
cara pertama, kunyit. saya ulek, lalu dioleskan. apa yang terjadi, dia oke2 aja tuh, ndak merasakan ada yang aneh dengan "memeh" nya
cara kedua, gurunya bilang kemampuan bahasa dan pemahaman saffa kan memang sudah bagus, maka sebetulnya bisa diberi pengertian. sungguh, saya bukannya tidak mengenal anak saya. saya tahu dan yakin betul kemampuan bahasa dan pemahamannya sudah bisa dimanfaatkan untuk menyapih. tapi alih2 untuk bisa menyapih, malah jadi boomerang. lha gimana ndak, saffa udah paham betul kata "SAPIH", udah paham betul bahwa memeh nya akan berhenti. maka ketika ditanyakan, diberi pengertian, maka jawabnya "NDAK!!"
huaaaaaa
nah, cara ini yang berhasil dilakukan tetangga saya pada anaknya : DAUN PEPAYA
maka, dimulailah dengan merebus daun pepaya, lalu menguleknya. nah, trus dioleskan. apa yang terjadi? wah saya senang betul, saffa mulai geli dan jijik ngeliatnya. begitu mau memeh, dia heran trus bilang "jijik..."
tapi apa yang terjadi berikutnya??? dihapuslah si daun pepaya itu. lalu mulailah dia memeh kembali. saya sendiri heran, apa ya nggak pahit ya? lha wong saya aja cuma nyolek, paitnya minta ampun
maka, sehari itu, saya cuma bingung sendiri. lha pripun je. lebih bingung dan heran lagi, karena pagi2 nya saya udah liat daun pepaya di sela gigi saffa, dan dia feel oke aja...huaaaaaa
setelah itu, nafsu makannya malah naik
"bum, kayaknya saffa mulai kecanduan daun pepaya deh..." ayah nyeletuk geli
maka, saya berkesimpulan:
kalo pilih cara sapih ya mestinya yang berkorelasi negatip ya
dan kayaknya, untuk subjek saffa, korelasi ASI dan daun pepaya positip ya
coba saya cari objek penelitian lain untuk dikorelasikan lagi
Senin, 15 September 2008
sistem informasi kependudukan itu sangat meyakinkan

anda penduduk indonesia? saya juga
apa buktinya? saya punya KTP, anda?
saya benar-benar penduduk jawa lho, apa buktinya?
saya punya KTP banten, KTP jawa tengah sekaligus KTP Jogjakarta
anda lahir di indonesia? saya iya
apa buktinya? saya punya akte kelahiran, anda?
saya benar2 lahir di indonesia, meskipun lahir pada dua tahun berbeda :)
yah, karena tuntutan kebutuhan masuk sekolah
maklum, saya ini pemaksa masuk sekolah, maka dibuatlah penuaan tahun di akta saya yang baru itu
siang itu, karena urusan paspor saffa yang ternyata ndak semudah memfotokopi dokumen yang ada di rumah saja, saya pergilah ke kelurahan, dengan sedikit bingung, dengan sedikit aneh, untuk mengurus surat keterangan domisili untuk saffa
cerita out of context ya..
pas saya nyampe kelurahan, tuh kantor, kosong blong, gak ada petugas blas
ada petugas, tapi ndak bisa bantu saya karena tugasnya dia ya bukan itu kali ya
yang ada bapak lurah yang ramah nian..memanggilkan bawahannya via sms
nuwun njih pak
maka dimulailah pembicaraan kami
"saya heran pak, kenapa saya juga harus bikin surat keterangan domisili, padahal anak saya kan udah masuk KK"
"yang masuk KK kan belum tentu tinggal disini bu"
"lha KK kan mempengaruhi dia bisa dapet KTP atau ndak. nanti jangan2 ada orang yang punya KTP dobel, pas pemilu gawat tuh"
"ndak bisa bu, sekarang ada sistem informasinya"
"lha kalo nama saya ada di KK dimana-mana, apa bisa ditelusur?"
"oh pasti bisa bu"
saya hanya tersenyum. sebegitu yakin nya kah para petugas itu? siapa yang tega meyakinkan mereka bahwa kebocoran sistem informasi itu nol.
ah, bapak itu tidak pake tanya dulu sih.
coba tanya berapa KTP di dompet saya
coba tanya berapa akta kelahiran saya di map yang saya bawa
Minggu, 14 September 2008
menghitung hari
mari membuat asosiasi mengenai menghitung hari
apakah lagunya krisdayanti
ato lagunya kak saffa : senin, selasa, rabu, kamis
tidak..tidak, tidak keduanya
saya hanya sedang menghitung hari
menghitung kesiapan diri
lahir dan batin
saya menghitung2 kemandirian yang telah saya punya
saya menghitung2 kepercayaan diri yang saya punya
saya menghitung2 keterampilan yang ada
saya menghitung2 modal sabar saya
suami saya bertanya "sebenernya bum siap gak sih ditinggal ayah bulan depan?"
"lha ayah ini, kalo ditanya, bum bilang gak siap, namanya gak tanggungjawab. ini kan perjuangan, kalo bum bilang gak siap, sama saja bum merusak rencana keluarga kita. bukan rencana ayah aja, tapi rencana keluarga"
saya yang belum lulus ini, saya yang belum bisa nyetir ini
huaaaaa
suatu kali saya bilang sama suami saya, ini sungguh2 keluar dari pikiran saya
karena suami saya sedikit heran melihat saya tenang2
"lha ayah pikir ibu juga tenang, ya ndak no. kepikiran juga, tapi yo gimana. bum percaya aja bahwa akan datang pertolongan dari Allah, entah gimana caranya untuk nyuport kehidupan bum dan kak disini"
apakah lagunya krisdayanti
ato lagunya kak saffa : senin, selasa, rabu, kamis
tidak..tidak, tidak keduanya
saya hanya sedang menghitung hari
menghitung kesiapan diri
lahir dan batin
saya menghitung2 kemandirian yang telah saya punya
saya menghitung2 kepercayaan diri yang saya punya
saya menghitung2 keterampilan yang ada
saya menghitung2 modal sabar saya
suami saya bertanya "sebenernya bum siap gak sih ditinggal ayah bulan depan?"
"lha ayah ini, kalo ditanya, bum bilang gak siap, namanya gak tanggungjawab. ini kan perjuangan, kalo bum bilang gak siap, sama saja bum merusak rencana keluarga kita. bukan rencana ayah aja, tapi rencana keluarga"
saya yang belum lulus ini, saya yang belum bisa nyetir ini
huaaaaa
suatu kali saya bilang sama suami saya, ini sungguh2 keluar dari pikiran saya
karena suami saya sedikit heran melihat saya tenang2
"lha ayah pikir ibu juga tenang, ya ndak no. kepikiran juga, tapi yo gimana. bum percaya aja bahwa akan datang pertolongan dari Allah, entah gimana caranya untuk nyuport kehidupan bum dan kak disini"
Minggu, 07 September 2008
gadis kecil itu bernama saffa
yang ini full cerita narsis seorang ibu tentang anaknya, saya sungguh bangga pada gadis kecil ini
ya dia sekarang gadis kecil, padahal dulu bayi kurus, 2,5kg
gadis itu selalu saya sebut sebagai anak sholihah, cantik, cerdas, apapun sebutan terbaik untuk seorang anak dari ortunya
begini cerita narsisnya:
1. usianya baru saja 20 bulan, dia pede betul untuk main ke rumah temannya yang jaraknya sekitar 4 rumah, sendirian tanpa ditemani, bahkan saat usianya baru 18/19 bulan, ketika diminta untuk memanggil becak untuk mbah nya, pergilah dia ke ujung jalan, sekitar 25 meter dari rumah kami, tinggallah kami yang kelabakan mengejar2nya
2. saya sungguh senang, ucapan terimakasih begitu cantik dan lancar diucapkannya (tanpa diminta lho) setiap kali diberikan sesuatu oleh orang lain
3. saya sungguh bangga, dia begitu sayang dan empatik pada teman dan adik kecil yang ada di sekelilingnya. misal ada yang menangis, pasti langsung dielusnya, atau ada adik kecil, dan di sebelahnya ada botol susu, pasti langsung disodorkannya
4. sejak 1,5 tahun, saffa sudah bisa menyimpan baju kotornya di tempat semestinya
5. saffa sekarang sudah mandiri sekali, terutama sejak kami tidak memakai jasa pengasuh, dia sudah bisa makan sendiri. kalau ada yang kotor karena makanan jatuh atau berantakan, otomatis minta tissue untuk ngelap
ah, saffa sayang, semoga Allah selalu melimpahkan rahmah dan berkahnya padamu nak, semoga menjadi anak sholihah, cerdas dan berguna bagi orang lain, amien
ya dia sekarang gadis kecil, padahal dulu bayi kurus, 2,5kg
gadis itu selalu saya sebut sebagai anak sholihah, cantik, cerdas, apapun sebutan terbaik untuk seorang anak dari ortunya
begini cerita narsisnya:
1. usianya baru saja 20 bulan, dia pede betul untuk main ke rumah temannya yang jaraknya sekitar 4 rumah, sendirian tanpa ditemani, bahkan saat usianya baru 18/19 bulan, ketika diminta untuk memanggil becak untuk mbah nya, pergilah dia ke ujung jalan, sekitar 25 meter dari rumah kami, tinggallah kami yang kelabakan mengejar2nya
2. saya sungguh senang, ucapan terimakasih begitu cantik dan lancar diucapkannya (tanpa diminta lho) setiap kali diberikan sesuatu oleh orang lain
3. saya sungguh bangga, dia begitu sayang dan empatik pada teman dan adik kecil yang ada di sekelilingnya. misal ada yang menangis, pasti langsung dielusnya, atau ada adik kecil, dan di sebelahnya ada botol susu, pasti langsung disodorkannya
4. sejak 1,5 tahun, saffa sudah bisa menyimpan baju kotornya di tempat semestinya
5. saffa sekarang sudah mandiri sekali, terutama sejak kami tidak memakai jasa pengasuh, dia sudah bisa makan sendiri. kalau ada yang kotor karena makanan jatuh atau berantakan, otomatis minta tissue untuk ngelap
ah, saffa sayang, semoga Allah selalu melimpahkan rahmah dan berkahnya padamu nak, semoga menjadi anak sholihah, cerdas dan berguna bagi orang lain, amien
"heart" dalam bisnis
ah, lagi-lagi kami dipintari oleh orang pintar
yang ini sungguh2 orang pintar
dulu kami pernah dipintari orang yang pintar berbicara semata
menyentuh kami dengan nilai2 kekeluargaan yang membuat kami percaya
sekarang kami dipintari oleh lulusan amerika
sungguh2 lulusan amerika! doktor! seorang dosen, mantan kajur di sebuah fakultas di universitas negeri tertua di kota kami
sungguh2 pintar!
saya sungguh2 dibuat melek tentang kompetensi justru karena dia
karena kompetensi punya 3 hal penting katanya, head, hand dan heart
lha, urusan bisnis sama orang pintar ini ya pasti sudah memenuhi dua aspek pertama
head tidaklah diragukan, hand apalagi, punya perusahaan sendiri bertahun2, mampu bermitra denga pihak asing, wuuihh
sayangnya, saya tidak yakin heart nya dipakai dalam berbisnis
ah, lagi2 saya baru sadar bisnis tidak mudah
dan jangan2 memang bisnis bukan bidang orang2 bodoh seperti kami ini
orang2 naif
tapi, masak kita harus segitu pintarnya untuk bisa berbisnis? pintar berkelit maksudnya
tak paham saya...
ada yang paham?
saya geli sendiri teringat mengenai perkataan saya pada ayah bahwa bisnis kali ini harus ada hitam di atas putih
wuih, ternyata gak ada ngaruh
ada yang mau bawa ke pengadilan untuk sejumlah finansial yang bagi sebagian orang tidak bermakna ini? namanya bodoh, lha wong biaya mengkasuskannya saja bisa lebih besar lagi
lagi-lagi, bisnis memang butuh heart
nurani dan integrity
bisnis tidak hanya sekedar mempertaruhkan dunia
tapi juga mempertaruhkan wajah kita di depan Allah
yang ini sungguh2 orang pintar
dulu kami pernah dipintari orang yang pintar berbicara semata
menyentuh kami dengan nilai2 kekeluargaan yang membuat kami percaya
sekarang kami dipintari oleh lulusan amerika
sungguh2 lulusan amerika! doktor! seorang dosen, mantan kajur di sebuah fakultas di universitas negeri tertua di kota kami
sungguh2 pintar!
saya sungguh2 dibuat melek tentang kompetensi justru karena dia
karena kompetensi punya 3 hal penting katanya, head, hand dan heart
lha, urusan bisnis sama orang pintar ini ya pasti sudah memenuhi dua aspek pertama
head tidaklah diragukan, hand apalagi, punya perusahaan sendiri bertahun2, mampu bermitra denga pihak asing, wuuihh
sayangnya, saya tidak yakin heart nya dipakai dalam berbisnis
ah, lagi2 saya baru sadar bisnis tidak mudah
dan jangan2 memang bisnis bukan bidang orang2 bodoh seperti kami ini
orang2 naif
tapi, masak kita harus segitu pintarnya untuk bisa berbisnis? pintar berkelit maksudnya
tak paham saya...
ada yang paham?
saya geli sendiri teringat mengenai perkataan saya pada ayah bahwa bisnis kali ini harus ada hitam di atas putih
wuih, ternyata gak ada ngaruh
ada yang mau bawa ke pengadilan untuk sejumlah finansial yang bagi sebagian orang tidak bermakna ini? namanya bodoh, lha wong biaya mengkasuskannya saja bisa lebih besar lagi
lagi-lagi, bisnis memang butuh heart
nurani dan integrity
bisnis tidak hanya sekedar mempertaruhkan dunia
tapi juga mempertaruhkan wajah kita di depan Allah
Senin, 01 September 2008
saya dan saffa, berdua saja
senang betul saya ketemu lagi dengan internet dengan mudah nya setelah berpisah sekian lama, sehingga merasa sungguh2 out of date banget, hehe
saya sampe punya simpenan postingan, tapi yang ini bukan simpenan
tiga hari sudah saya dan suami memegang saffa berdua tanpa dibantu pengasuh
apa sebab? kami memutuskan mandiri, trauma, juga kami pikir saffa sudah cukup gede untuk bisa dimasukan ke "lembaga bermain" yang lebih aman dan edukatif timbangannya saya tinggal di rumah berdua sajah bersama pengasuh
maka, apa yang terjadi, pontang panting lah kami berdua dibuat saffa, terutama selama beberapa hari ini sebelum dimasukan ke lembaga tersebut, yang masih liburan awal puasa
saffa tipikal anak yang sangat aktif, rasa ingin tahunya besar, dan lincah
maka, jangan harapkan dia berhenti sebentar saja, okelah kalo sebentar saja dia bisa berhenti, tapi kalau lebih dikit aja dari sebentar, bisa sutris dia
ketika kembali ke jogja tiga hari lalu, nekat betul saya membawanya tanpa suami (suami saya ndak njemput)
maka, terjadilah berbagai insiden
yang berakhir dengan kepala keliyengan, dan tangan kanan saya yang pegel2 sampe sekarang aja belom sembuh, heayalah nak..nak..
apa sebab, saffa gak tahan antrian untuk check in, maklum sabtu, kalo dilepas, pasti anak semata wayang ini bisa hilang dong, maka digendonglah, apa yang terjadi, ya begitulah, nggelusur minta turun
pas di pesawat,dan kebosanannya pun mulai timbul, dimulai dengan gerakan tangan terarah
yup, melepas stiker bangku depan kami "ka...ka..."maksudnya dia minta dibantu untuk membuka
"huaaa..kak jangan, dimarahin tante pramugari itu loh ntar"
berikutnya tiba2 "yun..yun.."
saffa minta turun dari ketinggian segitu kilo meter, huaaaa. itu tandanya kebosanan sampai pada titik puncaknya
"duh nak, ini bukan bis, jadi kak gak bisa minta turun sembarangan"
saya sampe punya simpenan postingan, tapi yang ini bukan simpenan
tiga hari sudah saya dan suami memegang saffa berdua tanpa dibantu pengasuh
apa sebab? kami memutuskan mandiri, trauma, juga kami pikir saffa sudah cukup gede untuk bisa dimasukan ke "lembaga bermain" yang lebih aman dan edukatif timbangannya saya tinggal di rumah berdua sajah bersama pengasuh
maka, apa yang terjadi, pontang panting lah kami berdua dibuat saffa, terutama selama beberapa hari ini sebelum dimasukan ke lembaga tersebut, yang masih liburan awal puasa
saffa tipikal anak yang sangat aktif, rasa ingin tahunya besar, dan lincah
maka, jangan harapkan dia berhenti sebentar saja, okelah kalo sebentar saja dia bisa berhenti, tapi kalau lebih dikit aja dari sebentar, bisa sutris dia
ketika kembali ke jogja tiga hari lalu, nekat betul saya membawanya tanpa suami (suami saya ndak njemput)
maka, terjadilah berbagai insiden
yang berakhir dengan kepala keliyengan, dan tangan kanan saya yang pegel2 sampe sekarang aja belom sembuh, heayalah nak..nak..
apa sebab, saffa gak tahan antrian untuk check in, maklum sabtu, kalo dilepas, pasti anak semata wayang ini bisa hilang dong, maka digendonglah, apa yang terjadi, ya begitulah, nggelusur minta turun
pas di pesawat,dan kebosanannya pun mulai timbul, dimulai dengan gerakan tangan terarah
yup, melepas stiker bangku depan kami "ka...ka..."maksudnya dia minta dibantu untuk membuka
"huaaa..kak jangan, dimarahin tante pramugari itu loh ntar"
berikutnya tiba2 "yun..yun.."
saffa minta turun dari ketinggian segitu kilo meter, huaaaa. itu tandanya kebosanan sampai pada titik puncaknya
"duh nak, ini bukan bis, jadi kak gak bisa minta turun sembarangan"
Sabtu, 30 Agustus 2008
Kisah itu bertajuk “Cooking with love”
Saya, anda, baik istri, suami, anak, cucu, nenek, kakek dan apapun perannya, kita melakukan sesuatu dengan niat
karena niat lah konstruk terdekat dengan perilaku nyata
dan saya percaya bahwa :
“Memasak itu dengan niat bukan? niat dengan muatan tertentu”
tapi sayangnya memasak itu bukan hobi saya, bukan keahlian saya
tapi, dengan niat membahagiakan suami dan anak, supaya mereka dapat asupan bergizi, tanpa penyedap dan pengawet, mulailah niat saya untuk memasak, dan lewat tulisan bunda inong lah niat saya terealisasikan
dia tidak sekedar mengajari saya memasak, tapi juga mengajarkan muatan apa yang perlu selalu kita sertakan dalam memasak
tulus dan kasih sayang
bunda inong tidak berhenti disitu
saya belajar tentang komitmen sebagai perempuan, istri dan ibu
bunda inong yang semakin meyakinkan saya, perempuan cerdas tidak harus selalu menghabiskan waktunya di kantor
dan saya sungguh terkagum2 melihat banyaknya sahabat bunda yang begitu menyayang dan mengenang beliau
saya yakin, semua itu hanyalah sebuah akibat dari niat
niat yang bermuatan, tidak sulit, tidak berat, muatan itu bernama : CINTA
maka, jika saya katakan bunda inong mengajarkan banyak hal, itu adalah amal jariyahnya, karena beliau mengajarkan saya melalui tulisan-tulisannya, dan saya baru membacanya setelah beliau tiada
sekarang saya juga paham, bahwa cara untuk beramal jariyah, bukan hanya lewat sumbangan ke mesjid, tapi ada berbagai cara sederhana, cukup dibumbui dengan muatan CINTA
maka, jika kisah kehidupan bunda inong dianalogikan sebagai proses memasak, dan masakan yang enak dianalogikan sebagai kenangan indah yang ditinggalkan tentang kehidupan seorang manusia. sungguh bunda inong telah berhasil
cantiklah kiranya persembahan ini bertajuk “COOKING WITH LOVE”
karena niat lah konstruk terdekat dengan perilaku nyata
dan saya percaya bahwa :
“Memasak itu dengan niat bukan? niat dengan muatan tertentu”
tapi sayangnya memasak itu bukan hobi saya, bukan keahlian saya
tapi, dengan niat membahagiakan suami dan anak, supaya mereka dapat asupan bergizi, tanpa penyedap dan pengawet, mulailah niat saya untuk memasak, dan lewat tulisan bunda inong lah niat saya terealisasikan
dia tidak sekedar mengajari saya memasak, tapi juga mengajarkan muatan apa yang perlu selalu kita sertakan dalam memasak
tulus dan kasih sayang
bunda inong tidak berhenti disitu
saya belajar tentang komitmen sebagai perempuan, istri dan ibu
bunda inong yang semakin meyakinkan saya, perempuan cerdas tidak harus selalu menghabiskan waktunya di kantor
dan saya sungguh terkagum2 melihat banyaknya sahabat bunda yang begitu menyayang dan mengenang beliau
saya yakin, semua itu hanyalah sebuah akibat dari niat
niat yang bermuatan, tidak sulit, tidak berat, muatan itu bernama : CINTA
maka, jika saya katakan bunda inong mengajarkan banyak hal, itu adalah amal jariyahnya, karena beliau mengajarkan saya melalui tulisan-tulisannya, dan saya baru membacanya setelah beliau tiada
sekarang saya juga paham, bahwa cara untuk beramal jariyah, bukan hanya lewat sumbangan ke mesjid, tapi ada berbagai cara sederhana, cukup dibumbui dengan muatan CINTA
maka, jika kisah kehidupan bunda inong dianalogikan sebagai proses memasak, dan masakan yang enak dianalogikan sebagai kenangan indah yang ditinggalkan tentang kehidupan seorang manusia. sungguh bunda inong telah berhasil
cantiklah kiranya persembahan ini bertajuk “COOKING WITH LOVE”
Selasa, 22 Juli 2008
cerita tentang perempuan-perempuan
3 hari ini saya disuguhi cerita tentang dua perempuan
Perempuan pertama punya suami yang depresi berat
suami nya itu mantan tentara, diabetes, jarinya sudah hilang beberapa bagian karena harus amputasi
trus sampai disini, apa yang seringkali akan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? “sabar ya bu..sabar..”
ternyata cerita ini tidak sampai disitu
si suami bahkan sejak belum pensiun jarang sekali memberikan uang makan dari gajinya
alih-alih ikut prihatin atas gajinya yang tidak/kurang mencukupi, si suami lebih suka makan sendiri di warung padang
si suami suka sekali dipijit sepanjang malam. jika sedetik saja si istri berhenti memijit, maka dia akan terbangun dan marah-marah
si suami seringkali mengeluarkan kata kasar dan menghina si istri
sekarang
si suami seringkali keluar masuk RS karena diabetesnya itu
apa yang didapat si istri? kata kasar, dan dipermalukan
apa sebab? si suami minta pulang dari RS dan bentuk ngambeknya dengan telanjang keluar kamar RS
trus sampai disini, apa kan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? *isilah titik-titik di bawah ini*
.....................................................................
kalau saya sederhana :
apa yang dicari si istri dari pernikahan itu?
apakah kebahagiaan lahir? dia dapat?
apakah kebahagiaan batin? dia dapat?
apakah pahala dari uji kesabaran? dia dapat?
pernikahan seperti timbangan, tidak bisa berat sebelah. kadangkala kita begitu egois untuk meminta pemahaman, pengertian, atau apalah bahasa semacam itu. atau kadangkala kita pada posisi diminta pemahaman, pengertian, dan seterusnya. jika tidak seimbang terus, lama-lama timbangan yang satu akan jatuh, mungkin pecah, mungkin patah. seperti pundak kita yang terus dibebani sebelah saja, bisa-bisa nyeri otot.
saya baru saja membaca buku paulo coelho. disindirnya bahwa manusia hidup seringkali hanya mempertimbangkan harapan masyarakat kepadanya, bahkan dia tidak tahu apa yang diinginkan. saya khawatir perempuan yang ini begitu. saya sungguh khawatir dia adalah timbangan yang rentan pecah dan patah itu, dan dia adalah bagian bahu yang harus menanggung nyeri otot selamanya.
memang begitu siklus KDRT, korban terus ditekan sehingga mempersepsi dirinya bahwa dia tidak mampu hidup sendiri, bahwa masih ada harapan di depan. padahal dia telah menunggu harapan itu selama lebih dari 20 tahun. ah..bagaimana dia menyimpan harapan itu lama sekali tanpa ada expired date nya?
kalau masalah mampu berdiri sendiri itu masalah materi, saya yakin betul perempuan ini mampu, karena seumur-umur dia berdagang untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. beda lagi kalau pertimbangan figur suami atau figur ayah yang mungkin akan hilang. tapi kembali lagi, figur suami dan ayah seperti apa? apakah kelengkapan itu akan menjamin kesehatan mental bagi keluarga? kalau urusannya hanya kelengkapan dan bukan kualitas figur, rasanya oke sajalah pilihan bersama itu. tapi kan tidak sesederhana itu. apakah anak akan diminta terus mendengar kata-kata kasar dari figur ayah? aahhh...silahkan dipikirkan bersama
perempuan kedua datang dari keluarga tidak mampu
usianya 24 tahun an. lulusan SMU dan belum bekerja
ibu nya harus membiayai kehidupan mereka dari berjualan genjer (=sayuran apa ya?hihi) yang hasilnya tidak seberapa
sampai disini apa yang akan kita katakan? “kasihan...”
si anak perempuan itu tidak suka berkotor-kotor membantu ibunya
sampai disini apa yang akan kita katakan? “dasar anak yang gak punya belas kasihan sama ortu..”
si anak perempuan itu punya pacar, lelaki setengah baya, sipir penjara. lelaki itu sudah menikah dan punya 3 orang anak.
suka sekali perempuan itu padanya
menyerahkan kehormatannya pada laki-laki itu, berulang kali
mempertontonkan “kemesraan” di tempat umum
berharap dinikahi meskipun dia tahu si lelaki sudah berkeluarga
senang sekali diberi materi
cinta sekali si perempuan ini pada si lelaki, catat :CINTA!!
dan dengan gampang menilai si lelaki adalah lelaki baik
baik? baik seperti apa?
baik karena si lelaki memberinya uang 50 ribu sebulan? lumayanlah karena si perempuan belum kerja?
baik karena si lelaki berjanji menikahinya?
baik karena mengira si lelaki hanya “setia” padanya?
hahaha...sini saya kasih tahu bahwa si lelaki pernah merayu sahabatnya sendiri!!
biar sampai sini, saya saja yang bilang “PEREMPUAN BODOH!!!”
mungkin persepsi itu akan tetap seperti itu, sampai si lelaki menjadi suaminya...setelah itu, saya tidak yakin persepsi itu akan bertahan
tidak seperti barang elektronik yang memberi jaminan 1 tahun, pada kasus ini tidak ada jaminan bahwa lelaki itu tidak akan memperlakukannya seperti dia memperlakukan istrinya
ah, perempuan seperti ini, harus disalahkan?
saya tidak berpikir juga begitu. anda tidak dapat bertepuk tangan kan, kalo tangan anda hanya satu? maka hubungan ini tidak akan terjadi hanya karena si perempuan yang bodoh, tapi juga karena si lelaki yang tidak bertanggungjawab
seperti saya selalu bilang “jangan cuma salahin dan benci sama mayang...itu si bambang juga salah, dan mestinya dia memang gak pantes untuk halimah, jadi yo wis, ikhlasin aja cerai. toh kalau teteup aja dipaksain nyambung, si bambang gak ikhlas juga, halimah gak nyaman secara batin” *hush...nggosip kan???? STOP!!*
Allah telah memberi kita kelengkapan yang tiada tara : RASIO dan HATI
cinta tidak berhenti pada hati. hati punya nurani, silahkan tanyakan padanya. cinta juga butuh pertimbangan rasio, silahkan tanya padanya
kalau kebutuhan materi berhenti pada rasio. rasio juga bagian kecerdasan, yang memberikan kita berbagai alternatif dari pilihan yang bisa dibuat. masak iya cari materi cuma dengan cara macarin suami orang? materi juga butuh hati dan nurani, silahkan tanyakan padanya, materi seperti apa yang halal?
Perempuan pertama punya suami yang depresi berat
suami nya itu mantan tentara, diabetes, jarinya sudah hilang beberapa bagian karena harus amputasi
trus sampai disini, apa yang seringkali akan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? “sabar ya bu..sabar..”
ternyata cerita ini tidak sampai disitu
si suami bahkan sejak belum pensiun jarang sekali memberikan uang makan dari gajinya
alih-alih ikut prihatin atas gajinya yang tidak/kurang mencukupi, si suami lebih suka makan sendiri di warung padang
si suami suka sekali dipijit sepanjang malam. jika sedetik saja si istri berhenti memijit, maka dia akan terbangun dan marah-marah
si suami seringkali mengeluarkan kata kasar dan menghina si istri
sekarang
si suami seringkali keluar masuk RS karena diabetesnya itu
apa yang didapat si istri? kata kasar, dan dipermalukan
apa sebab? si suami minta pulang dari RS dan bentuk ngambeknya dengan telanjang keluar kamar RS
trus sampai disini, apa kan kita sampaikan pada perempuan itu tentang kondisi yang harus dihadapinya? *isilah titik-titik di bawah ini*
.....................................................................
kalau saya sederhana :
apa yang dicari si istri dari pernikahan itu?
apakah kebahagiaan lahir? dia dapat?
apakah kebahagiaan batin? dia dapat?
apakah pahala dari uji kesabaran? dia dapat?
pernikahan seperti timbangan, tidak bisa berat sebelah. kadangkala kita begitu egois untuk meminta pemahaman, pengertian, atau apalah bahasa semacam itu. atau kadangkala kita pada posisi diminta pemahaman, pengertian, dan seterusnya. jika tidak seimbang terus, lama-lama timbangan yang satu akan jatuh, mungkin pecah, mungkin patah. seperti pundak kita yang terus dibebani sebelah saja, bisa-bisa nyeri otot.
saya baru saja membaca buku paulo coelho. disindirnya bahwa manusia hidup seringkali hanya mempertimbangkan harapan masyarakat kepadanya, bahkan dia tidak tahu apa yang diinginkan. saya khawatir perempuan yang ini begitu. saya sungguh khawatir dia adalah timbangan yang rentan pecah dan patah itu, dan dia adalah bagian bahu yang harus menanggung nyeri otot selamanya.
memang begitu siklus KDRT, korban terus ditekan sehingga mempersepsi dirinya bahwa dia tidak mampu hidup sendiri, bahwa masih ada harapan di depan. padahal dia telah menunggu harapan itu selama lebih dari 20 tahun. ah..bagaimana dia menyimpan harapan itu lama sekali tanpa ada expired date nya?
kalau masalah mampu berdiri sendiri itu masalah materi, saya yakin betul perempuan ini mampu, karena seumur-umur dia berdagang untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. beda lagi kalau pertimbangan figur suami atau figur ayah yang mungkin akan hilang. tapi kembali lagi, figur suami dan ayah seperti apa? apakah kelengkapan itu akan menjamin kesehatan mental bagi keluarga? kalau urusannya hanya kelengkapan dan bukan kualitas figur, rasanya oke sajalah pilihan bersama itu. tapi kan tidak sesederhana itu. apakah anak akan diminta terus mendengar kata-kata kasar dari figur ayah? aahhh...silahkan dipikirkan bersama
perempuan kedua datang dari keluarga tidak mampu
usianya 24 tahun an. lulusan SMU dan belum bekerja
ibu nya harus membiayai kehidupan mereka dari berjualan genjer (=sayuran apa ya?hihi) yang hasilnya tidak seberapa
sampai disini apa yang akan kita katakan? “kasihan...”
si anak perempuan itu tidak suka berkotor-kotor membantu ibunya
sampai disini apa yang akan kita katakan? “dasar anak yang gak punya belas kasihan sama ortu..”
si anak perempuan itu punya pacar, lelaki setengah baya, sipir penjara. lelaki itu sudah menikah dan punya 3 orang anak.
suka sekali perempuan itu padanya
menyerahkan kehormatannya pada laki-laki itu, berulang kali
mempertontonkan “kemesraan” di tempat umum
berharap dinikahi meskipun dia tahu si lelaki sudah berkeluarga
senang sekali diberi materi
cinta sekali si perempuan ini pada si lelaki, catat :CINTA!!
dan dengan gampang menilai si lelaki adalah lelaki baik
baik? baik seperti apa?
baik karena si lelaki memberinya uang 50 ribu sebulan? lumayanlah karena si perempuan belum kerja?
baik karena si lelaki berjanji menikahinya?
baik karena mengira si lelaki hanya “setia” padanya?
hahaha...sini saya kasih tahu bahwa si lelaki pernah merayu sahabatnya sendiri!!
biar sampai sini, saya saja yang bilang “PEREMPUAN BODOH!!!”
mungkin persepsi itu akan tetap seperti itu, sampai si lelaki menjadi suaminya...setelah itu, saya tidak yakin persepsi itu akan bertahan
tidak seperti barang elektronik yang memberi jaminan 1 tahun, pada kasus ini tidak ada jaminan bahwa lelaki itu tidak akan memperlakukannya seperti dia memperlakukan istrinya
ah, perempuan seperti ini, harus disalahkan?
saya tidak berpikir juga begitu. anda tidak dapat bertepuk tangan kan, kalo tangan anda hanya satu? maka hubungan ini tidak akan terjadi hanya karena si perempuan yang bodoh, tapi juga karena si lelaki yang tidak bertanggungjawab
seperti saya selalu bilang “jangan cuma salahin dan benci sama mayang...itu si bambang juga salah, dan mestinya dia memang gak pantes untuk halimah, jadi yo wis, ikhlasin aja cerai. toh kalau teteup aja dipaksain nyambung, si bambang gak ikhlas juga, halimah gak nyaman secara batin” *hush...nggosip kan???? STOP!!*
Allah telah memberi kita kelengkapan yang tiada tara : RASIO dan HATI
cinta tidak berhenti pada hati. hati punya nurani, silahkan tanyakan padanya. cinta juga butuh pertimbangan rasio, silahkan tanya padanya
kalau kebutuhan materi berhenti pada rasio. rasio juga bagian kecerdasan, yang memberikan kita berbagai alternatif dari pilihan yang bisa dibuat. masak iya cari materi cuma dengan cara macarin suami orang? materi juga butuh hati dan nurani, silahkan tanyakan padanya, materi seperti apa yang halal?
kita kan suka sok tahu gitu....
omong-omong tentang sok tahu
semalam baru saja saya ngobrol ringan
ahhh...urusan gosip lagi...!!
saya mah milih senyum-senyum aja
kalo bisa lari tapi gak nyakitin itu orang yang lagi ngomongin orang, gimana caranya?
ah, susah betul, serba salah
“kadang perempuan itu toleransinya memang harus lebih gede ya”
“emangnya kenapa?” saya mulai nimbrung karena ini jurusan netral dikit lah
“lha itu, istrinya galak (catat:itu kata suaminya, atau ini mah kira-kira si pembicara itu saja), makanya suaminya gak mau pulang. apalagi istrinya lagi hamil 8 bulan”
hahhhh? masih si istri aja yang disalahin???lha saya tanya
“kata siapa istrinya galak?”
“ya ini mah kira-kira aja...makanya suaminya yang pengangguran itu gak mau pulang ke rumah, malah tidur di tempat kakak sepupunya”
“hehe...ya ndak bisa kira-kira dong. gak adil kan mempersepsi dan menilai orang dari perkiraan. jangankan dari perkiraan, dari satu pihak aja juga gak adil rasanya. lha suaminya bilang istrinya galak..itu kan dia aja yang ngomong, kata istrinya jangan-jangan lain lagi. rasanya gak bisa dibahas kalo gak netral gitu”
“lha kata tetangga yang lain itu juga, susah sih kalo sama-sama sumatra, keras” eiiiittttts yang orang sumatera jangan marah dulu...baca pembelaan saya ini
“ya kalo urusannya stereotip ya gak akan positif jadinya. lha kita yang orang sunda di cap matre sama orang jawa sana, apa mau? lha dulu mertua saya khawatir berat karena stereotip itu. lha yang rugi kan siapa? nah sekarang kita juga ngecap orang-orang dari suku lain dengan stereotip tertentu, ya gak bisa. misalnya nih, saya pake contoh saya aja deh. stereotip matre itu nempel erat di benak orang-orang sekitar saya yang notabene jawa. trus begitu rumah saya yang sekarang kosong blong, gak ada perabotan, mereka seenaknya bilang bahwa saya sih boros, beli kebutuhan sendiri aja, soalnya tahu dong, orang sunda kan gitu. halah...halah...ya saya pasti bete banget kan, sok tahu!! lha saya juga yakin si istri hamil 8 bulan itu juga gak suka dihakimi tanpa dia bersuara. meskipun dihakimi gak kedengeran ma dia, tapi Allah jelas gak suka”
akhirnya, saya mulai menghakimi si suami itu malah...(hihi..tersulut)
“nih yah..yang saya tahu itu cuma reputasi si suami itu. sejak belom nikah aja hobinya ngelaba, maenin perempuan, morotin perempuan punya duit, gak sopan, kasar...lha rasanya lebih pantas kan si suami itu yang dihakimi sebagai figur yang tidak bertanggungjawab..ya tapi gak tahu juga kalo sekarang dia berubah. kalo pake data yang dulu, ya lebih pantas dia yang disalahin. lagian lelaki macam apaan tuh, kecewa ma istri, malah kabur nginep tempat orang lain, apalagi istrinya udah mau ngelahirin. gila kali ya dia *saya mulai panas*. saya lebih mikir dia yang malah pantes disalahin. ah..kan mulai menghakimi orang tanpa dia dikasih kesempatan untuk bicara dan membela diri”
STOP..STOP..
saya mulai sok tahu, gak netral, dan buruknya lagi, saya tidak lebih baik dari mereka..sama aja..suka nyampurin urusan orang tanpa diminta
eiittts...ampun saya belum jadi psikolog, jadi belum kena sanksi kode etik psikolog kan?
semalam baru saja saya ngobrol ringan
ahhh...urusan gosip lagi...!!
saya mah milih senyum-senyum aja
kalo bisa lari tapi gak nyakitin itu orang yang lagi ngomongin orang, gimana caranya?
ah, susah betul, serba salah
“kadang perempuan itu toleransinya memang harus lebih gede ya”
“emangnya kenapa?” saya mulai nimbrung karena ini jurusan netral dikit lah
“lha itu, istrinya galak (catat:itu kata suaminya, atau ini mah kira-kira si pembicara itu saja), makanya suaminya gak mau pulang. apalagi istrinya lagi hamil 8 bulan”
hahhhh? masih si istri aja yang disalahin???lha saya tanya
“kata siapa istrinya galak?”
“ya ini mah kira-kira aja...makanya suaminya yang pengangguran itu gak mau pulang ke rumah, malah tidur di tempat kakak sepupunya”
“hehe...ya ndak bisa kira-kira dong. gak adil kan mempersepsi dan menilai orang dari perkiraan. jangankan dari perkiraan, dari satu pihak aja juga gak adil rasanya. lha suaminya bilang istrinya galak..itu kan dia aja yang ngomong, kata istrinya jangan-jangan lain lagi. rasanya gak bisa dibahas kalo gak netral gitu”
“lha kata tetangga yang lain itu juga, susah sih kalo sama-sama sumatra, keras” eiiiittttts yang orang sumatera jangan marah dulu...baca pembelaan saya ini
“ya kalo urusannya stereotip ya gak akan positif jadinya. lha kita yang orang sunda di cap matre sama orang jawa sana, apa mau? lha dulu mertua saya khawatir berat karena stereotip itu. lha yang rugi kan siapa? nah sekarang kita juga ngecap orang-orang dari suku lain dengan stereotip tertentu, ya gak bisa. misalnya nih, saya pake contoh saya aja deh. stereotip matre itu nempel erat di benak orang-orang sekitar saya yang notabene jawa. trus begitu rumah saya yang sekarang kosong blong, gak ada perabotan, mereka seenaknya bilang bahwa saya sih boros, beli kebutuhan sendiri aja, soalnya tahu dong, orang sunda kan gitu. halah...halah...ya saya pasti bete banget kan, sok tahu!! lha saya juga yakin si istri hamil 8 bulan itu juga gak suka dihakimi tanpa dia bersuara. meskipun dihakimi gak kedengeran ma dia, tapi Allah jelas gak suka”
akhirnya, saya mulai menghakimi si suami itu malah...(hihi..tersulut)
“nih yah..yang saya tahu itu cuma reputasi si suami itu. sejak belom nikah aja hobinya ngelaba, maenin perempuan, morotin perempuan punya duit, gak sopan, kasar...lha rasanya lebih pantas kan si suami itu yang dihakimi sebagai figur yang tidak bertanggungjawab..ya tapi gak tahu juga kalo sekarang dia berubah. kalo pake data yang dulu, ya lebih pantas dia yang disalahin. lagian lelaki macam apaan tuh, kecewa ma istri, malah kabur nginep tempat orang lain, apalagi istrinya udah mau ngelahirin. gila kali ya dia *saya mulai panas*. saya lebih mikir dia yang malah pantes disalahin. ah..kan mulai menghakimi orang tanpa dia dikasih kesempatan untuk bicara dan membela diri”
STOP..STOP..
saya mulai sok tahu, gak netral, dan buruknya lagi, saya tidak lebih baik dari mereka..sama aja..suka nyampurin urusan orang tanpa diminta
eiittts...ampun saya belum jadi psikolog, jadi belum kena sanksi kode etik psikolog kan?
Minggu, 20 Juli 2008
cerita dari bis
tuh kan, rusak deh kalo saya udah mulai nulis satu, urusan analisis ini jadi pengangguran dan jadi urusan dan tanggung jawab negara, kayak pasal 34 (bener ndak ya?)
ini cuma cerita saya dari bis, pas jadi ibu semi durhaka beberapa hari lalu karena ninggal anaknya sendiri di Serang, sementara saya mengejar sesuatu di jogja
liburan ini membuat panen uang buat bis antar kota
bis nya penuh..nuh..sampe kursi istirahat supir yang paling belakang itu aja dijual, yang gila lagi kursi kernet yang di sebelah supir juga dijual
nasib..nasib...
alhamdulillah bukan nasib saya
karena saya masih kebagian tempat duduk penumpang meskipun di aku nomor-nomor bukan pilihan
maka dimulailah perjalanan saya pulang pergi dalam waktu tiga hari dua malam itu
sungguh saya merindukan malam di jogja
gimana gak, lha saya nyampe jogja jam 6 pagi, siang jam 3 dah pulang lagi..
tapi jelas-jelas saya lebih merindukan saffa dong
saat pergi saya sekursi dengan seorang ayah muda yang baru punya bayi usia 6 bulan
seru juga ngobrolin anak, melihat dari versi bapak
bapak-bapak juga ternyata bisa kangen lho sama anaknya..hihihi
ah..jadi inget ayah yang udah setengah bulan ini gak ketemu saffa
lebih seru lagi saat balik dari yk
pertama, saya sekursi dengan perempuan luar biasa, seorang guru TK. suaminya wafat saat anak-anaknya masih kecil-kecil karena kecelakaan. membesarkan tiga anak sendirian, dan tetap setia menjaga mereka sendirian, tak tergoyahkan untuk menikah lagi. sekarang anaknya udah SMU semua, minta sekolah di yk. jadilah si ibu sendirian di rumah.
kedua, posisi kursi saya yang begitu nyamannya, dekat dengan speaker bis membuat saya mendengar blending musik yang asik sama sekali tidak enak saat malam hari. si supir memilihkan lagu broeri dan dewi yull dengan lagunya yang mendayu2...disaat mereka mendayu, sayup namun jelas, seseorang yang rupanya tak nyaman sama sekali dengan musik itu memilih menyalakan musiknya sendiri..buruknya lagi dia duduk di kursi depan saya. kalau masalah musik, mungkin saya memilih musik yang diputarnya : GIGI-11 Januari. tapi kalau dicampur apa jadi enak ya?
jadilah saya memilih lagu accapella yang dinyanyikan ibu-ibu yang duduk di belakang saya. lagunya dMassive versi baru gini : “kau membuat ku bahagia...dst..” karena ini versi baru dan tidak beredar di pasaran, saya sungguh tidak ingat lengkap. kalau saya disuruh jadi komentator kenapa saya milih lagu ini *dengan bergaya sok jadi titi DJ di Indonesian Idol* saya akan bilang “ibu sungguh menjiwai lagu ini”
lha gimana ndak, lha wong dia nyanyiin buat anaknya yang lagi didekapnya dengan penuh sayang *kira-kira begitu*
blending terakhir yang saya dengar : suaminya si ibu yang nyanyi itu muntah-muntah (kenapa???apa gara-gara si ibu nyanyi??))
jangan suudzon atuh..kita kan lewat nagrek, jadinya jalannya mulak-malik..
ketiga, bis saya macet pas mau masuk cikampek selama hampir 2 jam
sayup-sayup “selangnya putus” gitu kata pak supir
dan suami saya berpesan “jangan tidur, takut kebakar...”
jadilah sampai di serang, saya terkena demam, disertai mual-mual
penyebabnya..silahkan dianalisa dianalisis sendiri
ini cuma cerita saya dari bis, pas jadi ibu semi durhaka beberapa hari lalu karena ninggal anaknya sendiri di Serang, sementara saya mengejar sesuatu di jogja
liburan ini membuat panen uang buat bis antar kota
bis nya penuh..nuh..sampe kursi istirahat supir yang paling belakang itu aja dijual, yang gila lagi kursi kernet yang di sebelah supir juga dijual
nasib..nasib...
alhamdulillah bukan nasib saya
karena saya masih kebagian tempat duduk penumpang meskipun di aku nomor-nomor bukan pilihan
maka dimulailah perjalanan saya pulang pergi dalam waktu tiga hari dua malam itu
sungguh saya merindukan malam di jogja
gimana gak, lha saya nyampe jogja jam 6 pagi, siang jam 3 dah pulang lagi..
tapi jelas-jelas saya lebih merindukan saffa dong
saat pergi saya sekursi dengan seorang ayah muda yang baru punya bayi usia 6 bulan
seru juga ngobrolin anak, melihat dari versi bapak
bapak-bapak juga ternyata bisa kangen lho sama anaknya..hihihi
ah..jadi inget ayah yang udah setengah bulan ini gak ketemu saffa
lebih seru lagi saat balik dari yk
pertama, saya sekursi dengan perempuan luar biasa, seorang guru TK. suaminya wafat saat anak-anaknya masih kecil-kecil karena kecelakaan. membesarkan tiga anak sendirian, dan tetap setia menjaga mereka sendirian, tak tergoyahkan untuk menikah lagi. sekarang anaknya udah SMU semua, minta sekolah di yk. jadilah si ibu sendirian di rumah.
kedua, posisi kursi saya yang begitu nyamannya, dekat dengan speaker bis membuat saya mendengar blending musik yang asik sama sekali tidak enak saat malam hari. si supir memilihkan lagu broeri dan dewi yull dengan lagunya yang mendayu2...disaat mereka mendayu, sayup namun jelas, seseorang yang rupanya tak nyaman sama sekali dengan musik itu memilih menyalakan musiknya sendiri..buruknya lagi dia duduk di kursi depan saya. kalau masalah musik, mungkin saya memilih musik yang diputarnya : GIGI-11 Januari. tapi kalau dicampur apa jadi enak ya?
jadilah saya memilih lagu accapella yang dinyanyikan ibu-ibu yang duduk di belakang saya. lagunya dMassive versi baru gini : “kau membuat ku bahagia...dst..” karena ini versi baru dan tidak beredar di pasaran, saya sungguh tidak ingat lengkap. kalau saya disuruh jadi komentator kenapa saya milih lagu ini *dengan bergaya sok jadi titi DJ di Indonesian Idol* saya akan bilang “ibu sungguh menjiwai lagu ini”
lha gimana ndak, lha wong dia nyanyiin buat anaknya yang lagi didekapnya dengan penuh sayang *kira-kira begitu*
blending terakhir yang saya dengar : suaminya si ibu yang nyanyi itu muntah-muntah (kenapa???apa gara-gara si ibu nyanyi??))
jangan suudzon atuh..kita kan lewat nagrek, jadinya jalannya mulak-malik..
ketiga, bis saya macet pas mau masuk cikampek selama hampir 2 jam
sayup-sayup “selangnya putus” gitu kata pak supir
dan suami saya berpesan “jangan tidur, takut kebakar...”
jadilah sampai di serang, saya terkena demam, disertai mual-mual
penyebabnya..silahkan dianalisa dianalisis sendiri
urusan kamu ya punya kamu...
Lama betul saya tidak menulis
kepala saya sebetulnya sudah mau meledak karena jenuh dengan analisis ini itu yang tidak kunjung selesai…
tapi semua butuh pengorbanan kan?
apalagi sekarang gak bisa konek sapenake dewek sama internet
jadilah begini nasibnya
di rumah saya ini ada dua gadis, asisten rumah tangga…gadis yang sungguh2 sedang beranjak dewasa, mencari identitas dan pengakuan..hingga di satu titik saya merasa mereka bablas *kenapa jadi ini bahasannya?*
omong punya omong..kemarin kami membahas masalah gossip
terungkap dengan jelas..lugas..
diawali dengan saling permintaan maaf, dan diakhiri dengan bahasan yang sifatnya filosofis etis netral (=tidak melibatkan nama siapapun!!).
Lha saya tanya “apa enaknya ngomongin orang?”
jawab gadis itu “enak banget teh, yang tadinya pendek jadi panjang...”
balik lagi “lha padahal kamu yo gak ada urusannya tho?”
“ya iya sih..tapi enak aja gitu”
kesimpulan : ngomongin orang itu kayak refreshing dari segala urusan pribadi. lha kita gak mikirin jalan keluar dari masalah atau urusan orang itu kan? makanya diomongin panjang lebar dikali tinggi juga gak akan bikin pusing kepala. yang bikin pusing kepala ya justru urusan pribadi kita sendiri
Lha saya bilang “yo wis, namanya juga orang hidup, sosialisasi sama orang”
gadis itu menjawab “iya teh, yang baik aja diomongin apalagi yang gak baik”
lha trus saya tanya “berarti mending kita bikin prilaku jelek aja ya biar gak rugi diomongin orang juga?”
kesimpulan: coba liat kalimat terakhir saya. kesimpulan picik kan?
jangan berhenti sampe situ...
dengar seseorang bilang setelah kalimat itu
“ya ndak dong, yang penting perilaku kita aja dijaga. urusan orang mau bilangin apa ya terserah. kayak kamu gadis (sambil menunjuk ke gadis satunya...), kalau kamu gak mau diomongin pulang malem, pacaran terus tiap malem sama orang2 dan orangtua kamu denger, ya berarti jangan begitu dong. tapi ya jangan marah kalau kamu udah berperilaku begitu, trus diomongin orang, lha itu kan emang kenyataannya, kamu susah protes”
gadis itu manggut-manggut aja
lha saya nyahut “apa orang yang ngomongin itu lebih baik daripada yang diomongin?”
saya teringat gadis itu pernah bercerita tentang seseorang yang sedang ngurusin orang lain dan sama sekali tidak ada pengaruh pada urusannya
“tahu gak, si ibu itu tuh, suka ngomongin orang lho, gak kayak suaminya yang kalem..”
Punten pisan bu..apa bedanya ibu dengan ibu yang diomongin itu????
ups..saya mulai ikut2an kan?
jangan pernah ngerasain enaknya, takut ketagihan
kepala saya sebetulnya sudah mau meledak karena jenuh dengan analisis ini itu yang tidak kunjung selesai…
tapi semua butuh pengorbanan kan?
apalagi sekarang gak bisa konek sapenake dewek sama internet
jadilah begini nasibnya
di rumah saya ini ada dua gadis, asisten rumah tangga…gadis yang sungguh2 sedang beranjak dewasa, mencari identitas dan pengakuan..hingga di satu titik saya merasa mereka bablas *kenapa jadi ini bahasannya?*
omong punya omong..kemarin kami membahas masalah gossip
terungkap dengan jelas..lugas..
diawali dengan saling permintaan maaf, dan diakhiri dengan bahasan yang sifatnya filosofis etis netral (=tidak melibatkan nama siapapun!!).
Lha saya tanya “apa enaknya ngomongin orang?”
jawab gadis itu “enak banget teh, yang tadinya pendek jadi panjang...”
balik lagi “lha padahal kamu yo gak ada urusannya tho?”
“ya iya sih..tapi enak aja gitu”
kesimpulan : ngomongin orang itu kayak refreshing dari segala urusan pribadi. lha kita gak mikirin jalan keluar dari masalah atau urusan orang itu kan? makanya diomongin panjang lebar dikali tinggi juga gak akan bikin pusing kepala. yang bikin pusing kepala ya justru urusan pribadi kita sendiri
Lha saya bilang “yo wis, namanya juga orang hidup, sosialisasi sama orang”
gadis itu menjawab “iya teh, yang baik aja diomongin apalagi yang gak baik”
lha trus saya tanya “berarti mending kita bikin prilaku jelek aja ya biar gak rugi diomongin orang juga?”
kesimpulan: coba liat kalimat terakhir saya. kesimpulan picik kan?
jangan berhenti sampe situ...
dengar seseorang bilang setelah kalimat itu
“ya ndak dong, yang penting perilaku kita aja dijaga. urusan orang mau bilangin apa ya terserah. kayak kamu gadis (sambil menunjuk ke gadis satunya...), kalau kamu gak mau diomongin pulang malem, pacaran terus tiap malem sama orang2 dan orangtua kamu denger, ya berarti jangan begitu dong. tapi ya jangan marah kalau kamu udah berperilaku begitu, trus diomongin orang, lha itu kan emang kenyataannya, kamu susah protes”
gadis itu manggut-manggut aja
lha saya nyahut “apa orang yang ngomongin itu lebih baik daripada yang diomongin?”
saya teringat gadis itu pernah bercerita tentang seseorang yang sedang ngurusin orang lain dan sama sekali tidak ada pengaruh pada urusannya
“tahu gak, si ibu itu tuh, suka ngomongin orang lho, gak kayak suaminya yang kalem..”
Punten pisan bu..apa bedanya ibu dengan ibu yang diomongin itu????
ups..saya mulai ikut2an kan?
jangan pernah ngerasain enaknya, takut ketagihan
Rabu, 02 Juli 2008
berbicara tentang pekerjaan untuk perempuan
dua hari lalu saya ditanya
"dimana kamu akan bekerja setelah lulus nanti?"
saya menjawab "ada satu perusahaan yang sudah menawari saya pekerjaan setelah saya lulus nanti, tapi sebagai perempuan dengan double role, sebagai ibu juga, saya harus rethinking lagi. yang jelas saya akan tetap ada di area publik, pada pekerjaan-pekerjaan dengan flexible work hours namun saya tetap bisa improve dan sharing pengetahuan dan skill saya"
sehari lalu
saya dan seorang sahabat perempuan kembali berbincang mengenai pekerjaan
pasal nya dia yang telah menikah, mendapat pekerjaan di sebuah BUMN
hingga di akhir, suatu saat kami memutuskan untuk berafiliasi menjadi ratu di usaha kami sendiri
namun kami kembali mempertimbangkan karakteristik personal kami yg begitu semangatnya untuk sampai di titik tertentu. namun ketika sampai, kami kembali mempertimbangkan titik lain yg lbh tinggi dan terlalu menarik untuk dilewatkan
ah, kalau begitu terus, kapan ngurusin keluarganya???
balik lagi, ternyata pertimbangan bekerja sendiri juga tidak menjadi pilihan yang baik kalau tidak dibarengi kontrol diri yang bagus
dan saya pikir Allah telah begitu adil memberikan sesuatu tepat pada waktu nya dan tempatnya
pernah saya nyeletuk ke ibu saya
"bu, kalau fie gak dikasih jodoh cpet, keburu ngerasain berkarir, fie khawatir malah lama nikahnya, keasyikan kerja, ngejar karir, ntar ibu malah bingung juga..."
gitu juga dengan teman saya itu
saya kembali berpikir kalau Allah gak kasih saffa cepet-cepet dalam kehidupan saya, mungkin hidup saya dan suami sudah terpisah jarak saat ini, lha saya pasti kekeuh cari kerjaan asik di luar kota
maka Allah begitu sangat tahunya bahwa kontrol diri saya begitu rendahnya dalam memenuhi harapan, sifat dan ambisi saya itu, maka diberikanNya ayah dan saffa dalam hidup saya sebagai penyeimbang dan pengontrol
nah, untuk perempuan-perempuan yang memutuskan memiliki peran ganda, serius ini bukanlah hal mudah
saya pribadi merasa mengorbankan masa depan anak sama sekali gak worthed dengan karir yang mungkin akan saya dapat dengan merelakan perhatian saya tersita untuk pekerjaan dan sisanya untuk anak
saya sendiri gak siap menemukan saffa sudah tidur saat pulang kantor,menemani kelelapan tidurnya dengan pekerjaan yang saya bawa ke rumah, dan meninggalkannya saat masih tidur kala saya berangkat ke kantor
maka perlu mendefinisikan kembali orientasi hidup, cara mencapainya, dan mengenal kembali diri anda
lalu memutuskan bagaimana anda mengatur semua itu dan mengontrol diri anda
"dimana kamu akan bekerja setelah lulus nanti?"
saya menjawab "ada satu perusahaan yang sudah menawari saya pekerjaan setelah saya lulus nanti, tapi sebagai perempuan dengan double role, sebagai ibu juga, saya harus rethinking lagi. yang jelas saya akan tetap ada di area publik, pada pekerjaan-pekerjaan dengan flexible work hours namun saya tetap bisa improve dan sharing pengetahuan dan skill saya"
sehari lalu
saya dan seorang sahabat perempuan kembali berbincang mengenai pekerjaan
pasal nya dia yang telah menikah, mendapat pekerjaan di sebuah BUMN
hingga di akhir, suatu saat kami memutuskan untuk berafiliasi menjadi ratu di usaha kami sendiri
namun kami kembali mempertimbangkan karakteristik personal kami yg begitu semangatnya untuk sampai di titik tertentu. namun ketika sampai, kami kembali mempertimbangkan titik lain yg lbh tinggi dan terlalu menarik untuk dilewatkan
ah, kalau begitu terus, kapan ngurusin keluarganya???
balik lagi, ternyata pertimbangan bekerja sendiri juga tidak menjadi pilihan yang baik kalau tidak dibarengi kontrol diri yang bagus
dan saya pikir Allah telah begitu adil memberikan sesuatu tepat pada waktu nya dan tempatnya
pernah saya nyeletuk ke ibu saya
"bu, kalau fie gak dikasih jodoh cpet, keburu ngerasain berkarir, fie khawatir malah lama nikahnya, keasyikan kerja, ngejar karir, ntar ibu malah bingung juga..."
gitu juga dengan teman saya itu
saya kembali berpikir kalau Allah gak kasih saffa cepet-cepet dalam kehidupan saya, mungkin hidup saya dan suami sudah terpisah jarak saat ini, lha saya pasti kekeuh cari kerjaan asik di luar kota
maka Allah begitu sangat tahunya bahwa kontrol diri saya begitu rendahnya dalam memenuhi harapan, sifat dan ambisi saya itu, maka diberikanNya ayah dan saffa dalam hidup saya sebagai penyeimbang dan pengontrol
nah, untuk perempuan-perempuan yang memutuskan memiliki peran ganda, serius ini bukanlah hal mudah
saya pribadi merasa mengorbankan masa depan anak sama sekali gak worthed dengan karir yang mungkin akan saya dapat dengan merelakan perhatian saya tersita untuk pekerjaan dan sisanya untuk anak
saya sendiri gak siap menemukan saffa sudah tidur saat pulang kantor,menemani kelelapan tidurnya dengan pekerjaan yang saya bawa ke rumah, dan meninggalkannya saat masih tidur kala saya berangkat ke kantor
maka perlu mendefinisikan kembali orientasi hidup, cara mencapainya, dan mengenal kembali diri anda
lalu memutuskan bagaimana anda mengatur semua itu dan mengontrol diri anda
langkah kedua perempuan-perempuan
dengan semena-mena, tanpa analisis mendalam, saya menyimpulkan ada beberapa langkah kritis perempuan
1.saat remaja, mencari orientasi hidup, masalah cinta cintaan itu dan sebagainya
2.begitu masuk masa dewasa, ada kekhawatiran, untuk perempuan-perempuan tertentu, dari budaya tertentu, kapan ya punya suami, ih kok gak laku ya...takut jadi perawan tua
3.saat baru menikah : bisa gak ya membahagiakan suami, jadi istri yang baik, gimana jadi menantu yang baik, bisa punya anak gak ya
4.begitu punya anak, anak ku ntar tumbuh jadi kayak apa ya..apa sambil punya anak ini bisa kerja (perempuan ini ada dalam budaya campuran...kadang lebih kasian, soalnya malah kebingunan menentukan orientasi dan prioritas hidupnya)
yang ini tentang langkah ke dua
saya baru saja ngobrol dengan sahabat saya yang luar biasa. cerdas, aktif, religius..kriteria yang diinginkan calon suami manapun
dan baru saja beliau menikah..
sampailah kami pada dialog ttg banyaknya ekspektasi pada perempuan
perempuan-perempuan seperti kami, yang dulu jijingkrakan..kesana..kemari..kesitu..kesini..
stres kalo gak ada kerjaan, dan senang kalo banyak kerjaan
stres kalo gak dikejar-kejar deadline
stres kalo potensi mulut yang sekian lama dikembangkan di psikologi ini mengangin begitu saja
mulut pegel bukan karena kebanyakan ngomong, tapi karena kebanyakan diam
ealah..
sahabat ini begitu bingung dengan ekspektasi misuanya
yang disampaikan kepadanya dengan bahasa filosofis
ah, bukankah bahasa misua dengan istri memang berbeda
sahabat saya itu sungguh bingung dengan aktifitas nya yang seabrek sekarang, misua jauh, dengan usaha yang sungguh keras untuk mengerjakan selayaknya menantu, bahkan menurut saya sudah luar biasa, maka bingunglah dia dengan ekspektasi filosofis itu
bagi saya, persoalan ini nampak sederhana, namun juga tidak mudah
bahasa istri dan misua tidak sama
dilahirkan dalam keluarga berbeda, budaya yang tak sama, bahasa yang hanya bersaudara, kebiasaan yang jelas kadangkala tak seirama
maka apa yang dinyatakan dan diperbuat dalam bahasa dan gerakan sama kadangkala mengandung interpretasi berbeda
saya lebih suka meminta suami saya berbicara dalam bahasa operasional
menjadi penghubung ekspektasi keluarganya dengan saya
apa yang saya maksudkan, apa yang keluarganya maksudkan
menjadi suami istri kan tidak sekedar ijab kabul, terus sah, hidup berdua
tapi hidup nya jadi banyakan iya kan?
tambah kaya..kaya sodara
tapi semakin kaya tidak semakin mempermudah juga bukan
semakin complicated dan butuh kompetensi memanaje yang lebih bagus
apapun di manaje
yang penting suami istri solid
maka langkah perempuan-perempuan yang baru saja menjadi istri ini begitu indahnya
dan langkah ini tidak membuat dahinya berkerut dan cepat tua karena mentranslate ekspekstasi dan mencoba menjalankan semuanya
pilih saja prioritasnya, kalau memang ekspektasi ini tidak bisa dipenuhi sekarang, jalan melingkar
hanya perlu kebijakan..kebijakan istri, juga suami
1.saat remaja, mencari orientasi hidup, masalah cinta cintaan itu dan sebagainya
2.begitu masuk masa dewasa, ada kekhawatiran, untuk perempuan-perempuan tertentu, dari budaya tertentu, kapan ya punya suami, ih kok gak laku ya...takut jadi perawan tua
3.saat baru menikah : bisa gak ya membahagiakan suami, jadi istri yang baik, gimana jadi menantu yang baik, bisa punya anak gak ya
4.begitu punya anak, anak ku ntar tumbuh jadi kayak apa ya..apa sambil punya anak ini bisa kerja (perempuan ini ada dalam budaya campuran...kadang lebih kasian, soalnya malah kebingunan menentukan orientasi dan prioritas hidupnya)
yang ini tentang langkah ke dua
saya baru saja ngobrol dengan sahabat saya yang luar biasa. cerdas, aktif, religius..kriteria yang diinginkan calon suami manapun
dan baru saja beliau menikah..
sampailah kami pada dialog ttg banyaknya ekspektasi pada perempuan
perempuan-perempuan seperti kami, yang dulu jijingkrakan..kesana..kemari..kesitu..kesini..
stres kalo gak ada kerjaan, dan senang kalo banyak kerjaan
stres kalo gak dikejar-kejar deadline
stres kalo potensi mulut yang sekian lama dikembangkan di psikologi ini mengangin begitu saja
mulut pegel bukan karena kebanyakan ngomong, tapi karena kebanyakan diam
ealah..
sahabat ini begitu bingung dengan ekspektasi misuanya
yang disampaikan kepadanya dengan bahasa filosofis
ah, bukankah bahasa misua dengan istri memang berbeda
sahabat saya itu sungguh bingung dengan aktifitas nya yang seabrek sekarang, misua jauh, dengan usaha yang sungguh keras untuk mengerjakan selayaknya menantu, bahkan menurut saya sudah luar biasa, maka bingunglah dia dengan ekspektasi filosofis itu
bagi saya, persoalan ini nampak sederhana, namun juga tidak mudah
bahasa istri dan misua tidak sama
dilahirkan dalam keluarga berbeda, budaya yang tak sama, bahasa yang hanya bersaudara, kebiasaan yang jelas kadangkala tak seirama
maka apa yang dinyatakan dan diperbuat dalam bahasa dan gerakan sama kadangkala mengandung interpretasi berbeda
saya lebih suka meminta suami saya berbicara dalam bahasa operasional
menjadi penghubung ekspektasi keluarganya dengan saya
apa yang saya maksudkan, apa yang keluarganya maksudkan
menjadi suami istri kan tidak sekedar ijab kabul, terus sah, hidup berdua
tapi hidup nya jadi banyakan iya kan?
tambah kaya..kaya sodara
tapi semakin kaya tidak semakin mempermudah juga bukan
semakin complicated dan butuh kompetensi memanaje yang lebih bagus
apapun di manaje
yang penting suami istri solid
maka langkah perempuan-perempuan yang baru saja menjadi istri ini begitu indahnya
dan langkah ini tidak membuat dahinya berkerut dan cepat tua karena mentranslate ekspekstasi dan mencoba menjalankan semuanya
pilih saja prioritasnya, kalau memang ekspektasi ini tidak bisa dipenuhi sekarang, jalan melingkar
hanya perlu kebijakan..kebijakan istri, juga suami
Selasa, 01 Juli 2008
saya di jogja lagi
setelah mempertimbangkan satu dan lain hal, maka sampailah saya disini
dengan penuh deg-deg an, ambil resiko dan dengan doa dan kemauan
senang melihat kak saffa ketemu lagi dengan ayahnya
semua harus dengan ayah
hari pertama saat bertemu
makan, harus disuapi dari tangan ayah
gendong, mau sama ayah
kursi dikasihin ke ayah
semua ayah..ayah..ayah..
rasanya semua rindu tumpah
rindu saya, rindu saffa, rindu ayah
bukankah ini keindahan dari sebuah keluarga?
kebersamaan...anugerah yang kadangkala luput dari kesyukuran
bukankah saya termasuk salah satu perempuan beruntung
di tengah keterbatasan kami, ada saat gaji tinggal seuprut, karena digunakan ini itu, saya dan suami malah tertawa, menertawakan apa entah..tapi itu sungguh tertawa bahagia
di tengah kebutuhan hidup, suami begitu legowo memberikan kesempatan saya sekolah walaupun harus banting tulang, peras keringat
di tengah kesibukan kami, saffa menjadi penghibur gratis, memberikan senyum dan ucapan syukur atas setiap langkah dalam perkembangannya
bukankah saya termasuk perempuan yang harus mengucapkan syukur di setiap tarikan garis bibir senyum saya, bahkan di setiap nafas yang saya ambil dan kembali hembuskan
karena saya percaya, keberuntungan ini adalah cinta yang tidak semua orang kadangkala bisa merasakan secara implisit
saya kembali di jogja
tempat pulang juga
merasakan bahwa begitu banyak kesyukuran yang harus saya ucapkan dan lakukan
dengan penuh deg-deg an, ambil resiko dan dengan doa dan kemauan
senang melihat kak saffa ketemu lagi dengan ayahnya
semua harus dengan ayah
hari pertama saat bertemu
makan, harus disuapi dari tangan ayah
gendong, mau sama ayah
kursi dikasihin ke ayah
semua ayah..ayah..ayah..
rasanya semua rindu tumpah
rindu saya, rindu saffa, rindu ayah
bukankah ini keindahan dari sebuah keluarga?
kebersamaan...anugerah yang kadangkala luput dari kesyukuran
bukankah saya termasuk salah satu perempuan beruntung
di tengah keterbatasan kami, ada saat gaji tinggal seuprut, karena digunakan ini itu, saya dan suami malah tertawa, menertawakan apa entah..tapi itu sungguh tertawa bahagia
di tengah kebutuhan hidup, suami begitu legowo memberikan kesempatan saya sekolah walaupun harus banting tulang, peras keringat
di tengah kesibukan kami, saffa menjadi penghibur gratis, memberikan senyum dan ucapan syukur atas setiap langkah dalam perkembangannya
bukankah saya termasuk perempuan yang harus mengucapkan syukur di setiap tarikan garis bibir senyum saya, bahkan di setiap nafas yang saya ambil dan kembali hembuskan
karena saya percaya, keberuntungan ini adalah cinta yang tidak semua orang kadangkala bisa merasakan secara implisit
saya kembali di jogja
tempat pulang juga
merasakan bahwa begitu banyak kesyukuran yang harus saya ucapkan dan lakukan
Langganan:
Postingan (Atom)